
Terkadang dunia nampak begitu adil bagi beberapa orang dengan kehidupan beruntung, nampak jahat untuk orang yang selalu tertindas oleh sebab materi, permasalahan yang membelenggu ataupun urusan yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
Begitupun dengan Matheo Ranu Pandega yang saat ini tengah dikerubung dua orang pria dengan tatapan menyeramkan. Pikir Theo dengan wajah yang awalnya seperti tahapan sempurna dari sang ahli yang sedang beralih mejadi zombie babak belur akibat kekuatan super dari Liliana tempo hari akan mengurangi sedikit efek kebencian, namun nyatanya nol besar, Jay pun Jack tak menurunkan dadanya yang dibusungkan secara sengaja tepat di hadapannya.
"Aku nggak mau ada acara kelahi-kelahian ya, aku udah cukup pusing." Suara Roseta yang berasal dari arah dapur pun menyeruak memperingati.
Jack nampak memutar bola matanya, sedangkan Jay kesal setengah mati. Hal ini sangat ditunggu, terbongkarnya kebenaran sekaligus acara adu jotosan, cukup adil menurutnya.
Jika ditanya, Bryna dimana, jawabannya baru saja ditelan pintu utama untuk berangkat sekolah bersama Maria, makanya dua pria sok jagoan itu langsung pasang badan menantang Theo yang baru saja menelan sendok terakhir sarapannya dan berakhir susah payah seperti menelan batu yang sulit jika dimasukkan tenggorokan.
"Ekhem. Bang, Jay, sebentar, aku minum dulu." Ucap Theo mencoba setenang mungkin.
Jujur bukan takut yang dihadapinya, justru rasa bersalah semakin besar saat melihat aura tidak menyenangkan dari orang-orang yang selama ini mengetahui kebenaran. Theo semakin ingin dibunuh saja, tapi ia juga tidak mau mati sia-sia, waktu menjalin kasih dengan Roseta dulu teramat pendek, oh ayo lah, Theo sangat membutuhkan Roseta dalam mahligai kehidupan selanjutnya, setelah ini maksudnya.
Roseta yang berkutat dengan piring-piring yang butuh dibereskan dari meja itu tampak sedikit memperhatikan, telinganya cukup berdenyut karena niatnya memang menguping tanpa ikut nimbrung di perdebatan.
Theo berdiri, siap menghadapi. "Pukul," pintanya.
Jack dan Jay saling adu pandang, samsak di depan mata nyatanya siap menjadi korban, kepalan tangan keduanya pun sudah terbentuk sedari tadi, rasanya sangat tidak sabar adu kebolehan.
Theo merentangkan tangannya ke udara, pasrah jika boleh dikata. "Bang, Jay, aku tidak akan melawan, sedikitpun, palingan nanti Bryna yang nangis kejer lihat daddy-nya tambah babak belur, atau peralatan dapur Roseta yang bakal beterbangan karena dia tadi sudah memperingatkan." Ucapnya diakhiri mata meratapi lagit-langit rumah sembari membayangkan.
Seakan semangat yang menggebu-gebu lenyap di telan bumi. Membayangkan Bryna menangis, oh tidak, Jack dan Jay tidak akan pernah tega. Atau menyaksikan Roseta mengamuk, oh ayolah, wanita itu seperti gorila kehilangan anak yang akan menghancurkan ibu Kota jika emosinya sudah tersulut.
"Bang, Jay, aku tidak sabar, tanganku juga pegal, ayo cepet pukul, aku juga mau ke kantor."
Roseta sebenarnya masih menguping, wanita itu juga nampak geram perihal Theo yang terkesan meremehkan. Ingin sekali menggetok kepala ayah dari anaknya itu dengan centong yang saat ini tengah ia pegang. Tapi urung ia lakukan setelah gebrakan meja terdengar.
"Kau keterlaluan Theo," ucap Jay pelaku penggebrakan meja.
Theo memincing, "Aku?" tunjukknya ke dadanya sendiri.
"Apa begini caramu memperlakukan aku sebagai orang yang selalu berada di samping Bryna!" Heran Jay atas keangkuhan Theo.
"Terimakasih," ucap Theo ringan.
Jau melambungkan tangannya ke udara, tidak habis pikir dengan pola pikir Theo, sangat dingin sejak dulu. Ya memang, Theo tidak pernah menyukai Jay, makanya ia selalu menunjukkan tatapan dingin atau tidak suka tiap kali berjumpa.
"Setidaknya minta maaf, Theo, kalau aku mau, sudah dari dulu aku membunuhmu, tapi adikku yang bodoh itu selalu menggagalkanku." Giliran Jack menimpali, pria itu mengatakan dengan serius membuat Theo seketika menunduk.
Jay berdecak, "Theo, apa kau masih cemburu denganku, kekanakan sekali," ejeknya.
"Tidak," jawab Theo spontan. "Sampai matipun aku yakin Roseta selalu menolakmu," imbuhnya diakhiri bibir sebelah terangkat meremehkan.
Sialan. Umpatan itu hanya terdengar dalam hati Jay. Memang tidak salah. Seratus persen yang diucapkan Theo adalah benar. Jay menundukkan pandangannya kebawah sembari menggeleng serta tersenyum hambar. Sungguh sangat sayang sekali tangannya tidak bisa menonjok muka Theo.
"Theo, minta maaf. Sekarang!” Perintah Roseta dari ambang pintu yang menjurus antara dapur dan ruang makan.
"Aku akan minta maaf ke bang Jack." Jawab Theo.
"Ke Jay juga, inget, dia yang jagain anakmu dari bayi sampai gede gitu."
Theo menghembuskan napas pasrah tapi tetap tidak mau yang ada dibenaknya. Mungkin kemaren-kemaren ia sangat berterimakasih dan ingin segera bertemu Jay untuk mengatakan itu semua. Tapi melihat wajah tampan yang terlihat semakin tampan membuat perasaan Theo tidak karuan, cemburu mendominasi meskipun ia menolak mengakui.
"Minta maaf atau aku akan tinggal bareng Jay lag-,"
"Jay, aku minta maaf dan terimakasih sudah merawat Bryna dan Braga, aku pria bodoh yang tidak berguna, maaf sekali lagi. Bang Jack, seharusnya kau membunuhku sejak dulu, dengan begitu mungkin masalah akan beres, tapi aku bersyukur wanita yang kau sebut bodoh itu telah menahanmu hingga aku dapat bertemu lagi dengannya. Aku sungguh minta maaf, ijinkan aku mengambil alih Roseta dan Bryna mulai sekarang."
Ucapan Theo sangat panjang tanpa jeda napas, lancar dan mendalam penuh sesal serta diakhiri permohonan. Pria itu menurunkan egonya untuk dibuang jauh oleh sebab ancaman yang belum sempat Roseta selesaikan, begitu saja sudah membuat Theo kelimpungan. Kalau zaman sekarang, Theo bisa saja disebut dengan bucinya Roseta.
Roseta yang mendengar sedikit menaikkan sudut bibirnya. "Cute," ucapnya tanpa sadar setelah itu ia segera membekap mulutnya sendiri dan berlalu ke arah dapur lagi.
...\~\~\~...
Kepala Roseta menoleh saat baru saja akan memasuki mobilnya, menautkan alis serta bersendekap tangan lalu menghadap ke arah Theo. "Aku bisa sendiri," ucapnya. "Theo, aku harap kau tidak salah paham, aku disini hanya karena Bryna, tidak lebih dari itu, aku sudah bicara sedari awal 'kan?" imbuhnya.
Theo paham betul, ia tahu itu, Roseta tidak perlu memperingatkan pria itu berkali-kali. "Perasaanku nggak enak, kali ini aja, aku anterin ya, aku takut kamu kenapa-napa" mohonnya.
Roseta membuang muka ke samping serta meloloskan senyum garing. "Delapan tahun, kemana saja saat aku kenapa-kenapa, hatimu merasa apa tidak? Tidak usah membuat alesan norak." ketusnya.
Theo diam membatu, pikirnya logis juga jika Roseta mengatakan itu. Bahkan selama delapan tahun sudah pasti banyak sekali kesulitan yang harus dijalani Roseta seorang diri meski ada Jay yang menemani. Walaupun begitu, pria baik itu tidak akan mungkin bisa menumpahkan waktunya yang utuh untuk Roseta dan juga anak-nya bukan.
Roseta membalik badan untuk memasuki mobil lagi karena Theo tak kunjung menjawab dan hanya diam. Mungkin pertanyaan Roseta memang sangat sulit untuk dijawab. Semakin tidak mau dengan obrolan yang membuatnya harus kembali ke masa lalu, bukankah lebih baik Roseta segera berlalu.
"Obat tidur," ucap Theo tiba-tiba.
Roseta menghentikan langkahnya, tangannya yang akan meraih handle pintu mobil terpaksa diurungkan. Masih diposisi yang sama sembari menunggu apa yang akan dibicarakan Theo selanjutnya.
"Apa kamu akan percaya jika aku bilang selama delapan tahun aku tergantung obat tidur? Apa kamu percaya betapa sulitnya menaruh rasa benci sedangkan aku sangat mencintaimu!" Theo melanjutkan.
Roseta tetap diam. Sama. Wanita itu merasakan hal yang sama. Sangat benci tapi tidak tahu cara melupakan karena rasa cinta masih utuh.
"Bahkan....Bahkan sampai sekarang, saat kamu sudah berada disampingku, perasaanku tetap tidak tenang, setiap hari aku mencari cara bagaimana memperbaiki semua seperti awal. Bagaimana caranya agar kamu bisa kembali padaku, seperti dulu." Imbuh Theo lagi.
Theo sudah sangat jujur dan terus terang tentang perasaannya, jika itu berhadapan dengan wanitanya, ia akan menunjukkan tanpa sedikitpun mengurangi, kalau bisa ditambah porsi lagi. Membuat Roseta percaya ternyata sesulit ini. Ia sangat tahu jika wanita itu sangat sulit untuk diluluhkan setelah perbuatan bodohnya.
"Beri aku waktu."
"Apa?"
Jika Theo tidak salah dengar, sesuatu seperti itu seperti sedikit memberi harapan. Apakah Roseta menyuruhnya untuk menunggu? Apakah artinya Theo masih ada peluang? Jika benar, ia rela bersujud ditanah sekarang juga.
Kekanakan.
Tapi ia serius.
Roseta menutup matanya seakan kata pengulangan yang akan ia ucapkan sangatlah sulit untuk keluar. "Beri aku waktu, aku akan memikirkan kita bisa kembali apa tidak."
Apa yang terjadi dengan Theo saat ini? Jelas. Pria itu langsung bersimpuh hingga lututnya menyentuh paping karena memang saat ini berada di parkiran mobil. Sedangkan Roseta yang tidak mendapat sautan lantas menoleh kebelakang, terkejut, mulutnya menganga lebar hingga tanggannya menepuk jidat pelan.
"Theo, bodoh, cepet bangun," pintanya sampai berlari kecil.
Theo menggeleng pelan, kedua sudur bibirnya terangkat jelas, seperti ada kembang api yang meletus diatas kepalanya. Padahal yang dikatakan Roseta belum pasti, tapi bahagaianya sudah sampai begini. Berlebihan dan bukan sosok Theo yang arogan seperti kebanyakan orang tahu.
Roseta yang gemas terpaksa menarik lengan Theo dan memaksanya untuk berdiri. Dengan sigap pula, Theo mengambil alih telapak tangan Roseta untuk dibimbing ke arah mobilnya. Roseta berusaha bebas tapi Theo menggeleng sembari menggoda hingga mengedipkan mata berulang kali, tetap teguh dengan langkahnya. Membuat Roseta merinding.
"Theo, lepas!" pinta Roseta sembari memukul pelan pundak Theo.
Theo menghentikan langkahnya. "Aku serius. Perasaanku nggak enak, kali ini aja, ya." ucapnya sedikit memaksa.
"Apa sih, tidak akan ada apa-apa."
"Nggak, pokoknya hari ini aku bakalan berada didekatmu." kekeh Theo.
Roseta memutar bola matanya, ia hanya takut rumor beredar setelah perceraian pria itu dengan Yura. "Jangan berlebihan Theo."
"Aku nggak berlebihan, tapi ini adalah kewajiban, aku calon suami kamu ya." ucapnya terang-terangan.
Jantung Roseta terpompa sangat cepat, rasanya ingin meledak mendengar Theo berucap secara gamblang dan sepihak. Hello, Roseta belum mengatakan iya ngomong-ngomong.
"Stop. Oke. Kita berangkat bareng. Tapi kau tidak harus seharian juga berada didekatku." pinta Roseta.
Theo mengangguk cepat, lagipula kalaupun Theo tidak bisa berdekatan dengan Roseta, ia masih bisa mengirim beberapa bodyguard yang akan memantau wanita itu. Hal itu juga ia lakukan pada Bryna. Theo sangat sigap untuk melindungi wanitanya juga putrinya.
"Oke, lest go."