
...Breaking News:...
...OPR.XXX...
...Diduga berita perselingkuhan pengusaha asal Negara I bernama Matheo Ranu Pandega hanyalah omong kosong belaka. ...
...OPR.XXX...
...Matheo Ranu Pandega milyader asal Negara I terlihat bersama mantan istrinya di Negara S memasuki hotel yang sama. Kemungkinan rujuk masih dipertanyakan. ...
...CNU.COX...
...Reporter berhasil menangkap gambar Matheo Ranu Pandega bersama Yura Sefani Barfesta mantan istrinya memasuki hotel mewah di kawasan Marine Bays Negara S. ...
...BIGNEWS.COM...
...Praduga semakin kuat akan rujuknya hubungan suami istri antara Matheo Ranu Pandega bersama Yura Sefani Barfesta dengan bukti kuat Video yang memperlihatkan keduanya berpelukan mesra sebelum memasuki lift khusus tamu VVIP hotel Diamond Sand Negara S. ...
Roseta memejamkan mata, tangannya mengepal kuat saat berita berkumpulan menghampiri telinganya lewat layar ponsel miliknya, belum lagi televisi yang menyala di setiap sudut rumah sakit juga menampilkan hal serupa, tak tanggung-tanggung, banyak pasang mata dan telinga menyaksikan, entah pengunjung maupun pegawai rumah sakit.
Bising lirih terdengar kegembiraan dari beberapa orang mengingat Theo dan Yura dulunya menjadi pasangan idola bagi sebagian masyarakat karena kerap sekali muncul di acara berita sebagai pasangan yang tak pernah menyakitkan mata bila di pandang, apalagi sosok Theo yang kebetulan menjadi idola ibu-ibu juga karena sangat menyayangi putrinya Rahel dan kerab keluar bersama hanya untuk memanjakannya.
Bersama dengan langkah Roseta yang akan menuju ruangannya setelah rapat besar untuk kerja sama pembangunan rumah sakit cabang Marveen, hampir sepuluh menit berlalu, ponsel dalam saku wanita itu tak berhenti bergetar, Roseta mengabaikannya karena ia sangat tahu siapa saja yang akan menghubunginya.
"Kau tidak apa-apa?"
Jack menodong pertanyaan saat Roseta masuk dalam ruangannya. Roseta tidak menyangka sang kakak sudah berada di dalam sana, melipat tangan dibawah dada serta menempatkan bokongnya di pinggiran meja.
"Apa itu pertanyaan?" Pertanyaan itu Roseta layangkan dengan ekspresi datar.
"Aku sudah mengira hal ini akan terjadi."
Jack menatap adiknya tajam, ada semburat ke kawatiran tapi begitu banyak kekecewaan. Tentu saja bukan kecewa oleh tindakan Theo, namun kecewa untuk Roseta yang dengan mudahnya percaya dengan pria yang sudah meninggalkannya delapan tahun yang lalu.
"Tolong jangan membahas hal ini, kak." Roseta mengatakan itu setelah badanya melemas di sofa, kepalanya menengadah dengan mata terpejam, ia ingin istirahat sejenak. "Aku lelah."
Jack akhirnya mengalah. Menghampiri Roseta dan mengelus pucuk kepala adiknya. "Istirahat, Bryna biar aku yang urus, dia bersama Jordan bukan?"
Roseta mengangguk tanpa mau membuka mata, dari yang Jack lihat, air dari sudut mata Roseta sudah menggenang jatuh ke telinga, adiknya menangis dalam diam, Jack ingin menenangkan atau sekedar memeluk, tapi ia tahu gadis kecilnya yang sudah tumbuh dewasa serta sudah punya anak itu sangat tidak suka dikasihani.
Sepeninggal Jack dari ruangannya sejak lima menit yang lalu membuat Roseta tampak lega, ia membuka mata lalu mengusap wajahnya pelan. Satu-satunya hal yang ingin ia pastikan adalah menghubungi Theo, bertanya apakah yang ada di televisi itu adalah sebuah kebenaran.
Roseta merogoh saku celananya, mengambil benda plasma lalu menemukan kontak Theo disana. Ia sekarang bukanlah wanita yang akan diam dan menerima berita yang akan ia telan mentah-mentah, setidaknya Roseta akan memastikan dulu.
Roseta kecewa, panggilan pertama menyambung tapi tidak di terima, setelah melanjutkan untuk panggilan kedua, penolakan lah yang ia dapatkan. Roseta menumpukan kedua sikunya di atas paha, menutup muka dengan telapak tangannya, ia tenggelam dengan segala pemikiran yang ada.
Haruskah ia pergi ke Negara S menyusul Theo?
"Jordan, kau dimana?" ponsel Roseta sudah tersambung untuk menghubungi pria yang memang ditugaskan oleh Theo untuk menjaga putrinya.
“Lapangan basket.”
"Bryna bersamamu 'kan?" Tanya Roseta sembari berjalan keluar ruangan.
“Iya, putrimu masih ingin bermain skateboard.”
"Aku titip dia padamu, Jord. Nanti kak Jack akan ke rumah."
Roseta menutup sepihak ponselnya. Roseta mempercayakan putrinya pada banyak orang, bukan hanya Jordan dan kakaknya saja, bahkan bodyguard yang ditinggalkan Theo tak tanggung-tanggung berhamburan di sekitar putrinya. Artinya Aman.
...\~\~\~...
Theo berlari kencang tanpa menoleh ke kiri atau pun ke kanan, tujuannya cuma satu; hotel dimana ia menginap, Diamond Sand. Pikir pria itu bisa menahan gejolak yang ia rasakan di bagian bawah, nyatanya panas yang menjalar membuatnya berhenti lalu berjongkok hingga memejamkan matanya kelam. Otaknya sudah di dominasi rasa ingin berc**ta. Pandangannya kabur, seolah ia terjerembab pada masa lalu saat ia bergu**ul dengan Roseta.
Salahkan Theo kenapa dengan sangat percaya diri tidak membawa satupun bodyguard untuk menemaninya ke sini. Dan inilah hasilnya. Theo masih tidak sadar, bahwa ia adalah pria incaran dari berbagai pihak.
Kewarasan Theo belum total lumpuh, setelah berusaha sekuat tenaga, pria itu bisa masuk dalam hotel lalu menuju lift khusus untuk tamu VVIP yang merupakan ruang elit yang biasa digunakan Theo di dalam hotel ini sebelum-sebelumnya. Pandangan kian buram namun otak masih bekerja dengan baik, Theo menangkap sosok wanita yang amat ia kenal perangainya.
"Hai, suamiku," Yura Sefani Barfesta menyapa dengan kerlingan nakal teramat menggoda, balutan yang dipakai wanita itu cukup ketat dan terbuka, menunjukkan lekuk tubuhnya yang Theo sendiri tidak bisa berbohong mampu membuat tubuhnya berdesir hebat.
Obat jahanam.
Jangan lupakan, Theo termasuk pria normal pada umumnya. Yang dikatakan Theo sebelumnya tidak salah dan tidak ada dusta jika pria itu memang tidak pernah sedikitpun menyentuh Yura, sama sekali tidak. Lalu bagaimana ia mengatasi libido yang meronta minta dituntaskan? Jawabanya adalah, mengingat memori saat ia berse**buh dengan Roseta, meskipun dulu sedikit jijik karena ia meyakini wanita itu adalah penghianat namun, alam bawah sadar Theo selalu mengingat betapa nikmatnya saat Roseta meracau dibawahnya, bisa dikatakan Theo adalah pria yang cukup munafik.
"Ini ulahmu?" Masih sempat bertanya walaupun Theo merasa itu semua percuma, karena detik ini juga, Yura dengan agresif mulai menyentuh rahang tegas miliknya.
Theo tidak mampu menepis. Sialan, berapa dosis obat dalam minuman itu. Perhatiannya total terambil alih saat belahan d**a Yura menggoda dengan sintalnya. Gundukan itu lumayan membuat keja***nan Theo semakin berkedut ingin disentuh.
"Theo, kau milikku hari ini." Yura mengecup bibir Theo singkat tepat saat bunyi dentingan lift yang terbuka setelah beberapa saat lalu Yura dengan diam-diam menekan tombolnya.
Theo memejam erat, egonya mengatakan jangan tergoda namun, tubuhnya tak bisa menolak untuk meminta lebih dari sekedar ci**an singkat. Yura tersenyum penuh kemenangan saat tangan Theo meraba pinggangnya, menarik tubuhnya hingga total menempel dengan tubuh pria yang teramat dicintainya.
Yura mengangguk saat orang di depannya tak jauh beberapa meter mengarahkan kamera yang akan mengabadikan momen ia berpelukan dengan Theo. Setelahnya, Yura tak ingin membuang waktu untuk membawa pria itu masuk ke dalam lift, menggiring langsung ke kamar yang sudah ia tempati sejak semalam.
Sembari menunggu pintu bermesin yang hanya dihuninya bersama Theo. Yura tak mau mengabaikan kesempatan, beruntung tangan Theo masih erat melingkar di pinggangnya, Yura lantas mendaratkan ci**an lagi pada bilah bibir Theo yang sejak delapan tahun yang lalu tak bisa ia sentuh lagi, beralih untuk membuat bercak merah pada perpotongan leher pria itu, tangannya tak tinggal diam dan sangat lancang meremas bagian tegang milik Theo.
"Theo, aku sangat mencintaimu." Ucapnya di sela ci**an panas lagi.
Theo seakan hilang dari kenormalannya. Pria itu membuka lebar akses Yura untuk menguasai bibirnya, Theo tak tinggal diam juga, membalas setiap apapun yang di berikan oleh Yura serta tangan yang sudah bermain dengan gundukan yang teramat menggoda.
Keduanya tak menyisihkan waktu untuk hanya sekedar diam, penampilan keduanya acak-acakan. Yura dengan kegilaannya dan Theo dengan pengaruh obat sialan.
"Akan aku pastikan menanamkan benihmu di perutku, Theo." Yura semakin dibuat menggebu, tak sabar ingin cepat masuk ke kamar hotel miliknya.