ROSETA

ROSETA
Canggung



“Mommy.”


“Mom.”


"Ssst, diam adek."


Mungkin puluhan kali Roseta mengatakan hal itu saat Bryna memanggilnya dengan sendu. Bahkan ingin mengatakan sepatah kata pun Bryna tak mampu. Tubuh kecil itu di dekapan ibunya semalaman hingga fajar tiba.


Yang benar adalah Roseta sama sekali tidak mau memulai pembicaraan, entah bertanya ataupun menginterogasi putrinya, pun tidak mau mendapatkan kejelasan juga. Sudah cukup bagi Roseta mengetahui jika Bryna sudah tahu sandiwaranya, cukup malu juga karena ia tidak tahu-menahu bagaimana asal mulanya.


Sedangkan Bryna yang saat ini sedang mengguyur tubuhnya dibawah shower lantas berhembus nafas kasar beberapa kali. Inginnya menceritakan perihal dirinya yang tahu begitu saja hingga membentuk lakon bagai pemeran sebuah drama bersama ayahnya. Namun, saat Bryna ingin mengecap sepatah kata sudah dihentikan dengan perintah yang layak untuk dilakukan, yaitu diam.


Semalaman Bryna tidur bersama Roseta, ia tahu ibunya tidak benar-benar memejamkan mata, karena dirinya pun juga sama. Suasana mendadak tegang saat kepulangan Ibu dari ayahnya, siapa lagi jika bukan Dera. Hingga malam tiba sampai fajar berjumpa, semua tak menimbulkan suara. Bahkan, saat makan bersama saja tak saling memandang dan hanya fokus pada piring di atas meja.


Hari ini Bryna akan bersekolah lagi, atmosfer baru di dalam rumah ini sudah pasti berbeda, apalagi dibumbuhi dengan kedok yang baru saja terbuka, jika Bryna bisa memilih, ingin saja membawa tubuhnya terbang menuju sekolah karena tidak tahan melihat ketegangan yang ada di depan matanya.


"Dek, makan dulu. Nanti kamu berangkat bareng Theo Uncle." Suara Roseta memecah keheningan, wanita itu Bryna sudah duduk di meja makan.


Theo memincingkan mata, pria itu juga sama, berpakaian rapi ala kantoran dan duduk juga di meja makan. "Aku Daddy-nya ngomong-ngomong." timpal pria itu.


Segamblang itu Theo ikut limbung dalam pembicaraan dipagi hari. Lantas Roseta yang diprotes hanya berdecak tanpa mengalihkan pandang. Tangannya masih sibuk menyiapkan makanan yang hampir selesai dan dihidangkan.


Sedangkan Bryna yang sudah siap dengan tas ransel di gendongan masih terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa, ia taruh ransel di samping kursi kosong lalu memandang bergantian dua orang dewasa yang tak saling menegur sapa seperti kebiasaan saat pagi tiba. Good morning atau sebagainya. Iya, itu maksud Bryna.


Dengan rapalan doa yang begitu dalam, Bryna menarik napas perlahan, kemudian gadis itu meloloskan senyum tipis sebelum berkata, "Good morning Mommy, Daddy.”


Hening sejenak. Mungkin ungkapan dari Bryna sedikit memberinkesan bari bagi kedua orang dewasa itu.


Sedangkan bagi Bryna sendiri, sapaan selamat pagi sudah menjadi kebiasaan yang memang harus diungkapkan. Rasanya kering seperti gurun pasir saat sapaan manis itu dibiarkan menggantung begitu saja.


Tak mau membuat putrinya seperti orang linglung, Theo yang mendapati Bryna telah berucap lantas menjalankan torsonya untuk mendekat. Mengelus surai Bryna hingga menghadiahi kecupan dikening juga. "Morning sweetie," balasnya.


Sedangkan Roseta hanya menonton adegan yang seharusnya sudah dari dulu dapat dilihatnya. Penyesalan hanyalah tindakan yang membuang-buang waktu, maka dari itu Roseta tidak mau terbelenggu dan hanya harus meneruskan bagaimana takdir membawa hidupnya untuk berjalan.


Tapi sebenarnya bukan gaya Roseta untuk mengabaikan Bryna dengan tidak membalas ungkapan selamat pagi, maka saat ini Roseta menoleh kebelakang, tersenyum dan berkata. “Selamat pagi Adek.”


Bryna senang minta ampun akhirnya Ibunya itu mau berbicara meski hanya beberapa patah kata saja. "Kenapa kita tidak berangkat bersama saja, Mom?" Bryna memutuskan bertanya, basa-basi.


Mata Roseta juga tidak sengaja bertabrakan dengan obsidian milik pria di depannya, warna itu sangat kelam dan menatap Roseta dengan tajam sampai-sampai ia harus mengedarkan pandangan dengan berantakan.


Theo mungkin sangat tidak rela saat putrinya memanggil pria lain dengan sebutan yang seharusnya diperuntunkan untuk dirinya seorang. Tapi ia juga tahu, akar permasalahan yang menjulang subur adalah ulah dari pupuk kebodohan yang ia tabur. Membayangkan bagaimana cara Theo memperlakukan dengan baik Rahel waktu duku membuat ia menjadi pria paling menyesal di dunia, harusnya kasih sayang itu untuk Bryna dan Braga.


"Benarkah? Daddy pulang?" Bryna terlonjak senang dan senyuman gadis itu sangat lebar.


Lagi, sorakan gembira dari Bryna membuat hati Theo berdenyut hebat. Theo punya rasa cemburu yang menderu seru. Mulutnya ingin melayangkan protes. Namun Theo tahan karena ia masih tahu malu. Theo merasa tidak ber hak karena Jay lah yang membahagiakan anak-anaknya selama ini.


Roseta mengangguk beserta deheman membenarkan. Lantas menaruh bokongnya untuk duduk dan bersiap untuk menyantap makanan bersama-sama.


"Kau bisa kan mengantar Bryna?" Suara itu tiba-tiba datang, sangat mengganggu telinga Theo.


Theo yang duduk disamping Bryna pun mendongak, menatap lurus wanita yang ada depannya, tepatnya terhalang oleh meja saja. "Apa itu sebuah pertanyaan?" tidak menjawab, Theo justru meloloskan pertanyaan.


"Tentu saja. Aku tidak bisa memerintah orang begitu saja."


"Aku ayah Bryna."


"Aku sangat tahu, kau tidak usah menjelaskan."


Oh Tuhan. Maksud Theo bukan itu. Tidak perlu ditanya pun sudah pasti ia akan mengantar putrinya. Bahkan jika Roseta tidak meminta, ia sudah pasti akan melakukannya.


Theo tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan sosok Roseta yang terbilang sangat jauh berbeda dari saat mereka masih beradu cinta. Ah, lupakan soal cinta, yang terpenting bagaimana cara mengambil hati Roseta untuk kembali didekapnya, itu tidak akan mudah.


"Iya, aku bisa mengantar Bryna." begitu saja mungkin akan cepat menyelesaikan obrolan yang dirasa tidak akan pernah menyatu jika terus berseteru.


Sunyi, hening dan hanya suara sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar. Keluarga harmonis penuh kehangatan nampaknya masih sangat jauh untuk direalisasikan. Walau bagaimana, Theo tidak bisa begitu saja untuk meminta Roseta menjadi miliknya lagi.


Bryna diam-diam memang mengulum bibirnya kedalam, mungkin nampak lucu saat menyaksikan perdebatan orang tuanya yang sama sekali tidak lucu. Namun, sejak dulu memang pemandangan inilah yang ingin ia rasakan, makan mersama dalam satu meja, walaupan berantakan saat diawal, Bryna ingin diakhir cerita melihat semuanya tersenyum bahagia—sederhana yang diinginkan seorang anak untuk melihat keluarga yang utuh bersatu.


Bryna tidak ingin menuntut, pelajaran hidupnya yang sangat tahu tentang permasalahan orang tua sudah cukup membuat ia paham bahwa Dunia sangat pintar melakonkan umatnya. Manusia diberi rasa cinta untuk saling dilemparkan, diberi rasa benci untuk saling memisahkan.


Bryna menerima berbagai rasa yang ditumbuk dihatinya, bercampur aduk hingga membuat dirinya dapat berpikir dengan dewasa.