
Theo tersenyum sedari tadi, bahkan ia mengabaikan Roseta yang duduk di depannya, suara dengkuran Sarah yang sudah tidur di sofa juga tidak mengganggu telinganya. Tangan Theo tak berhenti mengetik sesuatu di ponselnya, entah kenapa perasaan Roseta mendadak buruk karena Theo terlihat baik-baik saja setelah sebelumnya sempat memohon untuk tidak berpisah.
Kenapa Roseta yang lebih merasa kehilangan? Harusnya Theo merasa terpuruk, harapan Roseta yang begitu buruk ternyata tidak terealisasi dengan benar. Atau sebenarnya Theo tidak benar-benar menginginkannya. Roseta pusing dengan isi kepalanya.
"Kak Haidan curang." Braga memekik membuat Roseta mendongak untuk melihat ke arah putranya.
Braga bersama Haidan dan Dylan, ketiganya menempati kursi bagian belakang yang tak terhalang jarak jauh dari Roseta. Oh, meraka semua berada di dalam Jet Pribadi milik Bryna, sedang dalam perjalanan pulang ke Negara I lagi.
"Braga." Theo bersuara sedikit keras untuk memanggil Braga. Sang empu yang mendengar lantas mendongak. "Sini, Daddy mau bicara sebentar."
Braga sebenarnya tidak mau begitu dekat dengan Theo. Rasa benci masih ada, tapi ia bukan anak yang mau dianggap durhaka meskipun acara balas dendam masih membara.
"Iya, Dad. Ada apa?"
Roseta hanya akan melihat. Iteraksi Theo dan Braga memang sudah sangat biasa. Roseta juga mendengar jika sebelumnya Theo dan juga putranya itu sudah pernah sekali bertemu. Kronoliginya sudah diceritakan, dan Roseta langsung paham. Tapi ia belum mendapatkan jawaban atas semua kondisi yang terjadi kepada Braga. Semua serba mendadak dan secepatnya mereka harus pulang ke Negara I lagi, Bryna sudah pasti sangat khawatir karena ditinggal Roseta tanpa kabar.
"Daddy habis chatingan sama Jay Daddy. Kita akan langsung ketemu di bandara Samanta. Kamu sudah siap 'kan ketemu Bryna?"
Tubuh Braga langsung menegang, begitupun Roseta yang tidak tahu apa-apa ikut terkejut. "Kamu sedari tadi senyum-senyum karena lagi chating sama Jay?"
"Iya." Theo mengangguk polos.
"Kirain lagi nonton dagelan."
Theo mengerutkan kening. "Apaan sih." Jawabnya. "Gimana, Son. Kamu siap?" Tanyanya yang sudah beralih menatap Braga lagi, Theo juga tersenyum setelah tadi menatap datar untuk menjawab ucapan Roseta.
Sial. Roseta benar-benar merasa diabaikan. Ia sakit hati.
"Siap nggak siap, Dad."
"God job. Lebih cepat lebih baik. Mereka semua sudah berkumpul di bandara Samanta."
Roseta terpengarah lagi. "Kamu sudah cerita semuanya?"
Theo menggeleng. "Enggak. Aku cuma bilang ke mereka. Maksudnya ke Jay, Bang Jack dan Liliana."
Roseta melotot. "Maksud kamu semua itu siapa? Semuanya? Semua orang yang kita kenal?"
"Tentu saja."
"Kenapa?"
"Mengabulkan permintaan mereka?"
"Permintaan apa?"
"Berita itu. Pasti mereka sangat ingin memukul kepalaku. Biar nanti rame-rame, pasti seru."
"Kamu gila?"
"Braga setuju." Bara yang sedari tadi hanya mendengar perdebatan orang tuanya tiba-tiba menyaut. "Braga setuju Daddy gila."
"Kakak nggak boleh mengatai orang tua, tidak sopan."
Braga akan protes, tapi ia lebih memilih jawaban aman saja. "Braga kan hanya menyutuji perkataan Mommy." ucapnya polos.
Roseta bungkam. Memang benar sih yang dikatakan putranya. Baru kali ini Roseta berkata kasar di depan anaknya, sebelumnya Roseta tidak pernah melakukan ini di depan Bryna, ia baru sadar ternyata.
Theo mengelus kepala Braga sembari menggelengkan kepala, sarat memerintah agar Braga tak berbicara lebih. Jangan menantang Roseta maksudnya.
Akhirnya Braga menghembuskan napas halus. "Sorry, Dad, Mom."
"Udah, udah, sini." Roseta menarik Braga untuk dipeluk.
Meskipun Braga sudah tumbuh lebih tinggi, Roseta tidak keberatan untuk tetap menimangnya, ibu dua orang anak itu sedang menuntaskan rasa rindu, terpisah begitu lama tak bisa serta merta menghapus sesak di dada meskipun sudah berjumpa. Rasanya tetap tidak percaya meskipun itu nyata.
Theo tersenyum melihat interaksi dua orang di depannya. Tapi satu yang Theo tangkap di situasi ini; Braga yang tertekan mendapatkan perlakuan manja dari Roseta. Lihat saja, wajahnya merah padam menahan malu. Tapi tidak bisa membohongi jika Braga juga menyambut hangat perlakuan sang ibu.
Waktu berjalan begitu cepat sampai Braga tidak tersadar jika sebentar lagi akan sampai di landasan. Jantungnya berdegup kencang.
Braga sudah kembali duduk bersama Dylan dan Haidan lagi. "Kak Dylan, jantungku gemetar." Celetuknya tiba-tiba.
Dylan menggeleng. "Deg-deg-an Braga , jantung gemetar gimana ceritanya."
Braga tak menggubris, lalu beralih memandang Haidan. "Kak Haidan, cuma kak Haidan yang pengertian, gimana nih, jantungku gemetar."
"Tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan. Braga jagoan 'kan."
Braga mempraktekkan, nihil, jantungnya semakin berdetak dengan tempo yang lebih cepat.
"Ga, awalnya kamu juga begitu waktu mau bertemu dengan Nyonya Roseta, tapi kamu bisa."
Braga tak langsung menjawab. Ia masih sibuk memandang arah jendela dengan pemandangan yang perlahan semakin merendah, artinya, sebentar lagi, benar-benar sebentar lagi mereka sampai di darat.
"Mommy berbeda dengan Bryna Kak. Dia itu, duh bagaimana menceritakannya, alih-alih di peluk, aku takut Bryna memukulku."
"Benarkah?" Dylan terpengarah.
Braga mengangguk. "Bryna itu kuat Kak, dia sering berkelahi juga. Tapi tidak tahu kalau sekarang, mungkin kak Dylan tahu."
"Kamu ini ngaco." Jawab Dylan sembari terkekeh.
Jelas saja, yang dikatan Braga memang ngawur, ia hanya masih menguasai diri dari gugub yang membarengi. Aku bisa gila kalau begini.
Mesin pesawat sudah berada di level terlirih, jarak pandang aspal sudah sangat jelas dijangkauan. Semua yang ada di dalam pesawat siap untuk berdiri dan berbenah. Sarah yang baru saja bangun juga merasa energinya penuh. Berbeda dengan Braga yang masih memeluk bola basketnya, ia tak sedikitpun beranjak dari kursi.
Braga tak bergeming, sampai pada akhirya Theo semakin mendekat ke arahnya. Pria itu mengulurkan tangan, berupaya mengajak Braga untuk turun bersama. Tak selang beberapa lama, Braga mengambil genggaman besar milik ayahnya.
"Dad, serius, Braga gugup saat ini."
"Semua akan baik-baik saja, take my word for it, Son."
Theo sangat berbeda memperlakukan Braga dibandingkan Roseta saat ini. Wanita itu benar-benar merasa diabaikan, dari pandangan yang tak begitu jauh ada rasa kehilangan begitu mendalam.
Braga berjalan menuruni garbarata tepat dibalik tubuh besar ayahnya, disusul Dylan dan Haidan di belakangnya. Sedangkan Roseta dan Sarah berada di urutan depan. Dibawah sana sudah banyak orang yang menanti kedatangan mereka.
Theo melihat Bryna yang melambaikan tangan dengan tubuh yang di gendong oleh Jay.
Jack juga sudah berdiri untuk penyambutan bersama dengan yang lainnya. Jangan lupakan Jordan, Jeko dan Liliana yang sudah berbaris rapi. Oh, apalagi yang satu ini, pria cilik Aditama, siapa lagi jika bukan Swan.
Benar. Roseta tak meragukan ucapan Theo untuk mengundang semua orang yang dikenal. Wanita itu tak habis pikir dengan isi kepala ayah dari anak-anaknya, bagaimana mungkin ia dengan rela mengatakan omong kosong dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai samsak untuk dihancurkan.
Benar-benar pria bodoh.
Sedangkan Braga gugup bukan main, tangannya semakin meremat telapak tangan Theo. "Dad."
"Tenang, Son. Bryna ada disana."
"Sumpah demi keselamat jiwa, Braga gugup."
Theo menahan tawa. Jika diawal pertemuan Braga begitu angkuh, berkebalikan dengan sekarang, nyali pria cilik itu menciut.
Jay menurunkan Bryna saat semua rombongan sudah menapak di daratan. "Jadi, kau pilih, mana yang harus kupukul."
"Nanti saja, jangan di depan anak-anak, kau ini." Jack yang menengahi, padahal ia sendiri juga sangat ingin memukuli Theo.
Roseta melihat Braga yang berdiri mematung dibalik tubuh ayahnya. Wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepala, meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
"Sebentar. Aku masih belum ingin berbicara denganmu, Jay.” ucapnya acuh, lalu Theo menurunkan pandangannya untuk melihat Bryna. "Sweety nggak kangen Daddy?" tanyanya.
Bryna pun tersenyum lebar lalu berlari untuk memeluk Vee. Pria itu reflek membungkuk untuk menerima tubrukan putrinya hingga tubuh Braga terpampang nyata di hadapan semua orang, tak terkecuali Bryna dengan pandangan paling dekat.
"Kakak." "Braga."
Bryna mengeratkan pelukan di leher Theo serta isak yang begitu dalam dengan mata yang masih memandang Braga yang bertatap langsung di depannya.
Braga tak bergeming, hingga Roseta berinisiatif untuk memegang pundak pria cilik itu dari belakang. "Kakak ada di sini Dek." ucapnya.
Tangis Bryna semakin besar, tidak hanya isakan, bahkan ia meraung dengan kaki dihentak-hentakkan. Vee yang bertanggung jawab menopang tubuh putrinya seperti kualahan dengan tenaga yang dikeluar.
"Dek, howdy?"
Saat Braga dengan jelas mengeluarkan suara, semua dada yang membusung karena terkejut langsung saja merasa lega, ini kenyataan, begitulah pemikiran orang-orang yang ada disana.
"Daddy aku ingin memukul Kak Braga."
Bryna tiba-tiba berteriak, sontak saja Theo dengan sigap meraih kembali tubuh putrinya yang sempat terlepas, genggaman tangan Theo untuk Braga pun juga sudah terputus.
Tidak terduga.
Pada awalnya Theo kira Bryna akan memeluk Braga seperti yang dilakukan putrinya terhadap dirinya dulu. Ini benar-benar kejutan.
"Dad, lepaskan Bryna."
"No, sweety, jangan seperti ini."
"Kak Braga, aku tahu Kakak masih hidup, akhirnya muncul juga. Aku ingin membuat perhitungan. Dad, lepaskan, atau Bryna tendang perut Daddy."
Astaga. Bar-bar sekali gadis kecilnya.
"Dad, Bryna jago bela diri nih, yakin nggak mau lepasin." Bryna mnginfokan lagi.
Mau dipikir sekalipun, tendangan Bryna pasti tidak akan terasa. Oleh karena itu, Theo tetap pada pertahanannya; merubah posisi, membalik badan hingga tangannya memeluk perut Bryna dari belakang, mengunci penuh.
"Daddy, lepaskan Bryna." Braga bersuara karena memang ia pantas mendapatkannya.
"Kamu yakin, Son?"
Braga mengangguk mantap. "Yakin, Dad." jawabnya, "tapi dalam hitungan ke tiga baru lepas, Oke."
"Jangan berkompromi." Bryna berteriak.
"1....2....3."
Braga berlari dalam hitungan ketiga, tepat bersamaan dengan Theo melepaskan Bryna dari cengkramannya. Keduanya saling mengejar, tanpa ada yang bisa ikut campur tangan.
Theo mengehela napas, "aku tidak menduga jika akan begini hasilnya."
"Kau harus menjelaskan sesuatu kepada kita, Theo, Roseta." Jack tak sabaran hingga harus mendapatkan penjelasan secepatnya.
Roseta tersenyum. "Tentu saja, tenang Kak, nanti kita bicarakan. Masalahnya sampai kapan kedua anak itu akan berhenti kejar-kejaran.
"Tenang Mommy Auntie. Serahkan pada Swan. Swan akan menyusul mereka."
Maka, acara kejar-kejaran tak melibatkan Bryna dan Braga saja, karena Swan saat ini sudah menyusul keduanya.
Para orang dewasa hanya akan menunggu dan menyaksikan bagaiman cara anak kecil menuntaskan perkara mereka.