
Bagaimana rasanya setelah diabaikan, dibuang lalu dipungut kembali. Setelah akal mampu menerima meskipun tak ada kejelasan sejak dulu, RoseRoseta masih merasakan sakit yang sama, sakit saat dirinya harus berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya, harus kehilangan seorang putranya tanpa adanya Theo yang seharusnya bersama mereka.
Roseta bukan sampah yang tak berharga, bahkan dirinya adalah sebuah berlian yang harus dijaga.
"Kau tidak waras, tuan Matheo." Roseta sudah tersungut emosi, matanya memerah dengan amarah yang membuncah. Mudah sekali bagi Theo untuk mengatakan hal konyol seperti itu.
"Aku masih sangat waras, aku sehat dan aku sadar mengatakannya," jawab Theo penuh penekanan. Pria itu serius, sangat serius sampai nekat meninggalkan rasa malunya untuk disimpan rapi di rumah.
Roseta membuang muka kesamping seraya mengangkat tangannya ke udara, sangat tidak mengerti akal Theo yang sudah lebih dari orang gila yang berlarian di jalanan menunjukkan tubuh bugi**ya.
Pikirnya Roseta mudah untuknya?
Maaf ya, Roseta sudah tidak butuh Theo, sudah sangat terlambat untuk sekarang.
Roseta memusatkan pandangannya ke arah pria itu lagi. "Sebaiknya kau keluar dari rumahku, jangan membawa omong kosong. Tolonglah, jangan mengusikku," ucapnya geram serta menunjuk pintu utama seakan menyilahkan Theo untuk keluar dari rumahnya.
Theo mulai gemas sendiri, sangat yakin jika ini tidak akan mudah. Ya tentu saja akan sangat sulit membawa Roseta dengan tiba-tiba begini. Tapi mau bagaimana lagi, Theo tetap harus melakukannya.
"Kamu harus menurut padaku. Atau Bry-"
"Ganti saja burungmu itu dengan maunan jika kau terus mengancamku, tuan Matheo."
Astaga, demi Tuhan Theo terpaku ditempat saat Roseta mengatakan itu. Hello, jika Theo ganti kelamin bagaimana nasib Roseta nanti. Jantung Theo berdesir, bisa-bisanya otak ranjang dibawa saat pertikaian seserius ini sedang di depan mata.
Oke. Sepertinya Theo memang harus mengatakan hal yang benar dan berhenti untuk bertele-tele. Pria itu merogoh ponsel yang berada di kantong celana triningnya. Menggulir layar sentuh yang berwallpaperkan Bryna pitrinya, bukan Rahel lagi rupanya.
"Kamu tau siapa yang ada di gambar ini?" tanya Theo pada Roseta saat menunjukkan gambar dalam e-mail yang dikirimkan James semalam.
Roseta segera merebut ponsel milik Theo, karena presensi gadis kecil itu memang mirip seperti Bryna, ya memang kenyataannya itu adalah gambar putrimu Roseta.
"Bryna?" ucapnya sedikit mendongak dan memincingkan mata ke arah Theo.
Sekarang giliran Theo yang menunjukkan gelagat menantang seakan pertandingan ini yakin untuk dimenangkannya. "Kamu tau siapa pria dewasa yang bersama, Bryna?" tanyanya. Bukan bertanya maksudnya, tujuan Theo hanya untuk memastikan.
Roseta menggeleng masih dengan kebingungannya, menatap layar ponsel itu kembali, membesarkan skala gambar yang nyatanya tak mampu ia mendapatkan jawaban, presensi kedua orang dalam layar itu hanya menampilkan punggung dan sekelebat wajah dari samping, gadis kecil sudah pasti Bryna, tapi pria dewasa Roseta tetap tidak mengetahui.
Theo meraih benda miliknya kembali, kemudian tangan dibawa untuk dilipat di bawah dada, matanya memandang Roseta tanpa tatapan lega. Dugaannya benar, Roseta tidak tahu apa-apa. "Robert Anderson, nama pria itu," terangnya.
Roseta menukikkan sebelah alisnya, nama itu tidak asing, bahkan sangat familiar di telinganya.
"Seorang Mafia." Theo melanjutkan.
Dalam ingatan Roseta tiba-tiba memutar adegan lama bersama putranya.
"Mommy, wah, Braga hebat, Mommy cepat kesini," pinta Braga saat dirinya duduk di kursi dengan komputer yang sedang di invasi.
"Mommy, Braga akan menangkap penjahat, Mafia harus ditangkap 'kan, Mom!" ungkapnya lagi membuat Roseta segera berlari menghampiri.
Braga menunjuk pada layar komputer, laman dalam web itu sangat asing dimata Roseta. Pikirnya saat itu Braga memang sedang ngawur bermain dengan komputer miliknya.
"Nama Uncle ini Robert Anderson, dia mafia Mom, ayo kita laporkan ke polisi," beber Braga mengarah ke wajah seorang pria Amerika yang terpampang jelas di layar kaca.
Sekelebat, kalimat-kalimat yang pernah Braga ungkapkan saat umur empat tahun dengan gaya cedalnya mencuat secara tiba-tiba yang ternyata masih terangkum sangat lengkap di ingatan Roseta.
"Bra…Braga," gumam Roseta seketika sadar.
Bersamaan itu Roseta membekap mulutnya, pupil matanya bergetar diikuti cairan yang seakan ingin melompat keluar sebelum Theo berhasil membuatnya untuk mengalihkan perhatian.
"Apa yang kamu katakan? Braga?"
Roseta menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Katakan padaku, apa yang kamu tahu. Robert dan Braga, apa mereka berhubungan. Katakan padaku, Roseta!!" desak Theo.
Pria itu mengguncang pundak Roseta dengan tatapan marah, pun matanya memerah. Theo frustasi, takut jika kematian Braga ada hubungannya dengan pria itu. Juga khawatir jika Bryna, Theo tidak mau membayangkan.
Theo melepas tautan kepalan tangannya yang berada di pundak Roseta, beralih meremat kepalanya. "Aaarhg," raungnya.
Theo tidak bisa membayangkan hal buruk lagi, kehilangan Braga dan melewatkan waktu untuk menjaga putranya membuat dia ingin mati saja. Bahkan diam-diam ia sering meraung sendirian saat mengingat betapa menyeslnya ia sampai tidak tahu rupa putranya yang harusnya ia jaga. Ia juga belum sempat pergi ke pemakaman Braga di Negara A.
Roseta tetap menggeleng kuat, wanita itu membiarkan Theo untuk menyudutkannya, karena memang benar Roseta tidak tahu apa-apa. Perkataan Braga dulu hanya dianggap bualan semata, karena pada kenyataannya Braga memang masih balita, kata-kata mafia yang keluar dari mulut putranya hanya dianggap angin lalu saja. Namun, jika Theo berkata, maka semua memang benar adanya, dan dalam relung hatinya mengatakan, ia tengah ceroboh dalam menjaga putra putrinya.
Ya. Mungkin saja kecelakaan yang dialami Braga yang sampai sekarang sangat mengganjal di hati Roseta berkaitan dengan pria dewasa yang di sebut Theo pun putranya juga sebagai Mafia.
Theo merogoh ponselnya kembali, mencoba menghubungi seseorang sepagi ini, pria itu tidak perduli. Berkali-kali sambungan tak berhasil ia dapati, Theo tidak berhenti sampai akhirnya. "Brengsek, kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku," marahnya pada seseorang di dibalik panggilan suara.
"Kau yang brengsek, kenapa menghubungiku sepagi ini." umpat orang itu kembali, terdengar jelas di telinga Roseta. Mode loudspeaker memang diaktifkan oleh Theo.
Theo tak mengindahkan. "Selidiki Robert Anderson sekarang, hari ini harus dapat," perintahnya talak dilaksanakan.
"Kau gila, Theo. Aku menyuruhmu untuk menanyakan dulu pada Roseta."
Theo melirik ke arah Roseta yang terdiam sambil mendengarkan percakapannya dengan Jordan, ya memang Jordan yang menyarankan Theo untuk bertanya dulu pada Roseta.
"Roseta tidak mau bicara. Tapi sempat menyebut Braga. Aku tidak mau tau, kau harus mendapatkan info secepatnya." perintah Theo pada Jordan dengan Theo yang masih mengintimidasi Roseta lewat tatapannya.
Tidak menunggu jawaban, Theo mematikan sambungan telefon itu. "Kau dan Bryna harus tinggal denganku." putus Theo.
"Aku tidak mau." tolak Roseta.
"Tutup mulutmu bajingan," teriak Roseta lantang dengan tangan menuding tepat di depan mata Theo. "Lalu apa bedanya dengan kau yang tak pernah disamping anak-anakmu? Jawab aku!" Lanjutnya.
Theo sempat menutup mata sejenak, kepalan tangannya membentuk kuat. Mau membela diripun rasanya sangat tidak pantas, tenggorokannya tercekat, ya memang benar yang di katakan Roseta barusan. Situasi dan keslahpahaman membuat semua jadi rumit yang terlambat untuk disesali, semua sudah terjadi, lantas bisakah saling membenahi diri dan bersama-sama mencari solusi.
Theo menundukkan kepala, suasana hatinya sedikit rapi untuk memulai perbincangan lagi, dia tidak boleh emosi jika tidak mau melihat Roseta lebih keras kepala lagi.
"Delapan tahun yang lalu," Theo menjeda kalimatnya, mati-matian memilih kalimat untuk dipertanyakan, takutnya berujung bencana dan menggagalkan acaranya untuk membawa Roseta tinggal bersamanya. "Kenapa kamu tidak mengatakan padaku saat mengandung mereka!" lanjutnya.
Roseta tertawa sumbang setelah gendang telinganya menangkap uraian kalimat yang sudah sangat basi untuk di pertanyakan. Dulu pernah punya angan hidup bersama pria di depannya, membangun rumah tangga dengan buah hati mereka, tapi itu dulu, sebelum Theo merusaknya begitu saja, menghianati Roseta dengan menikahi Yura.
Sebenarnya Roseta tidak pernah punya rencana untuk mengatakan kebenaran di depan Theo, sekalipun tidak pernah dirinya membayangkan akan bertatap muka lagi dengan ayah dari anaknya. Namun jika Theo ingin kejelasan, makan terpaksa Roseta harus mengatakan.
Roseta tersenyum tipis saat membayangkan perjalanan jauh yang dilewatinya dengan membawa calon manusia di dalam kandungannya yang awalnya ingin dijadikan kejutan untuk Theo kekasihnya, saat dulu.
"Aku membawa mereka di sini," telapak tangan Roseta menempel di perutnya. "Membawanya untuk menyaksikan ayah mereka yang sedang mengucap janji sakral pernikahan di depan pendeta dengan wanita lain." ucapnya dengan tenang.
Masih dengan tersenyum, Roseta menatap sendu ke arah Theo. Dadanya sesak jika mengingat hal itu. Perangai tenang yang ditunjukkannya hanyalah benteng pertahanan semata. Nyatanya hatinya sedang menjerit tidak terima.
Sedangkan Theo mendadak dibuat bungkam, seakan Tuhan merampas pita suaranya hingga tak mampu untuk berbicara. Dosanya begitu besar, kebodohannya pun sudah berada di taraf fatal.
"Apa jadinya jika aku mengatakan hari itu, Theo? Hm?" tanyanya lembut. Selembut itu hingga mampu membuat Theo semakin terperosok hingga jatuh ke jurang neraka.
"Apa kau akan menerimaku? Membatalkan pernikahanmu?" Roseta melangkah untuk memperpendek jaraknya dengan Theo. Sedangkan pria itu tak bergerak untuk menghindar, mempersilahkan Roseta untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
"Apakah kau akan memperlakukanku seperti wanita murahan sama seperti saat kau mengataiku beberapa hari yang lalu!"
"KATAKAN PADAKU, BAGAIMANA CARANYA AKU MENGATAKAN PADAMU SAAT ITU!"
"KATAKAN BRENGSEK!"
Theo tersentak dengan teriakan Roseta yang diselimuti emosi. Wanita itu tampak kacau. Begitu sakit kah yang dirasakan Roseta dulu. Jika Theo bertanya begitu maka jawabannya adalah iya. Sangat sakit hingga mampu membuat Roseta ingin mengakhiri hidupnya. Beban yang ditanggung sangat besar dengan pesakitan yang dibawanya juga. Seakan tanpa jeda, gambar Theo yang terlihat bahagia di layar kaca dengan keluarga barunya membuat Roseta semakin menderita. Setiap media seakan membawa berita yang tidak tanggung-tanggung membuat Roseta semakin ingin mati saja.
Roseta mengibaskan tangannya ke udara seraya memundurkan langkahnya, meringis karena tidak mendapatkan jawaban. Yang ditunggu hanya mematung tak mengeluarkan suara, seperti pengecut yang mungkin memang harus ganti kelamin saja.
Kemudian wanita itu menunduk memandang kakinya, kaki yang selalu setia menumpu tubuhnya kala terasa beban yang semakin berat dan sulit untuk di sangga, kaki yang membawa dirinya sampai sejauh ini, bahkan sekuat bumi menahan teriknya matahari.
Tapi, Roseta tetaplah wanita dengan kodrat lemah yang ia sembunyikan dengan sangat rapi, demi Bryna.
"Bagaimana caranya," ucap Roseta lemah lagi.
Sedangkan Theo juga tidak menyangka Roseta berada satu radar yang sama saat dirinya menikah. Takdir memang mempermainkan mereka dengan mudah, memporak porandakan kebahagiaan yang harusnya utuh yang mampu ia jaga.
Bahu Roseta bergetar hebat, wanita itu tetap menundukkan kepalanya. "Kau tau, aku hampir mati ingin menyusul Braga. Kau tau, sangat sakit sekali saat melihat anakmu sendiri mati terbakar. Apa kau tahu bagaimana rasanya?" ucapnya parau akibat isakannya.
Ya, Roseta menangis tidak kuat menahan air matanya yang sudah menggantung sedari tadi. Ibu mana yang kuat melihat anaknya mati terbakar bersama mobil, sampai kapanpun Roseta tidak akan pernah lupa. Kecerobohan karena lalai menjaga Braga putranya adalah suatu hal yang sangat di sesalinya.
Theo mendekat ke arah Roseta yang masih sibuk dengan tangisnya, begitupun Theo yang juga sudah menitikan air mata, pria itu juga menangis. Pria brengsek seperti Theo juga bisa menagis, ikut membayangkan bagaimana kecelakaan merenggut putranya tanpa dia yang tak mampu menjaganya.
"Tapi aku menahannya. Bagaiamana jika aku mati, apa yang akan terjadi pada Bryba. Dia tidak punya Ayah. Membayangkan dia sendirian di Dunia membuatku merasa berdosa." Roseta meracau sendiri, mengungkapkan semua dihadapan Theo, biar tahu saja bagaimana sulitnya hidup Roseta tanpanya, tanpa pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Maaf," sesal Theo.
Dengan sangat tiba-tiba Theo merengkuh Roseta dalam pelukannya, sangat erat hingga Roseta tak bisa membalas.
Wanita itu tetap menunduk tak bergerak, seakan membiarkan Theo mengurung tubuhnya. Walau hatinya menolak, jujur saja tubuh itu tak bisa bertindak untuk memberi jarak. Tuhan memang suka memberi umatnya cobaan yang begitu berat.
"Bryna gadis yang ceria, tolong jangan sakiti dia. Jangan hadir dalam hidupnya, aku mohon, aku mohon padamu," pinta Roseta dengan suara lirihnya di depan dada Theo.
Kening wanita itu menempel di pundak Theo. Kemudian yang dilakukan Theo hanya menggeleng. "Aku tidak mau, dia anakku. Aku ingin menjaganya. Biarkan aku memberinya kebahagiaan, aku nerjanji tidak akan menyakitinya. Aku benar-benar berjanji."
Giliran Roseta yang menggeleng karena tidak yakin dengan janji yang di ucapkan oleh Theo.
"Aku berjanji, tolong beri aku kesempatan, tinggalah bersamaku. Biarkan aku melindungi kalian," pinta Theo lagi.
Masih kuat dengan pendiriannya, Roseta memberi jarak dan berusaha terlepas dari pelukan Theo. Dengan mata sembab itu, Roseta mendongak memandang Theo, jarak keduanya masih terlalu dekat.
"Aku tidak bisa tinggal bersamamu."
Penampilan Theo saat ini juga tidak kalah berantakan. Wajahnya juga memerah dengan mata yang berbinar sisa dari tangisnya.
"Demi Bryna. Demi keselamatanya, bisakah kamu mempertimbangkannya. Hm?"
Jika dipikir lebih dalam lagi, keselamatan Bryna memang harus di prioritaskan untuk sekarang. Mengingat kembali kata mafia itu sontak membuat tubuh Roseta bergidik ngeri.
Roseta memang pernah dengar nama Robert Anderson, tapi setelah melarang Braga untuk bermain dengan komputernya, putranya tak pernah lagi menyebut nama itu.
"Bisakah? Mafia itu di Negara ini, aku tidak tau pasti, tapi aku yakin ada hubungannya dengan kematian putra kita."
Putra kita?
Mendengar itu, gelenyar aneh mendadak menguasai jantung Roseta, membuat detakannya menggila hingga mau melompat saja.
"Terlebih dia pernah bertemu dengan Bryna. Bahaya atau tidak, kita tidak bisa membiarkannya 'kan!"
Theo tidak menyerah dan terus membujuk. Roseta mulai ragu untuk menolak. Tapi, juga tidak mudah untuk menerima. Banyak pertimbangan yang dipikirkan wanita itu saat ini. Jika satu rumah dengan Theo, berarti Roseta juga akan serumah dengan putri pria itu. Ya meskipun kata Theo dirinya sudah bercerai dengan Yura, Roseta tidak tahu juga kan Rahel ikut dengan siapa.
"Mommy, yuhuuuuu, Mommy good morning," teriakan gadis kecil dari arah tangga. Siapa lagi jika bukan Bryna Samanta.