ROSETA

ROSETA
Difficult



Hari minggu, Theo bangun dari tidurnya dan langsung memberi tanda silang sebuah tanggal di kalender meja dekat tempat tidurnya. "Beberapa hari lagi." Ia berguman.


Setelah tempo hari mendapat kesepakatan final bersama Jay dan Martinus, Theo yang sebenarnya sudah menjalani misi kerja sama dengan Folltress sedikit setres.


Roseta.


Wanita itu, sudah lewat berapa hari Theo belum juga memberi jawaban ajakan nikah.


Kenapa Roseta mengatakan itu setelah Theo nekat membuat rencana untuk menghancurkan Foltress?


Kenapa sebelumnya wanita itu ngotot mengajukan perpisahan kalau akhirnya tak ingin lepas dari genggaman.


Semua menjadi rumit, dan Theo sudah tak bisa mundur meski selangkah.


Mau bagaimanapun, Braga harus diselamatkan duluan.


Tapi lebih daripada itu, urusannya dengan Yura belum begitu reda. Wanita mantan istri Theo yang sangat pria itu benci masih berisik keras mengajak rujukan.


Rujukan macam apa jika palu sudah diketuk, Theo jelas tidak mau. Pria itu justru ingin sekali menjebloskan Yura dalam penjara.


Yura:


Temui aku sekali saja.


Pesan dari Yura menghancurkan mood, tapi jika terus menghindar, masalah akan menjadi semakin runyam dan Yura tidak akan pernah sadar.


"Halo." Theo menjawab telepon, sepagi ini, masih pukul enam lebih sepuluh menit, Roseta tiba-tiba menelfonnya.


“Halo calon suami, sudah ada keputusan? Ayo cepet menikah, aku sudah tidak tahan.”


Bisa tidak bisa Theo tersenyum, hatinya menghangat meski sesak ikut menyeruak. "Nona Marveen, apakah anda sangat menginginkan saya?"


“Tentu saja tuan Pandega. Apa ingin olahraga pagi bersama? Aku akan menjemputmu.”


Theo berpikir sejenak. Baiklah, mungkin melihat Roseta sepagi ini bisa membuat beban pikiran yang sudah menumpuk sedikit berkurang.


"Deal." Jawab Theo.


“Traktir aku makan.”


"Resort diamond? Bagaimana? Buka 24 jam. Kamu bisa makan sepuasnya."


“Siap. Tidak jadi olahraga, tapi aku maunya makan.”


"Dispersilahkan nona Marven."


Setelah panggilan ditutup, Theo meloncat menuruni ranjang, berbenah diri, mencuci muka, meski rupawan, jangan lupakan jika manusia tetaplah manusia yang menghasilkan rheum di mata, maka Theo akan membersihkannya.


Menuruni anakan tangga, Theo mendapati Braga yang sudah berada di depan TV, menonton acara cartoon. Apa putranya sudah kembali mormal seperti anak-anak pada umumnya? Jika itu terjadi, Theo patut memanjatkan puji syukur.


"Where are you off to this morning, dad?"


Padahal Braga tidak menoleh kebelakang, tapakan kaki Theo pun tak begitu keras, jadi bagaimana anaknya ini bisa tahu keberadaan ayahnya yang hendak pergi di pagi hari.


"Olahraga..eehm...makan, sarapan bersama mommy, mau ikut?" tawar Theo.


Braga lantas menoleh, masih duduk di sofa dan bantal dipelukan, ia mengeleng. "Daddy pacaran?"


"Darimana kamu tahu istilah pacaran?"


"Braga juga tahu istilah perselingkuhan, penghianatan, pernikahan, perceraian, semua yang daddy alamai Braga tahu. Tapi baru kali ini Braga tahu daddy pacaran."


Astaga. Anaknya yang satu ini, kenapa tega sekali, tapi Theo hanya bisa tertawa ringan. "No Son, daddy terlalu tua untuk pacaran, anggap pendekatan, oke. Jadi, mau ikut apa tidak?"


"Ogah. Mana mau jadi obat nyamuk."


Sekali lagi Theo dibuat takjub, bagaimana orang yang selalu tinggal diluar negeri mengetahui istilah-istilah dalam negeri, siapa yang mengajari Braga?


Baiklah. Theo tidak mau penasaran, bagaimana ia bisa lupa jika Braga ini tahu segalanya.


"Daddy, libatkan Braga dalam rencana Folltress."


"That's not gonna happen because I won't let it." Theo sontak menjawab, dengan tegas.


Braga beranjak, mendekati Theo yang berada di ujung tangga. "Please," mohonya.


Oh. Dada Theo seperti diremat kencang oleh rasa bersalah. Permohonan tulus itu tidak dibuat-buat, Theo dapat merasakanya.


Theo berjongkok, menyamakan tinggi, "Baik, urus videotron jalanan sesuai intruksi om Saga, katakan daddy yang meminta, tapi dengan satu syarat."


"Apa?" Sudah kepalang senang, Braga sangat antusias meski keikutsertaannya harus menggunakan syarat.


"Tetap dirumah, jangan keluar pintu walau selangkah, Dylan dan Haidan harus bersamamu."


"Siap."


Theo tersenyum, mengusap kepala Braga namun dengan cepat bocah itu menepis. "Braga masih marah."


Ya Tuhan. Baiklah, Theo sekali lagi mengalah. "Kapan daddy dimaafkan?"


"Sampai daddy tidak membuat kesalahan lagi."


Kesalahan yang seperti apa? Jujur kesalahan Theo adalah meninggalkan mereka, kedua anaknya dan itu tidak akan terjadi lagi untuk kedepannya. "Daddy janji."


Suara mesin mobil memasuki pelataran rumah Dera, pasti Roseta yang datang. "Mommy mu sudah sampai."


"Oke, Braga naik keatas, nggak mau dicium-cium."


Pasalnya Roseta itu sangat gemas kepada anak-anaknya yang sekarang memang menetap tinggal bersama Theo dan Dera untuk sementara, jika bertemu sekali saja, maka tak akan membuang waktu, Roseta tidak akan absen untuk menciumi Braga dan Bryna.


Ngomong-ngomong soal Bryna, bocah itu pasti masih tidur, maka, Theo segera menuju keluar rumah.


"Mana anak-anak?" Tanya Roseta tepat saat ia turun dari mobil.


Theo tersenyum, menghampiri Roseta dan menempatkan bibirnya di kening wanita yang terlihat berseri dipagi hari ini.


"Masih tidur, ayo." ungkapnya.


Roseta sedikit cemberut. "Aku ingin mencium mereka."


"Duh gemasnya, nanti saja ya."


Tatapan Theo menjadi sedih, pria itu tidak suka dengan perasaan yang mengganjal setiap melihat keluarga yang harusnya sudah bisa utuh kembali.


...****************...


Membaca rentetan berita-berita seputar dirinya yang belum mereda, sebenarnya sudah, tapi justru Theo mendapat giliran amukan para ibu-ibu yang dianggap selalu benar.


Matheo Ranu Pandega adalah pria bodoh, pria tidak bertanggung jawab telah menelantarlan anak kandung, dan berbagai macam umpatan lainnya dengan nada yang sama.


Sedangkan untuk Bryna, gadis itu mendapat perhatian lebih, menaruh rasa kasihan sekaligus bangga karena telah berani berbicara terbuka mengenai siapa dirinya, jujur di Negara ini tidak ada anak seberani itu.


Theo mendongak karena setelah Roseta mengatakan hal tersebut, wanita itu tak mengeluarkan suara lagi, masih fokus dengan ponselnya. "Sudah, santai saja, itu makanannya datang." Theo mngedikkan dagu kearah belakang Roseta.


Roseta menoleh kepada seorang pelayan pria yang membawakan sesuatu semacam soup, salad, ham, roti bakar berlapiskan keju dan satu gelas jus sebagai minumannya, Roseta menelan ludah, jujur sudah lapar.


Namun hal aneh yang terjadi adalah, Roseta tidak menjawab, dadanya masih dongkol karena hujatan-hujatan yang dilayangkan warganet kepada calon suaminya itu.


"Hei, pelan-pelan makannya." Theo yang melihat Roseta brutal dengan makannya lantas menegur, dengan lembut, pikirnya memang ada yang aneh.


"Aku membenci mereka, mereka tidak pernah jadi kamu, disini aku yang harusnya menjadi orang yang paling membencimu, tapi kenapa mereka."


"Karena kamu mencintaiku."


Oh, Tuhan. Pipi Roseta bersemu merah. "Sayangnya yang kamu katakan memang benar, jadi ayo kita cepat menikah."


Theo tersenyum paksa, "Iya, ayo lakukan setelah aku memenjarakan Yura."


...****************...


"Sungguh kejutan kamu datang kerumah ini lagi Theo. Apa kamu berniat kembali lagi padaku?" Yura menyambut tepat saat Theo baru saja keluar dari mobilnya.


Cih. Sore hari, memenuhi permintaan Yura, Theo terpaksa untuk menemui wanita itu, sekaligus memperjelas semuanya.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Aku sudah mengatakan yang sejelas-jelasnya, selama kau tidak melakukan kesalahan, aku akan tetap bersamamu. Dan kenyataanya?"


Yang dikatakan Theo jujur. Jika fakta Roseta tidak menghianatinya namun bukan dikarenakan oleh Yura, Theo berani bertaruh tidak akan meninggalkan istri dan anaknya yang dianggap anak kandungnya, siapa lagi jika bukan Rahel.


Tapi.


Kenyataan bagai langit dan bumi, sangat jauh dan sengaja dihancurkan, oleh Yura. Lantas apa lagi yang harus dilakukan Theo selain meninggalkan wanita berbahaya itu.


Bahaya?


Tentu saja, Yura sangat berbahaya, obsesi terhadap dirinya sangat keterlaluan sampai tega menelantarkan anak orang meski Theo belum tahu betul Yura sebelumnya sudah tahu apa tidak Theo memiliki anak bersama Roseta sebelum Bryna berani berbicara di depan umum.


"Kamu tega meninggalkan Rahel? Setiap hari dia menanyaimu. Apa kamu tahu beberapa hari yang lalu Rahel dipukul oleh Bryna?"


"Omong kosong apa lagi yang kau katakan?"


Theo tahu Bryna jago bela diri, tapi ia juga tidak percaya jika Bryna akan menggunakannya untuk bertengkar dengan teman sebaya, apalagi seorang anak perempuan yang diserang.


"Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi apa kamu meragukan Rahel? Kamu tahu sendiri kan putrimu itu tidak pernah berbohong."


Dada Theo diserang sesak. Mana bisa pria penyayang anak-anak seperti Theo meragukan Rahel yang sejak bayi ditimang oleh tangannya sendiri. Tapi meskipun begitu, Theo tetap tidak percaya jika Bryna melakukan hal itu.


Ponsel Theo berbunyi. Ia merogoh kantung celana.


Braga menelfonnya.


“Dad, ada inforrmasi yang harus Braga beritahukan ke daddy, mungkin daddy tidak sadar beberapa hari ini karena Bryna menghindar terus saat dirumah. Satu fakta yang harus Braga beritahu, pelipis Bryna terluka, didorong oleh Rahel sampai mengenai pojok meja. Apa daddy akan meragukan informasiku?”


"Daddy percaya."


“Oke, Braga tutup telfonnya. Ngomong-ngomong, ponsel daddy Braga sadap, tapi berguna 'kan?”


Mau heran, tapi itu Braga. Selama Braga masih mau bicara dengan Theo, apapun yang akan dilakukan oleh putranya tidak akan berdampak baginya, mau Braga pasang CCTV tersembunyi dalam kamar mandi Theo pun, ia tidak akan protes.


Namun, sekantung informasi dari Braga talak membuat Theo ingin menangis.


Bryna, sekali lagi sangat pintar menyembunyikan diri. Satu pertanyannya, apa Roseta tahu juga?


Theo bersumpah setelah pulang dari rumah neraka ini, pria itu akan menghampiri Bryna, persetan putrinya itu jika terus menghindar, kalau bisa Theo kurung saja dalam kamar, biar mengaku.


Theo ingin berguna untuk anak-anaknya.


"Daddy?" Yura menggantungkan pertanyaannya.


"Dia Bryna, putriku, yang sebenarnya, sudah tahu 'kan?" Theo masih tidak ingin identitas Braga terkuak.


Meski mengatakan dengan lantang, Theo mendadak kaku ditempat karena sosok Rahel berada diambang pintu utama, tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangannya.


"Papa," Rahel berteriak.


Theo otomatis berjongkok karena Rahel sudah berlari kearahnya, meminta sebuah pelukan. Ya Tuhan. Anak ini tidak punya salah dengannya, jujur Theo bingung harus bersikap seperti apa.


"Hai princess, papa pulang." Theo terpaksa meski hatinya sakit.


Mengalami moment seperti ini membuat Theo teringat anak-anaknya lagi. Membagi cinta dengan Rahel membuat hati Theo tersayat berkali-kali lipat lagi.


Sembilan tahun lamanya, Theo tidak memberikan cinta kepada Bryna dan Braga. Ini tetaplah tidak adil.


"Princess, papa mau berbicara penting dengan mama, princess masuk dulu ya."


"Tapi,"


Kalimat Rahel menggantung, ia sangat merindukan Theo, tapi bagaimana lagi. Bukankah sedari dulu ia selalu menurut. Theo bukan hanya seorang ayah bagi Rahel, tapi sosok yang selalu ingin ditiru dan sangat ia kagumi.


Theo memandang teduh wajah putih bersih milik Rahel. Kasihan. Putri kecil ini sngat kasihan. Tapi Theo tidak bisa berbuat lebih, demi anak-anaknya.


"Papa mau pergi lagi?"


Theo menggeleng, "Tidak, hanya sebentar, nanti papa temuin Rahel lagi. Oke princess?"


Rahel mengangguk senang dan berlalu dari tempat ini. Sedangkan Yura yang melihat interaksi Rahek dan Theo merasa bahagia luar biasa.


"Aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi dirumah ini. Tanggung jawabmu adalah menjelaskan kepada Rahel. Mengenalkan dia siapa sosok ayah sebenarnya. Jika kau mau tahu dimana Mark berada, jeruji besi tempatnya."


Urusan Mark sudah ditangani tepat oleh Martinus, pria brengsek musuh besar Theo sudah ditahan oleh polisi dan menempati ruang tak lebih dari 2x2 meter saja.


Yura menggeleng, ia menangis seperti orang gila, mencekal lengan Theo dengan kuat. "Kamu tidak bisa meninggalkanku Theo, kamu milikku, selamanya kamu adalah milikku."


Theo bersikap sangat tenang, Yura sudah kelewatan. "Kita sudah resmi bercerai, aku sudah mengajukan semua gugatan dan semua bukti kejahatanmu, beruntung Roseta tidak mau kau dipenjara. Sekarang aku punya keluarga sendiri, jadi aku mohon, cukup, hanya ini yang ingin aku katakan."


"Tidak akan, atau aku bunuh diri di depanmu."