ROSETA

ROSETA
Wedding



Semua orang pernah melakukan keselahan, tak terkecuali Matheo Ranu Pandega. Satu kesalahan terbesarnya adalah prasangka, yang total merubah hidupnya.


Roseta Marveen, korban dari prasangka Theo.


Dan buah dari kebodohan yang menumpuk itu adalah, Theo tidak bisa menyaksikan bagaimana buah hati kembarnya lahir di dunia sampai beranjak hingga sepintar itu.


Braga dan Bryna, siapa yang tidak kenal dengan duo bocah itu, author yakin, para readers banyak yang ngefans kan?


Tentu dong.


Theo sebagai Ayahnya saja tergila-gila. Untung saja Tuhan masih sayang dengan pria itu, atau authornya yang baik hati sampai bisa Theo berakhir sebahagia ini.


Buktinya, yang dipandang Theo di depan kaca saat ini adalah tubuh yang terbalut setelan jas mewah, pakaian yang akan ia gunakan untuk mengucap sumpah sehidup semati bersama Roseta beberapa jam lagi.


Jika ditanya tentang masa lalu, apakah Theo menyesal? Haduh, tidak perlu dipertanyakan lagi, tentu Theo sangat menyesal.


Tapi, Roseta berkali-kali meyakinkan jika bukan hanya Theo saja yang salah, Roseta juga salah, dan bagian paling sempurna di masa depan tidak boleh dicampur adukan dengan hal yang sudah berlalu.


Jadi, saat ini, segala masa lalu kelam itu akan Theo tinggalkan. Sekarang, waktunya untuk Theo dan Roseta membuka lembaran baru, menciptakan moment membahagiakan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


Dan, disaat waktunya tiba, entah bagaimana jantung Theo berdetak begitu hebatnya, dan adapun sedikit kebodohan Theo saat mengucapkan janji sehidup semati disertai dengan gugup yang menggetarkan bibirnya, seperti orang ketakutan.


Untung saja, untung sekali ada Braga, puteranya itu tersenyum bangga kepada ayahnya, hingga mengisyaratkan, "Dad, sure you can, be still I am here." Lantas Theo sangat lancar dalam berucap setelah itu.


Rose sekali lagi mencuri perhatian Theo begitu dalam, ia memandangi wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan tatapan kagum, sekaligus bangga pada diri sendiri karena sudah bisa memiliki wanitanya secara utuh.


Roseta menggunakan gaun putih yang simpel namun elegan, dan itu membuat Theo semakin semangat untuk menyobek gaun itu nanti malam, oh sial, ia harus ingat jika di dalam perut yang masih rata ada calon anaknya, oke, Theo akan menyimpan sisi itu untuk sementara waktu.


Theo mengalihkan pandangan, tidak seperti pernikahan-pernikahan pada umumnya, di atas altar hanya ada sepasang mempelai dan dua anak kembar berada di tengahnya, Braga dan Bryna terlihat sangat menawan, balutan yang dipakai bocah-bocah itu sesuai dengan mempelai, Bryna senada dengan Roseta dan Braga senada dengan Theo.


Jadi begini.


Sebelum acara dimulai, pengumuman mengejutkan memang datang dari keluarga Pandega yang secara mendadak membuat para pasang mata terbuka lebar, memperhatikan dan mendengar seksama, menyaksikan bagaimana mulut dari seorang yang begitu berwibawa mengatakan jika bukan hanya Bryna yang menjadi cucu keluarga Pandega, melainkan ada juga Braga sebagai kembaran gadis itu, Dera mengatakan dengan haru pun air mata juga menyertai.


Alhasil.


Tidak ada seorangpun yang memperhatikan ketampanan Theo, mungkin semua orang sudah tahu akan sosok itu, jadi yang saat ini mencuri perhatian begitu besar adalah Roseta dan kedua anak-anaknya, bagaimana tatapan kagum mata-mata itu saat menyaksikan secara langsung kecantikan Roseta, dan bagaimana tingkah Braga dan Bryna dengan aura berbeda dibandingkan anak-anak lainnya.


Braga dan Bryna memiliki mata yang tegas saat memandang. Bryna yang begitu cantik dan keterdiaman Braga yang terlihat cool membuat para orang dewasa begitu gemas ingin mencubit pipi mereka, tapi mana ada yang berani seenaknya dengan cucu dari Pandega.


Theo benar-benar merasakan kebahagiaan utuh dan tumpah ruah, berbeda dengan Dera yang berbahagia namun ada yang mengganjal dihatinya.


Karena apa?


Dera menatap semua yang ada dihadapannya, tidak seperti yang diharapkan, pernikahan super mewah tidak akan pernah terjadi lantaran kedua mempelai menolak mentah-mentah, akhirnya pesta ini hanya dilakukan di sebuah hotel kepemilikan Pandega saja, Hotel Diamond, secara outdoor namun private.


Dan satu pemandangan lagi yang membuat Dera tersenyum sangat lebar, disana nampak Jay menangis haru bersama kedua orang tuanya, Dera jadi ingat kejadian dua jam yang lalu, dimana Jay memukul keras perut Theo


Dera menyaksikan dan mendengarkan bahwa pukulan itu adalah tanda selamat, dasar dua pria edan yang sudah dewasa. Dera sampai tidak bisa mengikuti jalan pikiran mereka. Tapi untung saja semua sudah berakhir bahagia.


Semoga.


"Bu, apa kau mencariku?"


Saga tiba-tiba datang dari belakang. Langsung saja Dera memukul lengan pria itu. "Hah. Kau tau kekawatiranku saat ini apa?"


"Aku tau." Saga tersenyum. "Menikahkan aku bukan? Selamat bu, berkat ibu..." Saga mengarahkan tangannya ke arah kanan, disana ada gadis cantik bermata kucing berdiri sembari tersenyum. "Val, aku akan menikahi Valerie."


Tahu bagaimana respon Dera, ia langsung memeluk Saga dengan erat. Ia tidak tahu hari apa ini? Tapi yang jelas keberuntungan berada digenggaman Dera.


...****************...


"Thei, kamu nggk berpikir aku mengerikan kan? Kenapa kamu menatapku seakan ingin memakanku?"


"Kamu nggak tau? Ini adalah tatapan penuh cinta." Theo membalasnya dengan senyuman, memang benar, dalam otak Theo ingin bercinta, tapi karena keadaan ia jadi muram, lalu Theo tersenyum manis dan mengimbuhi, "Kami cantik sekali."


Roseta menoleh cepat. "Kamu nggak lagi nge-gombal?" tanyanya.


"Enggak, selain Bryna, kamu adalah wanita paling cantik di bumi."


Roseta mengangguk dan mulutnya terbuka ber-ah tanpa suara. Pipinya bersemu merah. Kenapa dengan Theo? Kenapa tidak pernah berhenti memuji dengan berlebihan. Dan sialnya Roseta suka.


"Jadi, apa aku tampan hari ini?" tanya Theo menggoda.


Roseta sedikit mendekat, membisikkan pertanyaan untuk Theo. "Kamu tahu siapa yang paling tampan hari ini?"


"Aku?" jawab Theo lugu.


Roseta menggeleng, "Sini aku bisikin." Namun saat Roseta ingin mendekatkan bibirnya di daun telinga Theo, pria itu justru mencium sudut bibir Roseta, suara kecupan pun terdengar sedikit keras, alhasil ada beberapa mata melihat kearah mereka.


Roseta melotot, Theo membuatnya malu. "Matheo."


"Aku tidak terima ada pria lain paling tampan selain aku."


"Oke. Yang aku maksud adalah Braga, putra kamu sendiri. Cukup."


Ada senyum geli di bibir Theo. Benar, ketampanan milik Theo sudah kalah saat ini, digantikan oleh putranya sendiri. Dan Theo bangga akan hal itu.


"Mommy, Bryna mau photo."


Roseta dan Theo saling berpandangan mendengarkan permintaan Bryna yang tiba-tiba datang.


"Mommy, Braga ingat sekali, kita tidak punya photo keluarga."


Kali ini Roseta dan Theo menyadari sesuatu juga saat Braga mengatakan itu.


"Daddy juga mau photo bersama." Theo menanggapi duluan, tangannya melambai memanggil seseorang.


Setelah apa yang dipersiapkan sudah selesai. Seperti yang diinginkan Braga dan Bryna. Mereka berphoto bersama, dengan kedua anak itu berada di tengah-tengah kedua orang tuanya, berbagai pose dan berpindah posisi juga dilakukan.


Ini adalah hari kebahagiaan mereka berempat, atau berlima bersama bayi dalam kandungan. Satu moment indah yang tidak akan pernah dilupakan oleh mereka.