ROSETA

ROSETA
Tidak Bisa Berkata-Kata



Bryna merasa pemandangan di depannya adalah hal yang sangat wajar, namun, dalam konteks tontonan anak-anak, jelas saja gadis itu harus menghindar. Tapi mau bagaimana jika yang beradegan seperti itu adalah orang tuanya sendiri, Bryna tak harus berpaling karena terlalu sering memergoki langsung.


Terlebih.


Saat ini Bryna sangat jelas melihat saat ibunya mendorong ayahnya untuk menjauh dengan spontan.


Kasian sekali Daddy, Bryna membatin.


Lain kali Bryna akan permisi, tidak main nyelonong seperti ini.


"Ups. Sorry. Tapi Bryna tetap akan masuk lho. Nggak apa-apa kan?” ucapnya terlewat santai. "Bryna sudah bilang, makanya cepat menikah, kan enak gitu kalau mau cium-cium.” Gadis itu mengimbuhi.


Anaknya ini memang sudah kebal dengan kelakuan orang tuanya, atau mungkin terlalu terbiasa, atau juga memang itu yang diharapkannya.


Jangan bertanya-tanya karena akan percuma, hanya Bryna seorang diri yang tahu.


"Mom, dad. Adek minta maaf. Untuk hal yang terjadi hari ini. Tapi jangan hukum Bryna ya?" Gadis itu berjalan pelan menuju ranjang, mendekat kepada kedua orang tuanya.


Pintu menyibak lagi sebelum Roseta berhasil menanggapi Bryna. "Braga yang memaksa mom, dad. Maafkan Braga juga."


Senyum Roseta tiba-tiba menghangat, matanya mengamati kedua buah hati yang berjalan mendekat kearahnya. Reflek, Roseta mendekap saat Bryna tiba-tiba meloncat ingin di dekap.


"Semua akan baik-baik saja 'kan, mom?" Bryna terisak disana, di rengkuhan ibunya. Tidak biasanya, apa terlalu berat untuk Bryna.


Roseta mengangguk cepat. Baru kali ini Bryna terlihat ketakutan, terlebih setelah mengatakan hal yang begitu berani di depan media masa. Tidak ada yang tahu betul bagaimana kacau hati Bryna saat gadis itu melakukannya, terlebih saat ia baru saja mengetahui fakta jika ibunya digunjingkan banyak orang.


"Tidak akan aku biarkan lagi siapapun yang berani mengusik mommy. Braga janji."


Jika diibaratkan, Bryna adalah air dan Braga adalah api. Kekuatannya imbang, tapi tidak sama. Braga gegabah tapi tidak pernah salah, itulah fungsinya dia dilahirkan dikeluarga kacau ini, semua sudah ditakdirlan.


"Kak, mommy pengen peluk kakak, sini."


"No, mom. Kakak yang akan peluk mommy, Braga sudah besar."


Astaga, masih saja gengsi yang diutamakan.


Keadaan yang sedang haru membiru secepat itu mencair oleh ucapan sederhana Braga. Bocah itu membuat semua tertawa bahagia, tingkah sok dewasanya membuat Roseta tak menyangka jika itu adalah buah dari beban yang dibawanya dua tahun belakang.


Theo sekali lagi sangat menyesal kenapa tidak sedari dulu tahu tentang semunya.


...****************...


Kebosanan Roseta terobati. Ia berjalan, bergandengan tangan dengan Theo. Di taman bunga mawar, dimana tempat itu adalah saksi dari segalanya. Awal pertemuannya dengan Theo sampai ia berpisah lagi dengan pria itu.


Berpisah.


Sepertinya satu kata itu akan dibuang jauh-jauh oleh Roseta.


Kecuali maut yang melakukannya.


Kesukaan Theo tetap sama. Pria itu kerab sekali memakai hoodie dan celana training, persis seperti anak muda. Roseta menggambarkan Theo adalah ciptaan sempurna, bagaimana pria yang hampir mencapai usia 30-an tapi tidak terasa tua dan tetap tampan, hah, Roseta sepertinya lupa jika pria itu duda, banyak orang bilang, duda lebih menggoda, kenyataan itu benar.


Roseta mengulum senyum dalam seperti gadis remaja yang sedang kasmaran. 


"Berhenti menemui Kristian. Atau sekalian tidak usah pergi ke Samanta Airport." 


"Kok, tiba-tiba?” Praktis Roseta mendongak, mandapati Theo dengan raut suram.


Bayangkan. Roseta sedang menikmati suansana masa remaja dengan kenangan-kenangan indah di masa lalunya. Theo dengan seenak jidat merusak itu semua dengan mengatakan omong kosong.


"Cukup turuti aku. Titik."


Jika dipikir lagi. Theo tetap ditaktor seperti dulu dalam hal cemburu. Roseta mau marah, tapi tidak jadi, Theo lucu sih.


"Iya, iya."


Theo melepas tautan tangannya, menghampiri salah satu bunga mawar di depan sana. Saat punggung itu gagah itu menjauh, Roseta mengambil ponsel yang sudah penuh dengan notifikasi dari ketiga sahabatnya. Meneror  karena Roseta yang tiba-tiba hilang, padahal sudah tahu jika ia bersama Theo. 


Bilang saja kepo. Toh Bryna dan Braga juga bersama mereka. Astaga.


Theo menggeleng. "Ayo." ajaknya.


Pria itu menggandeng lagi tangan Roseta. Mengajaknya untuk berkeliling. "Bunganya hampir layu." jawab si pria.


"Sudah waktunya. Nanti akan tumbuh yang baru, lebih bagus, lebih indah, seperti hubungan kita."


Theo mengulum senyum. Bisa saja wanita ini.


Kali ini Theo dan Roseta tidak lagi menggunakan pakaian ninja. Mereka memutuskan untuk berani tampil terbuka. Taman bunga ini begitu sepi, hanya beberapa pejalan kaki saja yang melintas.


Roseta merasakan udara yang sedikit sejuk merasuk pori-pori kulitnya. Sangat nyaman dan terasa begitu bersih. Tapi lama kelamaan Roseta merasa hawa semakin dingin dan membuatnya semakin menggigil.


"Sudah kubilang, bawa jaket." Theo masih sangat ingat bagaimana ia memeperingati Roseta sebelum berangkat tadi.


Roseta tersenyum jahil. "Mau berguna? Sini peluk aku." tawarnya yang sebenarnya meminta.


Sumpah ya. Theo sangat menggemaskan saat khawatir seperti itu.


Theo lantas tersenyum. Alih-alih menuruti permintaan Roseta, justru pria itu tetap berjalan seperti sebelumnya.


"Theo. Kita ini pacaran 'kan?"


Astaga. Pertanyaan macam apa itu. Theo tidak tahu kenapa Roseta berubah sedrastis ini. Theo bukan tidak suka, tapi ia masih belum terbiasa. Apa memang Roseta yang sedari dulu menahan. 


"Maunya?"


Roseta melengos. "Tidak tahu."


"Sudah beranak dua. Mana pantas berpacaran."


Roseta mendengus. Tapi benar juga. Begini saja sudah cukup. Untuk kedepannya tidak tahu. Tapi. "Tapi kalau mereka tidak mengenal kita, kita masih seperti anak SMA tau."


"Yasudah. Berarti kita pacaran."


"Merayakan hari jadi. Cium aku dong."


Astaga. Benar kan. Roseta berubah.


"Jangan bercanda." Theo menatap Roseta penuh tanya. Ini serius, maksudnya, setelah beberapa kali ciuman mereka lakukan, masih saja mau hal seperti itu sebagai tindakan perayaan. 


"Mana ada aku bercanda. Aku serius Tuan Pandega."


Theo tersenyum renyah. "Jadi, nona Marveen sudah kembali?"


Roseta mengangguk antusias. "Ayo cium aku, atau aku yang menciummu dulu."


"Tutup matamu."


"Haruskah?"


Theo mengangguk. 


Roseta menurut, dengan cepat ia menutup mata. Bibir berwarna merah muda cherry itu tertarik menunjukkan kebahagiaan, Roseta tersenyum lebar. Tak begitu lama, keningnya mendapat sentuhan lembut, pun dingin. Roseta praktis membuka mata.


"Theo, kamu tahu, itu sangat manis. Tapi aku mintanya di bibir."


Theo lantas tertawa. "Jadi ini benar-benar nona Marveen?"


Roseta menggangguk lagi, lebih antusias. "Matheo Ranu Pandega, aku sudah membuat janji, dan harus aku tepati, jadi, maukah kau menikah denganku?"


Janji? Iya, Roseta pernah bersumpah, jika Yura membuat ulah, ia akan benar-benar menikahi Theo.


Sedangkan bagaimana dengan Theo. Demi Tuhan. Theo belum terbiasa dengan Roseta yang terus terang seperti ini.


Tapi lebih daripada itu, yang dikhawatirkan Theo adalah, bisakah ia menikahi Roseta?