ROSETA

ROSETA
Tegang



"Waw, Grandma," seru Bryna.


Lantas gadis kecil itu berlari dengan senyum merekah bak sinar matahari yang dengan benderangnya menyinari Bumi. Kesenangan apa yang di dapati Bryna hingga gadis itu terburu dalam langkahnya menuju Nyonya Dera yang duduk di kursi?


"Bryna," sambut Dera akhirnya.


Bersamaan dengan senyumnya, Ibu dari Matheo Ranu Pandega itu sedikit membungkuk serta merentangkan tangan menunggu Bryna yang akan datang, memeluk dalam dekapan saat gadis kecil itu sudah ada di hadapan.


Sedangkan Roseta dan Theo termanung di ambang pintu, menyeleksi segala spekulasi yang sedang ditonton bak drama dengan berbagai rahasia di dalamnya. Jika dipikir seribu kalipun, mustahil untuk Bryna bisa mengenal Dera, dimana dan bagaimana cara bertemu mereka menjadi pertanyaan besar untuk keduanya.


"Apa yang grandma lakukan di rumah Theo Uncle?" tanya Bryna tak tanggung-tangung.


Wajah keriput itu sontak mendongak ke arah pintu masuk, mata Dera memincing sejenak hingga akhirnya menjatuhkan pandangan kepada Roseta dan Theo bergantian. Sedangkan dua sosok yang di sorot mata sayu itu diam-diam menahan napas karena suasana yang mendadak mencekam.


     Pikir Theo kenapa ibunya tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan, maksudnya, kenapa tiba-tiba begitu. Pria itu senang, jujur teramat senang sampai tak bisa berpikir apa-apa, hingga terlampau abstrak untuk menunjukkannya.


     Sedang Roseta sibuk bergelut dengan batinnya, mau menjawab apa seandainya ibu Theo bertanya, terlalu malu juga untuk mengaku. Dulu, dimata Dera, Roseta adalah gadis baik sebagai kekasih anaknya, dosa dan kelakuan bejatnya sungguh tidak pantas untuk ditunjukkan di depan muka. Lihat sja, perangai Dera sangat berwibawa, Roseta nyaris ingin berbalik badan saat pertama pintu terbuka menunjukkan wanita tua yang teramat dihormatinya.


"Ini rumah Theo Uncle 'kan?" tanya Bryna lagi karena tak mendapat jawaban, yang dilihat hanyalah tiga orang dewasa yang saling melempar pandang secara bergantian.


Dera memilih untuk menegakkan punggungnya dan berpindah mengelus surai hitam milik Bryna, melebarkan senyum beserta helaan napas panjang. "Lalu apa yang Bryna lakukan di rumah, Theo Uncle?" memilih bertanya dibanding menjawab, Dera merasa butuh kepastian untuk menuntasakan rasa penasaran.


      Bryna meringis menunjukkan rentetan gigi putihnya, membalik badan untuk menatap Theo dan Roseta. "Kita pindah kesini, benar 'kan, Mom?" tanyanya tertuju pada Roseta.


     Roseta yang di tanya merasakan ada sengatan listrik mengalir di sekujur tubuhnya, telapak tangannya tanpa sadar meremat ujung hoodie yang membungkus tubuh Theo di bagian belakang, pria itu pun sontak merasakan tangan Roseta yang gemetar.


     "Mommy teman Theo Uncle, grandma."


     "Benarkah? Lalu, Daddy-nya Bryna dimana?" tanya Dera lebih lanjut.


     "Daddy masih pulang ke Negara A." ungkap Bryna menjawab.


     Jika dipikir, terlalu banyak sandiwara yang sedang Roseta jalankan, lelucon ini sungguh tidak lucu, wanita itu membilu saat Dera menghela napas berat. Tatapan hangat yang dulu sering ia dapat tak lagi terlihat.


      "Asih," panggil Dera menyerah menunggu respon dari Roseta pun Thei yang masih terpaku layaknya patung batu.


      Sosok wanita dengan balutan sederhana keluar dari belakang, menampilkan senyuman diiringi lari kecilnya. "Iya bu," jawabnya.


     "Bawa Bryna ke kamarnya," Dera menjeda, membalik tatapan ke putranya. "Kau sudah menyiapkan kamar bukan?"


      Theo yang ditanya menanggapi dengan anggukan cepat, respon itu terlalu kentara jika dirinya sangat gugup luar biasa.


      Maka tidak butuh waktu lama, Asih membawa Bryna ke kamar yang memang sudah di siapkan Theo semenjak kepindahannya di rumah ini. Bryna menurut saja saat tangan mungilnya ditarik pelan untuk masuk lebih dalam, gadis itu tersenyum dalam diamnya. Bodoh jika mengira Bryna tidak tahu semua. Guna internet untuk apa jika untuk mengetahui Dera saja tidak bisa ia lakukan.


...\~\~\~...


"Jelaskan padaku, Matheo Ranu Pandega!!" tuntut Dera setelah lembaran koran pagi tergeletak di lantai akibat lemparannya.


...'Matheo Ranu Pandega dikabarkan berselingkuh hingga tega menceraikan istrinya' ...


       Mata Theo talak membola hingga cepat memungut kertas dengan berita ngawur tentang dirinya di dalamnya. Sumpah demi kejantanannya, kenapa info murahan itu tersebar tanpa diketahuinya.


     "Apa tidak ada skandal yang lebih keren dari pada itu, puteraku. Kau memalukan," oloknya lebih jauh. Wanita tua itu melipat tangan dibawah dada dengan angkuh.


      Bahkan Theo tak tersinggung sedikitpun, terselip kata putera membuat degub jantungnya terpompa lebih cepat, betapa senang sekali hatinya masih diakui sebagai anak setelah menghilang begitu lama, penyiksaan itu sangat menyakitkan jika Ibunya tahu.


     Sedangkan Roseta tak kalah diam, wanita itu merebut koran yang ada di tangan Theo, membaca satu persatu kata hingga kalimat yang tersusun membuat wanita itu menutup mulutnya yang ternganga.


"Mama senang kau bercerai dengan Yura. Apa artinya kau sudah sadar?"


"Mama, a-apa maksudmu?"


"Mama tidak akan mengatakan apa-apa lagi, dan kalian berdua juga tidak perlu bertanya. Yang ingin kuberitahu pada kalian adalah apa yang aku tahu," bersamaan kata terakhir itu, Dera memperpendek jarak untuk lebih mendekat ke arah Roseta dan Theo. "Bryna adalah cucuku," imbuhnya.


Layaknya maling tertangkap, keduanya kompak diam tak berucap. Jika di ingat-ingat, Theo dan Roseta ini kerap sekali melakukan hal yang sama dalam spontannya, jodoh biasanya seperti itu, tapi tidak tahu jika untuk kedua orang ini.


"Kenapa kalian masih menyembunyikan dari Bryna?" tanya Dera.


Theo mengusap tengkuknya seraya berkata, "Itu, ehm, itu,"


"Aku yang memintanya," sambung Roseta menyelesaikan.


Dera berbinar di bola matanya, suara Roseta sangat ditunggu untuk mengudara, sangat merindu juga untuk mendengarnya. "Apa kau tidak ingin memeluk Mama, Roseta."


Ingin, ingin sekali, bahkan saat masa pesakitan dulu, Roseta memuja untuk bersandar pada ibu Theo, namun sekali lagi, kotor dalam dirinya lah yang mengontrol untuk menjauh dan pergi.


"Mama," lirih Roseta.


Beriringan dengan itu Dera yang mulai gemas menarik Roseta dalam pelukannya. Katakan tubuh tua renta itu rapuh termakan usia, tapi jangan salah akan kebugaran dan kekuatan yang dimilikinya, Dera sangat menjaga kesehatan karena masih perlu untuk menuntaskan masalah besar yang dibuat oleh putranya, Theo tentunya.


Dera menepuk punggung Roseta menenangkan, tubuh Roseta yang gemetar lantas dirasakan langsung olehnya. "Untung kau tidak bodoh seperti Theo," ucapnya di sela pelukan. Roseta pun mengangguk antusias mengiyakan. "Dia sangat bodoh, Ma."


"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh bersama Theo lagi," nasehat Dera.


"Sudah kupastikan, Ma."


"Jangan bersama pria bodoh itu," imbuh Dera lagi.


"Tidak akan, Ma."


Theo tidak terima dong, pembicaraan terbuka itu sungguh menyinggung harga dirinya. Jika sekali saja mungkin masih ia tampung dalam otaknya, namun jika tingkat kebodohan lagi yang dibahas, Theo terpaksa menepis itu semua.


Hello. Theo itu pria dengan kecerdasan luar biasa, jika otaknya kosong, tidak mungkin saat ini pria itu masuk dalam jajaran orang tersukses di Negara ini.


Satu hal lagi yang membuat Theo mendidih di ubun-ubunnya. Ibunya, setelah sekian lama tak menyapa bahkan meninggalkannya itu tak segan untuk memeluknya.


"Ma, kau tidak ingin memelukku?" tanya Theo setelah keberanian itu mengumpul dan mendorongnya untuk bicara.


Dera menuntaskan acara berpelukan dengan Roseta, memutus pandang untuk bergantian merespon putranya. "Itu hukuman."


"Apa maksud, Mama?"


"Rasakan apa yang dirasakan oleh Bryna dan Braga."


"Ja-jadi."


"Rasakan bagaiman rasanya tanpa orang tua berada disisimu. Sampai sekarangpun Mama belum bisa memaafkanmu, Theo. Jangan harap itu akan mudah," putus Dera tegas.


Sampai disini Theo paham, jika semuanya beralasan, lantas percuma ia memaksa. Hanya menebus dosa yang akan menjadi tujuan akhirnya. Menata hidup kembali, membahagiakan Bryna. Inginnya Roseta juga ikut dalam keluarga kecilnya, tapi nyali Theo seketika menciut jika mengingat lagi perbuatannya.


"KAK BRAGA, KAK BRAGA," teriak Bryna histeris.


Gadis itu berlari dengan cepat saat menuruni anak tangga, linangan air matanya juga sudah membasahi kedua pipinya. Asih membuntuti dari belakang seraya berkali-kali memanggil namanya, kekawatiran muncul jelas di wajahnya.


Roseta, Theo pun Dera sontak mendongak mendapati Bryna hingga gadis itu mencapai ujung tangga bawah. Roseta yang sudah hapal jika Bryna begini langsung saja berlari untuk menghampiri.


"Adek, tidak, jangan lagi." ucapnya saat Bryna sudah di tarik dalam peluknnya.


Bryna memberontak sekuat tenaga, tidak seperti biasanya, gadis itu ngotot hingga Roseta kualahan dibuatnya. "Tidak, Mommy, kali ini Bryna melihat kak Braga," ungkapnya.


"Mommy, ayo cepat kita keluar, Bryba melihat kak Braga ada diluar gerbang, ayo Mommy." Bryna memaksa untuk menarik tangan ibunya, namun Roseta tak bergerak dan hanya diam di tempat.


"Tidak, dek. Jangan begini, kak Braga tidak ada."


"Ada diluar, Mom. Hiks," kekeh Bryna dengan tangisnya.


Roseta bertumpu dengan lutut yang berada dilantai untuk menyangga tubuh, membelai surai hitam Bryna yang basah karena keringat. "Adek, dengarkan Mommy. Kakak sudah tenang, jangan sepeti ini. Oke. Nanti kak Braga sedih."


"Daddy, ayo keluar, kak Braga ada di depan gerbang, Dad, ayo keluar."


Roseta mengikuti arah pandang Bryna, pikir Roseta ada Jay dibelakangnya, nyatanya presensi Theo lah yang ada. Bagaimana mungkin Bryna memanggilnya dengan sebutan itu. Lama tenggelam dengan pikirannya, Bryna yang tadi ada di depannya sudah berpindah untuk memohon dan menarik tangan gagah Theo.


"Daddy, ayo Dad. Hisk, kakak ada di luar."


Rengek Bryna tak berhenti sampai Dera tidak tahan sendiri. Jangan salah kira, ibu dari Theo itu tahu jika Bryna bersandiwara menutupi ketidak tahuannya tentang ayah aslinya. Membuntuti Roseta semenjak hari pernikahan Theo dulu membuat Dera tahu bagaimana cara hidup cucu-cucunya; Bryna dan Braga teramat cerdas seperti ayah mereka.


"Theo, turuti dan ajak putrimu kedepan." perintah Dera akhirnya.


Theo mengiyakan dan pasrah saat tangannya ditarik Bryna dengan terburu. Sedangkan Roseta masih membeku dengan membawa otak yang buntu. Kenyataan yang terbongkar di depan matanya sungguh kejutan hebat yang tak terduga. Lily putrinya, gadis itu merasakan hal yang sama seperti dirinya, memendam kenyataan di usia sepiyik itu. Roseta memukul-mukul dadanya kuat. Teramat sesak hingga pasokan udara di dunia terenggut dan tak tersisa untuknya.


"Kau bodoh, Roseta. Hiks. Hiks." ucap Roseta menghakimi diri sendiri.


"Kau sungguh bodoh."


"Kau bodoh."


"Kau seorang ibu yang tidak becus, Roseta. Kau sangat bodoh."


Roseta bertubi-tubi menghujam dirinya sendiri dengan pernyataan itu, terisak dalam tangis meratapi kesalahannya. Dera yang melihat tak mampu lagi menahan air mata. Meski dalam diam, ibu dari Theo itu juga merasa berdosa karena ulah putranya.


Dera menyesal, seandainya saja dulu ia mampu meyakinkan Theo untuk mencari bukti dan membicarakan lagi, mungkin semua tidak akan terjadi. Namun, kebengisan dan keras kepala putranya lah yang membuat Dera berhenti, juga masih banyak alasan lain lagi yang tidak bisa Dera atasi sendiri. Wanita tua itu pengecut dan memilih untuk mengasingkan diri.


"Roseta, kau wanita kuat. Percaya apa kata Mama." ucap Dera.


Roseta masih tertunduk sambil terduduk dilantai, menjawab lirih ucapan Dera. "Aku bodoh, ma. Aku tidak pantas di sebut ibu. Aku kehilangan Braga. Sekarang, aku membuat luka di hati Bryna. Pantaskah aku di sebut seorang ibu."


"Lalu apa bedanya dengan aku, Roseta. Putraku yang membuat kalian menderita. Bukankah aku yang lebih tidak pantas."


Bergelayut dengan kesalahan masing-masing hingga membuat ruangan sunyi tanpa bising. Tidak lama Theo kembali dengan Bryna yang terisak di gendongannya. Gadis itu merangkul pundak Theo hingga menyembunyikan wajahnya.


Theo menggeleng saat sarat tanya dengan mata yang ditunjukkan Roseta menghampirinya. Memang sudah bisa ditebak, mungkin Bryna menghayal lagi. Roseta sering mengalami hal ini, dimana dengan tiba-tiba Beyna histeris memanggil-manggil nama Braga. Awalnya dulu Roseta juga terkejut dan berharap itu adalah putranya. Tapi nihil yang di dapati, mau dicari kemanapun, Braga sudah tak kasat mata.