ROSETA

ROSETA
Kacau



Benci?


Tentu saja benci itu ada. Tapi, bukan itu alasan utamanya. Hanya saja, Roseta tetap mempertahankan logikanya untuk digunakan secara baik dan benar.


Roseta tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan Bryna untuk merasakan kasih sayang yang terbagi dari seorang ayah. Itulah mengapa Roseta belum siap untuk membuka lebar kenyataan yang selama ini tertutup rapi bak memori yang terkubur dalam peti mati.


Walaupun begitu sakit, Roseta masih akan tetap menahan semua hujaman penderitaan dari masa lalunya. Roseta harus tetap bertahan demi apa yang diperjuangkan, Bryna putrinya.


Jika ditanya, apakah Roseta masih mencintai Theo?


Of course, yes!.


Bodoh? 


Menurut Roseta, cinta yang ia miliki membuatnya total bodoh. Roseta bukan manusia munafik yang tidak bisa terus terang, hanya saja ia selalu menempatkan prioritas ditumpukan paling atas. Siapa lagi jika bukan Bryna.


Dentuman jantungnya tak berhenti sampai sekarang, masih betah dengan ritme yang amburadul. Kedatangan Theo memang talak membuatnya syok berat. Ditambah sampai sekarang pria itu belum keluar juga dari ruangannya. Ingatkan Roseta untuk menyalahkan Bryna yang memaksa Theo untuk makan bersama dengan duduk di pojok ruangan.


Roseta masih betah dengan sandiwaranya, menyibukkan diri dengan komputer di depannya. Jujur, tidak banyak yang bisa dilakukan saat ini. Ingin rasanya menghubungi Jay. Tapi ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Sangat yakin jika sahabatnya tahu ada Theo ditempat ini, tonjokan beruntun pasti akan dilayangkan oleh Jay pada pria itu.


"Mommy, Uncle bilang akan mengantar Bryna pulang." 


Suara nyaring dari sana terdengar menguar dari mulut kecil Bryna. Roseta merotasikan kepalanya dengan mata yang memincing, memproses sedikit lambat apa saja yang baru dedengarnya.


"No!! Adek nanti pulang bareng Daddy, Right!"


"Why, Mom?"


Bryna banyak maunya, tidak heran juga sih. Roseta sadar, jika sifat anaknya itu turunan dari ayahnya, seratus persen keras kepala dan pemaksa. Sedangkan Theo yang berada di sebelah Bryna hanya diam memperhatikan.


"Jangan merepotkan orang lain, Dek. Mommy tidak pernah mengajari seperti itu. Theo Uncle juga punya putri, bukankah seharusnya menjemput Rahel dibanding mengantar Adek pulang?”


Sampai disini, emosi Roseta mulai memuncak lagi. Entah kenapa sedikit sensitif jika membahas tentang peranakan. Roseta juga sering cemburu jika itu menyangkut Rahel dan Bryna. Roseta juga punya mata dan telinga, sering melihat jika Theo adalah good Daddy untuk Rahel. Roseta tahu dari siaran televisi. Roseta sering terpukul mengingat Bryna harusnya juga berhak mendapatkan apa yang didapatkan oleh Rahel. Tapi, kembali ke awal, semua adalah kesalahan Roseta karena merahasiakan kenyataan ini.


"Tidak apa, biar saya yang mengantar," sanggah Theo mendapati Bryna yang diam dengan mulut yang mengatup tak menimbulkan suara.


Lagi-lagi Roseta merasa muak, kendati mulutnya menolak untuk menjawab. Namun hatinya terus mendorong untuk membuat semua ini menjadi mudah untuk diterima Bryna.


"Adek, lihat Mommy!" pinta Roseta dengan ketegasan yang tidak bisa diabaikan, atau akan ada pertikaian diluar jangkauan.


Lantas Bryna mendongak dengan jemari yang saling meremat khawatir, gadis itu sedikit gugup untuk alasan yang hanya dirasakannya sendiri. 


Roseta berdiri, melangkah untuk mengitari meja dan berdiri di depan Bryna. "Mommy mau tanya, apa pendapat Bryna jika tahu seorang ayah lebih memperdulikan anak orang lain dari pada putrinya sendiri?"


"ROSETA!!" santak Theo tiba-tiba. Adab kehormatan dan berbicara formal hilang sudah.


Mata Roseta memanas dengan sendirinya, bayangan pria yang selama ini hanya melintas bak angin lewat tengah mampu membuat emosinya mencapai titik tertinggi. Roseta tahu dirinya tidak seharusnya melakukan ini, terlebih di depan putrinya sendiri. Tapi, jika tidak begini, bagaimana dengan perasaan Bryna di kemudian hari. Memisahkan dengan cara halus seperti ini mungkin akan memberi efek sakit yang tidak terlalu terasa.


Roseta mengabaikan Bryna yang sudah berdiri bersamaan pekikannya tadi, fokusnya tetap tertuju pada Bryna yang masih mendongak menatapnya sendu. 


"Bryna, jawab Mommy, bagaimana jika kamu berada di posisi putri yang diabaikan? Mommy harap kamu mengerti dan tau posisi."


Roseta berperan penuh bagai sosok antagonis dalam sebuah film, tidak berperasaan dengan menekan mental gadis piyik seperti Bryna.


"Mom," Bryna berbicara parau, gadis itu mendekati Ibunya dengan derai air mata yang tak sanggup lagi untuk ditahan.


Roseta sangat berdosa, dalam sehari saja sudah beberapa kali membuat putrinya menangis. Bryna melingkarkan tangannya untuk memeluk Ibunya, dibenamkannya wajah sembab itu di perut yang dulu mengungkungnya.


"Mom, hiks, maafkan Adek, hiks, Adek janji tidak akan membuat Mommy marah. Adek janji tidak akan melakukan hal yang akan membuat Mommy menangis diam-diam di malam hari. Adek janji, maafkan adek Mom, hiks, hiks, hiks."


Roseta stagnan dengan keterusterangan gadisnya. Jadi, diam-diam Bryna tahu Roseta sering menangis di malam hari? Apakah bocah itu juga tahu apa penyebab dari tangisannya?


Seolah semua sudah tidak penting lagi untuk dipertanyakan. Isakan Bryna saat ini jauh lebih butuh untuk diredamkan.


Roseta sedikit meregangkan pelukan posesif dari Bryna, bersimpuh dengan lutut sebagai penyangga guna mensejajarkan tubuhnya agar sama dengan putrinya.


Roseta meraih pipi Bryna yang sudah sangat basah, mengusapnya pelan dengan kedua ibu jarinya. "Adek cengeng ih, sudah jangan nangis, nanti kakak ikut nangis kalau lihat Adek kayak gini." 


Pernyataan itu sangat berhasil membungkam Bryna, gadis itu langsung menyudahi tangisannya. Dengan tergesa tangan mungilnya mengusap gusar sisa air mata yang ada di pipi.


Sedangkan Theo sedari tadi memang mematung tak bergerak, sangat tahu jika dia tidak berhak ikut campur. Theo merekam segala kejadian tepat di depan matanya, membuat pria itu meringis dalam diamnya. Entah ada dorongan dari mana, hatinya sangat ingin sekali merengkuh dua sosok perempuan di depannya yang sedang sibuk dalam tangisnya. Namun, niat itu tergantikan kala mendengar Bryna dengan cerianya berucap, "Mom, ayo kita menemui kakak!"


Roseta tersenyum senang melihat Bryna semangat dalam berujar bersamaan melebarkan ranum mungilnya sehingga renteran gigi putih itu terlihat sangat manis. 


"Tunggu liburan ya, Liliana Auntie kemaren sudah membantu kita menjenguk kakak kok," jawab Roseta tak kalah antusias.


Kedua bola mata Bryna berbinar saat mendengar itu. "Apa Liliana Auntie sudah kembali dari Negara A?"


Roseta menggeleng bersamaan itu berucap, "Besok Aunty baru kembali."


Oke, Dari sini Theo semakin dibuat penasaran dengan wanita yang berstatus mantan kekasihnya itu. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan di kepalanya.


Theo berdehem sejenak karena merasa kikuk sendirian, alhasil membuat Roseta dan Bryna menoleh. Bryna peka untuk menyaut lebih dulu ketimbang ibunya. 


"Maaf, kami mengabaikan Uncle," sesal Bryna. Kemudian gadis itu beranjak dari hadapan ibunya untuk menyelesaikan masalah yang sedari tadi menjadi pemicu. "Uncle, Bryna nanti pulang dijemput Daddy saja, Uncle harus pergi menjemput Rahel 'kan."


Mungkin jika dilihat dari ekspresi wajahnya, Bryna begitu pasrah dan tenang, setenang air telaga di pagi hari. Namun, jika melihat lagi ke dalam matanya, betapa banyak kerisaunya disana.


Roseta baru tersadar jika mulutnya hari ini benar-benar licin sehingga beberapa hal yang harus tertutup rapat dari pria Pandega itu keluar dengan sendirinya.


Theo tersenyum menanggapi ucapan Bryna yang terlihat polos. Sedikit mencondong untuk menatap mata Bryna yang masih merah akibat tangisannya tadi. Oh, pria itu dibuat sedih berkali-kali lipat. 


"Terserah Bryna saja, kalau begitu Uncle pulang dulu."


Merasa tidak tahan dengan alasan yang sama sekali tidak diketahuinya. Theo ingin sekali segera beranjak dari sini. Dengan kaki yang pincang, pria itu mulai keluar ruangan dengan perasaan yang gusar. 


"Mom, sepertinya Mommy sangat tidak menyukai Theo Uncle."


Roseta mengerjap. "Tidak Dek, sudah jangan pikirkan itu."


"Mom, tapi Bryna sangat menyukai Theo Uncle."


Roseta tidak bisa berkata-kata.