ROSETA

ROSETA
Sedikit Saja



Theo masih sangat sibuk dengan urusan kantor, namun tidak akan bisa mengabaikan keluarga kecilnya, ah, ralat, Roseta belum bisa ia miliki seutuhnya sampai wanita itu benar-benar yakin bisa menerimanya menjadi suami sah. Membayangkan itu Theo menjadi sangat malu.


Theo kembali berkutat dengan berkas-berkas di dalam ruangan kantornya, ia terlihat sangat serius dengan setok tanda tangan yang menumpuk. Theo mengakui jika memang lebih sering meliburlan diri dari pekerjaan, hingga akhirnya inilah yang terjadi. Tanggungan yang menggunung dan memang harus ditanda tangani dengan cepat.


"Aku sibuk, Jord!!!!" Theo mengatakan itu setelah mengangkat telepon yang dialihkan dalam mode loud speaker, tangannya masih sibuk mengoreksi berkas sebelum dibubuhi tanda tangan.


"Cepat baca email dariku, kusiapkan penerbangan ke Singapura, nanti malam!!'


"Tidak usah bertele-tele, Jord, lama-lama kau seperti sekertarisku saja, katakan sekarang, aku tidak sempat membuka email."


“Terserah.”


Theo menghela napas kasar sembari memejamkan mata sejenak, menghalau pening yang mendadak menyerbu kepalanya setelah sambungan telepon dimatikan sepihak oleh James. Jadi pria itu segera mengecek email karena ia yakin Jordan tidak akan memberitahu hal yang tidak penting.


...\~\~\~...


Roseta menatap gambaran wajahnya di pantulan layar komputer yang baru saja ia matikan karena tugas merekap data obat pasien telah ia selesaiakan. Lalu beralih pandang pada jam yang menggantung di dinding; menunjukkan pukul dua belas siang lebih lima belas menit.


Roseta sudah akan pulang karena memang sudah tidak ada kegiatan lagi di poli klinik sebelum ponsel di atas meja menyala dengan sebuah pesan yang jelas tertangkap di layar utama.


Theo:


Calon istri. Sebenarnya aku ingin menggodamu habis-habisan malam ini. Tapi apa daya, aku harus ke Negara S. Jadi, bisakah kamu nanti pulang cepat dan memberiku sedikit pelukan? Sedikit saja.


Bulu kudu Roseta sedikit merinding namun tak bisa dibohongi bibirnya menyunggingkan senyuman. Oh, tidak, Roseta segera menepuk-nepuk pipinya yang mulai panas. Jika seperti ini, ia akan bertransformasi menjadi ABG yang kesemsem oleh cinta pertama. Roseta tidak akan membiarkan. Tapi bagaimana lagi, dada Roseta tak bisa membohongi, deguban begitu kencang.


Roseta:


Aku pulang sekarang.


Roseta tersenyum sekali lagi setelah membalas pesan untuk Theo. Mau dikata bagaimana, ia sudah terlanjur menerima pria itu lagi. Selain masih mencintai. Bryna lebih butuh untuk dituruti kebahagiaannya. Putrinya patut mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Toh, kalau dipikir kembali, Roseta menyadari bahwasana keadaan yang terjadi di masa lalu adalah akibat kesalahan dari kedua belah pihak. Roseta akan sedikit mulai membuka pikirannya, mengecilkan ego juga. Bukan hanya dia yang tersakiti, nyatanya Theo merasakan hal yang sama, meskipun sumbu pendek otak pria itu yang membuat masalah dulunya menjadi besar dan rumit.


Theo:


Cie, pengen banget aku peluk ya. Aku pulang agak sore karena tanda tangan, numpuk banget, malam baru berangkat ke Negara S. Hati-hati sayang.


"Cie, gundolmu," Astaga. Roseta sempat menutup matanya sejenak melihat balasan kelewat percaya diri dari Theo. Roseta memang sudah mau pulang sebelum pria itu menghubunginya asal tahu saja.


Roseta:


Jadwalku hari ini sudah selesai dan memang sudah seharusnya aku pulang!!!


Roseta mempertegas agar Theo tidak berkepala besar, enak saja, Roseta masih sangat ingin menahan diri agar tidak terlalu kentara jika iya masih cinta. Tidak semudah itu. Meski ego sudah turun drastis, tak serta merta Roseta jatuh begitu saja. Ia harus tarik ulur sampai yakin jika pria itu benar-benar serius.


Roseta keluar ruangan dengan langkah ringan, tapi jujur perasaan tidak enak mengerubung mendadak. Ada apa dengan Theo yang tiba-tiba akan ke Negara S. Mungkin jika singkat yang ia pikirkan adalah mengenai pekerjaan. Tapi hati kecil, sangat kecil dalam diri Roseta tidak rela ditinggalkan, namun logikanya menuntut Theo untuk berangkat saja.


Roseta memang rumit.


Melihat lagi ponsel yang berada di genggaman, Roseta kecewa Theo tidak membalas pesan terakhirnya, alhasil membuat Roseta terpaksa pergi ke kantor Theo saja. Persetan dengan kekacauan yang akan ia buat. Roseta hanya berharap media tidak akan meliput mengingat Theo memang kerap sekali masuk dalam berita televisi.


Apalagi mengenai kasus percerain hingga mengakibatkan orang ketiga.


Roseta hanya berharap, ia tidak akan terseret kasus murahan yang dibuat oleh netizen yang tidak berbudiman. Bahkan sampai saat ini, kasus itu belum juga reda. Tapi entah bagaimana reporter belum juga dapat membuktikan kebenaran yang terjadi. Setahu Roseta, Theo dapat melakukan apa saja. Mungkin pria itu diam-diam membereskan.


Roseta menghela napas berkali-kali saat tubuhnya akan masuk lift lantai pertama perusahaan dimana Theo menjadi pemiliknya. Tentu saja Roseta tahu persis tempat ini, tinggal klik, informasi muncul otomatis.


"Aku di kantor kamu, tapi aku nggak salah alamat 'kan? Aneh banget, kok nggak ada resepsionis, ini beneran kantor apa toko elektronik?" Telepon tersambung dan Roseta langsung mengatakan itu.


Yang dikatakan Roseta tidak salah. Sepanjang mata wanita itu menjelajah, berbagai macam elektronik yang berupa seperangkat game menjajah lantai pertama gedung perusahaan milik Theo. Layar dengan ukuran besar bergeletak di mana-mana, belum lagi banyak orang yang sedang asik sendiri memainkan permainan; ada yang berdiri menghadap layar dengan kepala menggunakan kacamata sembari meninju-ninju angin, ada juga yang duduk beralaskan karpet atau sofa dengan stick berada ditangan masing-masing, dan masih banyak lainnya lagi yang Roseta tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.


Terdengar kekehan dari balik ponsel yang menempel di daun telinga milik Roseta sebelum Theo menjawab, "Kamu nggak salah alamat sayang. Tunggu disitu, aku jemput kebawah."


"Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Tanya Roseta beruntun curiga. "Kamu bareng wanita di ruanganmu? Aku nggak boleh keatas buat ganggu?"


Theo tertawa renyah yang alhasil membuat Roseta sedikit sebal. "Ya Tuhan, nggak mungkin aku nglakuin itu. Sekarang gini aja, kamu jalan ke arah salah satu pojok yang diatasnya ada lampu bulat gede banget, kamu tunggu di sana, lift pribadiku ada disana."


Roseta mengangguk meski Theo yang berada di lantai 32 tidak akan pernah melihat responnya. Sesuai permintaan Theo, wanita itu berjalan sesuai instruksi. Meskipun sedikit curiga konyol, tapi Roseta percaya saja jika Theo memang tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan bermesraan bersama wanita lain.


Setelah mengamati, Roseta menemukan satu-satunya tempat pojok dengan lampu besar berada diatasnya, lantas ia segera menghampiri tempat itu. Seperti yang dininfokan oleh Theo; terdapat lift dengan pintu berwarna keemasan, desainnya mewah dan baru pertama kali ini Roseta melihat jenis lift seperti ini; berbagai panel aneh yang belum Roseta kenali menempel di sepanjang sisi pintu.


Belum ada satu menit Roseta berdiri dengan kesendirian, pintu lift terbuka, menampilkan sosok pria dengan senyum kotak menghiasi wajahnya, Roseta sangat keterlaluan mendeskripsikan Theo sebegitunya. Iya, Theo lah yang berada di dalam sana dengan senyum sumringah sembari merentangkan tangan, sontak Roseta menolak.


"Turunin tangannya!!"


Theo memberengut namun menurut, "Ayo," ajaknya, lalu menarik lengan Roseta untuk masuk ke dalam pintu bermesin itu hingga membawanya dengan cepat ke lantai 32, sangat cepat sampai Roseta tidak yakin jika ini hanyalah lift biasa.


Roseta lagi-lagi hanya menurut saat tangannya masih dipegang erat oleh Theo hingga membawa tubuh keduanya berhasil masuk ke ruangan pria itu. Setelah menutup pintu, Theo berbalik dan memeluk Roseta dengan semangat.


"Akhirnya," ucap Theo girang.


Roseta tak mampu protes, karena ia juga teramat lega untuk alasan yang tidak bisa ia cerna. Lantas tangannya membalas pelukan Theo yang di lingkarkarkan ke pinggang pria itu. Tidak lupa juga, manik mata coklat muda milik Roseta meneliti dari balik pelukan, tidak ada wanita lain di ruangan ini. Roseta meringis dalam hati merutuki kebodohannya.


Theo masih terdiam mengendus perpotongan leher milik Roseta dengan tubuh yang bergerak-gerak pelan seolah menimang bayi dalam gendongan. Jujur Theo sangat senang semenjak panggilan masuk dari Rose yang memberitahu jika wanita itu berada di kantornya. Tidak sampai di situ saja, tubuhnya juga spontan berdiri sembari bergegas lari dengan jantung yang melatup-latup, sungguh pengaruh dari Roseta sebegitu dahsyatnya.


Theo tidak terpengaruh, malahan lebih mengetatkan pelukan sembari menggeleng samar. "Sebentar saja, mumpung nggak ada Bryna." pintanya.


Roseta tersenyum, "Sama anak sendiri nggak boleh gitu dong."


"Nggak, Bryna selalu ganggu, aaw," Theo mendapat hadiah cubitan di pinggang kanan, "sakit sayang," adunya kemudian.


Roseta memanfaatkan untuk mengendorkan pelukan sampai benar-benar lepas, lalu langkah kakinya mengelilingi ruangan Theo. Di sepanjang dinding, banyak sekali photo Bryna, hal yang tidak pernah terduga oleh Roseta.


"Jangan cemburu, photo kamu ada di atas mejaku." intrupsi Theo tak terduga, siapa juga yang cemburu, begitulah batin Roseta.


"Mana bisa aku cemburu sama anak sendiri sih," jawab Roseta logis dan jujur. "Kerjaan kamu masih banyak banget ya?" tanyanya kemudiaan yang saat ini fokus menatap meja di mana Theo menempelkan bokongnya di samping tumpukan kertas.


"Tinggal sedikit," jawab pria itu.


"Aku tunggu kamu ya, kita pulang bareng," pinta Roseta sembari melirik sofa, sepertinya itu adalah tempat ternyaman untuk duduk.


"Jadi bener kamu kesini cuma mau pelukan? Nggak ada hal lain?" goda Theo, alis tegas pria itu naik turun, membuat Roseta memutarkan bola matanya.


Roseta mengurungkan niat untuk mengistirahatkan tubuhnya diatas sofa, wanita itu beralih untuk mendekat ke arah Theo. "Perasaanku nggak enak." ucapnya menatap manik mata Theo dengan nanar.


Theo tertegun, "tentang?" tanyanya.


"Soal kamu yang mau ke Negara S. Aku ikut boleh?" pinta Roseta kemudian, tangannya meraih untuk menggenggam telapak tangan Theo. Erat.


Theo terhenyak. Bukan soal tangan Roseta yang menggenggam tangannya dengan erat. Sarat khawatir yang Roseta berikan seolah mengganggu ketenangan. Perasaan ini sangat baru, dan Theo harus bagaimanapun ia tidak tahu.


"Kamu denger aku nggak sih?" tanya Roseta lagi, penekanan suaranya lebih di perjelas.


"Hah? Gimana?"


"Kamu nggak dengerin aku??? Aku minta ikut ke Negara S!!"


Theo menggeleng tegas. "Nggak boleh!!" tolaknya.


Kedua alis Roseta bertaut, "Kenapa nggak boleh? Kamu ngurusin apa disana?"


Theo tersenyum tipis, "Kalau kamu curiga aku bakalan liburan sama wanita lain, kamu salah besar, aku ngurusin kerjaan, cuma sebentar. Kamu disini saja. Aku nggak begitu banyak bawa bodyguard, sebagian banyak aku tinggal disini buat ngawasin kamu sama Bryna. Resiko sangat besar jika kamu ikut aku, kamu paham 'kan?" jelasnya.


Roseta menunduk berpikir, sedangkan Theo menanti tanggapan Roseta dengan sabar. Mau bagaimanapun pria itu memang tidak bisa membawa Roseta dengan alasan yang di jelaskan panjang lebar seperti tadi. Theo tidak berdusta. Dan untuk alasan Roseta khawatir, sebenarnya tidak ada hal yang berbahaya selama itu berkaitan dengan Theo. Pria itu bisa menjaga diri.


"Aku nggak tahu kenapa perasaanku nggak enak, beneran, aku nggak bohong, kalau memang aku nggak boleh ikut, kamu bawa lebih banyak bodyguard saja." ucap Roseta lirih sekali masih dengan menunduk.


Roseta sendiri juga tidak tahu kenapa dengan perasaannya. Jika saja Theo tidak mengatakan akan ke Negara S, berani sumpah pun Roseta tidak akan melunak manja seperti ini, sama sekali bukan gayanya. Ah, meskipun dipikir saat jaman dulu Roseta memang sering dan sering manja, tapi sekarang Roseta sudah dewasa. Sudah bukan waktunya.


Theo meranik Roseta dalam pelukannya lagi, bukan menggoda seperti biasanya, pria itu ingin menenangkan. Matanya tak bisa berbohong melihat Roseta setengah mati khawatir.


"Dua hari deh, sebenarnya aku tiga hari disana, buat ngelegain kamu, aku potong jadi dua hari, deal."


Roseta menggeleng di dada bidang milik Theo. "Satu hari."


Theo tersenyum, "Duuh, aku seneng banget kamu manja gini, udah sayang lagi sama aku?" tanyanya menggoda, maksudnya untuk mencairkan suasana.


Roseta mendongak, matanya melotot, "Aku nggak lagi bercanda." tegasnya.


Theo bukannya takut, malahan Roseta terlihat sangat lucu dimatanya. Theo sekenanya menekan bibir Roseta dengan bibirnya, lima detik, hanya lima detik. Roseta menambah diameter pelototan matanya, melebar dan besar. Kaget setengah mati. Roseta berani bersumpah, jantungnya ingin melompat.


Roseta mendengus saat Theo terkekeh setelah melepas pangutan yang hanya menempel sejenak itu, hingga akhirnya Roseta bersuara, "Aku nggak tahu, mau marah nggak bisa."


"Lama-lama kamu mirip Bryna."


Roseta seperti ingat sesuatu yang berputar-putar di kepalanya saat pertama datang ke kantor milik ayah dari anaknya ini. "Aku nggak mau kamu bawa Bryna ke kantor kamu, jangan sampai!!!"


Dahi Theo praktis mengkerut, rencananya pria itu akan lebih mengenalkan Bryna dengan seisi kantor dan karya-karyanya. "Kenapa? Justru aku ingin Bryna main-main kesini."


Roseta melepaskan paksa rengkuhan Theo, seakan bersiap-siap untuk berdebat. "Kamu pengen anak kamu nggak pulang ke rumah setelah lihat lantai satu perusahaan ini kayak teman hidup dan mati Bryna, game adalah nyawanya, aku cukup sulit ngendaliin Bryna akan gilanya dengan permainan-permaian itu."


Theo melotot, "Ups, sampai segitunya?" tanyanya.


Roseta tersenyum kecut, "See, kamu aja nggak kenal anakmu."


Skak mat. Theo gemetar, ah berlebihan. Kenapa juga membahas hal seperti ini, rutuk Theo dalam hati menyesal.


Bibir Theo menekuk kebawah, menyesal, sungguh, "Maaf." ucapnya.


"Oke. Maaf diterima. Udah kamu selesaiin kerjaan kamu, aku tunggu di situ." Roseta menunjuk sofa di pojok ruangan dalam.


Dengan langkah loyo, Theo kembali ke meja kebesarannya, kembali berkutik dengan setumpuk kertas yang ia yakini bakalan cepat selesai.


Sedangkan Roseta berjalan ke arah sofa. Langkahnya memunggungi Theo yang sudah duduk tampan di tempatnya. Roseta mengelus dada karena lega, jujur Roseta sebenarnya mengalihkan perhatian karena teramat syok dengan ciuman dadakan oleh bibir sexy Theo. Roseta meraba bibirya, ah, Roseta bisa gila.


Sialan. Roseta tersenyum.