ROSETA

ROSETA
Bryna Bingung



Bola mata bulat dengan iris coklat itu mengedip lucu, kepalanya mendongak menoleh ke kiri dan ke kanan. Tubuh yang hanya memiliki tinggi satu meter lebih sedikit itu sedang berdiri diantara dua manusia dewasa yang diketahuinya adalah Mommy dan Daddy miliknya


"Bryna bingung nih, mau tanya apa ya?" ucapnya dengan jari meremat boneka Tata yang ada didekapnya; pemberian Jack Uncle tempo hari saat ulang tahunnya.


Roseta pun Theo tak kalah bingung dong, justru mereka yang sedang kalang kabut memutar otak mencari alasan. Ya salah sendiri, pagi-pagi sudah ribut saja, tidak sadarkah masih ada Bryna dirumah? Mungkin saja gadis itu terbangun dari tidurnya karena ulah mereka.


Bryna tak mendapatkan jawaban. "Emh. Uncle, selamat pagi, awal yang bagaimana ya, sedikit mengejutkan. Tapi, Bryna tidak penasaran," ungkap gadis itu dengan cengirannya.


Sedangkan Theo yang disapa meringis seraya mengusap tengkuknya, kecanggungan luar biasa sedang menguasai dirinya, penuh dan total.


Lalu bagaimana dengan Roseta ibunya?


Tentu saja wanita itu tak kalah dirundung rasa gelisah pun bersalah juga. Harusnya setiap hari bahkan sedari dulu sekali, Bryna dapat melihat ayahnya seperti ini setiap pagi.


Pemandangan Bryna bahagia bersama ayahnya sangat sering Roseta impi. Mau bagaimana pun juga, semua yang nyata itu lebih indah, daripada yang semu meskipun berlimpah, Jay contohnya; hasil kebohongan namun membawa kebahagiaan yang menumpah ruah yang akan hilang kapan saja. Nyatanya, pria berlesung pipit dan berkulit bening sebagai sahabatnya itu harus lah bahagia dengan kehidupannya, bahkan seharusnya sudah dari dulu sekali.


Mulai hari ini Roseta berhenti dan sudah tidak ingin mengusiknya lagi.


"Adek, cepat mandi sana," perintah Roseta. Sekenanya saja, ya untungnya Bryna tidak bertanya aneh-aneh.


Tumben?


Pikir Roseta begitu. Setahunya, Bryna itu orang paling kepo sedunia melebihi si Dora. Apapun ditanyakan, dari hal sepele sampai yang mengatur urusan Dunia.


Nah ini?


Theo dirumahnya lho, gadis itu malah meyapa, menurut Roseta langka. "Sebentar, Mom," tolak Bryna dengan tangan kanan mengangkat ke udara. Perasaan Roseta mulai tidak enak sekali. "Mommy habis nangis ya?" lanjutnya dengan bertanya.


Roseta total bungkam. Mau dijawab apa wanita itu tidak tahu. Kelilipan gitu? Please ya, klise banget kalau pakai alasan itu.


"Uncle matanya juga merah. Habis nangis bareng Mommy begitu?"


Astaga, tidak disaring dulu pertanyaanya. Mungkin jika itu untuk sepasang anak kecil yang baru saja selesai bertengkar dengan meraung barengan, pertanyaan itu pantas untuk diungkapkan.


Nah ini? Mau dijawab bagaimana? "Iya, nangis bareng," Begitukah? Bryna ada-ada saja, pura-pura tidak tahu bisa kan, seperti biasanya lah; seperti usahanya menyembunyikan diri dari semua kebenaran yang ia pendam sendirian.


"Ya sudah, Bryna mandi saja. Jangan nangis, nanti Kak Braga lihat bisa sedih."


Tak lama menutup mulutnya, tubuh mungil itu berbalik untuk mengayunkan langkah. Punggungnya tenggelam di balik pintu kayu lantai satu, kamar mandi dekat dapur.


Suara gemericik dari arah dalam bilik mandi itu terdengar, masih dengan Roseta dan Theo yang termanung dalam tenang. Sangat tenang sampai-sampai tidak sadar jika keduanya sudah membasahi pipi masing-masing dengan air mata.


Ucapan Bryna sungguh menggorok sampai tembus tulang belakang. Memaksakan hati untuk hancur berkali-kali. Sekali lagi, bagaimana bisa bocah sepiyik itu mengatakan hal yang menyakitkan dalam keadaan tenang. Roseta pun Theo sebenarnya tahu jika yang di rasakan Bryna itu lebih dari menyakitkan.


Bryna berlagak dewasa di depan orang tuanya, tapi pada kenyatanyanya; tubuh telanjang itu sedang terguyur air yang mengalir dari shower hingga meluruhkan cairan bening yang meluncur dari pelupuk mata untuk ikut terbuang lewat avur lantai.


"Bisakah aku membahagiakan dia? Beri aku kesempatan, sekali saja?" pinta Theo dengan lirih. Arah kepala pun matanya membidik pintu dimana putrinya ada di dalam sana.


Roseta mengerjab mendengar Theo meminta. "Apa kau pikir Bryna bisa terima ayahnya membagi cinta!" ujarnya.


Theo menoleh ke arah Roseta. Matanya memincing memandang wanita itu. "Kalaupun ku bagi, itu hanya denganmu. Bagaimana bisa Bryna tidak terima!" balasnya.


Pikir Roseta, Theo tidak paham apa bagaimana. Wanita itu mulai jengah, perbincangan dengan Theo membuang waktu, harusnya saat ini ia sudah berperang dengan alat-alat dapurnya untuk menyiapkan sarapan bukan untuk perdebatan.


Sembari membalik badan, wanita itu menyeletuk, "Bukan Bryna saja yang menjadi putrimu."


Bersamaan itu Roseta melangkah ke arah dapur meninggalkan Theo yang menepuk jidatnya karena kelupaan sesuatu.


"Maksudmu Rahel 'kan? Tes DNA. Kamu tahu sendiri dia bukan anakku," jelas Vee.


Roseta membalik badan saat tangannya akan meraih pintu lemari es. Mengangkat satu alisnya seraya berkata, "Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan!"


"Aku tidak berbohong. Dia bukan putriku."



"Bagaiamana bisa?"



"Aku dijebak oleh Yura?"



"Kau tidak sedang bercanda 'kan?"



"Kau boleh memotong kemaluanku jika aku berbohong."



Sontak Roseta tanpa sadar melihat ke arah bawah perut Theo, apa lagi, yang dibicarakn memang area itu kan!



"Yakin?"



Oke. Roseta mulai sedikit santai pun dapat menerima hari paginya dengan Theo yang berada satu atap bersamamya. Pikirnya memang pria keras kepala itu melebihi dirinya, jadi percuma saja mengusir Theo si pemaksa yang nyatanya cinta pertamanya.



Theo bergidik sembari menyilangkan kedua tangannya di bawah, menggeleng kuat tanda menolak.



"Jangan, kasihan kamu jika ini hilang."



Theo mulai ngawur lagi kan, Roseta memutar bola matanya. Lebih baik mengabaikan tanpa memberi jawaban. Jawaban atas segala ajakan ataupun racauan Theo sedari datang sampai sekarang.



Roseta mengobrak\-abrik isi lemari pendingin miliknya. Bryna sangat suka dengan sarapan pagi dengan roti isi telur mata sapi; perpaduan yang sangat sederhana nyatanya cukup mudah bagi Roseta untuk membuatnya.



Theo itu ceritanya diabaikan, pria itu memilih untuk duduk di meja makan memandang punggung Roseta yang sibuk mengikuti kaki ke kanan dan ke kiri. Seingat Theo, tubuh Roseta dulu sangat kurus, tapi sekarang terlihat begitu sexy, jujur Theo ingin mencicipi.



Otak Theo memang tidak pernah berjauhan dengan urusan ranjang jika Roseta ada di depan pandangan. Dasar pria kurang belaian.



"Bagaimana kabar, Mama Dera?"



Pertanyaan itu muncul dari balik bibir Roseta. Wanita itu tahu kok Theo sedang duduk manis di belakangya. Mata milik Theo tak terarah memandang kemana, mau bagaimana lagi jika pertanyaannya tentang orang yang sudah pergi; meninggalkan Theo tanpa alasan yang tidak dapat dimengerti.



"Mama meninggalkanku sesaat setelah aku menikah dengan Yura. Ya, hari itu Mama menghilang dan tidak mau menemuiku sampai sekarang."




Masih memunggungi Theo dengan tangan yang sibuk menyiapkan Roti. Wanita itu menghela napas berat, "Apa kau sudah menyayangi Bryna?"



"Lebih dari apapun."



Lengkungan bibir Roseta sedikit terangkat, masih sangat samar. Lega, sangat lega yang dirasakannya. Setidaknya pria itu mengakui pun menyayangi. Lalu apa lagi, tidak apa\-apa kan memberi kesempatan untuk Theo bersama Bryna, bukan dengan dirinya juga kok, hati Roseta tidak bisa dimasukki lagi.



Atau, belum?



Suara derit pintu terbuka terdengar sangat jelas, di samping kanan munculah Bryna dengan jubah mandinya, bentuk kelinci yang imut sekali. Roseta dan Theo mengalihkan pandangan ke arah putrinya. Bryna yang merasa diperhatikan cuek\-cuek saja.


Gadis itu sungguh tidak penasaran apa bagaimana sih? Pikir Roseta masih begitu heran.


"Adek hari ini tidak usah sekolah, kita pindah Rumah." ucap Roseta.



Theo?



Nyawanya melayang ke udara sambil tertawa pula. Ya iya lah, usahanya kan tidak sia\-sia.


...\~\~\~...


Bryna sudah berada di kursi belakang mobil dengan Roseta dan Theo yang duduk manis di depan. Gadis itu setuju untuk ikut pindah rumah tanpa banyak buka suara. Bukan karena tidak penasaran, hanya bingung saja mau bertanya apa.


Bryna cukup tahu dengan keadaan canggung orang tuanya, pun juga dirinya yang sedang berpura-pura tidak tahu apa-apa dihadapan ibunya membuat mulutnya membungkam tidak mau bicara. Gadis itu hanya mengangguk saat Roseta mengatakan, "Theo Uncle ini teman Mommy, Dek." yang pada kenyataannya adalah kebohongan, Bryna tahu kok Theo adalah ayahnya.


Untuk alasan kenapa harus di rumah Theo pun Roseta tidak perlu menjelaskan, namun logikanya tak berhenti berjalan untuk penasaran, perkara Bryna yang diam sedari tadi. Mobil mewah Theo berhenti di perkarangan rumah setelah gerbang menjulang tinggi terbuka dengan otomatis saat pria itu bergumam—**Vante**—pada alat mini yang melingkar di pergelangan tangannya.



"*Mom*," panggil Bryna tiba\-tiba.



Roseta pun Theo menoleh kebelakang dengan kompak, keduanya juga sama\-sama mengangkat alis seakan bertanya, "Ada apa?"



Bryna menggigit bibir bawahnya, telapak tangannya berkeringat ditengah dinginnya mobil akibat AC yang menyala. "Apa *Daddy* tau kita pindah kesini?" tanyanya dengan kepala menunduk kebawah.



Ya jujur saja, pertanyaan itu lah satu\-satunya yang ada di kepala Bryna sejak tadi. Mau bertanya sangat takut karena ada Theo; bukan takut di amuk ataupun segala emosi mengerikan yang seperti itu. Lebih ke perasaan tidak enak karena menyinggung Theo sebagai *Daddy* sebenarnya.



Sedangkan Roseta mewajarkan pertanyaan Bryna. Gadis itu sangat teramat sayang dengan Jay, mau bagaimanapun sejak lahir, sahabat prianya itulah yang telah merawatnya.



"Sudah sayang. Tadi *Mommy* mengirim pesan saat diperjalanan," jawab Roseta.



Roseta tidak bohong. Sedari tadi wanita itu memang sibuk dengan ponselnya. Jay yang sedang berada di Negara berbeda itu mencak\-mencak tidak terima dengan keputusan yang dibuat Roseta. Tapi, Roseta meyakinkan semua akan baik\-baik saja, dan akhirnya Jay tetap tidak terima.



Iya, Jay tidak terima sampai\-sampai pria itu akan segera terbang ke Negara ini dua hari lagi saat pekerjaannya beres.



Theo yang memperhatikan Roseta dan Bryna pun hanya bisa diam. Untuk menjelaskan situasi hatinya saja pria itu tidak bisa. Ada semacam perasaan iri, iri pada Jay.



"Jadi, kita bisa turun sekarang?" tanya Theo akhirnya.


"Tunggu," pinta Bryna. "Apa Rahel ada di dalam sana?" tanyanya menunjuk arah rumah.


Fokus Roseta kembali kepada Theo yang berada disampingnya, wanita itu tahu kok apa yang dirasakan Theo. Melihat raut mukanya saja sangat mudah ditebak, perlu diingat, jika Roseta memang banyak mengenal Theo, dulu sekali, tapi sedikit untuk sekarang.


"Tidak, kita hanya akan tinggal bertiga," jawab Theo.


"Bagaimana bisa?" tanya Bryna lagi dengan polosnya.


"Nanti Dad," Theo menjeda, lupa saja jika ada Roseta di sampingnya. "Nanti Uncle jelaskan, ya!"


Bryna mengangguk mengerti lalu ketiganya turun dari mobil. Sambutan didapatkan dari salah satu penjaga rumah untuk mempersilahkan masuk. Theo memang tidak sendirian di rumah ini, selama kurang lebih delapan tahun. Rumah miliknya ada yang menempati untuk sekedar dibersihkan saja. Untuk sekaranglah, pria itu kembalai lagi, dengan membawa pemilik aslinya.


"Rumah ini?" Roseta bertanya dengan tatapan penuh kepada Theo.



Pria itu tersenyum tipis. "Masih ingat? Atau pura\-pura lupa?"



Roseta mengeleng, wanita itu sedari tadi memang tidak memperhatikan jalan hingga tak tahu dibawa ke arah mana. Sekarang, didepan matanya, Roseta melihat rumah yang sangatlah tidak asing dimatanya. Bahkan, saat tanah masih kosong tanpa bangunan, Roseta dan Theo lah yang menentukan pilihan.



Ya, rumah impian yang dibangun Theo untuk Roseta sejak dulu.



"Ayo," ajak Theo.



Roseta berjalan membuntuti Theo, sedangkan Bryna sudah duluan bersama teman barunya; Mbak Asih yang baru saja dia kenal saat pertama kali turun dari mobil. Gadis kecil itu tampak bercanda di depan sana.



Saat pintu utama terbuka, semua tercengang akan pemandangan yang ada di dalamnya. Sosok wanita paruh baya duduk di kursi dengan koran yang berada di tangannya. Mendongak lalu membenarkan kaca mata yang menyampir di ujung hidungnya.



Bryna membolakan matanya, sambil berseru. "Wow, *Grandma*."



Roseta dan Theo saling melempar pandang. Seakan bertanya\-tanya.


"Bagaimana bisa?"