ROSETA

ROSETA
Berita Apa?



Theo tidak berbohong kepada ibunya perihal obat aspirin yang selama dua hari ini terus mampir melewati tenggorokannya. Pusing teramat pening merenggut ketenangan kepalanya.


Bukan tanpa alasan, apa lagi sih jika bukan perkara cinta?


Semenjak Roseta memutuskan untuk berpisah, sejak itu pula rumah Dera menjadi penampung tubuh malangnya. Lihat saja, wajah itu pucat, tidak ada napsu hidup sama sekali. Sampai sang mama uring-uringan melihat tingkah pria dewasa yang harusnya tak berlagak seperti remaja baru putus cinta.


"Kamu itu lho, mau sampai kapan terus begini? Dari dulu kok nggak becus ngurus diri. Goblok temen nduwe anak lanang gor siji."


Bla. Bla. Bla.


Kepala Theo seperti dihantam dengungan lonceng paling nyaring di dunia. Nyatanya bersama Dera tak membuat Theo bertambah lega. Setiap hari kerjaan ibunya itu mengomel saja. Selalu menyalahkan dia.


"Ma. Aku nggak paham mama ngomong apa. Pakai bahasa yang bisa aku pahami lah, yang benar, jangan bahasa lokal mama, sumpah aku nggak paham, yang ada kepalaku tambah pusing. Mama dari dulu nggak bantu. Ini kan akibatnya." Biarkan Theo menjadi durhaka untuk kesekian kalinya.


"Mboh lah. Lebih baik mama ngurus Bryna sama Braga saja. Mereka lebih pintar." Jawab Dera ketus.


Wanita tua itu berlalu dari acara mengintip kamar Theo. Dua hari pria itu membolos kerja tapi tak pula meninggalkan laptop yang duduk di meja. Pekerjaan tetap berjalan dengan semestinya meski tubuh enggan memasuki kantor besarnya. Theo juga masih ingin bersama anak-anaknya, jadi membawa pekerjaan dirumah tak apa, kantor juga miliknya, jadi tidak masalah. 


Pria itu beranjalan pelan dari ranjang untuk keluar menemui Bryna dan Braga yang sudah bercengkrama bersama Dera di teras belakang. Sekarang hari sabtu, pukul sepuluh pagi. Pasti anak-anak sudah sarapan. Sayang sekali Theo melewatkan, karena jujur, dia pusing keterlaluan sampai tak merasa kelaparan.


"Kakak senen siap sekolah?"


"Morning daddy." Bryna menyapa dengan senangnya.


"Morning sweetie." Theo berjongkok mencium pipi Bryna. "Morning son." Lanjutnya menyapa Braga yang sama sekali tak menggubris kedatangannya.


Tapi sedetik kemudian Braga menoleh, ingat bukan jika putra Theo itu masih enggan dengan ayahnya, tapi Braga tak lupa dengan adab kesopanan. "Morning dad." Lalu sapanya singkat. "Soal sekolah, kapanpun Braga siap." imbuhnya.


"Bagus."


Theo juga tampak ragu mau bercengkrama seperti apa dengan Braga. Bocah itu seperti sulit untuk disentuh. Rasa benci yang ditumpuk untuk Theo bukan main banyaknya.


"Bunga lili buat kamu."


Bryna tampak tersenyum menerima setangkai bunga dengan kelopak warna putih itu. Terlihat sangat manis saat ayahnya menyodorkan tepat di depan matanya.


"Sangat romantis. Terimakasih dad." ucap Bryna sekenanya. "Coba daddy bermanis gini sama mommy, terus ajak nikah, biar nggak pucet gitu mukanya."


Duh. Anak perempuannya ini mudah sekali dalam hal memprofokasi sakit hati. Tidak tahukah kau nak jika ayahmu ini ditolak mentah-mentah dengan ciuman sebagai hadiah perpisahan? Terlalu manis sampai Theo ingin mencicipinya lagi, tapi sayang, dia sudah pergi.


Theo menggaruk tengkuk tanpa berbicara lagi. Sumpah demi Braga yang masih sibuk terus dengan laptopnya, Theo tidak tahu harus menanggapi Bryna dengan jawaban apa.


Sedangkan Dera hanya diam mengawasi interaksi disekitarnya. Mulutnya sebenarnya sangat gatal ingin mengomel lagi. Meyakinkan Theo jika putranya itu harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan Roseta lagi.


Braga tiba-tiba berdiri, membalik tubuh. "Dad, I need to talk to you. Now."


"Office." jawab singkat Theo.


Dera dan Bryna dilanda penasaran. Tapi keduanya tahu jika suasana tegang seperti ini berarti keadaan sedang tidak baik, atau mungkin ada kepentingan yang harus diselesaikan.


Mulai sekarang, Bryna harus terbiasa dengan kakak sekaligus ayahnya yang mulai bertindak misterius. Gadis itu sebenarnya ingin tahu. Tapi ya sudahlah.


"Apa yang daddy lakukan? Maksudnya kesepakatan apa yang daddy buat dengan Foltrees."


"Son. Darimana kamu tahu?"


"Robert uncle."


Damn. Theo berusaha mati-matian menyembunyikan tapi Robert dengan seenaknya memberitahukan.


Oke. Theo harus tenang. Tarik napas dalam-dalam. "Hanya menawarkan kerja sama. Kebetulan Foltrees pernah memberi penawaran kepada daddy untuk sebuah bisnis ilegal."


"Dad." Braga berteriak. "You gotta be kidding me. It's crazy!!!" Suara Braga meninggi, urat di perpotongan lehernya samapi mencuat.


Theo bersumpah akan mencekik leher Robert. Mau Theo berkata tidak jujur pada Braga ya percuma. Alhasil bukan hanya bodoh saja predikat Theo sebagai seorang ayah, gila pun sudah diselipkan di belakang namanya.


Tapi. Astaga. Theo tidak segila itu dengan tidak memikirkan rencana, banyak pihak yang sudah dikoordinasi untuk siasat jebakan yang sudah tersusun rapi. Theo ingin meringkus Foltrees karena kejahatan pria itu sudah melewati batas, semenjak dulu, bahkan Braga juga tahu itu.


"No son. Daddy bisa mengatasinya."


"Tapi tidak begitu caranya. Daddy sama saja menjebloskan diri dalam lubang buaya. Pria itu berbahaya, astaga daddy."


Braga mengamuk. Jelas saja. Pikir Braga kenapa juga ayahnya ini terlibat hal tidak jelas? Mendekati Foltrees untuk tujuan apa? Kenapa harus daddy-nya? Kenapa bukan aparat keamanan Negara saja?


Theo praktis berjongkok, menyamai tinggai putranya. "Jika saat ini usia daddy masih enam tahun, tidak mungkin daddy bertindak sejauh ini. Daddy tahu apa yang daddy lakukan."


Mendadak Braga merasa dirinya sedang disindir, masih ingat bukan, jika bukan karena tindakan ceriboh yang dilakukan oleh Braga, mungkin saat ini mereka tidak akan pernah terlibat dengan Folltress.


"Cita-citamu meringkus mafia bukan?"


Braga mengangguk.


"Daddy akan wujudkan. Tapi kamu diam, jangan ikut campur. Cukup jadi penonton. Oke."


"Mana bisa." Protes Braga spontan. "Jelaskan, apa yang akan daddy lakukan?"


Braga juga khawatir. Pengalaman adalah guru terbaik. Memang benar. Braga sedikit trauma dengan kematin Alenso dan Paul akibat tindakan bodoh darinya. Jujur Braga takut ayahnya akan nernasib sama. Braga masih sangat ingin menonjok muka Ayahnya saat usia 17 tahun nantinya. Jangan sampai rencana yang Braga susun berantakan.


Suara dering ponsel saling bersautan, milik Braga pun milik sang ayah juga. Disaat Theo akan membuka mulut untuk menjelaskan apa yang di desak semenjak tadi, kedua bola mata itu bertubrukan, bersama milik putra yang berdiri di depannya.


"Mommy-mu di mana?" Si penanya tak sabar hingga sedikit meninggikan suara.


"Negara A." Braga menjawab dengan pelan, masih syok dengan berita yang baru saja ia lihat di ponsel miliknya pun Theo juga sama. "Dad. Gimana rasanya ciuman?"


Oh my goodness. Putranya ini sangat mengesalkan. 


"Jangan coba-coba, masih kecil, saatnya bukan membahas hal ciuman. Kamu urus masalah ini, hubungi om Saga. Daddy yang akan pergi menyusul Mommy. Jangan biarkan Bryna tahu."


Dengan begitu Braga keluar dari ruang kerja ayahnya meski ia sangat penasaran dengan berita yang barusan terekspos jelas di media.


Begitupun Theo yang bergegas mempersiapkan segalanya.