ROSETA

ROSETA
Makan Malam



Roseta cemberut mendengar kata-kata Theo, bahkan setelah semua hal yang telah ia katakan dan lakukan, pria itu justru memandang Roseta dengan tatapan seperti itu, tak berubah semenjak awal kedatangannya, memuja seolah Roseta adalah wanita paling indah di dunia.


Tidak ada tatapan jijik, menghakimi ataupun hal mengerikan lainnya atas kebodohan yang Roseta buat sebelumnya. Kenapa ada pria dengan jenis seperti itu?


"Karena dinner gagal, mau memasakkan makanan buatku? Aku lapar." Mendengar itu, Roseta bangkit untuk menerima perintah, membereskan kotak obat yang berserakan di ranjang untuk segera bangkit dari duduknya, namun sebelum ia benar-benar keluar dari kamar, Roseta terlebih dulu mengganti gaun super hotnya menjadi baju rumahan, kepalang malu.


Kini, setelah mengobati luka di kening prianya, Roseta tampak sedikit lega meski saat berjalan menuju dapur dengan jantung yang masih berantakan, ya Tuhan, rasa bersalah begitu besar dan memalukan.


Kedatangan Theo untuk mengajak wanita itu keluar makan malam romantis berakhir naas saat Theo baru saja memasuki rumah Roseta dengan sambutan yang tak pernah ia duga sebelumnya.


Thei yang masih termanung diranjang nampak menelan ludah dengan kasar mengingat Roseta dengan belahan da*a terbuka dan gaun super sexy. Wanita itu berniat menggoda dan membuat Theo masuk perangkapnya untuk melakukan acara malam panjang, panas dan penuh hasrat.


Theo yang ditarik paksa tak sengaja memasukkan sepatu kedalam karpet sehingga keningnya naas bertabrakan dengan ujung tangga, Roseta merasa malu namun Theo yang merasa baik-baik saja berusaha menenangkan meski ingin tertawa dengan alasan Roseta, wanita itu ngotot ingin hamil, seperti alasan sebelumnya, untuk mengikat Theo karena pria itu terlalu lama menggandengnya ke pelaminan.


Mendengar derap langkah dari belakang, Roseta memalingkan wajah. "Aku tidak akan berhenti memaksa ingin hamil sebelum kamu benar-benar membawaku ke pelaminan. Pilihan hanya dua, aku hamil atau menikah sekarang juga." Kata Roseta dengan tegas, menghentikan langkah Theo.


"Sayang...."


Roseta menaikkan alisnya untuk menantang. "Apa?"


"Jangan gila, hamil setelah menikah, oke," ucap Theo pasrah, akhirnya.


Apa yang bisa dikatakan Theo untuk menolak Roseta?


Masih ada rahasia yang ia simpan. Meskipun begitu, Theo sangat ingin menikahi Roseta saat ini juga, tapi memang belum saatnya. Roseta pantas mendapatkan Theo dalam kondisi terbaik pria itu, seperti disaat semua masalah tidak membelenggu keluarga kecilnya. Theo hanya meminta Roseta sabar sedikit saja meski alasan tak mungkin dapat ia sampaikan secara terbuka.


"Yasudah, aku ingin keluar, ayo lanjutkan rencana awal, dinner." Roseta melepas celemeknya, dan berjalan mendekati Theo, Roseta bisa melihat pria itu hampir putus asa. "Aku ingin memperbaiki suasana hatimu karena ulahku, kita makan di restoran, privat room, romantis dan bisa menikmati pemandangan danau." Karena rencana ini sangat diminati Theo sejak awal, Roseta tahu itu.


Usul yang sangat bagus. Theo mengangguk dengan senyum selebar mungkin, privat room memang pilihan yang sangat tepat dengan pemandangan danau yang begitu menggiurkan.


Roseta menghampiri Theo lebih dekat, menarik Theo kedalam pelukannya. Theo sontak menutup mulutnya, takut-takut Roseta akan mencium, Theo belum siap sesaat melihat kondisi jantungnya yang baru saja tenang. Namun Roseta mencibir melihat respon Theo yang keterlaluan.


"Levelku bukan di ciuman lagi, tapi ranjang." Kata Roseta sambil terkekeh. Sesaat kemudian, justru Theo yang mendaratkan ciuman lembut di kening Roseta, seperti biasanya. "Aku semakin mencintaimu. Ayo lakukan malam panas sesukamu setelah kita menikah nanti, hasilkan anak kembar yang banyak. Oke."


"Terlalu lama, tapi okelah."


"Good girl." Theo mencium kening Roseta lagi dengan gemas. "Kamu harus tahu, aku punya alasan untuk semua hal yang aku lakukan atau permintaan kamu yang aku tolak, percaya, aku akan melamarmu dengan benar."


...****************...


"Lihat itu, ibu dan ayahmu berciuman, eh jangan lihat." Jordan menutup mata Braga dan Bryna.


Ketiganya berada di samping kanan dimana Theo dan Roseta sedang duduk sambil bermesraan. Privat room salah satu Restoran milik Diamond Group ini memiliki desain yang begitu unik, dimana pemilik menempatkan area yang berada di balkon dengan pemandangan danau yang begitu indah. Tiap balkon hanya diisi satu pemesan saja, dan sialnya untuk Roseta dan Theo, balkon paling dekat dengan tempatnya berada saat ini di pesan oleh Jordan, Braga dan Bryna.


Meskupun James tahu Roseta sempat menolak Theo, namun wanita itu sekarang tak mungkin lagi bisa mengelak saat Jordan melihat jika tatapan Roseta sangat menggila kepada temannya, ngomong-ngomong Theo pakai jurus apa bisa sampai menakhlukkan wanita itu?


"Itu sudah biasa uncle, Braga sering melihatnya."


"Aku juga." Bryna mengimbuhi.


Seakan suara kedua bocah cilik itu tak terdengar setelah menepis tangan Jordan dari menutup mata mereka. Jordan dibuat tersenyum saat tahu-tahu Theo menarik tangan Roseta dan kembali mendaratkan kecupannya disana. Theo nampak tergila-gila juga.


"Orang tua kalian romantis sekali, uncle tidak pernah seperti itu."


Bryna menatap Jordan dengan merana. "Uncle cepat cari pacar, sudah umur 27 tahun, mengenaskan sekali."


Jordan cemberut, bagaimana mungkin Bryna yang menjengkelkan sekaligus menggemaskan ini mengatainya mengenaskan. "Bagaimana kalau uncle menunggu Bryna dewasa saja." Tawarnya tanpa dibuat-buat.


Braga dibuat merinding, "Iya, menunggu uncle jadi kakek-kakek, tidak akan, Braga tidak setuju."


"Lihat saja, meski umurku tua, pasti tetap mempesona. Lagipula jarak umurku dan Lily tak lebih dari 20 tahun, masih bisa."


Braga menggeram. "Uncle. Don't be crazy!!"


Jordan menunjuk dirinya sendiri, "Aku masih waras."


Perdebatanpun berlangsung begitu saja, sedangkan Bryna diam menyimak, namun lama-lama gerah juga, "Stop. Uncle, jangan menjadi Swan kedua atau Bryna benar-benar menolak."


"What the....."


"Braga, shut up, ayo makan sebelum dingin." Bryna memperingati Braga agar diam.


Jordan diam stagnam, lalu tak berapa lama ia berkata. "Ja-jadi, uncle diteri....."


Akhirnya Jordan diam memperhatiakan suasana. Jordan beralih lagi memandang Theo. Mendapati hatinya yang lega juga karena sahabatnya saat ini sedang berbahagia. Jordan jujur teramat lelah melihat Theo dengan kemurungan sebelum semua berubah saat Roseta datang kembali dalam hidupnya.


"Mommy dan daady sepertinya saling menggilai." Braga memang makan, tapi matanya masih menatap kesamping, melihat kedua orang tuanya.


"Uncle masih sangat ingat perkataan ayahmu waktu dulu, saat itu ayahmu mabuk, dia meracau tidak ada wanita lain selain Roseta yang bisa membuat hatinya hancur sehancur hancurnya, meskipun Roseta kembali membawa luka seperti perkiraannya dulu, ayahmu mengatakan tidak pernah sedikitpun tidak mencintainya. Bagaimana ada jenis pria seperti itu?"


Braga tersenyum beserta anggukan mengerti menyimak Jordan menjelaskan betapa mengenaskan kebodohan Theo dahulu. "Aku senang, mommy dan daddy bahagia."


Mata Jordan masih memperhatikan kedua orang yang saat ini dibicarakan, keduanya saling bercanda. Theo sudah bercerita banyak sebelum ini. Memberi petuah begitu banyak juga sebelum malam ini. Kebahagiaan? Jordan mengharapkan Roseta dan kedua anak-anak ini bersabar menanti itu semua.


"Bryna jadi ingat pertengkaran daddy dan mommy yang terjadi berulang kali, mereka sangat lucu."


Oh, jika Bryna mengingat itu semua, ia ingin tertawa terbahak-bahak, sangat menggemaskan dan menyedihkan secara bersamaan.


"Kita dulu juga saling bertengkar, dek." Braga menimpali. "dan itu sangat tidak lucu." Imbuhnya.


"Berbeda kasus, kak!! Kamu sih tidak tahu kondisisnya, kalau kamu tahu pasti ingin tertawa juga."


"Wanita selalu benar." Braga mengalah.


Jordan tertawa terbahak-bahak mendengar perdebatan dua bocah ini. Ia sangat ingin punya pacar, tapi entahlah, gara-gara Theo, waktu luang untuk Jordan direnggut paksa, disuruh bekerja terus, sahabatnya itu mengatakan agar Jordan menimbun uang dengan banyak agar calon istrinya kelak hidup layak. Apa Theo lupa jika Jordan dari keluarga kaya raya yang menjajah bisnis besar di luar negeri juga? Okelah, lupakan ini sejenak.


"Good, Theo memergoki kita." Jordan melihat Theo berjalan melalui penghubung pada tiap balkon diikuti Roseta dibelakangnya.


Braga dan Bryna yang kembali mengunyah makanan terpaksa melihat kearah kedua orang tuanya, dan ternyata benar, Theo dan Roseta tersenyum congkak kearah mereka.


"Bukan hanya kamu yang bisa menyadap Son," ucap Theo menggoyangkan ponsel ditanggannya. "Lupa ya kepintaran kamu turun dari siapa?"


Braga mendengus, "Braha yakin daddy mendapat akses dari om Saga, iya 'kan? Oke Braga blokir sekarang juga, itu cukup mudah kok."


"No, demi keamanan negara, daddy menyarankan jangan lakukan itu."


"Oke."


Saat jawaban ringan Braga berikan, Theo mengusap kepala putranya itu dan beralih mengecup kening Bryna yang sedari tadi memperhatikan dengan senyum tertahan, sedangkan Roseta melakukan hal yang sama setelah Theo selesai.


"Jadi, kenapa semua ada disini?" Akhirnya Theo menanyakan karena penasaran.


"Jord uncle ingin membuntuti mommy dan daddy." Jawab Bryna spontan.


Jordan yang menjadi kambing hitam lantas membolakan mata, enak saja, sejak awal yang ngotot sekali ingin ketempat ini adalah Bryna sendiri, Jordan yang sangat sudah terlanjur menyayangi Bryna ya nurut saja, dan sekarang pria itu juga yang mendapat imbalan penghianatan.


"Braga melihat daddy dan mommy bermesraan, Braga yakin seperti kata oma kemaren, kita semua ngontrak dibumi."


Kali ini Jordan juga dibuat ternganga, dari mana pemahaman Braga tentang hal ini, terlebih katanya dari omanya, yaitu Nyonya Dera, astaga. Tontonan apa yang mereka lihat, atau buku apa yang mereka baca.


"Tapi Bryna bahagia kok, dad, mom."


Theo dan Roseta tidak sempat menyela karena Beaga dan Bryna saling melempar kata. Keduanya tidak marah karena kenyataan itu memang benar, bermesraan.


"Jadi, hari ini mommy ngelamar daddy lagi nggak? Terus kenapa dengan kening daddy?" Akhirnya Bryna bertanya, gadis itu tahu betapa berjuangnya Roseta untuk menikahi Theo, dan Bryna juga amat penasaran dengan kasa yang menempel di dahi Theo.


"Nanti saja, nunggu daddy yang ngelamar mommy. Dan kening daddy, tadi tidak sengaja jatuh, tapi tidak apa-apa." Jawab Theo menutupi jika keningnya terbentur akibat ulah ibunya, Theo tidak mau Roseta malu di depan anak-anaknya.


Satu fakta ini diketahui juga oleh Jordan, betapa gilanya Roseta yang berkali-kali melamar Theo tapi masih belum mendapatkan jawaban pasti, dan Jordan juga tahu alasan kenapa Theo belum bisa menerima.


"Nanti kalau daddy yang ngelamar jangan sampai ditolak ya mom," Bryna memeperingatkan ibunya.


"Siap sweety." Jawab Roseta sembari mengelus surai hitam gadisnya.


Braga seperti mengingat sesuatu yang sangat ingin disampaikan kepada Theo, "Dad ada hal penting yang harus Braga katakan."


"Dipersilahkan Son."


Braga melirik Jordan, beralih kepada Bryna dan berakhir memandang Theo dengan lekat. "Dad, Jordan uncle berencana ingin menikahi Bryna suatu saat nanti."


"What?"


"Apa?"