ROSETA

ROSETA
Mimpi



Normalnya, jika dihadapkan Roseta yang begitu agresif, Theo harusnya senang-senang saja. Apalagi dalam keadaan masih cinta, sudah sewajarnya jika keduanya melakukan hal yang iya-iya. Mungkin, itu memang keinginan Roseta, tapi tidak untuk Theo.


Kendati hal semacam itu sangat diminati, dan hasrat tak bisa berbohong berada diujung tertinggi, kendala terjadi saat Theo masih harus mengurusi urusan yang harus dirahasiakan untuk dirinya sendiri.


Dan sialnya.


Theo tidak bisa terus menahan lagi jika Roseta terus memandanginya dengan wajah memelas, persis seperti kucing manja minta dinina bobokkan.


"Perasaan sebelum-sebelumnya kamu nolak, sekarang malah minta?" Theo bertanya begitu.


Keduanya di atas ranjang, di salah satu kamar Resort Diamond kepemilikan keluarga Padega. Bahkan, tepat di lantai atasnya, ada Bryna dan Braga yang mungkin saja sudah terlelap dan berkelana di dalam mimpi.


Theo menepati janji, tidur dengan Roseta. Ingat, tidur, tidak ada adegan plus plus.


"Jangan bandingin aku dengan yang kemaren-kemaren. Aku sekarang beda, kamu milikku, seperti sembilan tahun yang lalu. Ah. Aku jadi ingat, kita menghasilkan Bryna dan Braga karena paksaanku yang terakhir kalinya 'kan."


Padahal Theo sudah susah payah memberi sugesti kepada otak jika kesalahan itu berasal dari dirinya sendiri, bukan karena wanita di depannya ini.


Meskipun Theo juga menikmatinya, tapi, saat itu Theo terlalu ceroboh tidak memakai pengaman, jangan lupakan juga jika Roseta malah bersuka rela, katanya tidak apa-apa.


Nona Marveen memang berbeda.


Jika menikah. Malam pertama rasanya tidak ada dikamus keduanya. Bahkan malam menghangatkan itu sudah terjadi sejak lama, Theo yang ingat saja masih berdebar-debar dijantungnya.


Bagaimana Roseta bisa segamblang ini membuat Theo yakin jika wanita itu sudah benar-benar kembali menjadi wanitanya dulu, canggung tidak ada dalam benak.


"Itu salahku."


Roseta menggeleng. "Heeem. Itu adalah anugerah."


Bagaimana bisa Braga dan Bryna disebut sebuah kesalahan. Mereka adalah anugerah paling indah dalam hidup Roseta.


"Anak-anak memang anugerah, kitanya saja yang bejat."


"Mau bejat lagi?" Roseta menyengir, dia menubruk Theo dan bergelayut manja di dadanya, seperti koala.


"Mau buat kembar lagi? Kembar lima aku baru mau."


"Ih!!" Roseta berdecak, jengkel sekali. "Aku serius. Kembar dua lagi nggak apa-apa, asal jangan lima, lubangku nggak begitu besar, takut sakit, lama nggak dipakai."


Astaga. Roseta ini mulutnya kok begini.


"Iya, iya, tapi nanti kalau sudah menikah."


"Hum. Sekarang saja bagaimana?" Roseta mengamati Theo yang terlihat terimintidasi. "Aku berat ya?" tanyanya lagi.


Karena diposisi saat ini, Roseta berada dipangkuan Theo tanpa permisi dengan pria itu yang bersandar pada dashboard ranjang. "Aku emang lagi gendut, kerjaan makan karena nganggur."


"Segendut apapun, aku tetep cinta nona Marveen."


"Idih, gombal, diajak nikah nggak mau kok bilang cinta."


"Kalau nggak cinta nggak mungkin adikku tegang. Turun, ayo tidur."


Roseta menggeleng, "Nggak, aku mau cuddling bentar, kangen." tolaknya dengan tangan yang sudah melingkar di punggung Theo dan kepala bersandar di dada. "I love you daddy."


Theo tak bisa menahan senyum. "Daddy?"


"Iya, daddy-nya anak-anakku, yang sekarang maupun di masa depan."


Theo mencuri ci**an singkat di bibir Roseta hingga keduanya saling tatap. "Jangan suka godain, nanti aku baper, iya kan, kalau anak muda jaman sekarang sukanya bilang baper."


"Aku bisa tanggung jawab kok kalau daddy baper."


Keduanya cekikikan. Giliran Roseta yang mencuri ci**an, inisiatif sekali membuat Theo jadi dag dig dug lagi, bahkan sejak awal tadi, ritme jantung Theo sebenarnya sudah amburadul.


Keduanya bertaut ci**an sedikit lama, dalam, hingga ci**an berakhir dan mengembalikan memori lama, memori saat Theo mengatai Roseta sebagai wanita murahan, ah, dada Theo begitu sakit mengingat itu semua.


"Maaf."


"Untuk apa?" Mata Roseta bahkan berkunang-kunang akibat ci**an sedikit memabukkan tadi.


"Pernah mengataimau wanita murahan."


"Aku sudah lupa."


Roseta tidak mau mengingat hal yang dapat menguras pikiran, 100% membuang-buang tenaga.


"Aku mau punya bayi lagi, dad. Aku mau mengikat kamu biar nggak ninggalin aku." Firasat Roseta, Theo akan meninggallannya meski pria itu sering berkata cinta.


Entah setan dari mana yang membuat Roseta rela dijatuhkan lagi sampai mau menyerahkan diri.


"Caranya harus hamil dulu? Nikah, lalu hamil baru aku setuju. Ya?"


"Makanya ayo menikah. Proposalku belum kamu jawab."


Roseta seperti orang yang putus asa. Jika dilihat, ditatap dari sorot mata lembut itu, Roseta yakin seribu kali lipat jika Theo benar mencintainya, lalu apa yang harus ditunda?


"Maaf sayang, aku janji, secepatnya kita akan menikah, aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu, baru atur rencana, oke."


Roseta mengangguk, meletakkan lagi kepala di dada bidang prianya. Setidaknya, menikah masih menjadi tujuan Theo.


"Theo."


"Hem, mau tidur?"


Roseta mengangguk. Tubuhnya merasakan gerakan lembut, Theo merebahkan diri dengan Roseta tetap berada diposisi yang sama, memeluknya, dari duduk hingga berbaring.


"Kamu kenapa?" Theo tak bisa membiarkan Roseta murung.


Memang beberapa hari ini mood Roseta tidak stabil. Theo sadar, sangat sadar jika itu ditimbulkan karena perkara pernikahan. Theo juga paham asal muasal segala pikiran yang berkecamuk pada wanitanya berasal dari dirinya.


Tapi Theo masih tidak bisa berbuat apa-apa.


Oh, Braga. Masih Braga yang memenuhi pikiran Theo. Tapi bukan berarti Roseta dan Bryna dikesampingkan. Bagi Theo, rasa cinta kepada ketiganya sama rata, sama besar dan tak bisa dibandingkan.


"Aku semalam mimpi."


"Mimpi apa?"


"Kan cuma mimpi." Jemari Theo menenagkan dengan mengelus surai pirang milik Roseta.


"Tapi rasanya kayak nyata. Rasanya aneh dan aku nggak suka. Kamu tahu, aku mimpi pacaran sama Jay, tahu sendiri aku cintanya cuma sama kamu. Apa mungkin karena Video manipulasi itu, sampai sekarang aku masih memikirkannya, aku membayangkan takut sendiri sampai terbawa di mimpi."


"Hah?" Theo mencoba mencerna kalimat panjang dari Roseta.


"Dan kamu tahu, dalam mimpi aku, kamu itu nikah sama orang lain, cantik banget, kalian hidup bahagia, punya anak lucu-lucu, aku nggak suka, Theo. Aku benci." Roseta tiba-tiba berteriak.


Katakan psikologis Roseta terganggu, tapi bukan karena faktor itu saja, rasa terlalu takut kehilangan bisa saja membuat pikiran-pikiran negative datang hingga menghantui melalui mimpi.


"Kamu tahu lagi. Dalam mimpi itu, hidupku sengsara, aku dan Jay tidak hidup bahagia. Jay di dalam mimpi bukan sosok pacar yang baik, kita banyak bertengkar. Tapi entah kenapa aku mau saja sama dia. Kenapaaaa? Aku bingung. Meskipun dalam mimpi, harusnya aku sama kamu. Aku tuh setia, aku maunya cuma sama kamu, Theo. Kamu paham nggak sih?"


Kena amuk lagi. Theo masih mencerna, ini Roseta yang terlalu berlebihan atau Theo yang tidak pengertian? Padahal, pelukan yang diberikan Theo begitu erat, harusnya bisa menyadarkan Roseta jika dirinya ini hanya milik Roseta seorang.


"Itu cuma mimpi sayang. Kamu ini milikku, aku milikmu, selamanya, bahkan kamu setia selama ini."


"Tapi aku kan jadi pacar Jay disana, Theo. Aku nggak setia, aku merasa kotor."


Banyak kemelut di dalam kepala, Theo total bingung harus berkata apa lagi. "Tapi kan aku disana udah nikah, katanya aku bahagia, sebenernya kita sama kan."


"Jadi kamu seneng bisa nikah sama orang lain? Kamu seneng dapet yang lebih cantik dari aku?"


"Heh!" Oh, Tuhan. Salah lagi, apa yang harus dilakukan Theo?


"Bahkan kamu udah punya anak lagi. Enak kan begituan sama orang cantik?"


"Begituan? Aku nggak tahu sayang, yang ngalamin mimpi ini kamu lho, bukan aku."


Roseta memberi jarak, menatap Theo nanar, astaga, wanita itu sampai menangis, kenapa Theo baru sadar. "Dalam mimpi. Aku tuh mau dicium sama Jay. Bajuku dilepas, aku dime**min di sana. Tapi aku terima begitu aja, padahal aslinya aku nggak terima, aduh kepalaku pusing, dalam mimpi, aku begituan sama Jay."


"Apa?" Theo membulatkan mata lebar, "Kurang ajar Jay."


Ponsel diraih dari nakas, Theo segera mencari nomor ponsel Jay dan menelfon pria itu dengan segera.


“Kenapa kau malam-malam telepon?”


"Aku tau kau dulu mencintai Roseta. Tapi jangan kurang ajar mesumin Roseta seenak jidat."


“Maksudmu apa brengsek?”


"Roseta mimpi, kau bertindak mes*m dengannya, Roseta sampai menangis."


“Brengsek. Roseta yang mimpi dan kau marah-marah denganku. Dasar pasangan gila.”


Roseta yang mendengar umpatan Jay merasa tidak terima. "Aku tidak gila. Kamu main *****-***** Jay."


“Itu cuma mimpi Roseta. Astaga, jangan berlebihan, begini saja, sebaiknya kamu periksa ke Dokter jiwa, aku takut ada sesuatu yang tidak beres dengan otakmu.”


"Heh, brengsek. Calon istriku tidak gila. Kau saja yang kurang ajar. Aku saja tidak berani me*um."


Tut.


Jay mematikan telepon dengan sepihak.


Theo dan Roseta diselimuti keheningan, keduanya saling berpandangan. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi. Theo jadi bingung sendiri.


"Udah mendingan? Udah keselnya?"


Roseta menggeleng. "Aku masih nggak nyaman. Rasanya tubuhku tetap kotor."


"Kamu diapain aja sama dia?"


"Tapi janji jangan ikutan kesel ya kalau nanti aku kasih tahu kamu!"


Theo mengangguk. "Janji. Kalau perlu, mau aku hapus jejak-jejaknya?"


Roseta yang semula kesal mendadak senang tiada tara. Seperti mendapatkan tumpukan harta karun yang terpenjara di tempat paling rahasia di dunia.


Yang ditunggu akhirnya datang.


"Disini, Jay ci**in aku, sampai bengkak." Roseta menunjuk pada bibirnya sendiri.


Tidak mau menelantarkan waktu, Roseta segera menyambut momen Theo yang akan menempelkan ranum hingga diterima dengan lembut, partikel basah itu mengulum dengan decapan lembut.


"Jangan sampai bengkak, nanti sakit." Theo menyudahi dan mengatakan itu, sampai detik ini, yakinlah, hasrat Theo hampir merampas kewarasan. "Mana lagi?" tanyanya.


"Ini, semuanya, semuanya dari tubuhku dia pegang, dimainkan, seperti kita dulu, sembilan tahun yang lalu."


"Buka." Perintah Theo, suaranya dalamnya begitu berat, hawa na*su tak bisa ditahan lagi, terlebih membayangkan Roseta dan Jay, meski dalam mimpi, Theo jadi dongkol sendiri.


Sedangkan Roseta paham, piyama bagian atas ia lepas, total hanya menyisakan dalaman saja. Keadaan berubah tital kala kewarasan direnggut paksa, keduanya hanyut dalam apa yang membuat mala petakan sembilan tahun silam. Tapi toh semua sudah berlalu, kesalahpahaman sudah tuntas terselesaikan.


Namun, akibat dari keduanya yang tak pernah berhubungan badan. Sial seribu sial, Roseta kesakitan dan berakhir wanita itu merengek untuk menyudahi acara malam panjang.


"Sakit Theo, udah ya, jangan. Udahan ya."


"Hah?"


Wajar Theo membolakan mata. Yang memancing duluan Roseta. Tapi akhirnya wanita itu menyerah bahkan saat Theo baru saja akan memulai. Tidak adil.


"Maaf." Roseta mengatakan itu, sedangkan Theo terdiam kaku, miliknya juga diam tak bergerak seperti tadi, dan Theo masih mencerna penolakan lembut itu.


Dengan pelan, Theo mengeluarkan miliknya. Tanpa berkata-kata, Theo menjauh, ingin menuntaskan kepuasan di kamar mandi, ini sangat sakit, tidak bisa mencapai titik puncak itu sangat tidak nyaman, bahkan Theo yakin miliknya menolak untuk melemas untuk beberapa jam kedepan.


Theo tidak kecewa, pun tidak mau memaksa, apaun, yang diinginkan Roseta, ia akan terima.


"Daddy, sayang." Roseta memanggil Theo pelan.


Belum sampai pintu kamar mandi, Theo berhenti, menoleh ke arah belakang. "I-iya." jawabnya gugup.


Sumpah demi Tuhan. Wujud Roseta tak berbusana duduk di atas ranjang, rambut berantakan dan muka merah merona membuat Theo hampir sakit jiwa karena wanita itu begitu menggoda, miliknya menjadi lebih tegang dan keras, sampai pegal rasanya.


"Itu, mau aku bantu, aku makan misal." tunjuk Roseta kepada Adik Theo yang begitu mengenaskan.


Maka, tak mau membuang waktu dan kesempatan, keduanya menuntaskan rasa yang tersisa dengan cara yang berbeda.