ROSETA

ROSETA
Rahasia



Bryna lapar, oleh sebab itu beberapa saat yang lalu Roseta memanggil perawat Selena untuk membawanya ke restoran dekat rumah sakit. Pekerjaan Roseta masih menumpuk sebukit.


Theo masih disini, dengan luka goresan di siku tangannya, kulit pria itu sedikit mengelupas, tapi tidak parah yang mengharuskan ada proses jahitan. Sebagai seorang Dokter, Roseta bersama nalurinya mengobati luka itu dengan telaten sembari tetap mengontrol degub jantung yang sedari awal sudah menggila.


"Selesai. Jangan lupa setiap hari dibersihkan. Untuk luka jahitan jangan sampai terkena air, seminggu setelah ini anda bisa datang kemari. Kalau anda tidak mau dirawat oleh saya. Anda bisa menghubungi Dokter lain. Terserah anda saja mana baiknya."


Roseta berkata dengan gerakan tangan yang super sibuk membereskan peralatan, juga matanya yang tidak fokus menatap lawan bicara. Jika kasus lain dengan dua lakon yang berbeda, mungkin Roseta sudah melanggar tata krama dalam berbicara. Tapi tidak untuk kedua orang ini, justru tidak ada yang ingin melempar pandang.


"Aku punya Dokter pribadi," jawab Theo ketus.


"Baguslah," saut Roseta mantap.


BRAK!


Dengan lari tergesa, pawakan tinggi dengan dress hitam selutut membalut tubuhnya itu sedang berjalan memburu memasuki ruangan untuk menghampiri Roseta.


Ya Tuhan. Roseta sampai mengelus dada saking terkejutnya. Sudah dua kali, bahkan belum masuk pertengahan hari. Pintunya dibuka tanpa permisi.


BRAK!


Bukan lagi pintu, bukan. Melainkan sebuah ponsel di letakkan keras di meja Roseta. Layar pipih dengan model screen yang begitu besar itu sedang menyala. Menunjukkan sebuah gambar yang mampu membuat Roseta dan Theo yang masih ada disana membulatkan mata lebar, posisi duduk Theo menguntungkan untuk dapat melihat itu semua.


"Jelaskan padaku Roseta." tuntut wanita dengan aura mematikan menunggu jawaban.


"Sarah, nanti kita bicarakan. Ya, please, ini masih ada pasien."


Tidak menutupi rasa gugup, sungguh Roseta dibuat kalang kabut. Tidak bohong jika dirinya kini sedang tersudut, bingung pun akut. Bukan karena apa, hanya saja kedatangan Bryna nanti lah yang membuatnya takut.


Sarah menoleh kepada orang yang dimaksudkan oleh Roseta. "Tidak bisa, kamu harus menjelaskan padaku saat ini juga. Pasienmu hanya Theo. Kita mengenalnya," pintanya terkesan memaksa setelah menatao Roseta lagi.


Roseta hanya menghela napas lelah, bertubi-tubi sudah masalah yang ia dapatkan. Theo juga tidak kalah terkejut, dia tahu, sangat tahu siapa yang ada dalam photo itu. Bahkan dirinya tadi pagi menontonnya secara langsung. Theo tersenyum miring, menurutnya seorang penghianat memang pantas untuk dihianati.


"Kamu dihianati Roseta, suamimu berciu*an dengan wanita lain. Apa kamu gila dan tidak ingin marah?”


Roseta berdiri, tak menanggapi omongan Sarah yang terdengar keras. Sumpah demi Tuhan. Temannya ini memang tempramen jika itu berurusan dengan yang namanya orang ketiga. Tapi, astaga, Roseta tidak bisa diam saja.


Roseta sedikit berlari, menuju pintu keluar dari ruangannya. Tidak, Roseta tidak akan keluar, wanita itu memastikan untuk mengunci pintu dengan benar. Sungguh. Roseta sangat khawatir jika Bryna tiba-tiba masuk ruangannya mengingat sudah semenjak tadi gadis kecil itu meninggalkan tempat dan menurut perkiraan Roseta, sebentar lagi Bryna bakalan kembali.


"Sarah. Sekali saja, nanti ya, aku bakal jelasin. Oke." Roseta tetap meminta satu kesempatan untuk tidak membahas perkara ini disini, terlebih juga ada Theo.


"Hanya begitu?" Sarah membuang tangan keudara. Tidak habis pikir dengan Roseta yang dengan santai sekali menanggapi masalah pangut*n bibir dari suaminya dengan wanita lain. "Begitu responmu melihat suamimu berhianat?"


Oke. Roseta menghela napas berat sebelum akhirnya berbicara, tidak untuk menjawab, Tapi Roseta berbalik bertanya pada sarah, "Siapa suamiku?"


Matanya menyorot lelah, membuat kedua orang lainnya menautkan alis bersamaan. Roseta juga tidak akan menyangka jika kejadian ini sangat kebetulan disaksikan oleh Theo di depannya. Roseta sangat memaksa, mungkin memang karena ketidaktahuan Sarah tentang hubungan Roseta dan Theo yang begitu rumit hingga membuat Sarah tidak mengindahkan Roseta yang meminta untuk berbicara nanti saja.


Sarah juga tak kalah bingung, pertanyaan Roseta menurutnya berbelit. "Tentu saja Jay. Bukankah Bryna memanggilnya Daddy?" jawabnya dengan kepercayaan sangat tinggi.


Roseta menatap Sarah dengan salah satu alisnya yang naik ke atas sedangkan kedua tangannya dilipat dibawah dada serta tubuhnya menyender di pintu. "Apa menurutmu panggilan itu bisa dijadikan syarat untuk Jay menjadi suamiku?"


Sarah mulai kelabakan tidak mengerti. Terlampau sulit kenyataan yang berada didepannya. Roseta dengan respon santainya sontak membuat Sarah jadi kebingungan. Pun juga sama seperi Theo, diam-diam pria itu menyimak dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi di udara.


Semua memang harus diluruskan, Roseta frustasi yang benar-benar menguras hati. Tahu betul semuanya tidak akan berhenti sampai disini. Sarah itu sungguh penggali berita yang bahkan bisa mengalahkan detektif Negara.


"Jay bukan suamiku," jawab Roseta, lalu matanya tak sengaja melirik sebentar ke arah Theo yang saat ini juga memandanginya. "Jika kamu bertanya Bryna anak pria mana. Maaf, aku tidak bisa menjawab. Itu privasiku," lanjutnya menjelaskan saat memutus pandangan dari Theo.


Saat ini juga, kenyataan melebar tak karuan. Sarah dengan keterkejutannya. Sedangkan Theo?


Pria itu tak berkedip sedikitpun, menelusuk jauh ke dalam kelam mata Roseta untuk menemukan sedikit saja kebohongan. Namun, Theo tak sepandai itu untuk menilai seseorang. Memorinya diseret habis-habisan untuk kembali ke masa kelam, masa dimana dirinya menyaksikan video pergulatan ranjang antara Roseta dan Jay. Theo mulai ragu akan kebenaran yang di yakininya selama ini, ia mencoba berpindah haluan, mencari apapun yang tiba-tiba diragukan.


"Tapi, please jangan sampai Bryna tau. Hanya itu permintaanku," pinta Roseta memohon.


Sampai pada akhirnya, semuanya hanya diam. Hawa dingin tiba-tiba mengerubung untuk meredam segala rasa yang masih diambang.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku? Roseta, aku masih jadi sahabatmu 'kan?" Sarah sebagai sahabat tentu saja tidak berguna karena tidak tahu apa-apa. "Atau, mungkin, aku sudah tidak penting lagi untuk kamu ajak bicara," lanjutnya dengan nada miris.


"Sarah," Roseta mendekat. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku mohon, ada waktunya akan aku ceritakan padamu. Ini sangat rumit."


Roseta menghilangkan egonya yang sempat membludak tadi, nada bicara yang ia keluarkan sudah sedikit melunak saat menyadari Sarah yang seakan mempertanyakan pertemanan mereka. Maksud Roseta bukan ingin menyembunyikan dari siapapun, tapi juga terlalu konyol jika diumbar secara terang-terangan.


"Roseta, sudah ku katakan sejak awal. Aku hanya menginginkanmu datang padaku saat kamu sedang berduka saja. Bagian senang, bisa kamu nikmati sendiri. Apa kamu lupa itu semua?"


Kali ini Sarah berbicara dengan susah payah akibat tenggorokannya yang sedikit tercekat menahan tangis yang sangat sulit untuk dikontrol. Sedangkan Roseta terdiam merasa bersalah.


"Selama ini aku diam saat kamu tidak lagi kembali ke sini. Setidaknya aku masih dapat kabar baikmu dari Bang Jack. Tapi, setelah tahu kamu berantakan dan tidak mengatakan apa-apa padaku, jujur aku jadi sahabat yang tidak berguna."


Setelah ungkapan kekecewaan itu terlontar, Sarah segera meninggalkan ruangan Roseta dengan berlari diiringi tangisnya yang sudah pecah semenjak kakinya melewati pintu luar.


Sedangkan Roseta tak berani mengejar untuk meluruskan, wanita itu memilih untuk duduk kembali di kursi dengan menahan napasnya yang terasa berat. Kepala Roseta pening hingga akhirnya ditumpahkan di lipatan tangan yang disandarkan di meja. Roseta menangis dengan menunduk sampai peluhnya jatuh ke lantai.


Theo masih tetap diam tak beranjak dari tempatnya, pria itu sedari tadi mengamati apapun yang sedang terjadi di depannya. Sampai saat ini, saat matanya melihat Roseta yang tengah membilu dengan suara tarikan hidung beberapa kali akibat ingus yang membasahi, Theo menduga Roseta sedang menangis.


"Kau baik-baik saja," Theo memberanikan diri untuk bertanya.


Rasa benci Theo kepada Roseta jelas masih ada karena semua kenyataan masihlah abu-abu. Tapi mau bagaimanapun melihat perdebatan Roseta dengan Sarah sedikit banyak menunjukkan jika yang dialami Roseta begitu berat.


Roseta masih diam tidak menanggapi kekawatiran yang Theo lontarkan. Wanita itu masih sibuk menyelami kesedihannya sendiri hingga waktu berlalu beberapa menit saat Roseta menegakkan tubuhnya lagi untuk duduk dengan rapi.


Theo masih tetap tidak putus pandang saat perlahan Roseta melihatnya dengan tatapan datar. Mata Roseta bengkak dengan pipi yang masih basah bekas air mata yang belum diusap. Hari ini sungguh sial pikir Roseta.


"Theo. Kenapa kau menyebutku murahan?"


BRAK!


"Mommy," teriak Bryna yang baru kembali.