ROSETA

ROSETA
Dengan Benar



Dera menuju podium karena wanita itu sudah tidak tahan. Waktu sudah menuju malam dan semakin larut. Ia tidak bisa membiarkan tamu undangan hanya berjalan-jalan dan makan tanpa ada pengumuman.


"Ekhem." Dera berusaha menutupi kegugupan dengan sesekali berdehem, di depan bibirnya sudah terpasang microphone yang di genggam oleh tangannya.


"Selamat malam semua." Dera mulai berbicara, praktis membuat semua berhenti dari gaduh dan beralih memperhatikannya.


"Saya Sandera, pemimpin utama Diamond Corporation. Pertama-tama, dengan teramat sangat menyesal telah membuat kegaduhan dengan kembali mendadak. Saya minta maaf."


Semua tamu undangan hanya diam, dan perlahan semua fokus untuk memandang ke depan. Tak terkecuali orang terdekat. Hanya Theo yang tidak ada karena menyusul Roseta yang main kabur meninggalkan pesta.


Dera mulai sedikit santai, ia tersenyum. "Sebenarnya tujuan saya mengadakan pesta malam ini untuk membuat pengumuman juga. Sangat sensitif dan hanya kepada kalian semua para kolega dan tamu-tamu yang terhormat yang saya rasa bisa memilah mana buruk dan baiknya."


Dera melihat sedikit ketidak tenangan di depannya, orang-orang banyak berbisik namun tak kentara suaranya. Dera maklum, pasti mereka sangat penasaran.


"Tapi sayang. Saya minta maaf tidak bisa merealisasikan karena kabar ini bersangkutan sangat erat dengan putra saya yang saat ini meninggalkan pesta karena urusan mendesak. Jadi, untuk itu, mari kita habiskan malam ini dengan ber senang-senang dan menikmati hidangan yang telah disajikan."


Ya. Itulah tujuan Dera nekat berdiri di depan. Wanita itu telah membatalkan pengumuman. Ia tidak bisa seenaknya sendiri memberikan berita sedangkan orang yang bersangkutan saja tidak ada, terlebih Roseta, wanita itulah yang menjadi kunci utama.


...****************...


"Keluar, atau aku menyusup kedalam dan membuat keributan."


Itulah kalimat yang Theo ucapkan saat ponselnya terhubung. Tubuhnya menyandar pintu mobil. Entah sudah berapa kali pria itu menyugarkan rambutnya kebelakang karena bosan. Bagaimana tidak. Ia mencoba menelpon Roseta sampai lebih sepuluh kali dan beruntung saat ini wanita itu mau mengangkat.


"Kamu dimana?"


"Di depan hotel DoubleFive by Taylor." Theo sedikit meringis saat menjawabnya.


Apakah wanita itu lupa dengan kemampuan Theo dalam menyelidiki orang hilang. Tapi lebih tepatnya Braga lah yang memberitahukan. Theo sedikit sombong.


"Mau apa? Aku tidak ada disana."


Theo praktis menegakkan tubuh. Ia sudah cukup geram. Mana mungkin Roseta tidak di dalam sedangkan Braga sendiri yang menginfokan.


"Aku sudah melacakmu."


"Tapi aku tidak disana Theo." Serta merta Roseta membentak di balik telepon.


"Jangan membohongiku. Oke, aku masuk sendiri kedalam."


Namun sebelum langkah Theo semakin melebar, Roseta menyahut cukup kencang. "Aku sudah bilang tidak di sana. Aku di taman, taman bunga mawar, taman yang kamu buat."


Sontak Theo berhenti. "Serius?" tanyanya.


"Iya."


Theo menutup telepon dan bergegas menyusul Roseta. Theo tidak tahu pasti apa yang berkecamuk di pikirannya. Keadaan seperti ini mengingatkannya pada masa remaja. Dimana gejolak anak muda membara dengan sendirinya.


Theo praktis mengingat semua, kenangan pertengkaran kecil hingga main kabur-kaburan. Jika kembali pada masa lalu. Theo lah yang lebih sering mengalah.


Roseta gadis manja sekaligus menggemaskan tapi mudah sekali marah. Ya bagaimana tidak. Disetiap sudut sekolah, pacarnya yang bernama Theo itu selalu dibicarakan. Mau dipandang dari sisi manapun, dari derajat kemiringan berapamun, Theo tetap terlihat tampan, tidak ada cacatnya sedikitpun. Roseta sendiri mengakui terang-terangan.


'Dikurangin sedikit tampannya atau aku nggak mau lagi jalan sama kamu. Matheo, aku capek lihat cewek-cewek lirik-lirik kamu terus.'


Sembari menyetir, Theo ingat betul dengan keinginan konyol wanita yang masih menduduki tempat pertama di hatinya, sampai sekarang, bahkan akan berlanjut ke masa depan, atau sampai maut memisahkan.


...****************...


Jika Theo tidak salah terka. Pemandangan Roseta yang berdiri ditengah-tengah bunga dengan angin yang menggoyangkan gaun merahnya adalah pemandangan yang begitu indah. Kendati itu membuat dadanya berdetak lebih cepat, namun satu hal yang membuatnya gundah. Kesempatan untuk memiliki yang nyaris berada di titik nol.


Mempunyai perasaan yang mendalam dan cinta yang begitu betah bertahan lama tak bisa membuat Theo membenarkan jika cinta harus memiliki.


Selain rasa cintanya sendiri, Theo lebih memikirkan kebahagiaan Roseta yang harus ditempatkan paling depan. Jika wanita itu bahagia, dirinya pun iya.


Meski itu sangat susah.


Tak pernah berubah. Satu-satunya kelemahan Theo adalah Roseta, wanita di depan sana yang masih belum sadar akan kehadirannya.


Awalnya Theo berjalan dengan tempo tergesa sampai pada akhirnya semua melambat dengan sendirinya saat badan ramping Roseta berbalik.


Mata itu memandangnya dengan senyum tipis. Kendati Theo tahu jika ada kesalahpahaman akibat mulut Valerie yang begitu lancang, pria itu tetap tidak siap sekalipun jika Roseta mengutarakan perpisahan, meski sudah tiga hari yang lalu proposal itu diterbangkan kepadanya.


Sudah dikatakan, kelemahan Theo adalah Roseta, satu-satunya.


"Aku menunggumu sedikit lama, sampai bosan." Kalimat itu diucapkan oleh Roseta meski Theo belum mengatakan apapun. "Tapi tak apa, bunga-bunga ini indah, Bryna yang memberitahuku. Terimakasih."


Theo diam terpaku oleh gravitasinya sendiri. Roseta tampak biasa saja dengan keadaan tanpa menyebut nama Valerie dalam obrolan. Juga senyum yang terpatri jelas saat kedua sudut bibirnya diangkat. Roseta baik-baik saja meski mata memerah menjadi tanda jika wanita itu habis menangis.


"Kenapa menghilang dari pesta?" Tanya Theo akhirnya, kata-katanya pelan, sangat lembut untuk di dengar.


Theo merubah posisi lebih dekat. Cahaya yang temaram membuatnya terlihat begitu tampan, bahkan berkali-kali lipat. "Jadi bagaimana menurutmu?"


"Dia cantik. Cocok untuk jadi ibu Bryna dan Braga?"


Theo memejamkan mata sejenak, sedetik, lalu dibuka lagi diiringi dengan hembusan napas halus. "Bukan itu maksudku. Bagaiamana perasaanmu saat tahu aku akan bertunangan dengannya."


"Sakit. Dadaku sakit, aku menangis cukup kencang tadi." Rose berkata jujur. "Maka dari itu, brengsek pantas berada di tengah namamu."


Theo mengerjab. Seharusnya Roseta mengatakannya dengan berteriak. Mana ada orang mengatai brengsek dengan nada sesopan itu. Setidaknya Theo dapat pukulan paling keras tepat di rahang tampannya.


"Aku tahu." Theo teramat tahu jika dirinya sebrengsek itu. Bahkan ia lebih pantas mendapat hinaan lebih kejam daripada itu.


"Mencintaimu sangat melelahkan Theo. Aku tidak tahu kenapa perasaanku bertahan begitu lama. Aku hanya menyesal, kenapa semua terungkap begitu cepat. Tentang anak kita. Harusnya aku bisa menjaga rahasia, harusnya aku tidak kembali ke Negara ini. Mungkin dengan begitu akan berbeda ceritanya."


Roseta mengatakan itu dengan lancar, tanpa gentar dan gemetar. Seolah saat Theo sedang menuju tempatnya, wanita itu sudah menyusun kalimat dan dihapalkan dengan benar.


Theo mendongak saat kalimat yang Roseta ungkapkan sudah selesai. Meski secara tidak langsung, Roseta sudah menyatakan cinta bukan? Namun firasat Theo berkata buruk.


"Aku sudah lelah Theo. Aku ingin istirahat. Ayo benar-benar kita akhiri sampai disini."


Benar, bukan. Dada Theo mendadak sesak. Ia tidak pernah siap dengan kalimat brengsek itu meski Roseta mengatakan dengan belai lembut yang meraih kedua tangannya di genggaman.


Mata Roseta berair. Wanitanya mengajak berpisah untuk kesekian kalinya membuat Theo merasakan kelu di lidahnya.


Kemudian dengan satu langkah kedepan, Roseta membawa dirinya lebih mendekat, ia sedikit berjinjit merangkum Theo yang rupawan, kedua tangan yang baru saja melepas pegangan diarahkan di kedua pipi Theo.


Memiringkan sedikit kepala, Meletakkan bibir pada bilah yang sama di prianya, Roseta menciumnya, satu sentuhan saja, begitu singkat.


Roseta mundur satu langkah dengan Theo yang masih dengan posisi yang sama.


"Jangan."


"Hm?"


"Percaya padaku. Valerie hanya mengerjaimu."


Roseta mengangkat kepala. "Kamu juga harus percaya padaku. Percaya jika keputusanku sudah bulat. Aku sudah memikirkan lebih dari seribu kali. Dan aku tidak perduli tentang Valerie ataupun wanita lainnya lagi Theo."


Memori Theo tiba-tiba jatuh pada masa dulu. Dimana ia sangat merindu tapi tak bisa berbuat apapun selain menghapus rasa itu. Roseta-nya jauh, tidak bisa dimiliki lagi. Dan sekarang akan terulang lagi, bahkan akan lebih menyakitkan karena dilakukan dengan sadar.


"Aku hanya ingin kita melakukan dengan benar. Berpisah dengan benar. Hingga kenangan yang kita bawa tidak terlalu menyakitkan."


Theo ingin berteriak. Ini sangat menyakitkan jika Roseta tahu.


...****************...


"Bagaimana perasaanmu saat menjauh, Roseta."


"Sakit Jay. Lebih dari saat aku melihat dia dan Yura menikah."


Sebenarnya Roseta sangat bingung mau menyusun kalimat seperti apa untuk menanggung jawabi rasa penasaran Jay yang sepagi tadi membobol rumahnya tanpa basa-basi.


"Untung saja aku sudah tidak jatuh cinta padamu. Aku tidak membayangkan jadi Theo, punya wanita yang begitu dicintai tapi sangat rumit untuk dimengerti."


"Semua dem..."


"Kebaikan Bryna dan Braga. Omong kosong." Jay mencibir.


Roseta melotot. "Kenapa kamu membela Theo sih? Bukankah kalian tidak akur selama ini."


"Sorry. Aku sudah memaafkan Theo karena dia berhasil membawa Braga pulang sebab aku sadar tidak becus menjaganya dulu."


Mendung tiba-tiba datang diatas kepala Roseta. Ia merasa sangat kurangajar saat setelah mendapatkan Braga, secara tidak langsung dan sangat kasar telah mendepak Theo dalam hidupnya.


"Aku sangat pusing Jay. Aku akan mengurus cuti. Aku akan pergi, anak-anak bersama ayah dan neneknya."


Jay sontak berdiri. "Mau kemana?"


"Menenangkan diri. Jangan ikuti aku. Percayalah, aku baik-baik saja."


Jay mengangguk mengerti. "Aku percaya padamu. Umurmu sudah tua. Kamu butuh tenaga lebih ekstra untuk mengurus duo kembar, jangan jadi janda terlalu lama, atau kamu mau nanti jadi istriku yang kedua?"


"Shut up, atau ku jahit mulutmu itu." Enak saja janda. Menikah saja Roseta belum pernah.


Jay tertawa beserta menepuk pundak Roseta dua kali. "Mau kemanapun, aku hanya berharap kamu baik-baik saja. Tapi jangan terlalu lama. Cepat kembali."


"Aku tahu."