
"Daddy."
"Hm, ada apa sweety?"
Saat ini mereka berdua sudah berada dalam mesin beroda, menuju sekolahan Bryna. Theo yang fokus menyetir menjawab tanpa menoleh kesamping. Tentu saja keselamatan harus digiring dan ditempatkan paling depan. Theo masih ingin hidup berdampingan dengan orang yang saat ini diperjuangkan, tidak mau mati konyol karena kecelakaan, apalagi membawa putrinya juga.
"Boleh Bryna bertanya?"
"Tentu saja."
Bryna tak langsung berucap saat ijin untuk bertanya dilegalkan ayahnya tanpa pemikiran panjang. Gadis kecil itu memilin roknya, tampak ragu jika yang ingin ia tanyakan menciptakan boomerang baru dalam hidupnya.
"Rahel," Bryna tampak menjeda saat ekor matanya melirik Theo yang nampak kaku akibat kejut kata yang baru saja Bryna sebutkan, bahkan kalimat pertanyaan belum muncul untuk melengkapi sampai akhir.
Bryna membuang jauh rasa takut, penasaran lebih mendominasi dan mengerubung bagai lebah yang berbondong-bondong masuk ke dalam sarangnya. Lagipula ayahnya juga berhutang padanya untuk menjelaskan, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk menagih janji.
Sedang Theo memang tidak memprediksi dari awal yang akan Bryna sebutkan adalah nama itu, makanya pria itu sedikit kaget saja.
"Rahel bukan anak Daddy." ungkap Theo
Theo paham, sangat tahu jika tingkat keingin tahuan Bryna itu sudah mencapai overdosis. Maka tak butuh kalimat lengkap, ia sudah menjawab.
Bryna membuka mulutnya lebar beserta reflek menutupnya juga dengan telapak tangan. "Ba-bagaimana bisa?"
"Heem. Bagaimana menjelaskannya ya."
"Demi Tuhan. Bryna penasaran, dad!" tuntut Bryna.
Tentu saja Theo bingung bagaimana cara untuk menjelaskannya. Tidak mungkin juga permasalahan ranjang yang menjadi inti permasalahan dijelaskan secara gambalang. For other reason, Bryna bahkan tidak seharusnya tahu bagaimana kronologi kisah para orang dewasa yang sama sekali tidak patut untuk dijadikan contoh.
"Apa Daddy bisa menjelaskan saat nanti Bryna sudah dewasa?"
Bryna nampak memberengut, "Asal Daddy tahu ya, Bryna sudah sangat dewasa."
Theo tersenyum menanggapi. "Jangan dulu ya, nanti saja saat Bryna sudah berumur tuhuh belas tahun. Bagaimana?"
"Very long time, dad. Bryna tidak sesabar itu."
Lagi-lagi Theo terkikik, ingin sekali melihat ekspresi Bryna lebih lama. Namun tetap keselamatan yang menjadi fokus utama.
Bryna bersendekap masih tidak terima. "Sederhana saja, dad. Intinya saja, beri tahu Bryna bagaimana Rahel bisa memanggil daddy dengan sebutan yang baru saja Bryna katakan."
Oh. Sepertinya Bryna bukan menuntut penjelasan saja, rasa dongkol yang ditahan saat ayahnya memanjakan putri lain nampaknya mulai Bryna tunjukkan.
"Calm down, babe," goda Theo dengan tengilnya.
"Babe? Dad, Bryna bukan kekasih daddy ya."
Astaga. Theo menepuk jidat. Serba salah juga jika berhadapan dengan Bryna. Sekecil itu sudah tahu-menahu dengan sebutan kekasih.
"Oke. Jadi daddy boleh memanggil Bryna dengan sebutan apa saja?"
Bryna nampak berpikir sejenak. Kenapa juga ayahnya ini memikirkan sebutan segala. Kalau dipikir-pikir, sejak pertemuan awal dengan Bryna dulu, Theo suka random dalam menyebut Bryna dalam panggilannya.
"Apa saja, asal Jangan panggil Bryna dengan sebutan princess," jawab Bryna yang nampak lirih di akhir kalimat.
Permintaan itu jujur, untuk alasan, Bryna sangat yakin jika Theo sudah paham. "Deal," putus Theo dengan anggukan mantap.
Hampir saja keduanya membeku di dalam kendaraan jika saja Theo tak memecahkan kerasnya es batu di dalam sana. Bryna secara tidak langsung mengingatkannya pada kebiasaan bibir Theo yang tersenyum lebar saat memanggil Rahel dalam sebutan princess, hati Theo seperti dihantam tobak dengan ujung yang tumpul, menyakitkan, pelan dan pasti.
"Tapi, daddy belum menjawab pertanyaan Bryna."
"Pertanyaan yang mana?"
"Jangan pura-pura lupa ya?"
Keduanya sama-sama tahu bagaimana cara mengembalikan suasana seperti semula, Theo dan Bryna memiliki kepekaan dan toleransi yang selaras. Begitu saja, sepasang ayah dan anak itu sudah berdebat lagi hingga meninggalkan kecanggungan yang dibuang lewat jendela.
"Oke. Sederhananya daddy dijebak."
"Enough. Bryna paham."
Seperti dugaan Bryna. Gadis itu tidak berencana menuntut lebih jauh sedari awal. Telinganya masih belum pantas untuk mendengarkan lebih dari ini. Dibenaknya, anak berusia sembilan tahun seperti dirirnya belum saatnya untuk mengetahui segala jebakan dalam dunia, yang seharusnya ia tahu hanya jebakan tikus saja. Biar orang dewasa yang menyelesaikannya. Bryna hanya akan diam dan mengamati, maju jika memang dibutuhkan.
Waktu bergulir dengan singkat bersamaan itu rem mobil ditekan dengan tepat di pelataran sekolahan. Bryna turun dari mobil ditemani Theo yang juga sudah disampingnya.
"Bertemu Jeko Uncle."
"John uncle, dad!! Bryna suka memanggil nama depan!!" ucap Bryna memberitahu.
"Iya, iya. John uncle."
Bryna mengangguk saja sampai matanya berhenti untuk menatap gadis sebaya yang sudah berdiri tak jauh berjarak darinya. Rahel sendiri, setahu Bryna gadis itu memang sering diantar sopir akhir-akhir ini. Yura yang diketahui ibunya pun, bahkan tak pernah Bryna lihat menggandeng tangan putrinya untuk masuk kedalam sekolahan. Sepengamatan Bryna, Theo lah yang dulu rajin menggandeng tangan Rahel dengan erat.
"PAPA."
Rahel berteriak sampai menghentikan langkah berbagai orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya. Theo mendengar dan menggubah pandangan ke arah gadis yang selama ini selalu ditimangnya.
Theo dihadapkan antara dua pilihan yang sama-sama membuatnya jatuh kedalam jurang tanpa dasar, menyakiti hati gadis kecil paling tidak bisa dilakukan oleh pria ini. Memilih mengahmpiri Rahel sama saja menyakiti putrinya sendiri. Sedangkan untuk mengabaikan Rahel sama saja membuat gadis itu sakit hati.
Sedang Rahel yang berlari menghampiri Theo, bersamaan itu juga Bryna berlari untuk menuju kelasnya. Bryna sangat tahu jika ayahnya sedang terbelenggu dalam pilihan yang tidak dapat pria itu putuskan dengan langkah gampang. Bryna yakin jika ayahnya penyayang, maka dari itu lebih baik mengalah walaupun butiran air mata menggiring beserta langkahnya.
Saat tubuh yang dibawa tungkai itu menuju kelas, Bryna berhenti begitu saja karena memikirkan hal yang masih sama, tentang ayahnya dan Rahel dengan hubungan yang rumit, saat itu juga Bryna membalik badan untuk pergi ke lapangan. Mendudukkan diri sampai bel masuk berbunyi.
Bryna bersimpu dengan tangan menahan dagu. Matanya berkedip-kedip dengan lolosan napas yang berat dan cepat. Seandainya, seandainya saja saat masih dalam kandungan ia dapat berbicara dan mampu membaca pikiran manusia lain, maka Bryna akan dengan mudah memberitahu semesta jika keluarganya tidak pantas untuk dijadikan berantakan.
Tapi Bryna kembali ke akal sehat, mana bisa Bryna berbicara dalam kandungan. Jatuhnya tidak hebat, malah menakutkan.
"Calon istri."
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Swan."
"Padahal kamu belum menoleh 'kan. Tahu saja jika ini aku."
Lantas Bryna merotasikan bola matanya. Tentu saja dia hafal jika itu suara Swan. Vocal mengganggu dengan candaan dewasa sebelum waktunya, siapa lagi coba jika bukan dia.
"Kamu boleh memelukku jika sedang sedih, Bryna. Anggap aku Braga, aku tidak bercanda." nada bicara Swan nampak serius dan dalam.
Bryna menoleh ke kanan dan saat itu juga tergambar jelas di bola mata Swan, ada rasa khawatir di dalamnya. "I'm ok," Bryna meyakinkan lirih.
Bahkan suasana berubah drastis saat Swan menyebut nama kakak Bryna. Jika nama itu sudah terlontar, maka tidak ada sedikitpun candaan yang terbawa. Swan mungkin memang tengil, namun jika anak laki-laki itu benar-benar tak berarti untuk Bryna, maka tidak akan mungkin mereka bisa berteman sejauh ini.
Swan yang seperti ini yang terkadang Bryna butuhkan saat waktu mencekam dan seolah mencekik leher sampai-sampai pasokan udara di dunia tidak mampu membuatnya hidup. Bahkan jika Bryna mencoba untuk acuh dan hidup layaknya anak kecil yang harusnya bersenang-senang saja, maka memori ibunya yang menagis sepanjang malam menghantam ingatannya. Bryna merasa patut untuk ikut merasakan beban yang dipikul Roseta sendirian, mungkin itu akan adil menurutnya.
"Aku rindu Braga. Sangat rindu," ucap Bryna sangat lirih.
"Aku juga merindukannya." Sean mengambil setangkai bunga mawar yang ada di kantong samping tas ranselnya. "Ini buat kamu," ucapnya beserta menjulurkan bunga itu dihadapan Bryna.
"Aku mengambilnya setangkai, sisanya ku berikan pada Braga yang kutaruh dirumah."
Bryna menerimanya hingga berkata, "Terimakasih, Swan."
"Jadi. Bisakan nanti kita menikah."
Bryna pasrah sampai tak mau menjawab, tersenyum tipis sebagai respon yang dibuang kesamping dan saat itulah sosok kokoh berjalan menghampiri.
"Dad."
Theo berjongkok saat sudah dihadapan Bryna yang masih terduduk dengan Swan yang ada disamping putrinya.
"Kenapa tadi lari begitu saja?"
"Memberi daddy waktu dengan Rahel. Bryna benar 'kan?"
Theo menggeleng. "Tidak benar. Harusnya tadi Bryna kenalan sebagai anak daddy dong."
"Mana bisa begitu daddy. Rahel bisa nangis."
Bryna paham bagaimana nantinya jika Rahel tahu bahwa Bryna adalah anak dari pria yang selama ini menjadi ayahnya. Jika Rahel sudah paham, tidak mungkin juga saat itu ia masih memanggil Theo dengan sebutan 'Papa'.
Theo meringis dan mendekap Bryna lalu diangkatnya, menciumi pipi yang sedikit gembul itu sambil melontarkan ungkapan sayang berkali-kali. Theo juga tidak mungkin mengatakan hal sebenarnya di depan Rahel. Bahkan pria itu tadi sampai berbohong kepada Rahel bahwa dirinya sibuk dan pergi ke luar negeri, datang kemari sudah rindu dengan Rahel.
Theo tahu dirinya sangat salah. Tapi, perhatian pertama tetap pada Bryna. Thro tidak akan pernah mengabaikan putrinya. Tidak pernah.
"Om. Demi Tuhan, Swan tidak paham dengan pemandangan ini!!" pekik Swan tiba-tiba.
Mendengar teriakan Swan beserta tanda bel masuk kelas tengah berbunyi, Theo berhenti memciumi pipi Bryna dan manaruh gadis itu untuk berdiri lagi disamping Swan.
"Swan, nanti papa mu yang akan menjelaskan. Sekarang masuklah kekelas, bersama Bryna. Sana."