ROSETA

ROSETA
Feeling



Di dalam ruangan yang di dominasi warna hitam dan putih, anggota Redolent tengah berkumpul. Jika sebelumnya tak ada yang tahu siapa saja dalam kelompok itu, maka jawabannya ini; Braga adalah ketua dengan Dylan dan Haidan sebagai anggota tetap.


Braga menetapkan jemari untuk bermain komputer sejak piyik, jika untuk manusia normal atau pengetahuan menurut akal, hal seperti ini tampak mustahil, bayangkan saja, mana bisa dipercaya jika bocah berusia sembilan tahun itu sangat ahli dalam bidang ini, hackers kelas atas.


Braga melirik Haidan yang tersumpal headphone hitam sembari tangan pria muda itu mengutak-atik komputer di depannya. Meski Haidan sudah memutuskan berhenti menjadi hacker sesaat sebelum pulang ke Negara ini, namun keputusan bulat itu ia lempar jauh-jauh, karena ia merasa inilah hidupnya.


Pandangan Braga beralih kepada Dylan yang duduk di sofa dengan tangan yang men-scroll MacBook silver di pangkuan. Perangai Dylan lebih dingin dibandingkan Haidan yang terbiasa berlaku konyol, namun disaat serius, keduanya tak bisa diremehkan. Sama-sama menjadi black hacker handal semenjak menjadi anak buah Dera, kemampuan itu juga di dapat dari Braga juga, ketiganya belajar bersama-sama.


Dan sorot mata Braga berakhir pada satu manusia yang nyaris selalu menghabiskan waktu untuk menutup mata di setiap kesempatan—Saga. 


Berbalut hoodie hitam beserta celana jeans rebel, Braga menatap intens bagaimana para anggota sekaligus om-nya yang saat ini mencuri oksigen dalam ruangan yang dibangun di rooftop rumah besar Dera untuk menyusun sebuah rencana pertarungan.


"Ga, ngomong, melotot mulu, nggak capek itu mata?" Haidan bersuara, terus terang saja, Braga yang bersendekap dada dengan bokong duduk di kursi putar beserta memandang tanpa mengedipkan mata adalah sebuah tanda tanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Rencana brilliant?" Giliran Saga berbicara, tanpa membuka mata dan masih berbaring di sofa, Saga di tempat ini hanya untuk menyerahkn sebuah barang yang sudah ia cari dengan susah payah, ah, tidak juga, sebenarnya cukup mudah.


Braga terpengarah saat Haidan berujar, maka ia memberi isyarat untuk Haidan dan Dylan sedikit mendekat.


"Sebelum kita memulai, bisakah om Saga bangun, atau rencana akan aku buat berantakan."


"Right." Saga seketika duduk, bukan takut, memang sudah waktunya untuk serius.


Saga bukan orang pemalas, sekali lagi, pria itu seorang pekerja keras, pernah dijelaskan juga jika jam terbang untuk membuka mata dan menyingkirkan jam istirahat sangat tinggi, makanya, jika sedikit saja ada kesempatan untuk membuat mata terpejam, maka Saga dengan senang hati mengambilnya.


"Jadi, berita apa yang bisa Braga dengar dari om Saga. Daddy bilang, apapun yang om Saga dapat, Braga harus tahu."


Yang tidak diketahui Braga adalah fakta bahwa tidak semua harus bocah itu tahu, Saga sudah di beri intruksi oleh Theo agar hati-hati jika harus berbicara dengan putranya, takut terpancing jebakan bocah licik itu.


Bukan maksud Theo jahat, justru Theo tidak mau Braga berbuat lebih atau hal terburuknya adalah bocah itu menyusul di tempat perkara yang sesungguhnya jika saja semua informasi dibeberkan jelas di depannya.


"Tidak ada yang khusus untuk kamu ketahui, Ga. Kamu hanya harus mengurus satu hal." ucapan Saga terjeda, Braga sangat antusias mendengarnya. "Buat keributan di kota, ungkap para koruptor yang bekerja sama dengan Folltress di semua videotron, untuk hal-hal lainnya bukan wewenang kita, kita hanya menjadi jembatan saja, mungkin lebih tepatnya kita tengah membantu memberantas kejahatan yang sebenarnya bukan tugas kita."


"Data?" Braga bertanya.


Dylan berdiri, senyum miring terpatri jelas dibibirnya, tangan dengan dokumen tebal itu membuat Braga mengangkat alis kemudian dalam sejenak matanya berbinar, jelas sekali jika pekerjaan ini sangat menyenangkan.


"Semua sudah lengkap ada disini." 


"Waw. Bagaimana kak Dylan bisa mendapatkannya?"


Dylan mengerutkan alis, "Menurutmu ini pekerjaanku?" tanyanya setelah itu melirik ke arah Saga. "Tuan Saga yang melakukannya."


Braga mengangkat bahu. "Tidak jadi terkesima." ungkapnya datar. "Tunggu!!!" Braga tiba-tiba memikirkan sesuatu, sangat mengganggu dan itu perlu ditanyakan kepada Saga.


"Om. Dengan data ini." Braga menggantungkan kalimatnya, bibir bawah ia kulum, sedikit ragu namun ia harus tetap menyampaikan maksudnya. "Kenapa daddy harus turun tangan, maksudnya harus terlibat, bahkan data ini lengkap om. Sudah cukup untuk menangkap Folltress."


Benar dugaan Saga. Braga tidak akan paham dengan dunia yang kejam ini. Yang Braga tahu hanya tentang  bagaimana caranya memberantas tanpa tahu proses mana yang benar untuk melalui itu semua.


"Inilah kenapa aku dan daddy-mu tidak ingin kamu terlibat. See, kamu belum cukup tahu dunia orang dewasa, Braga."


"Tapi aku hebat. Om Saga lupa bagaimana caranya aku menyelamatkan bisnis daddy. Vante Company tidak akan bisa bertahan jika aku tidak turun tangan."


Saga tahu, pun sadar jika untuk melawan para hacker jahat adalah keahlian Braga. Tapi yang dibicarakan sekarang adalah kriminal, orang yang bukan dalam bayangan saja, wujudnya bahkan nyata di depan mata, bukan hanya terhubung lewat dunia maya.


Jika Braga tahu, data sebanyak itu tidak mungkin Saga akses dengan cara benar. Faktanya, Saga menggunakan kecurangan total dan itu adalah pelanggaran. Negara punya hukum, untuk menangkap seorang pencuri saja sebenarnya polisi butuh surat perintah, apalagi Saga. Pria itu bukan salah satu keamanan Negara, ia curang untuk mendapatkan itu semua.


Namun Saga tidak perduli, nanti, setelah semua terbongkar, polisi tidak akan pernah mempertanyakan darimana data itu berasal, mereka hanya akan fokus kepada tersangka yang terbongkar kelicikannya, ya, begitula cara kerjanya.


"Iya hebat. Hebat sampai kamu hampir terbunuh. Itu maksudmu?" Saga tak bisa tidak mengingatkan hal itu kepada Braga.


Braga seketika menunduk. Alenso Bieber. Bayangan bocah itu muncul di benak, Alenso yang menjadi korban akibat kecerobohan Braga, tubuhnya tak tersisa dan lenyap bersama api. 


"Sorry." Braga tertunduk piku sembari mengatakan itu.


Sialan. Saga ingin sekali membunuh dirinya sendiri. Kenapa ia ceroboh berkata sedemikian rupa. Membuka luka lama yang bahkan Braga saja tidak akan pernah lupa. 


Saga beranjak dari duduk, menghampiri Braga yang masih menunduk, membelai suari hitam bocah itu dengan lembut. "It's oke, om minta maaf, om tidak bermaksud. Om mau kamu paham jika ini berbahaya, makanya daddy-mu meminta kamu menangani hal ini saja. Mengerti!"


"Ini saya ambil. Biar saya yang membuat display-nya, akan saya buat semenarik mungkin agar semua mata penjuru negeri melirik untuk melihat dan mendengarkan." Haidan turun tangan.


Sedari menyimak perdebatan Braga dan Saga membuat telinga Haidan panas, namun lebih dari itu, Haidan merasa kasihan kepada Braga dan ingin segera menyudahi kesedihan bos kecilnya.


"Waw. Foltrees ketua pemegang tander pembangungan sekaligus pemasok barang dagang kualitas rendah yang disamarkan. Sangat licik." Mendadak Dylan berbicara antusias, agaknya lelaki satu ini juga ingin menyudahi kemelut di kepala Braga.


Saga mengangguk, membenarkan Dylan yang baru saja melihat dokumen dengan sekilas, selanjutnya kertas-kertas itu diserahkan kepada Haidan lagi, diringkas sebaik mungkin untuk ditampilkan di malam kehancuran Folltress.


"Kenapa harus di Bandara Samanta? Menurut data, mereka selalu bertransaksi di dermaga ujung kota." Haidan dibalik komputer mengerutkan kening membaca hal ganjal.


Menurut pemikiran Haidan, jika di Dermaga aman-aman saja kenapa Tuan Matheo memilih Bandara Samanta. Lagipula banyak petugas Negara dalam tanda kutip sebagai 'pembelot' sudah pasti dengan senang mengamankan area.


"Itu sudah menjadi keputusan bersama. Lagipula Bandara Samanta rumah sendiri, jauh lebih aman." Saga memberi dalih sedemikian rupa untuk memuaskan Haidan.


Saga tahu betul alasan Theo, namun cukup bagi Saga untuk mengungkap sebagian saja.


Pintu menyibak menampikan sosok gadis kecil dengan boneka di dekapan, piyama corak polkadot berwarna merah membalut tubuhnya, Bryna, mengagetkan semua orang yang ada dalam ruangan.


"Surat terbuka. Daddy mengutusku untuk ikut bersama kak Braga." Ucapan Bryna antusias, tak lupa ransel warna hitam berisikan ipad dan jam tangan canggih ia bawa dalam gendongan.


"You're joking!!!!" Braga melirik tidak percaya.


"Tidak. Aku serius. Sebentar." Bryna menelfon ayahnya. "Dad, coba bilang kak Braga." setelah mengatakan itu, Bryna mengaktifkan mode loudspeakers.


“Son, bisa daddy titip Bryna untuk ikut denganmu, hanya itu satu-satunya cara agar adikmu tidak marah.”


Mendengar itu, Braga seketika menghirup udara sebanyak-banyaknya dan sangat berat untuk menghembuskan keluar. "Oke." jawabnya.


Penggilan berakhir dan Bryna bahagia luar biasa. "Tugasku apa kak?" 


"Duduk dulu." Braga berujar lemas.


"Siap."


Saga bertambah pening.


Oh astaga.


Keluarga macam apa ini. Sering sekali Saga berpikir keras, bagaimana bisa keponakan-keponakannya yang lucu-lucu itu menyeramkan dan selalu ikut campur urusan orang dewasa. 


Hello.


Situasi di kemudian hari bisa membahayakan jika mereka sudah mulai beranjak dewasa.


Theo keparat memang.


"Bryna, kesini." Saga memerintah sembari melambaikan tangan.


"Om, Bryna bisa, jangan meragukanku." Firasat Bryna tidak enak, tatapan Saga seperti tidak mempercayainya.


"Om Saga percaya, sini dulu, om pengen peluk Bryna."


Yang dikatakan Saga memang benar. Tidak ada sedikitpun dalam benak untuk tidak memeprcayai Bryna. Anak-anak Theo memang luar biasa, Saga kagum sekaligus takut.


Takut jika kepintaran bisa membahayakan, keingin tahuan yang begitu besar bisa membawa mereka masuk kedalam masalah-masalah di masa depan.


"Om. Lindungi daddy." Bryna berujar saat Saga memeluk tubuh kecilnya.


Braga, Dylan, Haidan tak terkecuali Saga sontak menegang, permintaan itu terdengar begitu tulus dan menyimpan kesedihan mendalam.


"Bryna, daddy-mu akan baik-baik saja."


"Tapi perasaan Bryna tidak baik-baik saja."


Seketika itu, dada yang memiliki ritme normal mendadak berdetak begitu cepat, mata Braga bergetar, semenjak awal, semenjak Braga mendengar rencana ayahnya, perasaannya tidak tenang, setiap malam tak bisa dikatakan jika ia baik-baik saja.