
"Kenapa kau bodoh sekali sih. Aku sudah bilang, bawa pengawal, segitu pengennya kamu dirusak oleh Yura."
Tiba-tiba Theo pusing. Roseta datang dengan kemarahannya. Theo ingin menyambut dengan bahagia, namun dia tidak bisa apa-apa. Dan detik ini juga ia sadar saat Roseta menyebut nama Yura. Obat sialan. Theo mengingat dengan jelas kali ini, bagaimana dirinya berci**an dengan Yura di dalam lift. Theo sontak merasa jijik.
"Maaf. Maafkan aku," ucap Theo sedikit panik serta menarik tangan Roseta mendekat.
Roseta memejamkan mata, ia tidak bisa berbohong sangat sakit melihat Theo di depannya, apalagi tanda merah yang ada dileher pria itu sangat jelas. Pelecehan. Dera sudah bercerita bagaimana kronologinya.
Roseta memegang leher Theo. "Aku sedih, aku tidak terima, aku harus bagaimana?" Roseta tidak bisa egois dengan mengutamakan kecemburuan. Bahkan kata cemburu saja tidak pas untuk ditempatkan dalam kondisi ini.
Roseta tahu, bagaimanapun ini adalah kecelakaan. Roseta hanya takut Begitu akan kehilangan ayahnya lagi dengan cara selicik ini, bahkan untuk kedua kalinya, Roseta tidak rela untuk mempertaruhkan kebahagiaan putrinya lagi.
Sekali lagi hanya demi Bryna. Untuk urusan hati Roseta. Biar nanti saja ia hadapai.
"Maafkan aku." Theo mengatakan itubdengan lembut, pria itu mengelus pipi Roseta.
"Aku potong ya leher kamu?" Tidak luluh, justru Roseta semakin tersulut.
"Ha?" Theo memekik lalu melangkah mundur.
Dera dan Sarag hanya meringis melihat interaksi keduanya. Sedangkan Theo tidak tahu harus berbuat apa. "Kenapa? Ada apa dengan leherku?"
Theo lantas mencari kaca, tidak, ada ponsel yang sedari tadi di genggamnya, ponsel Braga, ia membuka kamera depan. "Brengsek, wanita itu melakukan ini padaku?" umpatnya saat tahu tanda merah sudah menempel di lehernya.
"Bagaimana? Aku potong ya leher kamu? Mana pisau?"
"No. Jangan. Nanti aku mati kamu nangis."
"Aku nggak peduli. Kamu bodoh."
Sarah menengahi. "Please, stop it. Jangan buat drama, apalagi di depan Bu Dera."
Dera sebenarnya tidak apa-apa menyaksikan perdebatan mereka berdua. Yang ia bingungkan adalah, dimana Braga-nya? Kemana bocah itu pergi saat ponsel dengan case spidermen berada di tangan Theo. Yang jelas disini adalah, Theo sudah bertemu langsung dengan Braga.
Braga di balik pintu kamar mandi diam-diam menguping. Ia sedikit meringis mendengar ibunya marah-marah kepada Theo. Ia sempat bingung apa yang akan dilakukannya. Sampai kapan ia akan bersembunyi terus di dalam sini.
"Aku bukan pengecut. Aku sudah sejauh ini."
Braga pun keluar saat ibunya masih berdebat dengan ayahnya. Dera melihat, melihat Braga berjalan pelan, senyum Dera menguatkan langkahnya. Begitupun Sarah. Meski tidak tahu apa yang terjadi. Namun wajah bocah cilik itu seperti Theo. Sarah jadi berasumsi namun tetap diam dan melihat kondisi.
"Mommy." Braga menyerukan suara lembut saat tubuhnya berada pada jarak satu meter dari tempat Roseta.
Bumi sudah gila hingga membuat Roseta merasakan beban beratnya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Penampakan di depannya begitu nyata, wajah laki-laki cilik itu sama dengan milik putranya yang sudah tiada, anehnya bibir mungilnya menyerukan panggilan dengan intonasi yang nadanya teramat ia kenali.
Mommy. Tedengar sangat indah dan sangat ia rindukan.
Roseta seperti orang gila dan tak ada yang berani memegangnya. Theo yang berada paling dekat dengannya pun tak bisa berbuat lebih jauh. Ia membiarkan Roseta mengatasi emosinya sendiri. Pria itu juga menangis. Merasakan kemelut yang tiba-tiba bergelut mengitari kepalanya, bukan sesuatu yang menyesakkan, hanya saja Theo dipaksa untuk merasakan kehampaan, kepalanya pening, ia sangat letih.
Lalu Theo melihat Braga yang juga sama persis dengannya. Bocah cilik angkuh yang mendebat nya sedari tadi saat ini juga menangis, mungkin sedang menantikan ibunya tertatih untuk menghampirinya.
Tak lama. Roseta berjalan dengan kedua lututnya. "Oh. Tuhan. Apa ini nyata?" Ia memegang pipi Braga.
"Ya Tuhan. Apa ini benar?" Braga masih diam saat ibunya masih meyakinkan diri sendiri jika Braga ini memang nyata, didepannya.
"Theo. Apa ini Braga?" Suara Roseta semakin parau.
Dalam sekejab Theo mengangguk, membenarkan.
Roseta bukannya tidak percaya. Bahkan komposisi wajah Braga masih sangat ia hapali. Lekuk wajahnya, bentuk hidungnya, matanya, bibirnya. Mungkin hanya tinggi saja yag berbeda. Sekarang Braga sudah lebih tinggi, Roseta ingat sekali.
"Mom. Maaf, Braga minta maaf. Braga membohongi Mommy, maafkan Braga Mom." Akhirnya Braga bersuara, mengatakan maaf berkali-kali sembari menahan air mata yang ingin jatuh ke bumi.
Roseta tertunduk membenamkan wajah dengan air mata yang jatuh hingga mebasahi lantai, dia tertawa getir. Roseta terdiam dalam isaknya, bagaimana ingatan Braga yang terkubur dalam peti mati dengan tubuh hangus yang tak menyisakan apapun menyeruak begitu saja, sangat menyakitkan dan twrlihat nyata.
"Mommy, maafkan Braga. Please, Braga minta maaf. Apa Mommy sangat marah?”
Roseta tak bisa menanggapi, kata-kata yang ia pendam mengurai ke udara, meleleh menjadi air mata yang tak hentinya jatuh, terus-menerus. Lantas ia menggeleng kuat. Tak seharusnya Roseta mengingat masa lalu, yang terpenting dihadapannya adalah sosok nyata yang patut untuk disyukurinya.
Akhirnya Roseta datang untuk mendekap tubuh Braga dengan erat. Braga ikut terisak dalam pelukannya. Ia sangat merindukan ibunya, rindu akan rengkuhan hangatnya. Rindu semuanya. "Braga minta maaf, Mom." Dan saat ini juga, Braga menangis layaknya bocah kecil sewajarnya.
Roseta menggeleng, lantas melepas pelukannya sebab ungkapan maaf Braga tidak patut diucapkan. "Huust. Tidak, Kakak tidak boleh minta maaf." Wanita itu membersihkan air mata yang sudah membasahi seluruh wajah putranya. Rambut laki-laki itu juga lembab oleh keringat. "Tampan sekali anak Mommy."
Braga masih mencibik menahan tangis. "I miss you, Mom."
"Oh, I missed you, I missed you, I missed you." Roseta mengatakan itu beserta mencium seluruh wajah Braga lalu memeluk tubuhnya lagi, dengan erat.
Bagai sesuatu yang sangat berharga. Roseta sampai tidak rela barang sedikitpun melepaskan pelukan yang ia buat. Ia masih tidak tahu harus berterimakasih karena Braga telah kembali padanya atau merasa bersalah karena telah lalai menjaga putranya, bahkan lebih parah membiarkan Braga hidup sendiri tanpa seorang ibu disisinya. Semua perasaan masih bercampur aduk, tapi satu yang jelas, ia sangat bahagia.
Sedangkan ketiga orang yang menonton pertunjukan keduanya tak bisa membendung rasa haru. Theo yang turut bahagai karena harapannya terwujud. Dera yang teramat lega karena Braga menemukan kebahagiaannya. Dan Sarah yang masih dengan rasa terkejutnya.