ROSETA

ROSETA
Mencurigakan



Hari berganti malam, bentangan langit yang semula menguning pun jadi semakin temaram. Cahaya yang selalu dieluhkan dunia menghilang dalam sekejap mata. Seperti hatinya yang saat ini lara karena kebodohannya.


Jika ditanya kenapa penyesalan selalu datang diakhir? Maka, satu suku kata itu tidak akan pernah terlahir. Seperti Theo, bermodal otak dangkal, mengambil keputusan tanpa akal.


Lalu, apa yang dilakukan pria itu?


Apakah usahanya sudah mencapai titik temu?


Jawabannya belum sepenuhnya. Nyatanya pria itu saat ini hanya mengumpat dengan sumpah serapahnya. Keabsahan yang baru saja dilempar tepat di depannya memberikan efek yang membuatnya seakan mati rasa. Perasaan benci yang selama ini ditumbuhkan dengan subur membawa mala petaka yang semakin mempertlihatkan sisi idiotnya.


Tepat di depan matanya, tampilan layar display laptop mempertontonkan video yang didapatkannya delapan tahun yang lalu, dimana rekaman gambar hidup itu lah yang kontan menghancurkan Theo dalam sekali putar.


Bagian pentingnya, setelah sampai di tempat Jeko, pria bernama Jordan itu hampir lupa untuk menunjukkan sesuatu yang tempo hari sudah dipesan oleh sahabatnya.


Dengan kepintaran yang dia miliki, Jordan tengah mampu membongkar ketidak aslian konten yang ada di rekaman Video itu, rekayasa yang sangat mulus yang berhasil membekuk akal sehat seorang Theo Ranu Pandega.


"Brengsek!"


Seakan tidak cukup hanya untuk mengumpat, Theo dengan emosi yang meletup-letup membanting benda elektronik itu tanpa ampun. Mengenaskan hingga hancur lebur.


Jordan yang melihat hanya mampu menghela napas. Pria berbadan lebih mungil dari Theo itu sudah sangat tahu kisah percintaan sahabatnya. Tapi baru tahu bagian kronis itu. Salahkan Theo yang saat dulu enggan berbicara dan memilih untuk membisu tentang permasalahannya, hingga Jordan tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.


Sekarang, biar Theo tahu rasa apa arti dari sengsara.


Tanpa ada yang tahu. Dulu, Saga sebagai sepupu Theo juga menawarkan bantuan mengingat dia satu-satunya orang yang tahu permasalahan. "Bicara sepatah kata. Akan kutembak kepalamu." Bukannya membuka tangan dengan lebar, Theo menyodorkan pistol bentuk penolakan dan ancaman. Hingga akhirnya, Saha hanya diam dan memilih untuk enggan sampai sekarang.


Sedangkan Jeko masih menganggap semua sebagai delusi yang tak mampu untuk ditembusi. Pria Aditama itu sulit untuk menerima situasi yang baru diketahui. Mengingat kembali bagaimana kehidupan seseorang yang sudah dianggap kakaknya sendiri menggugah hatinya untuk ikut merasakan nyeri. Tidak pernah dalam benak pria itu jika Theo mengalami masa sulit yang membelit sampai saat ini.


"Kupastikan siapapun orang itu, tidak akan aku biarkan untuk menghirup udara lagi," Theo berucap dengan netra yang masih mengintimidasi benda berserakan dibawahnya.


"Sebenarnya dari mana kau dapatkan flash disk itu?" Pertanyaan Jordan cukup membuat Theo mengingat kembali bagaimana benda mini itu berada ditangannya.


"Sialan! Aku dijebak, tahu-tahu benda itu ada di dalam ranselku."


"Oke. Tenang Bang. Kita bisa mengurusnya lain kali." Kali ini Jeko mencoba menengahi dengan kesopanan mengingat situasi sedang menegang dan butuh solusi, karena tujuan utama mereka kesini adalah mengenai CCTV yang belum terjamah walau se inci.


"Bagaimana cara mengurusnya? Theo brengsek sudah menghancurkannya?" Jordan jelas gondok sendiri, barang bukti sudah hancur di depan matanya.


Mendadak Theo linglung. "Te-terus bagaimana?"


"Sekali bodoh tetap bodoh. Flashdisk juga sudah hancur. Maumu apa kalau sudah begini?”


Theo bertambah berang, kebodohannya sudah mencapai titik maksimal, dan pria itu hanya ingin melampiaskan lagi untuk menghancurkan barang-barang sekitar.


"Stop. Untuk urusan itu kita cari jalan keluarnya lagi. Yang terpenting CCTV, apa yang kau perluan ditempatku ini?"


Jika saja Jeko tetap diam. Maka meja di depannya itu akan jadi sasaran empuk untuk di remukkan Theo. Lantas mereka bertiga bergegas ke ruang dimana terdapat puluhan layar monitor output untuk CCTV.


Setelah mengusir beberapa petugas untuk keluar karena ini adalah hal yang tidak boleh terbongkar. Jeko menutup kembali pintu utama dengan tidak lupa menguncinya dari dalam.


"Bang, sebenarnya apa yang kau cari?" Dibuat penasaran setengah mati. Akhirnya Jeko bertanya dengan percaya diri. Walau bagaimanapun ini adalah tempatnya. Ia terlibat dan harus tahu dengan pasti.


"Aku mencari, Braga."


"Bra…Braga? Braga siapa, Bang?" Jeko kontan tergagap. Dirinya tahu jika Theo sangatlah penasaran dengan keaslian Bryna sebagai putrinya. Namun, jika itu adalah Braga, maaf, otak Jeko tidak bisa diajak kompromi.


"Aku ingin memastikan bocah cilik yang tidak sengaja bertemu denganku di lapangan baske Ko. Dia mengaku bernama Braga. Sekarang bantu aku memastikan. Kau masih hapal 'kan wajah anak lelaki Roseta?"


Tolong, mesin otak Jeko tiba-tiba ngadat tanpa tahu alasannya.


Apakah Theo sedang berhalusinasi akibat setres yang tidak mampu dihadapi? Begitulah setidaknya gambaran yang mampu di pertanyakan Jeko dalam hati.


Meskipun begitu, Jeko hanya mampu mengiayakan tanpa membantah dengan berbagai kata. Melihat keseriusan Theo dalam berucap membuat pria itu sedikit menaruh simpati jika saja memang itu hanyalah halusinasi.


Layaknya Jordan, Jeko adalah seorang ahli dalam cyberspace. Masih teringat dengan jelas, pria pemilik perut six pack itu pernah berhasil melacak keberadaan Redolent si tangan Tuhan; ya walaupun tidak lebih dari dua detik sialnya. Namun, prestasi itu sangat membanggakan mengingat beribu-ribu Hack diluar sana yang sama sekali tak pernah berhasil melakukannya.


Lebih beruntung lagi, jaringan Jeko tidak hilang atau terblokir oleh Redolent. Saga pernah mengatakan; siapapun yang mencoba melacak lebih dalam tentang keberadaan Redolent, harap hati-hati atau server akan mati, untuk selamanya.


Jeko pengecualian untuk masalah ini, hingga dia mencari tahu apa alasan di balik semuanya. Namun, beberapa kali mencoba, pria itu tidak dapat menemui jawaban sebagai pelega hati. Lupakan soal itu, tangan kekar berbentuk atletis miliknya sekarang sedang mengoperasikan berbagai peranti elektronik di depannya dengan bokong di dudukkan nyaman.


Sedangkan Jordan, pria itu tak kalah genting untuk mencapai titik pertemuan, menemukan sumber permasalahan atau lebih tepatnya bukan seperti itu sebenarnya. Lebih mencari kebenaran yang semoga saja dapat memberikan ketenangan untuk sahabatnya yang sudah terlanjur kehilangan arah.


Jeko menoleh ke arah kanan, tepatnya memandang lekat ke arah Jordan. "Jam empat pagi?" tanyanya mendelik sedikit terkejut. Lalu berganti mendongak ke arah Theo yang berdiri di samping Jordan. "Kau bermain basket sampai sepagi itu, Bang!! Kau yakin anak itu bukan hantu?"


Theo yang mendengar hanya diam dan terus memperhatikan layar monitor mengabaikan Jeko yang sedang mati penasaran. Pikirnya bukan saatnya untuk bercanda dengan menanggapi hal-hal yang tak berguna.


"Apa anak ini yang kau maksud?" Jordan bergeming dengan sorot mata yang semula fokus menjadi memincing hingga kepalanya miring.


Theo dan Jeko segera merapat untuk melihat. Kala jemari Jordan menekan tanda pause dan menggulir scroll untuk memperbesar tangkapan, disaat itu juga Theo mengangguk dengan keyakinan di atas pucuk. Keberuntungan, bocah dalam layar itu tidak memunggungi CCTV.


"Tidak mungkin!!" seru Jeko sedikit menggeleng. Tanpa ada yang tahu, pria itu saat ini tegah tergemap diantara sekumpulan logika yang mengoyak ingatannya.


Terburu, Jeko mengambil alih posisi Jordan guna memfokuskan matanya lebih dekat. Seketika, rautnya menimbulkan spekulasi yang sangat sulit diartikan. "Bang, kenapa aku baru sadar wajah kalian sangat mirip. Aku merasa ini benar-benar Braga anaknya Roseta. Tapi, kenyataannya Braga sudah meninggal. Lalu apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”


Entah apa yang diharapkan Theo. Namun, mendengar hal itu dari Jeko sontak membuat hatinya hancur berantakan. Pria itu terlalu percaya diri menganggap anak wanitanya dulu adalah anaknya juga. Kemungkinan Roseta melakukan dengan orang selain dirinya bisa saja terjadi bukan. Tapi kembali ke awal, nama Braga tidak bisa diabaikan.


"Ko, nama anak itu tidak terdaftar di Negara ini ataupun Negara A asal kau tau, jikapun ada nama Braga, sudah sangat kupastikan berbeda dengan anak itu. Bukankah mencurigakan?" Kali ini Jordan mencoba untuk menerobos dalam pembicaraan. Baginya memang banyak hal yang mengganjal. Wajah anak itu lagi-lagi membuat keyakinannya tercocol lebih kuat.


"Rekayasa kematian. Mungkinkah? Imbuh Jordan disela keheningan karena tidak mendapat jawaban dari Jeko. "Tapi untuk apa?" Lagi, Jordan hanya bergeming sendiri karena tidak ada yg menimpali.


Jeko sedikit tidak yakin, ekspresi wajahnya pucat pasi. "Aku melihat Braga dalam peti mati dua tahun yang lalu, Bang. Kenapa juga ada rekayasa kematian?"


"Aaaarghh." Theo meremat kepalanya terlampau frustasi. Dirinya tetap tidak mengerti kenapa urusan ini sangat membelit.


"Bang, kau tidak meniduri wanita lain lagi 'kan? Siapa tau anak itu dari wanita selain Roseta dan Yura."


Satu pukulan mendarat sangat mulus di kepala Jeko. Bukan Tgeo melainkan Jordan yang melakukannya.


"Masih bisa bercanda. Huh!" Marah Jordan. Jeko terkadang memang sangat menyebalkan untuk kedua orang yang lebih dewasa itu.


Namun, Jeko juga tidak bersalah. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi bukan? Lagipula pertanyaan itu juga sangat mendasar mengingat Theo yang tidak mencintai istrinya. Setidaknya itulah yang menjadi tolak ukur bagi Jeko untuk menanyakan hal itu, ya walaupun mendapat pukulan sebagai balasan.


"Tap-,"


Belum selesai Jeko berbicara, Jordan menyela karena sekelebat mendapat bisikan ide dari otak cemerlangnya. "Kita ikuti saja kemana anak ini pergi. Dengan begitu akan semakin jelas menguak identitas sebenarnya. Siapa tau hanya wajahnya saja yang mirip denganmu, Theo."


Tidak menunggu jawaban dari Theo maupun Jeko, Jordan semakin mempercepat tempo video dalam monitor. Mengamati secara lamat, hingga satu hal mengejutkan bukan main hadir tanpa adanya tanda, sangat lancang. Puluhan layar yang menjadi satu-satunya kunci mati dalam sekejap.


Hasil yang ditunggu lenyap begitu saja.


"Theo cepat ambilkan ipad di ranselku." Panik Jordan sembari berteriak. Theo ikut panik, segeralah matanya mencari dimana barang milik Jordan berada.


Sedang Jeko yang sudah tahu dengan apa yang terjadi mencoba tetap tenang dan membagi tugas. Ada peretas menerobos kegiatan mereka. Otomatis pemilik fasilitas marah, wajah Jeko memerah. Kejadian ini pertama kali baginya, siapa yang berani menerobos wilayahnya harus mendapatkan balasan.


Jordan dan Jeko bekerja keras dengan kode-kode rumit dalam genggaman masing-masing. Seperti mencari jarum dalam jerami, hal ini lebih dari sekedar teori yang tak mudah untuk dihapali.


"Siapa orang ini? Aku total menyerah. Kombinasinya tidak bisa kutembus," gumam Jordan.


Pundak Jordan jatuh tatkala sistemnya terblokir. Sorot matanya menunjukkan rasa bersalah untuk kawan yang berada disampingnya. Jeko juga merasakan hal sama. Baru kali ini sistem miliknya hancur dalam hitungan tidak lebih dari tiga puluh detik.


"Ka-kalian gagal?" Keduanya kompak mengangguk.


"Oh. Sial!!"


Theo total kehilangan kata-kata selain umpatan. Kenapa permasalahan tidak pernah ada ujungnya. Bola matanya bergulir menjamah dua manusia yang duduk depannya. Walaupun gagal, Theo merasa beruntung masih ada mereka berdua. Menghela napas begitu pelan untuk menetralkan gusaran. Kini tubuhnya ikut di dudukkan, merenung bersama dengan posisi melingkar.


"Theo. Tidakkah kau memerlukan Bang Saga?"


Theo menggeleng kuat mendengar nama Saga disebutkan. Saran Jordan ada benarnya. Hanya saja, seorang Theo tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri. Terang-terang waktu dulu dia menolak mentah-mentah penawaran dari kakak sepupunya untuk membantu permasalahannya bersama Roseta. Theo hanya takut ditertawakan walaupun sangat yakin hanya akan ada keterdiaman yang ditunjukkan Saga mengingat pria dingin itu memang sangat sulit sekali menunjukkan lengkungan bibirnya yang sebenarnya sangat manis.


Tidak bertahan lama, Jeko seperti mengingat sesuatu. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan mengingat apa yang dipikirkannya saat ini. Perlahan telapak tangannya menelungsup dalam kantong coat yang dijadialan luaran sebagai fashionnya hari ini.


"Bang, aku punya sesuatu untukmu."


Jeko membaringkan plastik klip transparan diatas telapak tangannya. Beruntung Jeko menyimpan plastik itu dalam mobilnya untuk membungkus sesuatu yang baru didapatkannya.


"Apa ini,?" tanya Theo terheran yang dengan perlahan meraih benda dalam genggaman. Ya jujur saja dalam cahaya yang minim, mata itu tidak dapat melihat isi dalam kantung plastik.


"Rambut Bryna."