ROSETA

ROSETA
Pergi



Dari perhitungan skala kebahagiaan yang tak terhingga, Roseta kira ia adalah wanita yang sudah memperoleh perasaan itu disaat Theo berjanji tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan kata-kata itu baru disampaikan oleh Theo beberapa hari yang lalu, tapi, nyatanya apa yang terjadi hari ini?


Roseta merasa bahagia mendengar nama mafia Folltress yang terlibat kejahatan sedang dibongkar boroknya dan terpampang di berita televisi disaat ia duduk di sofa bersama Liliana di ruang keluarga.


Roseta juga merasa bahagia saat Lala tiba-tiba mengajak keluar dan tahu-tahu berita Folltress juga berada di billboard jalanan, membuat gempar penjuru Negara.


Roseta sekali lagi bahagia saat tahu-tahu Folltress sebentar lagi pasti akan mendekam di penjara beserta orang-orang yang terlibat kerja sama dengannya.


Artinya, Braga aman. Ya, Folltress hilang, Roseta menduga jika anaknya yang selama ini disembunyikan dari khalayak umum akan aman. 


Tapi. 


Dunia Roseta seakan hancur saat tubuhnya tiba di Bandara Samanta, mendapati Theo yang berkali-kali minta maaf, berkali-kali menjelaskan kenapa ia sampai menyembunyikan fakta jika semua yang baru saja dibahagiakan oleh Roseta ada sangkut pautnya dengan pria itu.


Bagaimana Roseta sampai tidak tahu?


Dan, sekali lagi Roseta hancur mendengar Theo yang sebentar lagi tidak bisa berkumpul dengan keluarga, Theo  berkata jika ia akan di penjara.


"Kamu sekongkol sama Folltress, Matheo?" Roseta tidak habis pikir, ia duduk sembari menangkup kepalanya sendiri, pening mendera begitu hebatnya. "Dan ini hasilnya? Sampai kamu harus dipenjara?"


"Tida..."


"Kalau begitu kenapa harus dipenjara!!!!" Bahkan Roseta saat ini menyentak hebat Theo yang sedang bertumpu di depannya, air mata Roseta tidak bisa dicegah untuk keluar. "Folltress orang berbahaya, bisa kamu kerja sama dengan orang itu. Bahkan Folltress juga bukan yang Braga coba bongkar kedoknya, sampai Braga hampir terbunuh?"


"Dengarkan aku." Theo ingin Roseta tenang, agar apa yang disampaikan bisa masuk telinga.


Theo tahu, ia salah, tahu juga jika semua yang dilakukan gegabah. Namun semua demi Braga. Demi kebahagiaan keluarganya di masa depan.


"Dengarkan aku, ya. Aku nggak bener-bener dipenjara. Oke." Theo berkata demikian membuat Roseta seketika mendongak, pria itu tersenyum menyambut Roseta yang memandangnya penuh penasaran. "Aku cuma sembunyi, setidaknya satu tahun. Kamu tahu bukan Folltress itu orang yang bagaimana? Aku yang menjebak dia, pura-pura deal kerja sama. Aku sudah bersekongkol dengan aparat untuk meringkus Folltress, semua bukti sudah aku kumpulkan sedemikian rupa. Aku hanya perantara agar Folltress bisa ditahan, setidaknya tidak akan keluar lagi dari sana."


"Lalu."


"Aku belum selesai. Dengar." Theo megusap pipi Roseta yang basah, mata wanita itu masih berkaca-kaca. "Aku bersembunyi agar Folltress beserta orang yang berada dimpihaknya mengira aku juga dipenjera, dengan begitu, aku tidak akan dicurigai, setidaknya mereka sama sekali tidak tahu jika aku telah menjebaknya."


"Ya, Tuhan Thei. Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"


Lagi, Theo hanya tersenyum menanggapi protes yang Roseta berikan. "Dengan aku memberitahumu, apa kamu setuju? Aku jamin tidak akan ada yang bisa berjalan lancar."


"Kamu kira aku perusak rencana? Penghambat?"


"Bukan begitu sayang. Ssst. Jangan keras-keras, ayo berbicara baik-baik sebelum petugas membawaku, ya. Setidaknya peluk aku."


Roseta tanpa menunggu barang sedetikpun langsung mendekat untuk memeluk Theo. Bagaimana bisa pria itu merencanakan hal gila sampai harus bersembunyi sebagai imbasnya?


Apa patut jika Roseta kecewa?


Rasanya tidak, Roseta dibuat sangat bingung untuk sekarang. Bagaimana nantinya jika tidak ada Theo? Pasti akan menambah hampa di hatinya.


"Bagaimana kalau aku merindukanmu? Apa aku bisa menjengukmu?" Tangisan itu kembali terdengar, bahkan teredam saat kepala bersandar di dada sedangkan tangan melingkar erat di punggung. Roseta seperti tidak mau melepaskan Theo.


"Aku tidak tahu. Nanti aku pastikan bicara dengan mereka. Tapi alangkah baiknya jangan, biar kamu tambah kangen."


Roseta memukul pelan punggung Theo tetap dengan tangisan yang tak berhenti. "Apa pantas aku bilang tidak bisa hidup tanpamu sedangkan sembilan tahun yang lalu aku bisa. Tapi rasanya beda, Theo. Sekarang aku mau bilang, aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Aku juga." Theo menanggapi dengan gampang.


"Aku serius. Jangan bercanda."


Roseta mengangguk. "Buktinya kamu masih hidup, artinya bisa."


Boleh tidak Theo menggetok kepala Roseta? Apa perlu Theo mengajari tentang makna yang Theo ungkapkan. 


"Jadi, ini alasan kamu nggak mau nikah? Nggak mau ngehamilin aku lagi?"


Mau tidak mau Theo meringis. Namun memang itu alasannya. Theo mangangguk. "Aku takut, bagaimana nanti kalau kamu hamil sedangkan aku tidak ada. Aku ingin merawatmu saat mengandung anakku. Aku melewatkan waktu saat kamu nyidam, waktu mengandung Bryna dan Braga."


Roseta mengangguk. "Aku memang nyidam. Tapi ada Jay dulu."


"Pantas tidak kalau aku cemburu?" Theo memberengut.


Roseta mengangguk. "Kamu harus cemburu, karena aku paling suka saat kamu cemburu."


"Daddy."


"Daddy."


Dua bocah yang baru datang dengan teriakannya itu sedang berlari kencang, membuat Theo dan Roseta sontak melepaskan pelukan.


Hal pertama yang membuat Theo merasa sangat bersalah adalah, disaat mereka sudah bisa berkumpul bersama, kenapa harus dipisahkan secepat ini juga.


Hal kedua yang menbuat Theo ingin membunuh dirinya sendiri adalah pemandangan Braga yang menagis beserta menubruk tubunya, memeluk lehernya dengan erat.


"Dad, You're lying. You're lying!"


"Sorry, Son. Tidak akan lama. Daddy hanya pergi satu tahun."


"Dad, I'm sorry. Braga tidak pernah sopan, Braga berjanji akan sopan, tapi daddy jangan pergi. Please. Trust me, dad. Jangan pergi, aku menyayangimu, Dad."


Hati seorang ayah mana yang tidak hancur mendengar permohonan itu. Braga tipikal orang yang sangat menjaga image, gengsi begitu besar. Tapi hari ini, seoalah bocah itu tak menunjukkan taringnya sama sekali, dihadapan Theo, ayah yang selalu ia benci tapi aslinya sangat dicintai.


Roseta melihat itu hanya bisa menghapus air mata beserta mengelus surai putranya, sedangkan Bryna yang aslinya memang dewasa hanya bisa memeluk perut ibunya. 


Bryna awalnya memang tidak tahu, tapi bukankah bocah itu sangat peka, sekali mendengar pembicaraan orang-orang disekitarnya, Bryna sudah mampu menangkap maksud rencana dari ayahnya.


Mau marah? Jelas tidak bisa Bryna lakukan, apalagi ayahnya sudah berkorban sedemikian rupa, yang harus Bryna lakukan saat ini dan satu tahun kedepan hanya menunggu Theo pulang, membuat Roseta tersenyum untuk menghilangkan kesedihan dan membuat Braga tersadar jika masih ada kesempatan jangan gunakan gengsi untuk menunjukkan kasih sayang untuk orang-orang terpenting dalam hidup, khususnya orang tua.


"Son. Daddy berjanji, hanya setahun daddy pergi, ya. Daddy sangat menyayangimu, maafkan daddy."


Jika hari ini bisa dijadikan sejarah, Theo akan menamakan hari bahagia dan sedih nasional, sedih karena harus berpisah dengan keluarga kecilnya dan bahagia karena Braga ternyata menyayanginya.


Mata Theo memerah, pria itu bisa menangis juga, tangannya mengulur dan membelai surai Bryna, gadis itu berbalik dan ikut memeluk ayahnya. Ketiganya saling berpelukan menyisakan Roseta yang masih sibuk menghapus air mata.


Roseta berkali-kali membayangkan jika saja ia tahu rencana Theo. Maka, hah, sekalipun ia tahu, Roseta sama sekali tidak punya ide untuk mencegah ataupun memberikan masukkan. Permasalahan rumit dan melibatkan orang banyak. Roseta sedikit tidak menyangka Theo begitu nekad dan mempertaruhkan satu tahun hidupnya.


Dibandingkan kesedihan yang akan Roseta rasakan, bukankah Theo lebih mendapatkan kesepian. Memikirkan banyak hal, Roseta mulai tersadar sudah banyak orang yang hadir disekitarnya. 


Dari sekian banyak orang, Mama Dera untuk pertama kalinya juga menangis melihat Theo digiring polisi. Hati ibu mana yang tega? Tapi Dera cukup bangga, wanita paruh baya itu memeluk Roseta untuk saling menguatkan.


Jordan bersama Bryna melambai tangan kearah Theo. Pria beranak kembar itu menitip pesan kepada Jordan untuk sementara harus menjaga anak-anaknya, katanya bukan perintah, tapi permohonan. Oke, Jordan akan mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk keluarga Theo, tapi satu hal yang membuat jengkel Jordan, Theo berkata jangan sampai kepincut dengan Roseta.


Sedangkan Saga dan Braga tercokol penuh dengan ambisi kuat setelah Theo berlalu, sebelumnya, ayah dari Braga itu membicarakan sedikit hal tentang bisnis, dimana Braga bisa melakukan apa saja untuk membuang waktu sedihnya dengan mencurahkan seluruh kepintaran di Vante Company, perusahaan game Theo.