
Roseta berdiri di ujung ruangan menyaksikan berbagai pasangan saling mengobrol dan melempar senyuman. Sebenarnya ada Sarah yang berada di sampingnya dengan satu gelas minum ditangnnya. Mengenai Bryna dan Braga, Roseta sudah kehilangan kedua anaknya semenjak pagi tadi Dera membawa mereka, katanya, wanita paruh baya itu akan mengurus cucu-cucunya. Bahkan Roseta berangkat sediri tanpa ada gandengan. Sangat mengenaskan.
Beberapa orang penting juga tak luput dari pandangan Roseta, beberapa sudah saling bertegur sapa dengannya. Bahkan saling mengenalkan pasangan mereka juga. Tak sedikit yang mengajak Roseta untuk berdansa, tapi wanita itu menolak dengan halus.
Di kalangan atas. Memiliki anak tanpa suami memang bukanlah hal yang perlu dipikirkan, juga bukanlah bahasan berat yang dapat menjatuhkan lawan bisnis. Maka Roseta sangat nyaman berada di pesta para konglomerat tanpa takut cibiran meski tak semua orang tahu dengan kondisi Roseta.
"Jadi, kita kemari hanya untuk berdiri saja seperti orang bodoh, Roseta?"
"Lalu maumu apa Sarah?"
"Lama-lama bergaul denganmu aku akan menjadi perawan tua."
Roseta terkikik. "Maka ikutilah jejakku, menginap dengan pria di hotel, dan hasilkan anak kembar, tidak perlu menikah."
"Kau ini sesat." Sarah menonyor kepala Roseta tanpa ragu.
"Aku ini atasanmu, Sarah."
Shane memutar bola matanya. "Tidak untuk malam ini."
Roseta diam. Ujung-ujungnya pikirannya berakhir pada Thro lagi. Roseta sudah mencoba untuk membiasakan diri lagi sesuai dengan permintaan Theo agar keduanya tak saling tegur sapa. Tidak ada jalan kembali.
Tunggu. Tunggu.
Apa Roseta masih mengharapkan Theo disaat yang memutus hubungan adalah dirinya sendiri.
Tidak. Tidak.
Roseta yakin. Theo maupun dirinya bisa untuk saling menghilangkan perasaan. Bahkan selama delapan tahun Roseta bisa kok hidup tanpa Theo. Begini saja tidak sulit.
"Roseta. Roseta. Kau ini, disapa malah diam saja." Sarah berbisik tepat ditelinga Roseta.
"Maafkan saya. Ada sedikit yang menganggu pikiran saya."
"Tidak apa-apa. Anda Nyonya Roseta Marveen. Benar? Perkenalkan nama saya David Pradjaja." Pria dengan umur sekitar tiga puluh tahun itu mengulurkan tangan.
Roseta mengangguk lalu menerima acara perkenalan. "Ah, benar, saya Roseta.”
"Senang bertemu dengan anda Nyonya. Saya salah satu panitia lelang amal di beberapa kesempatan yang dihadiri oleh anda. Saya tidak percaya akan bertemu dengan anda di acara seprti ini."
"Benarkan?" Roseta sedikit terpengarah. Pasalnya memang benar Roseta sering kali mengikuti acara lelang untuk amal. Tidak disangka juga ada salah satu panitia yang masih hapal dengannya.
"Saya sangat kagum dengan anda. Anda sangat dermawan membantu anak-anak yang kurang beruntung untuk sedikit terangkat bebannya. Saya juga mendengar anda membangun rumah sakit gratis di beberap kota terpencil."
"Ah, itu bukan apa-apa Tuan. Hanya membantu sedikit. Jangan berlebihan." Roseta merasa kikuk. Tidak enak juga terlalu dipuji seperti ini.
"Anda persis sekali dengan Matheo Ranu Pandega. Beliau juga sama seperti anda, sering beramal tapi sangat tidak mau diberi pujian, apa anda mengenalnya?"
"Matheo, ten-tentu, saya sedikit mengenalnya, Bukankah pesta ini milik keluarga Pandega?"
David menggaruk kikuk lehernya. "Benar juga. Maaf. Saya sepertinya sangat bodoh."
"Tidak, anda tidak bodoh."
Keduanya canggung. Pembahasan ini tidak penting. Tapi Roseta tidak bisa mengabaikan, nanti dikira sombong.
Roseta mengikuti arah yang ditunjuk oleh David. Disana, Theo sedang berbincang dengan seorang wanita cantik, Theo tertawa sampai terbahak. Begitupun dengan lawan bicara. Valerie Rubby Jane. Roseta mengenal wanita itu, bukan, bukan, Roseta hanya tahu saja karena memang Theo dan Valerie berteman saat kuliah. Tapi. Soal bertunangan. Apakah secepat itu?
"Roseta. You okay?"
"Pulang."
"Ha?"
"Sarah, ayo pulang. Antar aku pulang."
...****************...
Sepanjang perjalanan, Roseta hanya terdiam sampai Sarah berkali-kali menghela napas di samping kanan.
Sahabat Roseta itu sedang beralih profesi sebagai supir pribadi atas niatnya sendiri. Memang benar Roseta secara spontan meminta agar Sarah mengantar pulang tanpa memikirkan bahwasanya sahabatnya itu masih ingin berpesta. Namun, saat sudah berada di luar gedung, Roseta meminta Sarag untuk kembali masuk dengan dirinya yang akan pulang sendirian, tapi sayang seribu sayang, Sarah yang teramat peka dengan kondisi hati Roseta saat ini memilih untuk mengikuti wanita itu.
"Rose...."
"Aku mau pergi ke hotel?"
"Untuk apa?"
"Menginap. Anak-anak malam ini akan bersama neneknya, jadi aku ingin sendirian di hotel. Jangan banyak tanya. Turunkan aku di hotel depan."
Roseta tidak mau memulai pembicaraan mengenai apa yang barusan terjadi, dengan Shane, atau bahkan jika bukan dengan wanita itu tidak juga dengan siapapun, ia hanya ingin sendiri.
Dengan gaun yang masih melekat indah yang sayangnya tidak dipakai penuh di nuansa pesta, Roseta di turunkan oleh Sarah atas permintaannya di salah satu hotel yang, ya, terlihat sangat layak.
"Aku boleh ikut?" Raut Sarah meminta hingga memelas, sangat jelas ingin disetujui.
Roseta tersenyum sembari menggeleng sebelum sepenuhnya menutup pintu mobil dari luar meninggalkan Sarah sendirian, melambaikan tangan sejenak lalu berjalan hingga punggungnya tak terlihat.
Ruangan kamar hotel begitu sunyi sampai-sampai Roseta sangat aman, dan nyaman. Sepenuhnya wanita itu merasa lega karena menghindar dari kenyataan yang….
Roseta bukan wanita yang kuat kuat amat, bukan juga wanita yang terlalu sabar hingga tidak mampu meneteskan air mata. Jika dilihat, dikilas balik, wanita itu selalu merindu, merindu dan merindukan Theo meskipun tahu telah disakiti. Sering menyembunyikan diri dibalik selimut hanya untuk meratapi Theo, menyebut nama si pria hingga isakan bercampur suara rindu terdengar di dalamnya.
Roseta tahu, sangat tahu jika dirinya sebodoh itu untuk mencinta, namun senekat itu untuk meninggalkan dengan konsekuensi menyakitkan.
Hingga dimana Roseta menemukan tempat ternyaman, membaringkan tubuh sampai bisa menumpahkan air mata yang sudah ia tahan semenjak tadi. Sembari meremat dada yang kesusahan bernapas hingga tenggorokan yang ikut meraung kesakitan, Roseta, wanita itu, teramat menyesal.
Ternyata tak seperti yang dibayangkan, Theo melupakannya begitu cepat, kenyataan itu membuat Roseta begitu bingung sekaligus linglung. Bahkan saat pesta, sedikitpun Theo tak memandang kearahnya meski acara inti belum berada di puncak hingga waktu yang tersisa masihlah begitu panjang.
Kata cinta dari Theo nyatanya sudah menguap ke udara digantikan dengan berita Theo yang atau bahkan akan melangsungkan pernikahan untuk kedua kalinya dengan Valerie. Theo begitu mudah menggantikan Roseta yang selama ini menetap dan menduduki singgahsana hatinya.
Jika dipikir lagi, bukanlah ini harapan Roseta sendiri?
Bahwa, Theo akan cepat menemukan kebahagiaan baru setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang semu. Roseta yang memilih meninggalkan, maka ia tak perlu repot untuk mencari kepingan puzzle yang baru saja hilang.
Roseta yakin bisa melakukannya.
Tapi, kenapa sangat sulit dan rasanya ia tersekap dalam kegelapan seorang diri seperti ini?