ROSETA

ROSETA
BAB 8



roseta menunggu kedatangan dokter


ceklek (pintu terbuka)


" selamat malam pak wijaya? " sapa dokter tersenyum ke arah pak wijaya " bagaimana pak, apa yang sekarang dirasakan? " tanya dokter


" sudah agak baik dok, tapi masih agak sesak " ujar pak wijaya


" oh, iya pak " jawab dokter " sus, tolong oksigennya ditambah ya " sambung dokter sambil melirik ke arah oksigen


" iya dok " suster pun menambah kadar oksigen " apa sudah cukup pak? " tanya suster kepada pak wijaya


" sudah sus " jawab pak wijaya dengan lirih merasakan kondisinya yang masih lemah


" mbak, anaknya pak wijaya " tanya dokter dijawab anggukan oleh roseta " gini mbak, pak wijaya kondisinya sekarang mulai stabil tapi tidak boleh syok ya, makanannya juga diperhatikan, sampai habis, jangan makan yang dari luar rumah sakit dulu " jelas dokter " kalau begitu saya permisi dulu " ucap dokter


" baik dok terimakasih ya dok " jawab roseta "pah, papa istirahat aja ya " ucap roseta " kalau ada apa-apa panggil ros aja " tambah roseta seraya merapikan selimut


" ros, makasih ya nak, papa salah sama kalian, telah menuruti mia dan membiarkan kalian hidup sendiri, papa menyesal " jawab wijaya sambil menitihkan air mata


" gak apa-apa pah, udah papa gak usah mikir yang macem-macem sekarang papa tidur aja, apa papa mau buah? " jawab roseta dengan wajah tersenyum bahagia karena permintaan maaf pak wijaya


" nggak nak, papa tidur aja, nindy mana nak? " tanya pak wijaya


" kak nindy pulang pah, gantian yang jagain papa, besok kan ros kuliah pah" jawab roseta " sekarang papa tidurlah ros akan jaga papa seperti papa jaga ros dan kak nindy dulu " jawab roseta, pak wijaya pun menatap lekat wajah anaknya perasaan merasa bersalah pun masih menyelimuti dirinya, beliau berusaha untuk memejamkan matanya, dilihatnya roseta yang berjalan ke arah sofa, pak wijaya memiringkan tubuhnya menatap jendela, terlihat luapan kemarahan pada istrinya, istri yang sudah 1 tahun kini dia nikahi


Kurang ajar kamu Rendi dan Mia beraninya kalian bersengkongkol untuk melenyapkan aku dan anak-anakku, akan kubuat kalian membayar ini, apalagi kalian sudah berselingkuh dibelakangku batin pak wijaya sambil mengepal tangan


---Keesokan Harinya---


Alarm dari ponsel membangunkan roseta dari tidurnya, dia melihat ke arah pak wijaya di dapatinya pak wijaya masih tertidur lelap bergegas dia menunaikan shalat untung saja kemanapun roseta pergi selalu menyimpan mukena dan sajadah di dalam tasnya, setelah selesai di ambilnya ponsel yang sedari kemarin tak disentuhnya dilihatnya beberapa miscall dari brian dan pesan dari brian


(" ros gue udah sampe rumah nih ")


(" ros gimana kabar papa loe sekarang ")


(" ros udah makan belum? ")


(" ros besok gue jemput ya ")


(" ros good night, semoga papa loe lekas sembuh, kalau loe gak sibuk kabarin gue ya ") rosetapun tersenyum malu membaca semua pesan dari brian


(" brian makasih ya loe udah nanyain kabar papa gue, alhamdulillah papa gue udah stabil, yaudah ntar loe jemput gue ya di rumah sakit jam 9 ya") SEND klik pesan pun di kirim roseta, rosetapun bergegas untuk mandi setelah itu dia pun duduk di sofa kembali


" ros... " panggil pak wijaya


" iya pah, gimana? papa mau apa biar ros ambilin " jawab roseta


" ini jam berapa ros? " tanya pak wijaya


" ros, papa haus tolong ambilin minum ya " ucap pak wijaya, roseta pun mengambil gelas berisikan air putih


" ini pah airnya " ucap roseta, pak wijaya pun langsung meminum air tersebut " papa istirahat lagi ya, kalau udah pagi nanti aku bangunin " jawab roseta meletakkan gelas, di jawab anggukan oleh pak wijaya


Roseta kembali ke sofa seraya membolak-balikan majalah yang sudah disediakan pihak rumah sakit, tanpa disadari roseta pun tertidur kembali


sinar matahari menyilaukan membuat roseta terbangun di tidur keduanya


" udah bangun dek? " ucap nindy mengejutkan roseta


" Ya Allah kak, ros sampe kaget, kenapa gak bangunin ros? " sambil melihat ke arah jam dinding " Ya Allah udah jam 9 " diraihnya ponsel dan benar saja brian sudah perjalanan menuju rumah sakit


" Habisnya kamu tidurnya kayak gitu, papa juga ngelarang kakak bangunin kamu jadi kakak gak berani deh bangunin kamu! hari ini kuliah kan dek? " tanya nindy sambil mengupaskan buah untuk pak wijaya, ya pak wijaya sudah terbangun sejak tadi namun enggan untuk membangunkan roseta karena di rasa roseta pasti lelah telah menjaganya di rumah sakit


" Iya kak ros kuliah makanya ros kaget udah jam setengah 7... " belum selesai roseta menjawab pertanyaan tersebut terdengar suara ketukan pintu


~tok.. tok


Rosetapun berjalan ke arah pintu dan membukanya, dilihatnya itu brian dan mempersilahkan brian untuk masuk


" Assalamualaikum, pagi om, kak ros " sapa brian


" Eh Walaikumsalam brian, pagi juga brian, mau jemput roseta? tanya nindy dengan maksud menggoda roseta


" I-iya kak, brian mau jemput roseta katanya mau ke kampus bareng " jawab brian dengan malu-malu


" Siapa itu nindy? " tanya pak wijaya " kenapa mau jemput roseta ke kampus? " sambung pak wijaya


" Itu temennya roseta pah, roseta minta tolong buat jemput brian soalnya roseta kan gak bawa motor, motornya ketinggalan di kampus, kemarin roseta juga di antar brian kok " jelas roseta kepada pak wijaya dia berharap papanya tak salah sangka


" Oh gitu, kirain pacar kamu, yasudah kamu hati-hati ya ke kampus " jawab pak wijaya


" Iya pah, roseta pergi dulu ya pah, kak " jawab roseta berpamitan ke pak wijaya dan nindy


" Iya hati-hati gak usah ngebut-ngebut ya brian " jawab pak wijaya


" Mari om, kak " pamit brian pula mereka pun berjalan keluar ruangan


" Brian itu baik ya nin sopan juga " ucap pak wijaya


" Iya pah, orang brian itu suka sama roseta ya pantes kalau dia begitu sama roseta " jawab nindy, " pah nindy ke kantor dulu ya, nanti bik sumi kesini nungguin papa " jawab nindy meletakan pisay dan berjalan ke arah wastafel setelah cuci tangan nindy mengambil selembar tissu berjalan kembali ke arah pak wijaya " soalnya tante mia gak mau jagain papa, malah bik sumi yang disuruh kesini " jawab nindy lagi


Mia sudah kelewatan benar-benar keterlaluan bisa-bisanya dia tidak mau menjenguk ku, aku harus segera mengumpulkan bukti perselingkuhannya dan rencana jahatnya dengan begitu aku bisa menceraikan dia batin pak wijaya


" Iya nin, hati-hati ya " jawab pak wijaya, nindy pun bergegas untuk pergi ke kantor karena dia pasti sudah terlambat untung saja jarak kantor dan rumah sakit dekat