
Definisi bahagia itu apa sih?
Braga tidak tahu. Tapi yang paling jelas dalam ingatannya, ia tidak pernah merasa hidupnya berantakan seperti sekarang, jauh dari kata bahagia, tapi bukan berarti ia tidak mensyukurinya.
Haduh. Braga bocah piyik kok bisa berbicara sedramatis itu.
Jangan salah.
Meskipun masih kecil, Braga punya pemikiran lebih dewasa daripada yang lainnya. Bukankah sudah dijelaskan jika Braga hidupnya berantakan sejak awal.
Memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mengetahui banyak hal dan melihat langsung bagaimana hancurnya sebuah keluarga, ya, keluarganya sendiri yang penuh drama.
Rasa-rasanya Braga sudah merasakahn semua kepahitan, namun tak lebih pahit dari sekarang.
Theo, ayahnya, harus masuk dalam penjara, dimana ini adalah bagian yang paling membuat Braga hancur, ia tidak mau makan, mogok makan sampai Roseta ibunya kualahan, Bryna adiknya mengomel sampai berbusa dan Dera neneknya terpaksa angkat tangan.
Keras kepala.
Bisa dikatakan kekeras kepalaan Braga itu menurun dari Theo, bagaimana sikap negative yang ada dalam diri Theo bisa ditemukan dalam bentuk Leon.
"Mom...." Braga malam-malam menyusul Roseta, dalam mata sembab dan bibir menyabik. "Braga salah ya mom? Harusnya Braga lebih tahu kalau daddy nggak sepenuhnya salah. Kenapa Braga terlalu keras dengan daddy? Sekarang Braga rindu daddy."
Tangisannya terdengar lagi, Braga tidur semalaman dibalik dekapan ibunya, hampir setiap hari, karena terlalu merindukan Theo.
Ada rasa syukur dibalik kejadian itu, mungkin jika Theo saat ini masih ada bersama mereka, Braga pasti masih menjadi anak yang pembangkang.
Hari-hari berlalu tanpa kehadiran Theo memang berat untuk Roseta dan kedua anaknya. Dulu sekali, saat Theo tidak berada disisi mereka rasanya biasa saja, namun saat semua masalah terselesaikan, kesalah pahaman sudah mencapai titik temu, kehilangan orang yang kita sayang pun menyayangi kita adalah hal paling menyakitkan di dunia.
Maka seperti usulan-usulan yang Braga dengar dari beberapa orang, salah satu pengalihan dari rasa sedih yang terus mengiris hati adalah dengan menyibukkan diri, dimana saat Braga selesai dengan Sekolah, bocah itu menyusul Saga di perusahaan Vante, milik ayahnya, untuk mempelajari apa sih yang dinamakan bekerja.
Game adalah kegemaran Braga, dimana semua piranti elektronik itu bukanlah hal asing baginya, tahu sendiri Braga siapa, Redolent, tentu saja.
"Ga, kamu pelajari saja bagaimana cara kerja sistem keamanan perusahaan?"
Braga memutar bola matanya saat Saga memerintah dari balik kursi putar. "Om, apa Braga tidak salah dengar? Bertahun-tahun Braga membobol perusahaan daddy. Apa tidak ada yang lebih menantang lagi?"
Saga menarik napasnya, benar bukan, semua yang ada dalam diri Theo bisa dengan mudah ditemukan dalam bentuk Braga, salah satunya sombong.
"Oke. Kalau begitu, buat satu game untuk om seleksi sebagai game baru diperusahaan, kamu mampu?"
Braga berpikir sedikit lama, iya lama, game bukanlah kelas yang bisa dengan mudah Braga kerjakan, alasannya, menjadi hackers belum tentu bisa membuat game, dua hal itu berbeda.
"Tidak bisa? Katanya minta yang lebih menantang?" Saga menggoda keponakaknnya yang sudah bermuka merah, malu, pasti lah.
Boleh tidak Braga ganti paman saja, sarkasnya dan tantangannya diluar batas wajar. Tapi Braga kan pintar, anak ajaib dengan kecerdasan diluar rata-rata, harusnya bisa, iya, Braga bisa.
"Oke, jangan ganggu aku, aku akan datang dengan hasil, satu minggu, beri aku sat..."
"Biasanya daddy mu dalam beberapa menit sudah mencapai titik deal."
"Oke, satu hari, aku akan mengerjakan dalam satu hari."
Saga menahan tawanya, ya Tuhan, Braga yang seperti ini sangat menggemaskan, anggap saja Saga membantu Braga agar benar-benar sibuk, karena baru saja beberapa menit yang lalu Theo menghubunginya dan memintanya untuk mengurus Braga di perusahaan.
...****************...
Roseta berjalan dengan jas putih kebanggaanya, bisa dikatakan Roseta kembali ke rumah sakit, memberanikan diri meski banyak mata yang masih memandang ke arahnya oleh sebab berita-berita yang masih bersliweran di media massa, pro dan kontra.
Masa bodoh, Roseta tidak perduli lagi, wanita itu tidak mau mementingkan egonya sendiri dan mengesampingkan apa yang wajib dilakukan, gelar dokter dan sumpah itu membayangi Roseta tiap hari saat ia mengambil keputusan untuk cuti, beriringan dengan itu, rasa berdosa terus mengikuti dimana Roseta berdiri.
"Sarah? Apa aku benar?"
"Tidak ada yang lebih benar dari ini."
"Thanks."
Sarah dipaksa, sangat dipaksa oleh Roseta untuk selalu dibelakangnya, bahkan Roseta mengambil keputusan agar Sarah menjadi kaki tangannya.
"Kamu tidak takut di cap sebagai orang yang dengan seenaknya menggunakan wewenang? Kamu bisa melihat dulu daftar orang yang patut berada dibawahmu langsung, tidak seperti ini. Kamu ini baru kembali sudah membuat kehebohan."
Roseta mengangkat alis, bingung dengan perkataan Sarah. "Bahkan jika aku mau, aku bisa melakukan hal lebih dari itu, bayangkan saja Sarah, sebenarnya aku tidak perlu takut karena uangku banyak, dan sebagian banyak orang bisa dibeli mulutnya dengan uang, sekarang siapa yang berani melarangku."
Sarah terpengarah. "Wow, apa aku baru saja membangunkan macan dari tidurnya?”
"Bukan begitu. Aku sebenarnya muak dengan berita omong kosong itu. Kesalahanku hanya satu, kembali kepada Theo yang kebetulan adalah pria yang sangat digandrungi banyak ibu-ibu."
"Ya, dan itu membuatmu terganggu karena sebagian ibu-ibu tidak mau move on."
"Kebiasaan netizen jaman sekarang seperti itu, aku yakin, mereka punya mata untuk melihat kenyataan."
Sarah menyesap kopinya yang ada di meja, sedikit suka dengan Roseta yang seperti ini, mengingatkan ia pada jaman SMA.
Sarah maklum bagaimana marahnya Roseta, semua berimbas dan merubah hidupnya selam bertahun-tahun.
"Jika saja Yura tidak menjebak Theo, Braga tidak akan menjadi seperti itu, berurusan dengan mafia, hidupnya penuh dengan bahaya dan jika saja Yura tidak menipu, Theo saat ini masih bersamaku."
"Satu hal lagi yang kau lupakan Roseta, andai saja Theo sedikit pintar."
Roseta melirik Sarah dengan tajam, tapi tetap membenarkan. "Ya, sayangnya Theo itu bodoh dan keras kepala, aku rasanya sudah lelah sekali Sarah."
"Apa kamu butuh hiburan."
"Aku tidak akan terhibur selama Theo belum kembali padaku."
"Bucin terdeteksi."
Satu tumpukan kertas Roseta lempar, untung saja Sarah menghindar, jika tidak kepalanya pasti sudah pening.
"Kekerasan dalam pekerjaan, aku bisa melaporkanmu Nyonya Roseta!!!"
"Sarah, mau tidak kuajak kau ke suatu tempat."
"Sialan, kamu ini sepeti orang tidak punya dosa, merasa bersalah saja tidak."
Namun kedipan mata Roseta berkali-kali nampak begitu lucu, membuat Sarah luluh saat itu juga.
"Kemana?"
"Nanti kau tahu sendiri, ayo."
...****************...
"What the...kamu tidak bercanda kan? Aku kira waktu itu kau bercanda."
"Tidak ada dalam kamusku pekerjaan dijadikan sebuah bercandaan Sarah."
"Liliana, kamu disini juga, oh my goodness, apa aku boleh gabung, ikut kerja, aku jamin banyak pelanggan pria mampir kesini."
Liliana menyabet bokong Sarag dengan serbet, "Kau ini centil sekali, denger-denger ada yang lagi deket sama Kiano si manis dan seksi pemilik bar tuh."
Sarah berpaling mendengar nama Kiano, pura-pura tuli dan menggunakan keahliannya dalam bersandiwara hingga mulutnya menganga saat melihat-lihat desain cafe milik Roseta, dramatis sekali. "Kalian ini kurang kaya apa bagaimana?"
Roseta tersenyum sedikit lebar, "Aku tuh lagi berusaha membuaka lapangan pekerjaan, mungkin dengan begini bisa mengurangi jumlah pengangguran."
Kenapa Sarah jadi goblok sekali, ia baru sadar orang seperti Roseta memang harus dilestarikan.
"Benar juga ya, nggak mau buka cabang?"
"Satu aja baru buka udah mau buka cabang."
"Desainnya bagus banget, sewa jasa interior dimana, aku lagi butuh banget buat renovasi rumah," Sarah benar-benar terpana oleh kecantikan cafe milik Roseta.
Desain cafenya sangat unik, dipisahkan menjadi dua zona sesuai dengan fungsinya masing-masing. Zona depan kafe yang menggabung dengan eksterior menciptakan ruang publik yang luas, sementara zona belakang kafe dipisahkan menggunakan desain plafond dan lantai yang mampu menciptakan ilusi kedalaman ruang sekaligus menampilkan pemandangan menawan desain interiornya.
"Suami Nyonya Liliana dong.”
Sekali lagi Sarah merasa tidak percaya. "Yang bener? Jeko?"
Roseta mengangguk. "Sebelum menjalani bisnis pendidikan, sebenarnya Jeko itu salah satu arsitek terkemuka, ya, daripada aku cari yang lain, minta bantuan dia aja."
"Li, suamimu keren abis."
Liliana yang sedang membawa note kecil dan satu bolpoin ditangan merasa bangga, tentu saja, siapa yang tidak bangga jika suami memiliki tangan begitu handal, tidak hanya otak yang pintar.
"Eh, Liliana, kamu buncit apa lagi hamil?"
Astaga, mulut Sarah memang begitu, tidak pernah berubah, mungkin di dalam rumah sakit wanita itu bisa menjadi orang yang berwibawa, tapi tidak dengan keadaan saat ini, untung saja ketiganya berada di ruang belakang.
"Aku hamil, doain cewek, tapi jangan yang begajulan kayak kamu ."
"Sekali ngomong nyakitin ya." Sarah melirik keki.
Roseta melihat perdebatan dua sahabatnya hanya bisa tertawa, awal pertemuan Liliana dan Sarah ketika Roseta mengalami masa sulit akibat Theo, tahu-tahunya keduanya sudah akrab saja, tidak ada kata yang lebih daripada senang.
Melihat Liliana hamil, Roseta sedikit iri, ia ingin hamil juga, kapan sih Theo kembali.
Semua tak lagi sama saat Theo tidak ada.
Roseta rindu.