
Hari ini sangat terang, Roseta membuka matanya perlahan. Silau dari celah jendela membuat matanya sulit terbuka lebar. Ia tiba-tiba mengingat tentang Theo yang dulu suka bermanja padanya, dulu sekali, Roseta rindu, tapi tidak bisa berbuat banyak.
Tiga hari yang lalu tepatnya. Theo tak mau mengulur waktu setelah sesampainya kembali dari Negara S, malam itu, Theo sepertinya benar-benar kecewa kepada Roseta lantas tak menunggu pagi tiba ia langsung pergi saja tanpa banyak bicara.
Roseta sedikit mendengar percakapan Theo dengan mengatakan perpisahan, ah, bukan, lebih tepatnya menjelaskan kepada Bryna dan Braga jika ia akan hidup terpisah dari mereka karena tidak boleh seorang wanita dan pria dewasa tinggal serumah tanpa ikatan.
Bryna sebenarnya protes dan mengatakan tidak apa-apa, lagipula keduanya tidak tidur bersama. Namun Braga membenarkan perkataan ayahnya jika langkah yang diambil sudahlah sangat tepat. "Dad, secepatnya menikah biar kita bisa hidup tenang dalam satu rumah." Braga mengatakan itu, namun hanya setarik senyum yang dijadikan jawaban oleh Vee.
Roseta dengan jelas melihat saat Theo tidak mengatakan apa-apa. Ada sedikit kecewa menusuk hatinya, namun, bukankah itu adalah keinginan Roseta sendiri. Lalu tak menunggu begitu lama, Theo bergegas meninggalkan rumah mewah ini. Roseta merasa kehilangan.
Tiga hari pula Roseta tak melihat pria itu berada disekitarnya, bahkan saat menjemput Braga untuk daftar sekolah, Theo hanya menunggu di depan gerbang. Sangat keterlaluan menghindari Roseta sampai sebegitunya.
Roseta membuka kotak perhiasan yang didalamnya ada sebuah jam tangan limited edition miliknya dari 9 tahun yang lalu, barang itu couple dengan barang satunya lagi, yang ada di tangan Theo. Entah pria itu masih menyimpan atau sudah membuang jauh, Roseta tidak tahu, pasalnya benda itu adalah pemberian dari Theo.
"Pasti sudah rusak." Roseta bergeming saat melihat sedikit debu menempael pada jam tangan yang ada di genggamannya.
"Roseta apa kamu sudah siap." Seruan itu terdengar dari Jack, bergegas Roseta menutup kotak perhiasan. "Kau sedang apa?" imbuh Jack menanyai.
Roseta menggeleng setelah sesaat melempar benda yang ia sembunyikan di bawah ranjang dengan cepat. "Aku akan siap-siap."
"Aku tunggu, jangan lama-lama, kamu tahu sendiri 'kan Bu Dera akan mengumumkan beberapa hal."
Roseta mengangguk serta mengacungkan jempol tangannya. Setelah Jack keluar, Roseta meloloskan napas lega. Benar, Dera alias nenek dari anak-anaknya sudah siap kembali untuk muncul kepermukaan beserta gencatan kerja yang mendadak menggemparkan beberapa pemegang saham besar yang bekerja sama dengannya. Sangat luar biasa membuat orang terpontang panting tidak karuan.
Apalagi untuk keluarga Marveen, Dera termasuk pemegang saham paling besar untuk rumah sakit terbesar di Negara I. Sepertinya Dera memang sengaja menaruh banyak perhatian untuk bisnis satu itu.
Suasana rumah sakit sudah sangat ramai, banyak mobil terparkir rapi, dilihat dari fisiknya, hal tak biasa dilihat dari sini, Jack pun nampak antusias. "Pemegang saham memang beda kelas, lihat, ruang bawah tanah bagaikan tumpukan berlian."
"Kak, nggak usah norak, kamu juga bisa membeli lebih dari mereka semua."
"Ya, aku sangat bisa."
"Ck." Roseta berdecak. "Jangan mulai deh, sombong. Mau ku bandingkan dengan kepunyaan Bryna."
Jack memutar bola matanya. Adiknya ini memang tidak bisa mengalah. Padahal Jack hanya bercanda. "Aku menyerah. Lagian, anak-anakmu itu banyak sekali daddy-nya, berduit pula, aku iri."
"Kau menghinaku ya kak?" Sonak Roseta memandang sengit sang kakak.
"Dimana letak kalimat menghina dariku? Kenapa kau tempramen sekali sih?" Jack jengkel, pagi-pagi sudah marah-marah.
"Bryna punya daddy banyak? Aku bahkan belum menikah." Salahkan diri sendiri memilih untuk sendiri, mungin isi kepala Roseta seperti itu.
"Kenyataan 'kan? Jay dan Theo memang ayah Bryna." Jack tidak bersalah, kenyataan itu benar, akurat seratus persen, apalagi kedua pria itu sama-sama konglomerat.
Roseta merasa sangat tertekan saat kakaknya menyebut nama Theo meski dalam konteks membahas anak-anaknya, dan Roseta tahu betul niat Jack hanya bercanda. Roseta juga tidak tahu kenapa ia sangat tempramen hari ini. Apalagi saat ini pintu lift sangat lama sekali untuk turun kebawah.
Roseta mengangkat pergelangan tangannya yang dilingkari jam tangan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi, rapat besar akan diadakan jam setengah sembilan, masih ada tiga puluh menit untuk menyiapkan diri. Roseta gugup, setelah tiga hari ia akan melihat wajah Theo lagi.
"Kak." Setelah keheningan yang tak begitu lama, Roseta bersuara.
"Kenapa?"
"Aku memutuskan tidak mau melanjutkan dengan Theo."
Jack yang baru saja menelan kopi dari botol kaleng langsung tersedak. Berlebihan, tapi kabar ini sangat mengejutkan. "Ke-kenapa? Apa karena Yura? Bukankah itu jebakan?"
Karena Jack sudah tahu saat Theo di Negara S, pria itu dijebak oleh Yura, fakta itu juga dibenarkan oleh Roseta sendiri.
Sedangkan Roseta hanya tersenyum alih-alih menjawab. Iya, jebakan yang menjijikkan.
"Apa karena perkataanku waktu itu yang berteriak keras melarang kalian bersama? Oh ayolah, aku hanya bercanda karena emosi saja." Jack tiba-tiba ingat larangannya untuk Roseta agar tidak bersama Theo lagi. Jack sekarang sadar, yang terpenting Roseta bahagia, itu daja.
Roseta menggeleng. "Demi anak-anak, mental mereka, lebih baik aku menghindari dan hidup seperti bisanya."
Jack mengangguk dengan polos. "Pantas saja, bahkan sekarang jika dilihat-lihat, mentalmu yang terganggu."
"Aaakh. Sakit Roseta, kamu ini tega sekali memukulku." Jack hanya menyuarakan fakta karena tingkah Roseta yang sedikit berbeda, banyak melamun seperti orang depresi.
Roseta memang memukul pundak Jack. Cukup keras sampai sang kakak meringis sakit. Ya siapa suruh mengatai mental Roseta terganggu. Meskipun yang dikatakan Jack tidak salah, Roseta memang sedikit murung dan gampang pusing memikirkan Theo.
Disaat Roseta akan membuka mulutnya, pintu lift terbuka. Maka dengan itu Roseta mengurungkan niat dan hanya diam sampai benda itu membawanya ke lantai atas.
Isi rapat tidak semenegangkan seperti yang dibayangkan oleh Roseta. Nyatanya, Dera hanya meminta maaf atas ketidak profesionalan yang ia lakukan selama beberapa tahun ini tanpa mau menjelaskan apa alasannya, namun tentu saja Roseta sangat tahu alasannya, karena bersembunyi bersama Braga anaknya.
Roseta sempat marah kepada Dera sebab menyembunyikan Braga begitu lama. Tapi belum sempat Roseta melayangkan protes, Theo sudah menjelaskan kronologi sebenarnya. Alih-alih marah, Roseta lebih memilih untuk berterimakasih, yang sebesar-besarnya.
Kembali ke rapat hari ini.
Satu hal lagi yang disampaikan Dera adalah mengenahi acara ulang tahun perusahaan Diamond miliknya yang akan diadakan dua hari kedepan. Wanita paruh baya itu mengharapkan kehadiran kolega bisnis sekaligus karena ada beberapa hal yang ingin disampaikan.
Jujur, Roseta sedikit khawatir tentang apa yang akan dikatakan Dera nantinya. Apakah tentang Braga dan Bryna?
Roseta sangat berharap jangan sampai Dera membuat pengumuman.
Roseta sedari tadi juga meremat-remat tangannya di bawah karena melihat sosok angkuh Theo yang sama sekali tidak mau menatap dirinya. Jarak hanya terjeda satu kursi milik Jack, tapi pria itu seakan mengabaikan kehadiran Roseta.
Roseta masihlah manusia, bukan makhluk tak kasat mata.
Kau keterlaluan Theo.
Bukan begini caranya. Maksud Roseta kenapa harus tidak saling bertegur sapa. Mereka memiliki buah hati di antara keduanya, tidak harus menjaga jarak sampai berdiaman juga bukan.
"Theo, aku ingin bicara."
Roseta berbisik saat rapat baru saja selesai. Lantas Theo menoleh karena memang dirinya mendengar meskipun hanya samar.
Theo mengangkat alis. "Sekarang?" tanyanya lembut.
Roseta mengangguk, ada sedikit hangat yang merengkuh dadanya. Nyatanya Theo tidak acuh terhadap dirinya. Ia sedikit lega.
"Di ruanganku."
Keduanya berjalan bersama. Mungkin pemandangan ini tak begitu aneh mengingat keduanya memiliki ikatan kerja sama yang kuat dalam urusan bisnis, maka tidak ada sedikitpun kecurigaan.
"Kenapa kau mendiamiku?"
Satu pertanyaan keluar dari mulut Roseta saat pintu ruang kerjanya baru saja tertutup, bahkan Theo belum sempat mendudukkan bokongnya.
"Lalu aku harus bagimana? Itu keinginanmu, Roseta. Aku hanya melakukan yang terbaik."
"Setidaknya kita punya kepentingan untuk membicarakan anak-anak?"
Theo sedikit mengerutkan keningnya. "Apa ada masalah dengan Bryna dan Braga?"
"Tidak."
"Lalu?"
Roseta diam.
"Aku hanya akan menemuimu jika ada hal penting tentang anak-anak atau urusan perusahaan. Aku rasa itu cukup membantuku, Roseta. Jangan membuatku kesulitan. Dengan begini saja aku tidak rela keluar dari ruangnmu sebelum memelukmu. Apa kau ingin aku seperti itu?"
Roseta menggeleng.
"Makanya. Jangan sampai hal sepeti ini terulang kembali."
"Setidaknya ayo berteman dan saling bertegur sapa."
"Itu terlalu sulit untukku. Aku mencintaimu, tolong pahami itu."
Pria ini terlalu indah untuk dilupakan, namun telalu menyakitkan untuk dimiliki. Roseta tidak bisa memilih diantara keduanya. Mungkin menjadi teman akan jauh lebih baik meskipun ada perasaan berat yang harus ditanggung bersama. Nyatanya bukan hanya Theo saja yang mencintai, Roseta juga merasakan hal yang sama.
"Maka kita biasakan sembari melupakan. Kita tidak bisa terus-terusan berdiam diri sedangkan ada anak-anak diantara kita. Akan kelihatan aneh."
Lantas Theo tidak tahu harus menjawab bagiamana. Kemaren, selama tiga hari Theo tak bisa tidur walau sedikitpun. Ia merasa tubuhnya terlalu lelah dengan banyak sekali pikiran, iya, memikirkan wanita di depannya ini, wanita yang begitu ngotot minta berpisah tapi enggan diabaikan.
"Jangan membuat egoku terusik. Sementara saja. Beri aku waktu. Maaf jika aku egois. Satu bulan, dua bulan. Aku akan mencoba membiasakan diri lagi tanpamu. Tolong bantu aku. Sekali saja. Aku ingin membuang dirimu dulu, dengan sangat terpaksa."
Roseta sangat sakit dalam hatinya. Ada perasaan tidak rela. Namun ini jalan terbaik juga.
Maka setelah itu, Theo benar-benar keluar dari ruangan Roseta tanpa menunggu tanggapan yang akan diberikan oleh wanita itu.