ROSETA

ROSETA
Roseta Datang



"Hotel Diamond Sand."


Roseta mengatakan itu kepada driver yang sudah disiapkan oleh Jay. Masih ingat bukan jika pria yang berstatus menjadi ayah Bryna itu sangat sigap dalam segala situasi. Andai saja Roseta bisa jatuh cinta dengannya, maka keadaan tidak akan serumit ini jadinya.


Perasaan orang tidak ada yang bisa mengendalikan. Dipaksa bagaimanapun jika tidak ada rasa mau bagaimana. Tidak mau bertindak egois, Roseta tidak mau membebankan pria lajang sebagai suaminya ditambah lagi harus mengasuh anak yang bahkan darahnya saja tidak mengalir darinya.


"Tunggu, hotel Diamond?" Sarah bertanya saat mobil itu sudah melaju dengan kecepatan sedang.


Roseta mengangguk, wanita itu sepertinya paham apa yang ada dikepala Sarah dengan segala pertanyaan yang menggantung disana. "Aku mau nemuin Theo."


Sarah membolakan mata. Tampak terkejut, sudah jelas, tapi otak wanita itu justru memikirkan hal lain. "Karena pekerjaan?" Tanyanya. "Kenapa kita harus menganggu liburan Theo dengan Yura!! Ups!!" Sarah tampak terkejut untuk kedua kalinya. "Jangan bilang kamu tidak membaca berita heboh yang menggemparkan kota Mawar? Aku rasa Theo dan Yura bakalan balik lagi deh, mereka itu......"


Tampaknya yang ada dikepala Sarah tidak sama seperti yang Roseta bayangkan. Ia kira sahabatnya itu akan curiga mengenai permasalahan percintaan yang belum kelar antara dirinya dan Theo.


Roseta tertawa miris mendengar Sarah yang masih dengan antusias menggebu menceritakan permasalahan Theo dengan mantan istrinya yang masyarakat umun tahu layaknya drama romance yang apik untuk dipertontonkan, bahkan tak sedikit yang berharap keduanya bisa kembali seperti dulu lagi.


"Roseta, kamu tidak mendengarkanku?"


Roseta mengerjab, matanya berkedip-kedip. Bohong jika Roseta mengabaikan, bahkan telinganya cukup panas mendengar cerita Sarah yang bahkan Roseta juga tahu itu, berita Theo dan Yura tak pernah luput dari media. Bertahun-tahun Roseta merasakan hatinya hancur berkeping-keping, bahkan saat semua sudah jelas dan akan menuju untuk perbaikan, masalah tak hentinya datang, dan Yura lagi yang menjadi penghalang.


Bukankah Roseta harus berhenti?


Semuanya tidak akan baik jika terus saja begini, terasa transparan untuk Roseta rasakan. Perasaannya sangat tidak nyaman. Ia tidak semestinya berharap tentang kisah cinta lagi setelah mendapatkan kepahitan yang bahkan pil seribu yang ia telan tak melebihi rasanya.


Roseta sangat tahu. Theo tidak bersalah, hanya saja, pria itu bodoh dan gegabah.


Mau sampai kapan keduanya akan disalah pahami terus?


Mau sampai kapan mereka akan dicurangi terus?


Terlebih media sangat terang-terangan menyorot kehidupan pria itu, lantas bagaimana dengan perkembangan Bryna nantinya jika harus terganggu dengan problema kehidupan orang dewasa yang tidak akan ada habis-habisnya?


Roseta tersenyum menanggapi Sarah. "Ayo turun, kita sudah sampai." ajaknya.


Jarak bandara memang tak begitu jauh dari tempat hotel milik keluarga Pandega. Sarah pun melengok ke arah luar jendela mobil. "Aku pernah kesini. Diajak tante Dera," ungkapnya.


Keduanya keluar mobil, berjalan berdampingan untuk segera masuk ke dalam gedung tinggi di depannya. "Benarkah?" Roseta tampak terkejut.


Sarah mengangguk. "Tante Dera cuma dekat sama aku, atau enggak Bang Jack, lebih ke urusan kerjaan sih. Itupun kadang kita meeting lewat video call. Tante Dera ngilang, ketemu cuma buat proyek besar, kadang tante Dera muncul dengan tiba-tiba dan ngilang dengan segera, persis Jailangkung."


Roseta memukul lengan Sarah. "Hust. Mulutnya." Sarah pun tersenyum.


Fakta itu baru diketahui oleh Roseta. Pasalnya, saat terakhir kali ia bertemu dengan Dera, sampai sekarang kabar wanita berwibawa itu tidak ada. Roseta bukannya enggan, tapi masih sangat sungkan meski waktu itu mereka berakhir dengan saling berpelukan.


Ingin sekali Roseta menanyakan tentang Dera kepada Theo, tapi hubungan keduanya belum terlalu dekat untuk membicarakan hal yang sangat intim, Roseta tidak akan selancang itu. Memikirkan Bryna saja sudah membuat kepalanya pusing.


"Roseta, sebenarnya kita ngapain kesini? Beneran urusan kerjaan? Atau ada hal lain." Sarah mulai merasa tidak tenang melihat keengganan di wajah Roseta saat membicarakan Dera.


"Nemuin Theo, Sarah!!"


"Urusan kerjaan?"


"Enggak, nanti kamu bakalan tahu sendiri, aku sudah bilang tadi di pesawat, semua rahasiaku, kehidupanku, aku akan bilang ke kamu," Roseta menggelengkan kepala beberapa kali. "Enggak, maksudnya aku akan nunjukin langsung ke kamu, di depan mata kamu, nanti kamu terka sendiri, masih suka teka-teki 'kan?"


Ya Tuhan, ribet sekali. Sarah sampai memincingkan mata mencerna apa yang dibicarakan Roseta padanya.


"Kita langsung ke lift?"


"Iya."


Wajar bukan jika Sarah bertanya. Keduanya tidak berhenti untuk booking kamar di tempatnya, bahkan Roseta dengan percaya diri berjalan lurus ke dalam, tanpa ragu sedikitpun.


"Kalau Mama Dera masih konsisten ngasih kamar di lantai 20 buat aku, pasti sensor di pintunya masih bisa aku akses."


Keduanya memang sudah ada di dalam lift khusus tamu VVIP. "Aku nggak tahu harus ngomong apa. Sumpah ya Roseta, kamu bikin aku bingung."


Saat tombol interkom menyala di angka 17, Roseta bersuara. "Kamar 17, itu khusus buat Mama Dera. Nggak tahu kalau sekarang. Dulu Mama Dera yang ngomong ke aku waktu kita bareng-bareng ngunjungin Negara Ini. Jadi khusus lift yang ini, tiap lantai cuma ada satu kamar."


Sarah mengangguk. "Kalau rumah sakit kamu bangkrut, bisa tuh kamu jadi guide hotel Diamond, lumayan, gajinya besar banget kalau nggak salah."


Roseta sontak tertawa. "Enak saja. Aku nggak akan bangkrut."


"Dih sombongnya."


"Bukan sombong, Sarah. Fakta, itu fakta."


"Iya, Nyonya Besar."


Setidaknya dengan adanya Sarah disini bisa menghibur Roseta walau sejenak. "Nah. Ayo keluar."


"Roseta, tunggu, kamu yakin?"


Roseta hanya mengangkat bahu lalu merjalan melewati Sarah lebih dahulu. Roseta gemetar, kepercayaan dirinya nyiut begitu saja saat di depannya sudah ada pintu kamar nomer 20. Disana ada sensor hitam untuk menaruh ibu jari miliknya.


Apa Thei di dalam dengan Yura? Itulah yang dipikirkan Roseta. Kamar ini memang untuk Theo dan dirinya. Pengaturan fingerprint mutlak hanya untuk keduanya ditambah Dera si pemilik gedung raksasa.


"Tunggu apa?"


"Hah. Oh, enggak, ini aku nunggu kamu?"


Lantas pikiran Roseta amburadul. Apa benar Theo dan Yura sedang bermadu kasih dengan sungguhan di dalam kamar itu? Apa benar mereka akan rujuk seperti yang diberitakan dan diharapkan orang-orang?


Meskipun Roseta tidak yakin karena ia tahu Theo tidak mencintai wanita itu, tapi siapa yang tahu isi hati orang yang sebenarnya.


Roseta dengan kegelisahannya mengangkat ibu jari untuk di tempelkan di sensor hitam. Bunyi, klik yang baru saja terdengar membuat Sarah terkejut. "Kebuka."


Roseta juga nampak terkejut. "Iya, kebuka."


"Roseta, aku siap!!"


Sarah sepertinya sudah paham dengan situasinya. Melihat keluarga Pandega masih memperhatikan sahabatnya, membuat Sarah berspekulasi banyak.


"Ayo masuk."


Aroma yang pertama kali tercium oleh Roseta adalah wangi lavender, lotion yang tak pernah tertinggal untuk di oleskan di Tubuh Theo, Roseta masih sangat hapal.


Artinya, Theo memang menempati kamar ini.


Lalu, dimana pria itu?


Roseta dan Sarah masuk semakin kedalam. Interior ruangan tetap sama, terkesan mewah dan hangat dengan ornamen berwarna serba cream.


"Kalian sudah datang."


"Mama Dera."


"Tante Dera."