
Games adalah peruntungan sempurna untuk Theo hingga mampu membuat perusahaan raksasa yang ia naungi terlihat sampai manca Negara. Pria itu tidak bisa diremehkan. Jika Jordan dan keluarganya sekalipun sering menghinanya bodoh, tolol atau hal jelek lainnya, Theo hanya akan diam, karena memang benar dengan ranah yang berbeda. Tapi untuk urusan pekerjaan. Mulut orang-orang sudah pasti akan terkunci rapat, yang mereka mampu hanyalah menganga bangga.
Theo pernah mengatakan jika tidak pernah sekalipun bermain kotor. Sekali lagi benar. Tapi saat ini tubuhnya duduk di salah satu kursi judi di Negara S yang lebih tepatnya Marine Bays. Setelah menaruh chip, Theo menunggu roulette untuk berputar. Tapi tenang saja, hasil taruhan akan ia buang ke tempat semestinya. Tidak akan masuk sepeserpun untuk mengenyangkan perutnya.
Beralih dari bandar satu ke bandar lainnya agar tidak begitu terlihat, Theo menang untuk setiap kali putaran membuat lawan menurunkan tangan. Sampai pada akhirnya ia menemukan meja dengan satu orang saja. Theo bergabung. Menaruh chip di kotak bergambar angka. Banyak orang mengelilingi mejanya, menaruh uang untuk peruntungan siapa yang akan menang. Theo dengan lawan yang berhadapan dengannya.
"Senang bertemu denganmu Robert Anderson Foltrees. Kalau tebakanku benar, Bahasa Indonesia mu sangat lancar bukan." Theo memulai percakapan dengan tenang. Penonton riuh karena tidak mengerti apa yang pria itu katakan karena semua orang disekeliling Theo menggunakan bahasa asing.
Sembari menunggu bandar memutar roulette, Robert Anderson tersenyum miring. "Kau sangat berani menemuiku sendirian Tuan Pandega. Ada apa gerangan?”
Theo menautkan alis sebelah ditemani bibir yang sudah membentuk senyuman miring. "Aku bukan pengecut sepertimu Robert.”
Robert tertawa puas, rahang tegas dengan gigi putih bersih itu sampai terlihat, menambah ketampanan pria berjambang kebat itu. "Apa anda bercanda Tuan Pandega? Meninggalkan kekasih yang sedang mengandung, membiarkan kekasih membesarkan anak sendirian, membiarkan wanita itu kehilangan anaknya. Apa itu bukan pengecut namanya? Atau bisa aku mengatakan bentuk dari tidak tanggung jawab? Atau juga anda terlalu bodoh untuk skenario yang dibuat orang lain dalam hidup anda?”
Theo mengeratkan kepalannya, bersamaan itu bandar menyerukan hasil. Theo kalah. Emosi sudah dipucuk kepala. Raungan emosi penonton juga terdengar keras. Banyak petaruh kalah karena menaruh banyak uangnya untuk kemenangan Theo.
Theo tersenyum licik. "Follow me, Robert Michael Bieber. Atau tua bangka Foltrees akan tahu siapa penyusup yang menyamar menjadi cucunya, dan buang saja topeng hiper realistis yang ada di kepalamu, itu sangat konyol dan menjijikkan."
Theo membawa diri tidak dengan tangan kosong. Mengantongi ***** bengek informasi mengenai siapa Robert Anderson sebenarnya. Untung ada Jordan dengan otak pintarnya mulai membuka satu persatu hal yang Theo ragukan, dan mulai benerapa hari yang lalu perlahan mulai terkuak.
Perangai Theo setenang air danau, tapi riak dalam otak. Jangan ada yang berani meremehkan atau akan gigit jari sendirian.
Mendengar perintah congkak Theo membuat Robert menegang. Tanpa ragu ia beranjak mengikuti Theo dari belakang. Namun langkahnya terhenti saat Theo berseru, "Jangan bawa orangmu, aku memperingatkan. Mari bermain dengan bagus, aku terbang jauh dari Negaraku seorang diri, kuharap kau menunjukkan jika kau benar-benar pria."
Dengan begitu, Robert mengangkat satu tangannya, menyerukan perintah untuk para bodyguardnya agar berhenti mengikutinya. Robert sebenarnya tidak gentar. Hanya terkejut saja mengenai Theo dengan informasi rahasia yang selama ini mati-matian ia sembunyikan seorang diri. Pertanyaannya, darimana seorang Matheo Ranu Pandega yang hanya pengusaha jauh dari ***** bengek dengan urusan rahasia seperti ini dapat mengetahui identitasnya?
Sampai pada salah satu ruang klub vvip rahasia di bangunan yang sama. Theo menaruh bokongnya di kursi empuk, kedua tangannya dimasukkan celana, sangat congkak dengan tatapan mengintimidasi. Kepalanya mengisyaratkan untuk Robert duduk di depannya.
Theo mengubah posisi, menyatukan kedua telapak tangannya dengan siku menyangga pada lutut. "Apa yang sebenarnya kau inginkan Robert?" tanyanya kemudian.
Robert mencoba untuk rileks. Tampilan pria itu sangat mempesona setelah topeng penyamar dilepaskan. Kancing kemejanya tidak ditautkan dengan lengkap hingga menunjukkan bulu halus di dadanya, so manly. Tapi sayang, Theo adalah pria, tidak akan tergoda.
Perangai Robert lebih dewasa ketimbang wajah palsu yang biasa pria itu digunakan. Sorotan mata Robert juga menunjukkan keteduhan berbeda dengan yang biasanya pria itu congkakkan.
"Aku tidak suka basa basi jika kau perlu tahu Robert." Theo memberitahu dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Aku mem-"
Ucapan Robert terjeda karena ada seorang pria berseragam hitam membawa nampan yang akan memberikan pelayanan hingga Theo mengangkat tangan mengisyaratkan untuk Robert agar diam. Setelah minuman tertata di depan mereka. Theo meneguk satu gelas penuh jus jeruk sampai tandas. Entahlah, Theo hanya kehausan.
Robert tertawa ringan. "Sialan. Jus."
"Kita tidak berteman, tidak ada pembicaraan mengenai urusan minuman." Theo memperingati jika hal seperti selera minuman bukanlah sesuatu yang bisa ditertawakan.
Theo punya alasan. Ia akan segera pulang ke Negara I setelah ini, setelah apa yang ia inginkan berada ditangannya dan dibawa pulang ke rumah sebagai kejutan.
"It's okay. Calm down."
Kenapa justru Theo merasakan jika Robert begitu meremehkannya. "Aku bisa menghubungi Foltrees saat ini juga jika kau mengulur waktuku Robert. Jelaskan padaku dan kau harus mengembalikkan apa yang menjadi milikku.”
"Sebelum saya mengatakannya atau menuruti permintaan anda. Bagaimana jika anda memberi jaminan untuk rahasia yang saya simpan."
Theo mengangkat alis. Si Robert ini kenapa sopan sekali. Tadi meremehkan. "Deal." namun pernyataan setuju layang Theo ucapkan tanpa ragu.
Sial. Robert merogoh saku celanyanya. Tapi ponselnya tidak ada. Mungkin tertinggal di apartemen. "Baiklah, kita buat mudah saja. Bagaimana kalau yang kau inginkan tidak menginginkanmu? Apa kau akan memaksa? Aku rasa dia cukup sulit! Aku tidak berbohong."
Disaat kalimat Robert berakhir, Theo merasakan tubuhnya memanas. Hasrat ingin berc**ta menjalar melalui aliran darahnya. Ingin mengumpat atau memukul orang di depannya namun tidak bisa. Otaknya sudah memikirkan hal yang senonoh.
"Sialan. Apa yang kau masukkan dalam minumanku? Brengsek!!!"
Theo benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Lantas tak menunggu tanggapan dari Robert yang sedang memandangnya dengan bingung. Theo justru memilih untuk berlari, menuju hotel dimana ia menginap, beruntung tepat disamping gedung kasino ini. Persetan dengan Robert. Theo benar-benar akan membuat pria itu menerima ganjaran yang setimpal.
Sedangkan Robert yang ditinggalkan masih diam dalam kebingungan. Ia memegang gelas bekas minuman Theo yang sudah kosong tandas. "Aku? Aku tidak melakukan apa-apa." gumamnya tetap kebingungan.
"Ah. Sialan. Ada apa ini?" Robert pun berlari menuju tempat yang ia pikirkan setelah tidak lupa memasang topeng hiper realistis miliknya kembali.