ROSETA

ROSETA
Time



Jordan menatap Bryna yang sedang membenahi helm yang membungkus kepalanya sesaat setelah Roseta memberi kabar yang menurutnya sangat mengganjal. Seharian berada di lapangan tanpa membawa ponsel memang salah besar, nyatanya berita yang sedang memborbardir notifikasi hingga penuh satu layar sontak membuatnya geram.


Langit senja yang memancarkan gradiasi ungu violet dengan cahaya berkilau keemasan yang terlihat begitu unik saja tak mampu membuat seorang Jordan terpana, bola matanya tetap menjamah rentetan berita yang tersaji jelas di depan matanya. "Si Theo goblok, anjiiing!!" Umpatnya tak tanggung-tanggung.


*Gadis cilik yang sudah akan meluncur bersamaan papan skate dengan kaki yang berada diatasnya itu pun membatalkan niat. "Uncle* mengumpat!!!! Buat Theo daddy?" Tanyanya tak terima, ternyata dengan jelas Bryna mendengar.


Jordan mengerjab, tentu, ia sudah terbiasa berbicara kasar, bodohnya, ia lupa jika di depannya ada gadis yang menjadi putri sahabatnya, sialnya lagi, Bryna terlalu peka.


"Ada apa, uncle?" Bryna sudah saja berada di depan Jordan, rautnya berubah, ada sedikit keseriusan. Jika Jordan menangkap, Bryna sedang tidak jadi memarahinya, malahan penasaran mati-matian.


Bryna tak tahan dihiraukan. Mengambil cepat ponsel yang berada ditangan Jordan karena Bryna tahu, jika Jordan mengumpat setelah beberapa lama fokus dengan benda itu.


Jordan merebut cepat ponselnya. "Bryna, ayo kita pulang, Jack uncle sudah menunggu." ucapnya tegas, Bryna melihat lagi sosok Jordan yang tidak menyebalkan, melainkan sangat membuat penasaran.


Jika saja, Bryna pintar menggunakan komputer seperti Braga; membobol situs rahasia, mengintip para penjahat dunia, dan lain sebagainya yang memang kerab sekali Braga lakukan dengan sembunyi-sembunyi agar tak diketahui oleh mommy. Pasti Bryna akan banyak mengetahui berbagai hal. Bryna tidak bisa menampik jika dirinya saat ini kawatir, melirik sebentar ponsel Jordan, disana tertulis nama ayahnya, Matheo Ranu Pandega, ia jadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


Jordan tahu jika di dalam ponselnya adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh diketahui oleh Bryna. Sudah cukup membuat Theo menjadi jelek di mata banyak orang yang kecewa kepadanya, terutama Theo juga. Sesuatu tidak beres begini harusnya tidak terjadi, tapi mereka hanya manusia yang bisa berencana, bukan Tuhan yang bisa mengendalikan segalanya.


Jordan harus cepat bertindak. Setelah memblokir berita murahan itu terlebih dulu tentunya.


Tapi, lebih baik menghubungi seseorang akan menjadi opsi pertama.


...\~\~\~...


Negara C: Kota Lemon


"Aku di Negara C, Jord. Theo tidak mengatakan padamu?"


“Sialan, Theo goblok. Ada hal serius, bang. Kenapa di saat genting begini kau malah kesana? Karena Somi?'


Saga memejam erat mata sesaat. Justru bentuk dari kata sialan itu adalah Jordan sendiri.


Kenapa pria kerdil itu menyalahkannya?


Kenapa pula menyeret nama wanita yang sedang lelap tertidur di sampingnya?


Jika saja Jordan tahu, hari ini begitu dingin disini, jam yang menggantung di dinding pun masih menunjukkan waktu sembilan pagi. Dasar sinting. "Mau ku bunuh kau? Kenapa pula kau menelfonku, sinting?"


“Aku serius, bang. Theo mendapat masalah di Negara S.”


Saga yang mendengar nama dari sebuah Negara yang lebih tepatnya Negara S, tanpa aba-aba pria itu membangkitkan diri, hingga sebuah tangan yang melingkar di perut tak berbusana miliknya terlepas begitu saja. Somi ikut terbangun. "Kenapa?" tanya si wanita.


Saga tersenyum singkat, lalu menggoyangkan ponselnya, tanda jika ada urusan penting dengan benda tersebut.


"Kenapa Theo bisa sampai sana?" tanyanya dengan suara berat, tubuhnya di bawa menjauh dari ranjang, hingga matanya memandang cakrawala dari balik jendela. Hujan ternyata sedang mengguyur bumi dengan ramainya.


“Bang, kau serius tidak tanya inti masalahnya?”


"Jawab aku!!"


Saga mendengar suara tawa mencemooh dari balik ponselnya yang tersambung, ia sangat yakin itu suara Jordan. "Kau menertawakanku?" Saga menyatukan alis hingga dahinya pun ikut mengkerut.


“Apa yang kau tahu, Bang?”


Saga tersenyum tipis mendapati asumsinya tertebak begitu tepat. Aah, kenapa Theo saudaranya itu tak sepeka Jordan. "Apapun yang kau tahu, aku juga tahu. Jangan menanyakan hal bodoh. Sekarang inti masalahnya apa?" Setelah mengatakan itu, Jordan terdengar sedang terbahak keras.


“Sialan, brengsek, kenapa kau menyembunyikan begitu lama, Bang. Kau tahu, aku kelimpungan dengan keponakanmu yang bodoh itu. Aku gila. Aku juga butuh hiburan, liburan. Bersama wanita tentunya.”


Tentu saja di akhir kalimat Jordan dengan terang-terangan menyindir Saga. Pria itu tahu, Jordan dikungkung habis-habisan oleh Theo. Tidak boleh menjauh sedikit pun. Jika saja itu Saga yabg diperlakukan seperti itu, pasti pria itu tidak akan mau. Tugasnya hanya memantau keamanan perusahaan, yang tak harus stay di tempat, bahkan di Negara C yang jauh dari Negara I, perusahaan Theo aman di tangannya.


"Sekarang, apa masalahnya?"


Seberapa besar Jordan tahu, tapi tak kan lebih besar daripada Saga. Pria itu hanya memastikan sampai dimana ia dapat membantu.


“Yura. Aku tidak mempertimbangkan kendala yang wanita itu buat. Berita belum sampai sana? Aku belum memblokir situs.”


"Wanita gila itu lagi? Belum, aku belum mendapatkan notifikasi."


“Iya. Theo mengatakan padaku jika dia pasti aman karena kapan hari kau bilang Redolent selalu mengawasi Theo hingga tak akan bisa membuat dia dalam bahaya. Tapi ini, kenapa Yura berhasil membuat ulah?”


"Jadi, Theo sendiri kesana?"


“Tentu.”


"Sialan." Saga mengumpat.


Mulut bodohnya memang minta di pukul pakai palu. Kenapa juga mengatakan omong kosong tentang Redolent kepada pria polos sekaligus bodoh seperti Theo. Tidak ada manusia yang bisa menyerupai Tuhan, pun kemampuan yang mampu melebihi-Nya.


Saga mengakui jika Redolent memang seorang jenius yang rela melakukan apapun demi Theo, itupun dalam lingkup perlindungan perusahaan milik Theo yang bolak-balik ingin dirusak orang, jika menyangkut keselamatan Theo, tentu saja bukan wewenang ataupun tanggung jawabnya, Theo pria dewasa yang juga tidak bisa diragukan dalam kekuasaan, namun, bertindak bodoh membawa diri tanpa pengawalan sama saja cari mati.


Tapi, jika masalah cuma menyangkut soal Yura, sama halnya dengan menjentikan jari kelingking, kecil.


"Aku tidak setuju dengan pemikiran konyol Theo tentang Redolent, Jord. Perlu aku tekankan, dia hanya membantu Theo untuk urusan perlindungan perusahaan, tidak lebih. Jangan salah paham."


“Tentu saja aku tahu, Bang. Tapi sekarang bukan itu intinya. Bagaimana dengan Yura. Kau tahu sendiri, berita ini belum aku hentikan, terlambat sedikit saja, Bryna, hanya Bryna yang aku kawatirkan. Dan aku yakin seratus persen Roseta sudah tahu soal ini. Ponsel wanita itu mati, ponsel Theo pun juga mati.”


Saga pun membuka tablet yang berada di atas meja tepat di pojok ruangan. Sialan, masih pagi sudah ada pekerjaan. Ini waktu liburan, astaga, Saga masih ingin bergumbul dengan Somi-nya.


"Sebenarnya kau ingin aku bagaimana Jord? Kau dan Theo bermain-main di belakangku." Sedang Jordan lagi-lagi tertawa konyol di balik telepon.


“Salahkan dirimu sendiri yang membuat ulah, Bang. Sudah tahu Theo itu bukan orang sembarangan, aku ingatkan jika Theo itu punya otak dengan daya ingat tinggi, pemikiran luas, dan analisis yang tidak bisa kau kalahkan. Cuma bodoh dalam urusan cinta, aku akui, Theo memang bodoh soal itu.”


Saga terkekeh, merasa sepemahaman dengan sahabat keponakannya. "Aku setuju." tanggapnya. "Kau diam saja, berita itu hanya menyebar di Negara I, karena tujuan Yura memang tepat untuk Roseta saja. Tapi, wanita itu cukup cerdik untuk menyebar luas, pendukungnya sangat banyak." Imbuhnya setelah berhasil menggali berita apa saja yang sedang menyebar luas di Negara I.


“Bukan cerdik, tapi licik, menjijikkan.”


Tanggapan Jordan dengan nada protes itu mengundang tawa bagi Saga. Meskipun kesal setengah mampus, Saga tetap melakukan tindakan. Memasukkan keyword rumit dengan gerakan mengetik yang begitu cepat, matanya sedikit fokus, langkah terakhir yang ia lakukan adalah menekan tombol enter.


"Aku sudah memblokir pengunggah pertama, begitu juga media berita maupun sosial yang berhasil menyalin video atau kabar, tak terkecuali, semuanya."


“Kau gila, Bang. Media berita besar kau blokir juga?”


"Tentu."


“Sinting!!!”


Saga menaikkan alis. "Aku tidak ada waktu memilah, aku masih ingin tidur, Jord. Tugasmu sudah aku kerjakan, kau ini minta apa sih sebenarnya?"


“Informasi.”


"Theo aman, bajingan kecil, kau menunggu aku mengatakan itu 'kan? Aku tambahi, sahabatmu itu sok keren, mau minta pujian dengan usahanya sendiri, yang nyatanya gagal total, memalukan, sekarang dia sudah dapat yang ia inginkan, sampaikan salamku, uacapan selamat."


“Nah, dari tadi dong. Tapi Roseta dimana, Bang?”


"Dia bukan wanita lemah, tidak usah khawatir, sekarang giliran Roseta untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya, total tanpa sisa."


Panggilan ditutup sepihak oleh Saga. Akhirnya, pria itu pun tersenyum puas. Bahagia sekali. Meskipun tadi sedikit emosi, tapi ia mengakui jika Theo cukup keras untuk usahanya.


Saga boleh bilang bangga, pria itu mengaku bangga, bangga sekali, meskipun Theo gegabah tanpa memperdulikan keselamatan. Untung saja, saat mebuka tablet yang ia punya, tidak ada hal mencurigakan yang samapai mempertaruhkan nyawa, misal musuh sedang mengincar di sekitar Theo, namun nyatanya hanya Yura yang berada di sekitar pria itu, itupun Yura dengan tangan kosong, bodoh sekali.


Setelah memeriksa lewat pembobolan cctv, Saga melihat Yura membuntuti Theo semenjak pulang dari kantor sewaktu di Negara I. Hingga akhirnya, Theo yang terbang ke Negara S berhasil wanita itu susul; memesan hotel yang sama sampai mengekor di tempat judi juga. Tak mau melewati kesempatan, Saga dengan sangat jelas melihat Yura membayar pelayan untuk menaruh sesuatu ke dalam minuman yang di antarkan ke salah satu ruang yang di dalamnya terdapat Theo dan satu pria bule.


“Om. Jangan bilang?”


Saga tersenyum saat mengangkat telepon yang baru saja berdering. "Iya, ibumu juga akan menyusul. Sudah waktunya. Jangan buat aku pusing. Urusanmu sudah beres bukan?"


“Begini. I'm just confused why the sudden impulse.”


*. “Begini, aku bingung saja kenapa mendadak sekali.”


Saga membangkitkan diri untuk kembali menerawang arah luar kamarnya. "Apa yang kau bingungkan, tidak ada yang mendadak juga, sudah waktunya, bahkan lebih." ucapnya meyakinkan berharap lawan bicara dapat dibujuk.


“What if I'm making a mistake?”


*. “Bagaimana jika aku membuat kesalahan?”


Saga menyatukan alis. "Apa yang kau lakukan, tidak fatal bukan?" tanyanya memburu.


“It's just I have never knocked anyone unconscious before. Tapi aku melakukannya, sengaja, karena tidak tahan.”


**. “Hanya saja sebelumnya aku belum pernah membuat orang pingsan. Tapi aku melakukannya, sengaja, karena tidak tahan.”*


"It's ok, tidak masalah. Tapi aman bukan?"


“Sangat, sangat aman.”


Saga mengelus dada. Ia pikir ada apa. "Jangan kawatir, semua akan baik-baik saja."


Panggilan pun tertutup. Saga melihat lagi tabletnya sebentar, lalu menekan tombol off untuk dimatikan. Pikirnya urusan sudah beres, tak perlu lagi melihat kronologi murahan yang di lakukan Yura. Untung saja kali ini tidak seperti delapan tahun yang lalu. Tidak serumit itu.


Para anak muda dengan jiwa labil sudah beranjak dewasa dengan pemikiran yang matang juga, jadi apa salahnya jika mereka melakukan usaha sendiri untuk melakukan perbaikan tanpa campur tangan orang lain, Saga sudah melakukan lebih dari cukup, saatnya untuk berbaring lagi di samping wanita cantik bersurai hitam pekat yang berstatus sebagai tunangannya.