
" kenapa bisa begini pah? ya allah sembuhkan lah papa, aku nggak mau jika harus kehilangan papa " batin roseta dipandangi wajah paruh baya yang ada di depannya rasa takut akan kehilangan terbayang lagi, bagaimana roseta menjalani hari-harinya setelah kehilangan mama
flashback on
roseta berlari ke ruang ICU mencari keberadaan mamanya, di dalam ruangan sudah ada pak wijaya dan nindy yang menangis di pelukan papa, roseta melangkahkan kakinya dengan tangan gemetar menghampiri nindy dan pak wijaya
" pah, bagaimana keadaan mama? " tanya roseta, pak wijaya hanya terdiam tak mampu menjelaskan apapun kepada roseta, yang terlihat hanyalah mata merah menahan tangis
" doain mama ya ros, semoga mama gak kenapa-kenapa " jelas nindy kepada roseta
" dok detak jantung pasien melemah " tutur salah satu perawat menambah kecemasan mereka semua
" silahkan bapak dan keluarga menunggu di luar " pinta dokter
" kenapa dok? ada apa dengan istri saya? " tanya pak wijaya dengan wajah panik
" bapak tenang saja saya akan berusaha maksimal agar menyelamatkan nyawa istri anda, silahkan bapak dan keluarga menunggu diluar " pinta dokter lagi " sus siapkan semua peralatannya " ucap dokter kepada semua suster yang ada di ruangan tersebut
pak wijaya, nindy, dan roseta menunggu di luar ruangan dengan cemas, nindy dan roseta menangis dan berdoa agar mama nya bisa tertolong, tak terkecuali pak wijaya yang tak kalah panik dan cemas akan keadaan istri yang selama ini dia cintai, pak wijaya berdiri dan duduk kembali, beliau berusaha menghilangkan rasa cemas sesekali terlihat beliau menitihkan air matanya, tentunya mereka berharap orang yang dicintai bisa pulih dan kembali bersama mereka
setengah jam pun berlalu akhirnya dokter keluar, pak wijaya segera menghampiri dokter
" bagaimana dok, bagaimana keadaan istri saya, dia gak apa-apa kan dok " jawab pak wijaya dengan air mata yang mengalir seakan tak mampu untuk ditahan
Roseta yang mendengar pun seketika merasa tubuhnya lemas dan terjatuh, sakit teramat dalam seperti panah yang menghujam ke tubuhnya, roseta pun menangis sejadi-jadinya
nindy tau pun segera memapah roseta ke kursi, menenangkan adiknya, nindy sendiri pun menangis tak kuasa menahan air matanya
" nggak mungkin, ini nggak mungkin " jawab pak wijaya menangis memukul tembok rumah sakit, darah segar pun terlihat mengucur di antara jari-jari tangan pak wijaya, sakit dan perih yang dirasakan namun tak seberapa dengan sakit yang pak wijaya rasakan kehilangan istri serta ibu dari anak-anaknya yang telah menemaninya selama ini
" sudah pah sudah! papa seperti ini nggak akan buat mama hidup lagi, ikhlaskan mama pah, biar mama tenang, dengan begini mama gak akan ngerasa sakit lagi " jawab nindy menenangkan pak wijaya " ini memang berat tapi mau gimana lagi? kita nggak bisa apa-apa pah, Allah lebih sayang mama pah " ucap nindy tersendu-sendu, pak wijaya yang mendengarkan anaknya tersadar mungkin ini memang yang terbaik untuk istrinya, pak wijaya pun menghampiri nindy dan roseta memeluk mereka dan saling menguatkan untuk menerima kenyataan pahit ini
flashback off
tanpa sadar roseta menitihkan air matanya dilihatnya jari tangan pak wijaya yang bergerak, matanya pun terbuka sedikit demi sedikit membuat roseta tersenyum lega karena akhirnya papa yang dicintainya sadar
" pah, papa udah sadar? tunggu sebentar ya pah, roseta panggil suster dulu " ucap roseta seraya berdiri dan menekan tombol panggilan untuk suster, pak wijaya yang baru sadar pun hanya melihat roseta, beberapa menit kemudian suster pun masuk ke dalam ruangan
" sus papa saya sudah sadar " jawab roseta tersenyum bahagia
" oh iya mbak nanti saya konsulkan ke dokter, tunggu sebentar ya mbak " jawab suster tersebut berjalan keluar ruangan
roseta pun tersenyum ke arah pak wijaya dia merasa bahagia dengan keadaan papanya kini tak berhenti-hentinya dia mengucap syukur kepada sang illahi