ROSETA

ROSETA
Jebakan



Bar malam di kota Mawar yang terkenal rupanya tak begitu berbeda seperti delapan tahun yang lalu. Kiano, pemilik sekaligus bartender di dalamnya tampak masih mempesona bahkan lebih dengan otot sempurna di setiap lengannya.


Penari latar yang menggoda dengan lengkungan tubuh yang sedikit terbuka, menampakan belahan da*a yang sintal membuat berbinar pria mata keranjang. 


Theo, meskipun pria itu kurang belaian atau mungkin memang tidak pernah terbelai itu tidak mudah terlena dengan kepiawaian gadis jal*ng. Theo membenci wanita seperti itu, mengingatkan pada Roseta yang diduganya dulu memiliki peringai yang sama seperti wanita liar dengan minuman memabukkan, tapi tidak dengan sekarang. Secara sadar Theo mengakui salah menilai dan menyesal.


"Aku ingin meminta bantuanmu." 


"Woyo, miliader sepertimu meminta bantuanku, Bang. Apa aku tidak salah dengar?” jawab Kiano diiringi bercanda. "Mau minum apa dulu? Aku beri gratis karena sudah lama kau tidak mampir kesini," tawarnya melanjutkan.


"Jus jeruk saja kalau ada," jawab Theo.


Sontak mengungdang galak tawa dari Kiano yang duduk di dalam bartender. Sungguh Theo tidak pernah berubah dari dulu. Tidak suka minum cairan memabukkan itu kecuali saat terakhir kali; delapan tahun yang lalu karena keadaan kacau yang Kiano sendiri tidak tahu penyebabnya.


Kiano menurut dengan mengambil minuman soda di balik lemari pendingin berpintu kaca, ya jujur saja, jus jeruk memang tidak ada. Pria yang memiliki kulit sawo matang itu masih hapal jika Theo selalu memesan minuman soda dibanding teman-temannya yang manghabiskan uang untuk minuman kelas mahal.


Bunyi pantat kaleng soda nampak terdengar saat beradu di meja tepat dimana Theo memangkukan lengannya. "Apapun akan aku bantu, Bang," ucap Kiano yang merasa terhormat dan dibutuhkan oleh orang yang dikenalnya sekaligus pria yang sangat berpengaruh di Negaranya.


"CCTV. Bisakah kau menunjukkan padaku." 


Wow. Diluar dugaan. Kiano sempat tak percaya, ada apakah dengan bar miliknya? Desas-desus yang akhir-akhir ini di dengarnya tiba-tiba melintas dan jadi bahan pertimbangan, beberapa gerombolan Mafia bertransaksi di bar besar milik Negara I. apakah termasuk miliknya juga?


"Apa soal Mafia?" tanya Kiano yang tidak mau berbelit-belit. 


Theo tidak suka hal kotor. Oleh sebab itu, Kiano berasumsi jika pria yang sudah dianggap kakaknya itu ingin repot-repot menyelidiki.


Theo menyatukan alisnya, Kiano berbicara begitu melenceng dari perkiraan. Theo sedikit tertawa, Kiano berlebihan mungkin mengira Theo akan ikut campur urusan Negara yang seharusnya Polisi atau Detektif yang mengatasinya.


"CCTV delapan tahun yang lalu Kiano."


Kiano membuka mulutnya lebar serta mengangguk tanda mengerti. Dipikirnya begitu konyol mungkin mengingat Theo mungkin saja tidak memiliki waktu untuk ikut campur memberantas penjahat di Negara.


"Aku tidak bisa kecuali Bang Sa…,"


"Aku disini, ayo ke ruang CCTV."


Perkataan Kiano terputus saat seseorang yang akan disebut namanya sudah datang serta merampas soda milik Theo, menegukknya dan meletakkan kembali, orang itu Saga.


Theo tersenyum simpul mendapati sepupunya yang baru tadi sore dihubunginya untuk membantu menyelesaikan urusannya. Anggaplah Theo menjilat ludah sendiri, ya daripada menjilat ludah orang lain bukan.


Saga adalah proteksi teraman yang dipercaya Kiano untuk melindungi akses cyber di bar miliknya agar tidak bisa di tembus oleh orang yang mungkin bisa saja menghancurkan mata pencahariaannya.


...*** ...


Saga menatap layar CCTV setelah serentetan kode memusingkan mata bagi Theo maupun Kiano berhasil dia masukkan untuk membuka akses.


"Theo, kau masih ingat tanggal berapa waktu itu?"


"Tentu saja, 5 Februari 2013."


Hari-hari dimana Theo tengah sibuk untuk mempersiapkan kejutan untuk ulang tahun Roseta di tanggal 11 February dengan membangun taman mawar yang berdekatan dengan Rumah Sakit kepemilikan keluarga Marveen, tentu saja Theo masih sangat ingat sebelum semuanya hancur berantakan karena ulah seseorang yang belum diketahuinya.


Theo sangat berusaha keras untuk menyelidikinya mulai sekarang, bahkan sudah memulai aksinya sejak beberapa hari yang lalu. Kecurigaan muncul lagi ketika Theo ingat dengan marahnya Saga yang mengatakan. “Apakah alkohol dapat menghilangkan ingatanmu untuk selama-lamanya? Bahkan alat canggih dari ahli profesional tak mampu mengembalikan ingatanmu? Sungguh Lucu.”


Itulah mengapa Theo seminggu lalu mencoba untuk mengambil sehelai rambut Rahel untuk membuktikan kebenarannya. Karena mau di ingat seribu kalipun, Theo tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menggoyangkan pinggul untuk beradu dengan milik Yura di atas ranjang, meskipun dulu Yura sangat ngotot jika Theo lupa karena keadaan mabuknya.


Mungkin terlambat untuk mengatakan jika Theo sangat menyesal dengan kebodohan, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Untuk apapun yang akan terjadi besok, ia akan menghadapi, walaupun pasti banyak orang yang sangat kecewa dibuatnya.


Saga tersenyum miring saat matanya melihat layar yang menampilkan Theo sedang dalam keadaan mabuk berat menumpukan kepalanya di paha Yura.


"Itu Yura 'kan, Bang?"


"Tentu saja, Bang. Yura datang saat kau mabuk berat, dia juga bilang padaku jika kalian sudah memiliki janji temu waktu itu," timpal Kiano yang dulu memang menjadi saksi mata akan kedatangan Yura.


Thei lantas membolakan matanya, mengingat jika tidak pernah sekalipun mengajak Yura ke tempat itu.


"Aku tidak pernah membuat janji dengannya hari itu, aku hanya ingin sendiri."


Kiano hanya mengedikkan bahu saat mendengar pengelakan Theo. Tapi, ia masih sangat ingat jika itulah yang sebenarnya terjadi. Bahkan saat Yura memesan kamar untuk menidurkan Theo bersama wanita itu juga, Kiano masih sangat hapal kamar di nomer berapa.


"Brengsek," Theo mengumpat dengan tangan mengepal kuat.


Pemandangan menjijikkan telah dipertontonkan di depan matanya lewat layar kaca. Dimana Yura dengan tidak tahu malunya meman*ut bibir Theo, rakus seakan itu adalah makanan terenak di Dunia. Keadaan mendukung karena hanya mereka berdua di ruangan itu, sedang Theo yang memang sudah tidak sadarkan diri.


Theo tampak tersedak saat beberapa detik mundur mendapati Yura dengan tangannya yang mencoba mencekokkan air dalam gelas ukuran mini yang sudah dimasukkan sesuatu, semacam obat yang diambil di dalam tasnya.


"Siapa empat pria itu?" tanya Theo.


"Itu pegawaiku, karena Yura mengatakan kau sudah mabuk berat dan tidak bisa pulang. Dia juga menyewa kamar. Karena aku tahu dia adalah teman baikmu, maka aku menyediakan kamar untukmu, Bang. Tapi, aku berani bersumpah, sama sekali tidak tahu jika Yura memberi obat dalam minumanmu."


Penjelasan Kiano hati-hati namun juga cukup masuk akal dan dapat diterima oleh Theo. Kiano tidak salah sebagai penyedia jasa, dia tidak berhak untuk dimarahi.


"Bang Saga, kamar nomer 19. Tapi jika kalian ingin menyelidiki isi kamar, aku rasa tidak bisa. Aku tidak menyediakan CCTV untuk bagian ruangan yang menurutku privasi."


"Ck!" Saga berdecak. Menggulir mouse yang berada dibawah telapak tanganya, sekali lagi memasukkan kode yang memusingkan kepala dengan ritme cepat hingga bunyi keyboard saling beradu. "Kamar nomer 19, lihat aku bisa menembusnya. Kiano, jika kau bekerja denganku, apapun bisa kulakukan. See," ungkapnya bangga.


Wah. Mata Kiano berbinar seperti menang undian. Pria dengan postur paling tinggi itu sangat tahu jika Saga adalah pria terhebat dalam urusan cyberspace, tapi tak menduga juga jika kemampuannya sangat misterius untuk manusia normal.


"Sialan." Kali ini Kiano mengumpat. 


"Wanita gila, menjijikkan! Bangsat! Jala*g!" Disusul Theo dengan umpatan lebih keras.


Di dalam layar komputer, Yura melepas seluruh pakaian yang ada di badan Theo hingga telanja*g bulat. Tangannya mengelus semua komponen tubuh Theo tak terkecuali benda pusaka miliknya yang sayangnya tidak terlihat bangun. Setelah puas dengan aktifitas gilanya, Yura mem-


"Tutup mata kalian," perintah Saga beriringan dengan telunjuknya yang menekan tombol pause.


"Kenapa?" tanya Kiano.


"Iya kenapa?" imbuh Theo.


"Yura akan membuka baju dan telanj*ng. Kalian ingin melihat juga, aku saja jijik," jawab Saga.


Oke. Pernyataan itu dianggap alasan kuat untuk mereka menutup mata. Saga melompat ke beberapa detik berikutnya tanpa memutar. Setelah Yura dalam layar sudah berada di dalam selimut, disitulah Saga bersuara lagi. "Buka mata kalian," perintahnya.


Theo membuka mata. "Apa yang dilakukan wanita itu, Bang?" tanyanya.


"Lihat, semalaman sampai pagi kalian hanya tidur tanpa melakukan apa-apa. Hanya Yura yang terjaga dengan memelukmu yang tertidur lelap," jawab Saga.


Theo terdiam beberapa saat masih dengan matanya yang memandang layar. "Jadi benar, Rahel bukan anakku?" gumamnya.


"Tentu saja. Masih mau ngotot atau bagaimana?" Saga geram dengan Theo. Sungguh adikknya itu keterlaluan dalam kebodohan.


"Kau sudah tahu, Bang?" Giliran Kiano yang bertanya.


"Sejak delapan tahun yang lalu." jawab Saga. 


Theo lantas memasang raut terkejut yang ditunjukkan pda Saga. "Kau tau dan tidak meneritahuku?"


"Kau lupa? Mungkin jika aku ngotot memberitahumu waktu itu, kau tidak akan melihat ragaku saat ini."


"Hah?" Kiano mengerutkan dahi dan Theo tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Pria bodoh ini menodongku dengan pistol saat aku akan memberitahu dan mencoba membantu. Gila bukan!" sarkas Saga dengan intonasi datar.


"Tapi delapan tahun Bang!!! Kau tidak mencoba lagi untuk berbicara denganku? Ini masalah serius dan kau membiarkanku kehilangan waktu dengan putriku."


"Putrimu sudah ada yang mengurus, dan belum tentu juga Roseta mau memaafkanmu."


"Tapi Bang, ini sangat keterlaluan."


"Aggap kau sedang menerima balasan atas dosa yang kau perbuat. Orang jahat tak semudah itu hidup di dunia. Harus ada pelajaran agar manusia sadar. Dan kau salah satunya. Impas bukan?"


Theo dibuat menyerana. "Setidaknya gunakan otakmu untuk memberitahuku Bang. Tidak perlu menggunakan mulut agar aku tidak membunuhmu."


Maksud Thei, Saga bisa saja mengirim bukti-bukti nyata itu lewat kiriman dokumen jika memang benar alasan Saga karena takut ditembak oleh Theo.


"Kau lupa lahir dikeluarga macam apa? Kau menikah saat aku tidak di Negara ini. Setelah lebih dari dua bulan aku baru tahu kekacauan yang kau buat, disaat bersamaan, kemana-mana kau bersama Yura. Diliput banyak media. Aku berbicara mengenai Roseta kau mengancam ingin membunuhku.  Sampai akhirnya, keluarga kecilmu yang tampak bahagia itu sudah menjadi konsumsi publik. Bagaimana jadinya dengan nama Pandega yang kau sandang? Bukankah akan memalukan?"


"Lebih baik malu daripada mengorbankan putriku."


"Dan kau lebih mengorbankan ibumu sebagai umpan untuk dimakan media? Kau tidak akan tahu apa yang bisa dilakukan media diluar sana, mulut mereka kejam."


"Tap-"


"Semua sudah terlambat. Jika kau tau sekarang, maka memang sudah waktunya kau mengembalikan keadaan. Tapi jika itu bisa."


Melihat diamnya Theo seakan membuat Saga tahu betul jika adiknya itu sangat terpukul dan kesepian. Sebodoh-bodohnya Theo, pria itu tetaplah pria pintar menurut Saga. Sekuat-kuatnya Theo, pria itu tetaplah pria lemah tanpa kasih sayang. Saga sangat tahu yang dibutuhkan Theo dari dulu sampai sekarang hanya Roseta seorang.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan, Theo?”