ROSETA

ROSETA
Secret



"Ini kunci kartu kamarnya." Theo menyerahkan kartu ke tangan Roseta saat masih di lobby, dan Roseta menatap kartu itu sejenak.


"Kita tidak sekamar?" Tanya Roseta memastikan.


Theo menggeleng meski kerlingan matanya begitu nakal. Kalau ditanya begitu, tentu saja pria itu ingin, tapi untuk menghindari hal yang iya-iya, Theo tetap harus waspada, saat ini yang berbahaya sebenarnya bukan dirinya saja, melainkan Roseta juga, malam hangat tidak bisa dihindari begitu saja.


Roseta mengerutkan kening sembari tetap berjalan disamping Theo. "Kamu udah nggak cinta sama aku?" tanyanya lagi.


Ya kan? Pertanyaan macam apa itu.


Tak ada jawaban. "Oke. Sana pergi." usir Roseta dengan mengibaskan tangan ke udara, mempersilahkan Theo pergi saat ini juga.


Theo yang ingin sekali menanggapi sampai tidak bisa berkata-kata. Rencanyanya malam ini mereka akan menginap di resort saja, ingin menikmati suasana luar.


Baru saja.


Baru saja keduanya berbaikan dari acara perdebatan untuk membahas Rahel. Roseta ngotot ingin merawat gadis itu jika saja Yura memang tidak bisa diandalkan untuk menjaga putrinya. Tapi Theo tetap berisik keras jika ide Roseta sangat gila.


Untuk apa?


Theo paham Roseta penyayang, tidak bisa begitu tega dengan keadaan Rahel memiliki ibu pengidap gangguan mental, tapi Theo yakin seratus persen jika Yura masih bisa, selama ini Theo tahu jika Yura begitu memperhatikan pertumbuhan Rahel, jadi Roseta tidak perlu sekhawatir itu.


Lagi pula, jikapun tidak dengan Yura, Rahel masih punya kakek nenek yang utuh dari pihak Mark. Theo sudah mendapatkan informasi jika kedua orang tua Mark itu sudah menemui Yura dengan baik-baik. 


Hanya saja, Yura yang masih ingin menarik Theo agar tidak pergi. Memalukan.


"Cinta, masih cinta, selamanya." Theo tersenyum dan mendahului langkah Roseta.


"Tapi kenapa nggak mau tidur denganku?"


Astaga. Sampai tahap itu juga. Theo tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, seperti yang sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.


"Belum waktunya." Theo menekan tombol lift dan menunggu.


"Kapan waktunya?" Pintu lift terbuka, Theo masuk dan Rose mengekor di belakang.


"Aku baru sadar kamu bukan Roseta, tapi Marveeb dalam versi yang membahayakan. Aku tidak mau kesalahan terulang." Jelas Theo lagi.


Maksud Theo tidak mau Roseta hamil duluan jika saja keduanya kebablasan.


"Kesalahan terulang tidak apa-apa asal kamu bertanggung jawab. Ayo menikah kalau begitu, malam ini kita menikah, dan bisa tidur bersama."


Lagi kan.


Roseta terdiam setelah mengatakan itu, terlebih Theo juga sama dengannya, diam. For God Sake! Roseta kecewa bukan karena tidak bisa tidur dengan Theo. Tapi lebih ke...


Argh. Kepala Roseta hampir pecah. Gelagat Theo menunjukkan jika pria itu tidak akan bisa disisinya untuk selamanya, gelagat Theo seperti pria itu akan meninggalkan Roseta begitu saja. Perasaan Roseta sangat tidak enak.


"Hallo mommy." Braga bersuara saat pintu lift terbuka, bocah cilik itu tersenyum menyambut ayah dan ibunya.


"Anak mommy." Roseta yang dilanda mendung seperti mendapatkan mataharinya kembali.


Hanya karena putranya.


Roseta seperti mendapatkan permen kapas dan akan dilahap saat ini juga, ibaratnya Braga, Roseta tak mengulur waktu untuk menciumi putranya itu. Sangat rindu.


"Mommy, hentikan, bibir mommy bekas daddy."


Seketika itu Roseta berhenti. Maksud Braga apa?


Roseta mengerutkan kening, menatap Theo yang ada dibelakangnya, dan pria itu hanya mengangkat bahu saja. Roseta kebingungan dan akhirnya menatap Braga lagi.


"Braga tadi lihat mommy dan daddy saling bercengkrama bahagia, dan berciuman juga." Jelasnya.


Ah. Roseta ketahuan lagi. Jika dipikir, kenapa Braga maupun Bryna sering memergoki kedua orang tuanya sedang begituan? Roseta harus memikirkan tempat paling aman jika nanti akan mencium Theo lagi.


Roseta meringis. "Mommy menang. Mommy mengalahkan daddy, mommy senang karena menang taruhan."


"Benarkah?" Braga turut bahagia, "Mommy bisa mengalahkan daddy, ini daddy lho mom, bagaimana bisa? Berapa skor mommy?"


Benar saja Braga kelihatan antusias, yang dikalahkan adalah Matheo Ranu Pandega, pemain yang sudah mahir dalam bidang ini.


"Pokonya skor mommy lebih tinggi dari daddy."


"Arti apa?"


Sedangkan Theo mati-matian memberi kode agar Braga berhenti bicara, melambaikan tangan agar tutup mulut saja. Braga yang diajak kompromi oleh ayahnya sepertinya tidak ingin meladeni, senyum setan terbit dan beralih menjadi anak baik saat menatap ibunya lagi.


"Dalam permainan golf, berlaku sebaliknya mom. Pemenang adalah siapa yang mendapatkan nilai terendah."


Oh...


Wajah Roseta tampak muram, mulutnya menganga mendapati kenyataan pahit itu.


Theo pasti sangat bahagia sudah mempermainkan Roseta begitu saja. Kenapa pakai acara bohong segala. Itu menyakitkan. Awas saja.


Theo yang mendapati Roseta terdiam lantas tak kehabisan cara, pria itu sudah cukup pusing dengan drama pertengkaran, maka tak mau masalah menjadi runyam, Theo mendekatkan mulutnya tepat di daun telinga Roseta. "Nanti malam tidur denganku, sekarang habiskan waktu dengan anak-anak, Bryna di dalam kamar itu."


Dasar perayu, tapi Roseta termakan bujuk rayu.


Dengan senyuman secerah mentari pagi, Roseta menggandeng Braga masuk kedalam kamar. "Mau mommy buatkan roti kering?"


"Mom, apa yang dikatakan daddy?"


Roseta menggeleng. "Tidak ada." jawabnya.


"Braga tahu daddy merayu mommy kan?" 


"Tidak Kakak, sudah ayo." elak Roseta.


Theo yang mendengar perdebatan kecil itu hanya tersenyum dan berjalan mengikuti keduanya, sampai pada saat Theo tahu Bryna berada di sofa dengan Jordan, barulah pria itu berjalan dengan cepat.


"Jangan mencuri perhatian putriku, pergi sana." Theo melototi Jordan.


Kenyataan yang sebenarnya adalah, kamar yang diberitahukan Theo kepada Roseta adalah kamar anak-anaknya. Theo hanya ingin membuat kejutan.


"Daddy." Bryna yang tahu kedatangan Theo lantas menaruh stik ps sembarangan dan beralih untuk memeluk ayahnya.


Theo tersenyum jumawa, menunjukkan kepada Jordan jika Bryna itu sangat menyayangi ayahnya. Lihat bukan, Jordan jadi terlupakan.


"Alay. Siapa juga yang akan mengambil putrimu." Jordan muram saat mengatakan itu.


Pikir logis saja. Diawal, siapa yang membuat kesepakatan untuk mendekatkan diri kepada Bryna? Jika bukan perintah konyol Theo, Jordan juga tidak akan begitu dekat dengan Bryna, menjaga Bryna ataupun bermain bersama Bryna. Awal dari semua drama yang selama ini terjadi ya berkat Theo. Dasar pria sinting.


Theo mengabaikan gerutuan Jordan, pria itu menyibak poni Theo. "Ini masih sakit?" tanyanya saat mengusap bekas luka yang ada di pelipis Bryna.


Bryna memutar bola matanya, anggap saja tidak sopan, tapi please, ayahnya ini berlebihan sekali.


Bagaimana tidak.


Semenjak tempo hari, saat Bryna sedang santai di teras belakang, ia dikejutkan dengan kedatangan Theo seperti orang dikejar setan, saat Bryna bertanya, ayahnya itu justru menunjukkan kekawatiran yang berlebihan, mengenai luka di pelipisnya, padahal  sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya saja.


"Dad, berapa kali daddy bertanya? Hampir seratus kali, dan jawaban Bryna tetap sama, sudah sembuh, tidak sakit."


"Makanya punya anak perhatian." Jordan semakin membuat Theo berapi.


Kurang ajar 'kan Jordan ini? Theo cemburu dengan kedekatan Jordan dan Bryna. Disaat Theo tidak tahu dengan luka Bryna, Theo justru mendapati Jordan sudah tahu duluan. Bagaimana Theo tidak marah.


"Jord, diam, atau pergi sana."


"Tidak akan, aku ada pekerjaan dengan Braga."


Theo melotot, sedangkan Jordan reflek membekap mulutnya sendiri. 


Sinting.


Bagaimana bisa Jordan berkata gamblang di depan Bryna. Bagaimana jika Bryna curiga?


"Ada rahasia? Apa Bryna boleh tahu?"


Benar kan. 


Theo ingin melempar Jordan ke rawa-rawa, biar begerombol dengan sekawanannya, buaya.