ROSETA

ROSETA
Sebuah Rencana



Persahabatan mungkin bisa mengalahkan persaudaraan, tapi walau bagaimanapun keluarga tetap nomer satu. Mungkin juga tak banyak orang yang tahu jika keluarga bisa dibentuk meski tak terhubung darah sekalipun.


Seperti Liliana yang sangat mencintai Roseta; sahabat lemahnya yang selama ini menutup kedoknya. Bahkan jika Roseta saat ini berkata jujur sekalipun, Liliana masih akan mengambil langkah seribu untuk menentukan apa yang akan ia lakukan. Tapi tidak untuk sekarang, emosinya terlanjur meletub-letub sampai-sampai mendiami suaminya sedari pulang kerja.


Swan, bocah laki-laki itu dengan semangat membara mengatakan pada ibunya perihal kenyataan yang baru saja ia dengar dari ayahnya saat sepulang dari sekolah di perjalanan dalam mobil. Mengatakan jika om-nya yang bernama Matheo Ranu Pandega adalah ayah kandung dari sahabatnya Bryna Samanta. Kenyataan itu tak ayak menikam hati Liliana yang sejak Swan bercerita sudah terlanjur terjerumus di dalam, hingga kenyataan yang mulai tampak jelas itu terdengar begitu nyaring dengan cerococan khas anak kecil, membuat Liliana tersenyum walau hatinya ngilu menahan pilu.


"John Jeko, apa kamu mencintaiku?" tanya Liliana mendadak dari arah belakang.


Jeko yang sedari tadi diam membilu karena tak tahu kenapa istrinya mendiaminya dengan begitu lantas menoleh kebelakang karena vocal bertanya istrinya seperti orang pilu.


Mengambil langkah berdiri dengan seulas senyum, Jeko pun menjawab. "Tentu saja mama Swan, pertanyaanmu menyakiti hatiku, oh!"


Liliana menghela napas, inginnya dijawab serius, tapi suaminya lagi-lagi ingin bercanda. "Jeko, aku serius!!!" marahnya.


Jeko tertawa lantas menggiring istrinya untuk mendekat dan dipeluk. "Astaga, aku sangat mencintaimu sayang." jawabnya serius.


Liliana melingkarkan kedua lenganya untuk mendekap Jeko lebih dalam. "Aku punya permintaan. Apa kamu bisa menurutiku?" tanyanya terlebih meminta.


"Tentu saja, apapun!!"


Liliana melepaskan rengkuhan hangat dari Jeko di sore hari ini, ditemani bias cahaya yang menguning lewat celah jendela, ia tersenyum teduh hingga wajah yang tampak cantik itu semakin membuat suaminya terpesona.


"Apa kamu akan menyelamatkanku dari hukum apabila aku dituntut habis-habisan oleh orang yang sudah aku pukuli sampai babak belur?" tanya Liliana lagi.


Jeko sontak terhenyak, jangan lagi, itu pikirnya, mengingat dulu Liliana pernah berurusan dengan aparat hanya karena kasus memukuli brandal SMA, istrinya itu mendapati anak-anak dibawah umur memalak ibu-ibu di jalan.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Apa kamu berkelahi? Lagi?"


Liliana menggeleng kuat. "Jawab saja Jeko." rengeknya.


Jeko mengangguk kuat hingga berulang kali. "Pasti, akan aku lakukan apapun demi kamu." jawabnya.


Jeko sangat mencintai istrinya, fakta itu sangat nyata. Lantas Liliana yang mendapat jawaban itu tersenyum lebar hingga akhirnya memberikan kecupan singkat tepat pada bilah bibir suaminya. Jeko rasanya ingin megurung istri tercintanya itu, namun sayang, Swan akhir-akhir ini selalu bergumbul dalam satu kasur.


"Sayangku, Jeko-ku, ayo kita berkunjung ke rumah Kak Theo."


"Untuk apa?"


...\~\~\~...


Roseta tambah pusing saat sepagi tadi Maria mengatakan akan mengambil alih untuk acara penjemputan Jay. Alhasil, Roseta yang kebetulan sedang libur, terpaksa berdiam diri dirumah yang masih teramat asing baginya. Baru saja sehari, tapi hati Roseta meronta-ronta dengan keras akan ketidak sukaannya dengan suasan ini. Ia belum terbiasa, atau mungkin memang perasaannya menolak untuk tinggal dibawah atap yang sama bersama mantan kekasihnya.


Mengenai Theo, pria itu baru saja pulang dari kantor. Roseta tahu, karena mulut imut putrinya begitu histeris dibawah sana melihat tubuh jangkung ayahnya yang sudah tenggelam masuk ke dalam rumah. Roseta menengok lewat celah pintu kamarnya, ia bahagia melihat Bryna yang saat ini cekikikan dengan berbagai cerocosan bersama Theo di atas sofa.


"Ah, ada apa dengan jantungku." Roseta bergeming sembari meremat baju yang tepat melapisi dadanya.


Setelah mengatakan itu, Roseta kembali lagi ke kamarnya. Berdiam diri, masih sangat malu terhadap Bryna atas kebohongannya selama ini. Untuk masalah pengisian perut, sudah disiapkan Roseta di atas meja makan. Jadi Bryna bisa langsung makan saja tanpa harus meneriaki ibunya karena Roseta pun juga pasti sangat tahu jika Bryna menaruh rasa yang sama seperti dirinya. Mungkin me time memang diperlukan oleh mereka.


Sedangkan Bryna sudah kembali ke kamarnya, rutinitasnya memang seperti itu setiap hari, bergulat dengan komputer dan ***** bengek sekawanannya. Tapi tidak untuk sore ini, tubuh berbalut kaos longgar dengan celana pendek sebagai bawahan itu sontak melesat ke arah balkon saat isi otakknya menyeru untuk beranjak, masih sangat ingat kejadian tempo hari yang terasa sangat nyata akan sosok Braga berada didepan gerbang rumah ayahnya.


Bukanya mendapati hal yang diinginkan, Bryna justru melihat sebuah mobil yang baru saja tertelan gerbang, mungkin pikirnya itu rekan bisnis ayahnya, atau teman juga. Tapi, saat pintu benda bermesin itu terbuka, sosok mungil yang sering menyebut Bryna sebagai calon istri lah yang menjadi pemandangan pertama, disusul oleh Jeko dan Liliana juga.


Bryna terbengong sebentar sebelum akhirnya melesatkan tubuh untuk keluar kamar, memberitahu ibunya. "Mommy, Liliana auntie, John uncle dan Swan ada di depan." ucapnya saat kepalanya muncul dibalik pintu kamar Roseta.


Roseta menoleh terkejut, ia sedang merenung dibalik jendela yang menjurus langsung ke arah kolam. Sejamang kemudian ia berlari mendekati Bryna. "Adek, bisa tolong mommy 'kan?"


Bryna sontak mengangguk antusias, ia merupakan gadis superhero bagi ibunya. Apalagi mendengar permintaan pertolongan, mutlak baginya untuk melaksanakan.


"Adek kedepan, langsung bawa Swan ke lapangan basket belakang, ajak main dia. Oke."


Time to show. Sekarang Roseta tahu arti pesan dari Liliana yang ia terima beberapa menit yang lalu.


"Oke." secepat itu Bryna menyetujui permintaan Roseta dengan lagak yang begitu santai.


Roseta tak hilang akal, langkah kedua adalah kamar Thei. Wanita dengan pakaian rumahan itu bergegas untuk berlari ke arah kanan, otaknya masih tetap bekerja untuk menyiapkan berbagai pertanyaan.


Roseta melupakan jika ini bukan rumahnya, tapi adab kesopanan sebentar saja ia lupakan. Mendobrak kamar tuan rumah yang nyatanya tidak dikunci dari dalam. Roseta membolakan mata hingga ingin keluar lagi dari kamar saat pemandangan panas menyerbu peglihatannya, Theo hanya memakai celana kolor tidak sampai selutut, sedangkan bagian atas tak ada sehelaipun kain yang menutup.


Hot! Theo memang baru mandi, pria itu menoleh ke arah pintu.


"Tunggu!!" teriaknya saat Roseta berbalik dan akan menutup pintu.


"Cepat, pakai dulu kaosmu."


"Panas. Aku nggak mau," tolak Theo.


Pria itu tersenyum dan melipat tangan dibawah dada, sedangkan tungkainya mulai mendekat ke arah Roseta yang berada diperpotongan pintu. "Ada apa. Hm?" tanyanya.


Oh Tuhan. Bisa tidak Theo mengeluarkan vocal yang biasa saja, suaranya terlalu dalam dan berat, membuat Roseta kelimpungan dengan detak jantung berantakan. Lalu Roseta mencoba untuk menetralkan kegugupannya, benci, ia sangat benci Theo, tapi keadaan mendesak dan harus dihadapi.


"Theo, ada John diluar. Apa kau memberitahu mereka tentang kita?"


"Aku nggak akan jawab sampai kamu balik badan. Nggak sopan." Theo mengancam.


Rasanya Roseta ingin mengambil vas bunga yang ada di depan TV lalu memukul kepala Theo. Baiklah, mungkin mencoba membutakan mata bisa ia lakukan sementara. Roseta membalik badan, netranya bergetar, aroma sabun yang digunakan Theo pun menyeruak hidungnya, wangi.


"Jawab aku!" Roseta memerintah lagi.


"Harus natap mata aku kalau tanya, jangan lihat bawah, lantai nggak lebih tampan daripada aku."


Sumpah demi kolor Theo yang berwarna hitam, Roseta ingin sekali menggantinya dengan warna pink. Theo banyak maunya, persis seperti putrinya.


Roseta mengalah, ia mendongak, menatap Thei yang saat ini menampilkan senyuman yang entah Roseta sendiri tidak tahu apa yang membuat Theo terlihat begitu bahagia. "Jawab aku, Theo."


"Iya, aku yang ngasih tahu Jeko."


"Kenapa?"


Roseta bingung juga mau bertanya apa lagi. Toh sudah begini. "Lalu, kenapa mereka kesini? Kamu tahu dan nggak ngasih tahu aku."


"Kejutan." Ucap Theo bersorak.


"Kejutan kepalamu."


Roseta geram. Theo sontak stagnam. Kenapa dengan kepalanya? Hanya itu yang melintas diotaknya. "Kenapa dengan kepalaku?"


Roseta mengehela napas kasar. Memejamkan mata sebentar, karena diakui, dada ber otot milik Theo sangat meracuni penglihatannya. "Kau tidak usah turun, biar aku yang menemui mereka. Kau disini aja." perintahnya.


"Nggak mau." tolak Theo.


"Tidak ada penawaran. Kau tetep dikamar, jangan keluar!!!" Perintah Roseta penuh penegasan.


"Aku tetep nggak mau." tolak Theo lagi.


Theo tidak mau ketinggalan berita ataupun rahasia lagi nantinya, oleh sebab itu ia berisik keras untuk tetap ikut menemui tamunya.


Roseta hilang akal. Tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara dengan orang keras kepala seperti Theo. Mau menjelaskan pun sudah tak banyak waktu. "Oke," Roseta menjeda sembari menata kata-kata. "Tapi kau harus berada dibelakangku, jangan di depandu."


"Kamu aneh."


"Turuti!!!! Apa susahnya sih!!!


Satu kemajuan. Menurut Theo, Roseta bisa marah begini adalah suatu kemajuan. Dulu, wanita itu juga pernah seemosi ini hanya karena Thei jatuh dari sepeda motor oleh sebab memaksa mengantar Roseta untuk pulang kerumah. Oh, oke, lupakan masa lalu, yang ada hanyalah sekarang.


"Cepet ganti baju, aku tunggu."


Dengan begitu Theo berbalik dan mengganti baju dengan Roseta yang masih setia mengekori langkahnya. Dari Theo membuka lemari, memilih baju, memakai celana, Roseta merekam dalam otaknya. Ia dulu sering menyaksikan hal yang sama. Roseta menggeleng, membuang jauh-jauh ingatan masa lalunya.


"Lho, ibu, pantes saya cari tidak ada bu. Di bawah ada tamu, katanya mencari ibu dan bapak." Bi Asih dari balik pintu terkejut saat Theo pun Roseta baru keluar dari kamar tuan rumah.


"Iya mbak, ini saya mau kebawah. Terimakasih." balas Roseta ramah membuat Theo sumringah.


Pikir Theo, kenapa Roseta tidak seramah itu padanya. Apa harus Theo bertransformasi menjadi bi Asih. "Roseta, kalau aku jadi bi Asih, kamu bakalan ramah nggak."


Roseta melirik tajam pria konyol disampingnya. "Shut up, Matheo!!!" sungutnya.


Theo diam. Sedangkan bi Asih hanya menahan tawa. Asisten rumah tangga itu sudah tahu bagaimana keadaan keluarga tuannya dengan Roseta yang menjadi mantan kekasihnya.


"Jalan dibelakangku." perintah Roseta, Theo menuruti walaupun masih bertanya-tanya.


Roseta menuruni tangga, satu persatu dengan Theo yang ada dibelakangnya. Sampai kaki itu berada di bagian paling bawah dimana atensi Liliana dan Jeko yang menatap mereka, pacu jantung Roseta bertambah berkali-kali lipat.


Jeko tersenyum, Liliana begitu juga. Tapi, tak bertahan lama. Wanita asal Thailand itu segera berlari ke arah Roseta dengan cepat.


"La tung-tungu." pinta Roseta dengan tangan mengudara kedepan, sarat mengehentikan.


Liliana tak menggubris. Wanita itu justru sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jeko yang melihat istrinya bergerak cepat mendekati Roseta itu tampak keheranan dan tetap diam di tempat. Sedangkan Theo masih melihat adengan Roseta yang mencoba menghentikan Liliana.


Sedetik. Dua detik. Liliana sudah tepat berada di depan Roseta.


"Minggir nggak!!!" perintahnya.


"Nggak, Li, please, ayo bicara." Pinta Roseta memohon.


"Nggak, nggak, nggak. Minggir!!!" mata Liliana memanas, dibelakannya sudah ada Jeko yang entah kapan menyusul langkahnya.


Theo masih terbengong dengan sejuta pertanyaan yang ada di sarang kepalanya. Mencoba memainkan mata dan berusaha berbicara lewat isyarat kepada Jeko.


Jeko memegang lengan istrinya. "Sayang, ada apa ini?"


"Diem, John. Atau kamu tidur sendiri malam ini."


Keadaan semakin menegang saat Liliana yang penuh dengan ancaman kepada suaminya. Wanita itu mendapatkan celah. Dalam satu gerakan, tangan kelewat panjang miliknya menarik lengan Theo yang masih berada di belakang Roseta. Liliana menguasai, Theo tepat berada di depannya.


BUGG.


Satu pukulan talak Liliana layangkan tepat di wajah paripurna milik pria yang saat ini membolakan mata, terkejut. Theo tidak pernah membayangkan mendapat pukulan keras dari seorang wanita. Nyeri, itu yang dirasakan. Kekuatan Liliana sangat luar biasa.


"Ini, untukmu karena pria sepertimu hanya seorang pengecut.”


BUGG.


"Ini, untukmu karena punya otak kotor, berani-beraninya menuduh sahabatku bermain api dengan pria lain. Tahu sendiri kan sekarang.”


BUGG.


"Terakhir, ini buat Bryna dan Braga, gara-gara kebodohanmu, mereka harus kepisah."


Ketiga pukulan beruntun beriringan dengan amarah yang Liliana ucapkan secara teratur. Wanita itu emosi sampai Roseta dan Jeko hanya bisa melihat tanpa mampu melerai. Mereka sama-sama tahu jika sudah begini, Liliana tidak tertandingi.


Sedangkan Theo paham, paham akan Liliana yang semarah ini, memang salahnya. Jika Theo ingin membalaspun sangat bisa, tapi ia bukan pria dengan rok sebagai identitasnya. Cukup sadar diri jika ia pantas menerimanaya. Bahkan lebih dari tiga pukulan, ia akan dengan rela menyerahkan tubuhnya untuk dihancurkan.


"Li, please, udah ya."


Roseta berani berkata saat Liliana berdiri dengan air matanya. "John, panggil Swan, kita pulang, aku tunggu di dalam mobil."


Liliana tak menggubris Roseta. Hanya memilih untuk melenggang pergi begitu saja dengan tangan yang merogoh ponsel dalam kantung celana.


Liliana: Kita bicarain besok, aku lagi emosi. Aku sayang kamu.


Roseta tersenyum saat membaca pesan Liliana. Ia tahu sahabatnya tak akan pernah mengabaikan tanpa alasan. Ia hanya butuh waktu.