ROSETA

ROSETA
Akal Bulus



Tidak lagi terasa perih, kini kakinya pun dapat menekan gas mobil dengan rapih. Membelah Kota Mawar Merah yang nyatanya terlewat sepi ditemani jalanan yang tak cukup isi. Matheo Ranu Pandega sudah melakukan berbagai cara dengan modal pita suara, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, kenyataan tetap tak bisa diubah, Bryna membuatnya bungkam dan nurut saja.


Bryna Samanta, gadis cilik itu seakan menghipnotis Theo, benci sekalipun sungguh tidak bisa. Perangai manisnya tengah mampu menarik total tubuh Theo untuk nyaman berada di dekatnya. Theo yakin dan sadar dengan perasaan yang tidak bisa ditarik begitu saja, benar-benar nyaman dan apa adanya.


Lihat saja sekarang, bahagianya Bryna dengan kantung plastik berisi makanan yang asik nangkring di pahanya, gadis itu duduk dibagian jok samping dimana Theo sedang menyetir. Bryna menikmati es krim tanpa tahu betapa Theo sedang khawatir akan nasibnya saat nanti kakinya akan di bordir.


Theo tidak bercanda mengenai ketakutannya pada segala jenis jarum.


Manakala fokusnya sedang menyisir sekitar karena lampu merah sedang menyala. Tanpa sengaja, Theo menangkap presensi seseorang yang sangat amat dikenalnya, apapun itu, saat ini juga, ia sungguh ingin berhenti dan melayangkan bogeman pada seseorang yang sedang bercum*u di balik bangunan dengan bingkai kaca menembus pandangan, didalam cafe morning yang Theo tahu buka dalam 24 jam. 


Namun, alam sedang tidak berada di pihak Theo. Bocah cilik disampingnya ini sungguh tidak boleh melihatnya.


Theo meremat kuat setir karena ia sangat terganggu dengan pemandangan itu. Bryna melihatnya, menoleh ke samping menatap kilatan mata yang memerah menjorok ke arah luar jendela mobil. 


"Uncle marah ya?" tanya Bryna akhirnya.


Disaat itu juga, Theo mengerjap. Bukan karena Beyna bertanya, suara riuh klakson di belakang saling bersautan menunjukkan protes karena lampu hijau sudah menyala. Maka, tidak butuh lama, kakinya menginjak gas untuk melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan Bryna yang merasa diabaikan hanya meremat rok seragamnya, air matanya masih enggan keluar dan hanya menggantung di pelupuk mata. Bryna tidak suka, dirinya merasa bersalah juga karena keegoisannya meminta Theo untuk mengikuti kemauannya.


"Uncle pasti marah 'kan? Maafkan Beyna, Uncle," ujarnya begitu lirih, pun tertunduk nyaris membuat hati Theo perih.


Bryna mengira, keterdiaman Theo adalah hasil dari paksaan yang ia buat.


Theo mulai panik. "Hah!! Uncle tidak marah Bryna. Sungguh!!" pun pria itu segera mengkonfirmasi.


Bayangkan saja, pria yang beberapa saat lalu dilahap habis oleh emosi mendadak linglung sampai membanting setir ke kiri untuk menepikan mobil. Jujur pertanyaan Bryna dengan lagak memilukan itu membuatnya bingung tak karuan. Bryna takut disangka membuat anak orang lain ketakutan.


Lantas, tidak menunggu waktu untuk semakin terulur, Bryna melepas safe belt miliknya. Jemarinya meraih pipi gembul Bryna yang sudah total basah.


Sial. Theo merutuki apapun yang membuat Bryna seperti itu. Theo bersumpah akan menggusur cafe morning di persimpangan jalan tadi. Ia bersumpah. Pria itu tidak tuli, Bryna sempat menanyainya dua kali. Theo mendengar, hanya saja otaknya tadi sedang terbelah ke dua arah.


"Bryna nakal ya, Uncle? Bryna tau kok, pasti Rahel tidak pernah membuat Uncle kecewa. Terakhir kali saja, permintaan Bryna untuk terakir kali, setelah ini Bryna tidak akan menganggu Uncle lagi. I promise."


Theo ingin mencoba menenangkan, namun gagal setelah beberapa penggal kalimat kelewat nyelekit menghampiri rungunya. Theo tiba-tiba merasa tersiksa, ada perasaan tidak terima kala gadis cilik itu mendongak dengan tatapan iba, juga bibir yang menyibik sembari mengeluarkan suara.


Semacam rasa patah hati berkali-kali.


Apakah Theo jatuh cinta lagi?


Apakah benar kata orang, tidak dapat ibunya, anaknya pun jadi?


Theo menggeleng menepis pemikiran konyol tak terkontrol itu. Dirinya amat sadar jika perasaan ini hanyalah........?


Sungguh Theo tidak bisa untuk menjabarkan. Yang paling jelas, jika saja Bryna benar-benar mengabaikannya, Vee tidak akan tenang untuk seumur hidupnya. Mungkin berlebihan mengingat Bryna bukan siapa-siapa. Namun ada sesuatu yang teramat erat mengikat dirinya dengan gadis cilik anak dari mantan kekasihnya itu.


"Tapi bagaimana kalau Uncle tambah marah karena Bryna tidak mengganggu Uncle lagi?"


Sedikit dengan mengancam, jujur, Theo tidak tahu bagaimana cara merayu. Mungkin terasa sangat kaku, namun, begitu saja mampu membuat Bryna menggeleng kuat dan lucu.


"Kalau begitu, Bryna jangan menangis.“ karena Theo tidak akan pernah tahu apa yang akan di lakukan Roseta padanya jika wanita itu tahu Bryna menangis karenanya.


Lagi-lagi Bryna hanya mengangguk, namun tawa terukir di bibirnya, air matanya juga enggan untuk terjatuh lagi. Perasaan tenang yang mengerubung begitu penuh. Sampai-sampai Bryna tak berhenti menyungginggkan senyuman.


...\~\~\~...


Berjalan sedikit pincang dengan sandal rumahan, pun kaki kanannya terbungkus kain dengan tidak nyaman. Theo memasuki area Rumah Sakit beserta Bryna di gandengan.


Sedangkan bocah cilik itu hanya celingak-celinguk mengawasi UGD. Banyak pasang mata yang tak luput menyaksikan kehadiran mereka. Dari sini saja, tidak dapat terhindarkan bagimana cara orang memandang keduanya. Tidak dapat dipungkiri, Theo dan Bryna sama-sama orang yang begitu sulit untuk diabaikan.


Theo pengusaha terkenal dan kaya raya, siapa yang tidak mengenal dirinya. Sedangkan Bryna anak dari direktur utama Rumah Sakit ini. Tidak heran bagaimana mereka dapat menyedot perhatian.


Mungkin banyak yang bertanya bagaimana kedekatan mereka. Dengan Theo yang tidak pernah menggandeng orang lain di depan publik selain putrinya sendiri, yaitu Rahel. Pun Bryna yang terbiasa seliweran sendiri di bangunan ini, Bryna kerap mampir dan datang seorang diri setelah pulang sekolah untuk menemui Ibunya.


Theo sedari dulu terkesan angkuh dalam lingkungan, pantas saja banyak yang takut hanya untuk menyapa. Sedangkan Bryna, gadis cilik tomboy dan sedikit pecicilan itu sudah banyak mengenal berbagai orang dengan jabatan di Rumah Sakit milik ibunya.


"Selena Auntie, apakah Auntie tau dimana Mommy berada?"


Bryna, memutuskan untuk bertanya pada salah satu perawat yang sudah dikenalnya, karena tidak dapat menangkap presensi ibunya di depan mata. Beyna jelas masih ingat percakapannya tadi pagi bersama Roseta. Wanita yang sangat dicintai Bryna itu mengatakan akan bertugas di UGD.


"Oh, Nona Bryna. Ibu berada di ruangannya." perawat itu memberitahu Bryna dengan gugup, sudah sangat jelas, pribadi gagah yang berada disamping Bryna lah yang menjadi penyebab.


"Ruangan yang mana Auntie? Ruang atas atau perawatan umum?"


Bryna, gadis itu sangat tahu jika posisi ibunya sangat penting disini. Mendapat peran double, yang seharusnya hanya menjadi Dokter. Pelimpahan sebagai Direktur Utama memang sangat berat, namun, Bryna tahu jika ibunya adalah wanita hebat.


"Poli umum, Nona."


Bryna tersenyum menunjukkan rentetan gigi putihnya.


"Terimakasih, Auntie. Bryna akan kesana," Meskipun Bryna mepunya sifat bar-bar yang terkesan pemarah dan berlaku seperti gadis cilik pembuat ulah, namun dia tahu cara bersopan santun.


Sedari tadi, Bryna yang sedang kerepotan mencari tahu keberadaan ibunya. Sedangkan Theo hanya diam, tapi meskipun begitu, jantung Theo berdetak tak karuan, pria itu menunjukkan ekspresi sangat tenang, walau hanya sebagai peringai saja.


Oke. Jelas sudah di papan berbahan kayu itu tercetak tulisan dengan sangat tebal berwarna hitam.


Nama Roseta beserta gelar Dokter Bedah milik wanita itu.


Sampai disini Theo cukup menegang, selain bertemu dengan Roseta, dirinya juga menghawatirkan nasib kakinya. Melihat gelar yang menyusul dibelakang nama Roseta saja membuat dirinya mengeluarkan keringat dingin.


"Benar-benar akan dijahit ya ini?" gumamnya nyaris tak terdengar.


Ayolah, Theo ketakutan. Teringat akan pertemuannya dengan Braga tadi malam membuat dirinya memikirkan sepintas akan jalan keluar yang sangat brilliant, yaitu kabur.


Beyna merasa genggaman tangan Theo berubah suhu menjadi dingin, gadis itu mendongak, nampak jelas, peluh jatuh dari dahi milik Theo, pun dengan wajah memucat pasi. Mengingatkan Bryna pada seseorang hingga gadis itu tersenyum dibuatnya.


"Uncle. Jangan takut. Bryna akan mendampingi Uncle sampai selesai. Oke!"


Intrupsi kelewat menenangkan itu sangat ampuh membuat Theo mengangguk setuju. Ide konyol untuk kabur yang sempat bersarang di otaknya pun sudah terkubur.


Biasanya dalam kasus apapun, seseorang yang lebih dewasa akan menjadi pemandu bukan?Tapi tidak untuk kali ini, Bryna yang harus setia menggeret tangan Theo. Menggiring untuk masuk ke dalam ruangan Roseta.


Tanpa ketukan dan jawaban setuju, Bryna membuka papan kayu disusul memutar knop pintu.


"Mommy."