
Merasakan hancur lebur seperti bubuk, Roseta pernah mengalaminya. Merasakan sedih sampai tak mampu lagi mengeluarkan air mata, pun Roseta juga pernah berada di posisi itu. Puncak dari segala keterpurukan adalah ketika dia kehilangan putranya, Braga, si tampan kembaran Bryna.
Pernah waktu itu Roseta ingin menyusul saja dengan menebas lehernya sendiri, tapi niat itu diurungkan mengingat masih ada malaikat kecil yang menggantungkan hidup pada dirinya.
Bryna.
Siapa lagi.
Tidak ada tumpuhan lain yang akan serta merta meminggul putrinya dengan penuh kasih sayang jika saja Roseta termakan egois karena kewarasannya sempat terampas.
Hingga suatu hari, mulut kecil Bryna mengatakan, "Mom, I always beside you. Please, mulai sekarang jangan menangis. Demi Bryna."
Saat kata-kata manis penuh permohonan itu teruntai ditemani sebulir tetesan air mata, saat itu juga Roseta bersumpah akan membuat Bryna hidup dengan penuh bahagia. Meskipun harus menyembunyikan kebenaran yang semakin lama menjadi bubuk penyubur kesakitan yang harus dia tanggung sendirian.
"Boleh saya masuk."
Suara berat menyapa dengan sarat meminta. Roseta hapal vokal siapa yang baru saja masuk indra dengarnya. Mengabaikan fakta jika dirinya sangat membenci orang itu, Roseta tetap memilih untuk tersenyum walaupun sekecut jeruk nipis sebagai penyedap rasa.
Seingat Roseta, hari ini bukanlah jatuh tempo untuk melepas jahitan yang ada di kaki milik Thei, bahkan masih harus menunggu tiga hari lagi jika dihitung.
"Silahkan Tuan Theo."
Braak.
Setumpuk, bukan, selembar kertas dalam map langsung saja dibanting di meja Roseta oleh sang empu yang baru saja dipersilahkan untuk memasuki ruangan.
"Jelaskan padaku," pinta Theo dengan amarahnya.
Roseta menyesal telah melengkungkan senyum beberapa saat lalu. Niat hati menyambut ramah pasien sebagai bentuk pelayanan di rumah sakit miliknya. Bukan respon baik yang didapatkan, lagi-lagi pria itu menambah kekesalan.
Roseta dulu tidak pernah sebenci ini dengan Theo, masih terekam jelas bagaimana pria itu dengan ramahnya kepada semua orang, Theo yang merajuk lucu karena menahan rindu pada Roseta, Theo dengan senyum kotaknya jika Roseta tiba-tiba datang membawa makanan. Bukan Theo yang sekarang dengan ucapan kasarnya, tatapan membunuhnya, seringaian bak iblis yang ditunjukkan di depannya.
Roseta melewatkan delapan tahun dengan tidak mengetahui bagaimana cara hidup Theo. Apa yang membuat pria itu berubah seolah menjadi pertanyaan yang sangat besar untuknya. Roseta total tidak mengenal Theo semenjak pertama kali bertemu lagi.
Roseta beralih menatap map di atas meja. Melihat gambar menyerupai tangga spiral yang tercetak sangat jelas di pojok kertas, praktis membuat jantung Roseta mendadak lepas.
Entahlah, Roseta tidak yakin dirinya masih bisa bertahan hidup apa tidak.
"Mi-milik siapa ini?" tanya Roseta. Sayangnya rasa gugup menjadi pengiring yang sangat serasi.
"Jangan banyak tanya, bukalah dan jelaskan padaku," pinta Theo tegas.
Roseta mencoba untuk menetralkan degup jantungnya, keringat dingin merembes dan membasai keningnya. Rasanya Roseta tidak mempunyai kewajiban untuk menjelaskan apa-apa pada pria ini, tapi jika itu menyangkut tentang DNA, Roseta seperti sudah tertangkap basah saja.
Seakan tak menghiraukan peringatan, Roseta berdiri tanpa membuka map di atas meja.
"Apa yang kau ambil dari Bryna untuk melakukan tes ini? Rambutnya? Kukunya? Atau darahnya?" tanya Roseta tanpa jeda.
Walau bagaimanapun tindakan Theo tidak dibenarkan. Suatu saat Roseta pasti akan memberitahu pria itu, tapi tidak untuk sekarang, dan Roseta merasa dirinya telah kecurian.
Sedangkan Theo tergugu tak menjawab, membuat Roseta semakin muak. "Jawab Matheo! Aku sudah berencana memberitahumu saat Bryna dewasa, tidak dengan sekarang. Kenapa kau lancang sekali," teriak Roseta sudah tidak terkontrol lagi.
Malu, marah, bodoh seakan berkumpul menjadi satu. Wanita itu rasanya sudah habis kesabaran, jika hari-hari sebelumnya Roseta sangat menekankan emosinya, mungkin saat ini ia berhak untuk mengambil haknya.
Ya. Theo memang diam membisu saat pertama kali Roseta membawa nama Bryna dalam obrolan mereka, pun dengan aksi protesnya juga. Sumpah demi harga diri laki-laki, pria itu datang dengan tidak membawa pembahasan yang menurutnya adalah sebuah kejutan tanpa diduga.
Secara tidak langsung, Roseta membeberkan fakta jika Bryna adalah anak mereka yang bahkan kenyataan itu akan baru terungkap saat tes DNA yang dilakukan Theo keluar dalam lima hari lagi, jackpot.
"Jadi benar, Bryna anakku?"
"Maksudmu?" Bukan menjawab, Roseta lebih memilih untuk bertaya balik.
Jemari lentik dengan tangan berbalut kemeja putih khas Dokter itu bergegas meraih kertas yang diabaikan sedari tadi. Menangkap sesuatu yang mencurigakan dari gelagat Theo membuatnya curinga jika dia sudah masuk tanda bahaya.
Bodoh, tolol, idiot.
Seakan tiga kata paling buruk di Dunia itu tidak cukup untuk menggambarkan kecerobohan Roseta. Dunianya runtuh dalam sekejab mata, ingin rasanya Roseta menenggelamkan diri dalam rawa-rawa atau sekaligus dimakan buaya juga bisa.
"Jadi, ini yang ingin kau ta-,"
"Jawab pertanyaanku, jangan mengalihkan Roseta!" pintanya penuh dengan penekanan.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Roseta tanpa mengalihkan pandangan. Jujur, ia ketakutan.
Anggaplah Roseta hilang ingatan atau memang disengaja lupa. Saraf dalam otaknya tiba-tiba konslet untuk sementara. Map dalam genggaman yang dipandang tengah talak membuat degub jantung Roseta semakin berantakan, karena apa yang dilihat Roseta bukanlah apa yang wanita itu fuga, bukan hasil pencocokan DNA Theo dengan Bryna, melainkan ketidak cocokan DNA Theo dengan Rahel yang membuat otaknya dicocol berbagai pertanyaan.
Theo merampas map dari tangan Roseta, merematnya kuat seakan itu sampah yang harus dimusnahkan. Pertanyaan awal serta merta Theo lupakan demi menuntut penjelasan akan fakta yang baru saja terungkap dari mulut Roseta.
"Lupakan ini." Theo menunjukkan kertas yang sudah berantakan di genggamannya. "Aku bertanya sekali lagi, apa Bryna benar-benar anakku?"
Awalnya Theo memang ingin mempertanyakan kinerja Rumah Sakit yang tidak becus dalam hal forensik. Ia merasa terhina melihat DNAnya tidak cocok dengan putrinya Rahel. Mau dipikir berkali-kalipun, Theo sangat yakin jika Rahel anaknya. Tapi, jika sudah yakin kenapa juga Theo menyodorkan samples untuk dianalisa, Theo bodoh atau bagaimana?
Sedang Roseta menggeleng meski tahu itu tak membantu apa-apa, jika sudah terpojok ya beginilah Roseta jadinya. Memilih untuk menutup rapat-rapat melutnya disertai kepala menunduk kebawah.
"Baik. Jika kau tak mau menjawab."
Theo memutar tubuh untuk meninggalkan ruangan. Pikirnya tidak usah menunggu Roseta, hasil yang nyata saja sudah di depan mata walau harus menunggu sedikit saja. Saat tangan yang berlingkarkan jam tangan hitam itu ingin memutar knop pintu, intrupsi Roseta tiba-tiba mengganggu.
"Bisakah mulai sekarang jangan menemui Bryna?”
Theo membalik badan, pemandangan pertama yang dilihat adalah Roseta yang berantakan dengan derai air matanya. Hati Theo mulai lemah jika itu berurusan dengan Roseta beserta peringai menyedihkanya, meskipun itu bermula lagi dari Theo yang mengetahui fakta jika Roseta bukanlah penghianat seperti yang dipikirkannya.
"Kenapa harus?"
Roseta menyatukan kedua telapak tangannya, isyarat memohon. "Hanya dia yang kumiliki. Jangan ambil Bryna dariku. Kumohon."
Pernyataan itu cukup membuat Theo percaya jika Bryna memanglah anaknya. Ada perasaan lega mengingat Roseta yang memang tidak berhianat padanya, tapi Theo juga tidak tahu apakah ada pria lain yang sudah mengisi hati wanita itu. Theo menyentil hatinya karena berpikir terlalu jauh.
"Itu hakku sebagai ayahnya," ucap Theo percaya diri. Entah keberanian dari mana mengingat ia tidak pernah melihat Bryna tumbuh besar bersamanya.
Detik itu juga, Roseta merasa obrolan masalah hak membumbung tinggi lagi di permukaan. Merasa tidak terima dengan ucapan ngawur dari pria yang nyatanya adalah ayah dari anaknnya.
"Kau tidak berhak Theo. Aku yang membesarkannya."
"Aku berhak. Secara biologis dia adalah anakku. Dan kau membohonginya dengan menggunakan Jay sebagai ayah pura-pura."
Theo berkali-kali lipat menyebalkan. Roseta terkejut dan membolakan matanya.
"Karena aku ingin membahagiakannya."
"Meskipun dengan berbohong?"
“Iya, meskipun aku harus kesakitan karena ulahmu juga.” Rasanya Roseta ingin berteriak mengucapkan itu semua.
"Theo. Kau sudah bahagia 'kan? Yura dan Rahel ada bersamamu. Jadi biarkan aku memiliki Bryna sendirian. Jangan mengambil kebahagianku lagi."
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Roseta ingin menjahit mulutnya sendiri.
Roseta mendadak melankolis dan tanpa sengaja mengatakan itu. Theo yang menghilang memilih hidup bersama wanita lain sontak saja merenggut kebahagiaan Roseta yang kala itu sedang mengandung buah hati mereka. Diakui rasa cemburu yang sedari dulu memang masih ada.
"Kau masih berpikir aku akan bahagia karena ini semua?" Theo mengatakan bersamaan mengangkat map yang ada di genggaman membumbung tinggi ke udara.
Oh. Bagaimana Roseta bisa lupa tentang Rahel yang secara data tidak ada kecocokan DNA dengan pria didepnnya. Tapi, Roseta tidak perduli dengan itu semua. Tidak berhak juga ikut campur dalam rumah tangga orang lain. Yang terpenting adalah Bryna jangan sampai jatuh di tangan Theo. Itu saja.
"Aku tidak peduli jika itu tentang keluargamu atau pun kau sendiri. Hanya satu, jangan ambil Bryna dariku, apapun jangan dia." Roseta memohon, benar-benar memohon, tidak ada nada congkak yang terdengar dengan suara menantang.
"Kenapa hanya mengambil Bryna saja jika kau bisa kubawa juga," jawab Theo, dan dalam sekejab mata pria itu hilang dari pandangan Roseta.
Dasar Theo, tipe pria kurangajar dengan kewarasan yang minim.
Setelah dibalik pintu yang ada di luar, Theo merogoh ponselnya lalu menggulir layar sentuh. "Bang, kita harus bertemu," ucapnya saat benda plasma itu menempel di daun telinga.