ROSETA

ROSETA
Bryna, Oh Bryna!



"Bryna, kamu pulang dengan siapa?" tanya Swan saat tubuh mereka berdua sudah ada di pelataran Sekolah.


Cuaca sangat terik menjelang jarum jam menuju angka satu lebih tiga puluh menit di siang hari. Swan yang sudah akan pulang dengan Jeko lantas menyempatkan untuk mengobrol sejenak sembari menunggu ayahnya mengambil mobil dari garasi.


"Aku jalan kaki ke Rumah Sakit seperti biasa, Swan. Mungkin main sebentar di arena skateboard dekat taman," jawab Bryna. Gadis itu juga menunjukkan papan skate yang sudah digapit antara lengan dan pinggang.


"Apa aku boleh ikut?" 


Bryna menegakkan jari telunjuknya dan menggoyangkan kekanan dan kekiri. "Tidak boleh," tolaknya. "Kamu harus ikut John Uncle ke perusahaan 'kan," lanjutnya.


Swan mendengus, benar juga yang dikatakan Bryna. "Ya sudah, kamu hati-hati, Bryna. Aku berangkat duluan," pamit Swan akhirnya. Tidak lupa bocah laki-laki itu melambaikan tangan sambil berlari. Bryna pun membalas dengan senyum yang terpatri.


Bryna berlari kecil mengikuti rute yang biasanya dia lewati untuk menuju Rumah Sakit. Tujuan utama memang tempat itu, tapi Bryna tadi bilang pada Swan akan mampir untuk bermain skateboard terlebih dulu.


Sedangkan dari jarak sepuluh meter, bahkan saat pertama kali Bryna melangkahkan kaki dari gerbang sekolah, Theo mengikutinya dari belakang, pria itu memang sengaja ingin melihat putrinya walaupan dengan mengendap-endap. 


Theo menggunakan setelan celana trining dengan tangan dimasukkan di saku, juga hoodie hitam dengan tudung menutup kepala. Jika dilihat dari jauh, pria itu persis seperti penculik yang sedang menguntit anak kecil sebagai mangsa baru.


Bagaimana tidak.


Saat Bryna berhenti oleh sebab lupa lirik karena sedari tadi gadis itu bernyanyi, maka Theo juga akan berhenti sembari mencari tahu lirik apa yang di lupakan Bryna. Lalu, begitu Bryna melangkah untuk meneruskan jalannya, Theo juga akan mulai mengikutinya lagi, persis seperti penguntit bukan?


Bruuuuk.


Astaga, Bryna jatuh karena kurang hati-hati. Masih ingat jika gadis itu sangatlah teledor. Bryna meringis saat tubuhnya tengkurap di atas aspal, pasrah sekali sampai lama untuk tetap bertahan dengan posisinya.


Theo membolakan matanya dan langsung berlari lebih cepat agar dapat membantu Bryna untuk bangun dan berdiri, namun langkahnya terhenti saat gadis itu sudah berdiri lagi.


"Jangan cengeng, jangan cengeng Bryna. Ini tidak seberapa dibandingkan Kak Braga yang terbakar dalam mobil. Kau tidak boleh menangis."


Theo mencelos mendengar penuturan Bryna yang blak-blakan mengenahi tubuh mengenaskan dari kakaknya. Bagaiman bisa bocah piyik seperti itu mampu mengatakan hal yang sangat pahit untuk di kenang, bahkan sangat sakit untuk dirasakan. Roseta mengajarkan kesabaran yang luar biasa kepada putri mereka.


Setelah Bryna menepuk-nepuk rok seragamnya yang sedikit kotor akibat terjatuh tadi, kini mata besarnya memindai lutut yang sedikit tergores. "Untung tidak parah," ucapnya sembari bergidik. "Jangan sampai Mommy tahu atau Mommy akan mengomel dua puluh empat jam," lanjutnya.


Theo sontak tertawa dengan membekap mulutnya agar tidak terlalu keras mengeluarkan suara. Mendengar ocehan Bryna membuatnya dapat membayangkan Roseta dengan omelannya. Terlintas sejenak keinginan Theo untuk tinggal dan membangun keluarga kecil bersama Roseta dan putrinya. Memikirkan itu, Theo jadi menunduk dan tidak yakin jika ia dapat mewujudkannya.


Bryna melanjutkan lagi perjalannannya dengan Theo yang tetap dibelakangnya. Theo berbelok ke arah taman yang Theo bangun khusus untuk Roseta, pria itu masih ingat saat dirinya dan Bryna saling berpelukan untuk menghilangkan kedinginan di kursi kayu.


"Yuhu Mommy, namamu sangat cantik," ucap Bryna dengan telunjuknya membidik papan nama yang Theo buat untuk Roseta.


Roseta Marveen-Rose Garden.


"Bagaimana Bryna bisa tau?" gumam Theo yang merasa sedikit terkejut.


Masih dengan keterkejutannya, Theo mengerutkan kening serta tetap mengikuti langkah Bryna lagi. Gadis kecil itu berhenti di pinggir arena skateboard. Kelakuan gadis itu yang selanjutnya membuat Theo membolakan mata dan rahangnya jatuh seketika.


Dengan tidak tahu malunya Bryna membuka roknya, lantas Theo mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah, takut-takut jika ada manusia lain selain dirinya dan Bryna.


Astaga. Theo bernapas lega sambil mengelus dada. Ternyata Bryna tidak sebodoh seperti yang Theo duga. Dalam rok, gadis itu masih menggunakan celana pendek. Bryna akan bermain skateboard, maka dari itu lebih nyaman menggunakan celana saja.


Bryna tidak langsung menuju lapangan. Melainkan duduk di kursi pinggir dan mengelurkan dua sandwich dari ranselnya. Satu sandwich Bryna pegang dan sisanya ia letakkan di sisi kosong yang berada disampingnya.


"Ini buat Kakak," ucap Bryna


Theo mendengar, jelas sekali. Jarak mereka hanya satu meter saja dengan Theo yang duduk di balik pohon besar.


"Kak Braga. Bryna marah lho sama Mommy. Kalau kakak ada disini pasti kakak juga akan marah. Tapi Bryna tidak benar-benar marah kok, mana tega Bryna begitu. Hanya saja, Bryna sedikit kecewa karena tidak diperbolehkan bertemu Daddy lagi. Apa yang harus Bryna lakukan Kak?"


Bryna meracau dengan sebentar-sebentar mengunyah sandwich yang sudah termakan seperempat. Sedangkan Theo merasa bingung dengan apa yang dikatakan Bryna, mana mungkin Roseta melarang Beyna untuk bertemu Jay yang notabennya menjadi Daddy gadis itu. 


Apa mereka bertengkar?


Tapi sebagai Ibu, sangat salah jika melarang anaknya bertemu dengan ayahnya, ya terkecuali Theo yang memang sudah kepalang keparat yang tidak diperbolehkan Roseta untuk bertemu Bryna putrinya. Theo sadar kok, sangat sadar.


"Hiks, hiks, Bryna sangat rindu Daddy Kak. Kemaren Daddy terluka, tapi Bryna berhasil membawa Daddy ke rumah sakit, biar diobatin Mommu." Bryna terisak sambil berkata. 


Theo merasa sangat familiar dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa mungkin!" tebaknya yang masih tertahan karena tidak cukup yakin.


"Hari ini adalah hari ulang tahun kita, aku akan bercerita banyak, jadi dengarkan, karena aku tidak akan melakukannya lagi di hari lain. Tapi Mommy sangat menyebalkan Kak. Mommy lupa dan membelikan kue sebelum waktunya. Terlalu cepat dua hari. Mommy sudah pikun rupanya, sudah mulai tua."


Theo dibuat meringis kali ini. Betapa Bryna sangat cerewet jika berbicara dengan Braga yang bahkan bayangannya saja tidak ada. Theo menyesal melewati momen-momen bersama anak-anaknya. Hukuman apa yang pantas diterimanya, dengan lapang dada Theo berani mengambil konsekuensinya.


"Hm. Kak, apa kamu mungkin bisa merasakan lewat tubuhku saat aku bisa mencium Daddy, memeluk Daddy, berbicara dengan Daddy, tertawa dengan Daddy bahkan aku pernah menangis sambil berpelukan dengan Daddy, di taman mawar sana, Daddy mengeluhkan takdir buruk."


Theo masih diam. Kenaoa oraduga Theo mengatakan yang dibicarakan Bryna adalah dirinya? Dan kenapa segala yang dibicarakan Bryna begitu menyakitkan untuk didengarkan. 


"Hiks, Kak, sandwich ini Beyna makan ya, butuh tenaga banyak untuk bercerita, Bryna menagis pula, jangan menertawakan Bryna dari atas ya."


Ya Tuhan. Theo sungguh ingin merengkuh Bryna saat ini juga.


Persetan dengan Roseta yang melarangnya.


Mana tega ia melihat Bryna berceloteh dengan tangis yang begitu memilukan. 


Theo bangkit dari duduknya dan segera melangkah menuju tempat Bryna. "Bryna," panggilnya dari belakang.


Bryna berdiri dan merotasikan kepalanya untuk menoleh ke belakang, ke arah Theo.


"Daddy." "Ups." “Uncle.”


Mata Bryna membola dengan tangan membekap mulutnya. Jantungnya sudah berlarian untuk meninggalkan Bryna sendirian. Perlahan tangannya mulai melepas dekapan dari mulut untuk mengurangi kecurigaan.


"Hai, Th…Theo Uncle." sapanya dengan tangan melambai, kikuk sudah pasti.


Theio menelisik gerak gerik Bryna. Mau mengelak pun, sepertinya yang sedari tadi dibicarakan Bryna adalah dirinya. Theo juga tidak tuli mendengar saat Bryna reflek memanggilnya dengan sebutan Daddy.


"Panggil Daddy," pinta Theo lembut sembari bertumpu di depan Bryna. Memandang lekat bola mata Bryna dengan sisa air matanya.


"Bryna, pangil Daddy, bisa sweety?" pinta Tgeo lagi dengan lembut, terlebih memohon.


Hal tak terduga selanjutnya membuat jantung Theo berdegup kencang. Bryna dengan tiba-tiba menghamburkan pelukan sampai Theo tak bisa menyeimbangakan jongkoknya, otomatis Theo terduduk di tanah dengan Bryna yang mendekap lehernya.


"Hiks, Bryna tertangkap. Daddy menemukan Bryna, hiks," ucap Bryna dengan isakannya.


Theo membalas dan mengeratkan pelukannya untuk Bryna. Benar seperti dugaan, hasil menguping hari ini tidak sia-sia. Ternyata putrinya sudah tahu dirinya sebagai ayahnya.


"Daddy, Bryna menyembunyikan ini semua dari Mommy. Jadi please jangan beri tahu Mommy ," pinta Lily kemudian.


Theo tidak langsung menjawab. Masih memproses prmintaan Bryba untuk di sortir guna mendapatkan kelayakan untuk dikabulkan apa tidak.


Tapi posisi Theo tidak tenang dengan masih duduk di tanah. Theo memilih untuk mengangkat Bryna dan membawanya duduk di kursi, lalu melonggarkan pelukan untuk dapat melihat wajah cantik Bryna.


"Jadi. Bryna tahu Daddy dari siapa kalau bukan dari Mommy?" tanya Theo memastikan. Wajar saja, ia kira Bryna diberitahu Roseta semenjak terbongkarnya rahasia tempo hari.


Bryna tiba-tiba merasa malu ditatap Theo seperti itu. Saat belum ketahuan, maka Bryna akan terang-terangan mencuri pandang. Tapi jika sudah terbongkar, Beyna tersipu hanya untuk memandang.


Tapi Bryna berusaha untuk menatap balik wajah ayahnya. "Dari Kak Braga dua tahun yang lalu sebelum Kakak meninggal karena kecelakaan," jawabnya.


Theo semakin penasaran, jika Braga anaknya dan Braga yang ditemuinya dilapangan basket adalah orang yang sama, tidak mungkin juga Theo diabaikan waktu itu. Laki-laki cilik itu sama sekali tidak terkejut atau setidaknya memberi tanda-tanda.


"Lalu, Kak Braga tau dari siapa?" 


Beyna menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk menjawab. Tapi Bryna punya firasat jika ayahnya ini bisa menjaga rahasia. "Kak Braga sendiri yang mencari tahu. Kakak sangat cerdas," jawabnya. 


Kini tangan Bryna menyamping untuk meraih ransel dan merogoh bagian paling terdalam seperti tempat persembunyian rahasia di dalam sana, jam tangan hitam yang sama persis seperti milik Braga telah dikeluarkan Bryna.


Bryna memencet berbagai tombol panel di pinggir jam tangan hitam itu, dengan sesekali menahan halauan ingus yang akan keluar akibat sisa tangisannya.


"Daddy punya alamat email?" 


"Tentu saja," jawab Theo


"Coba Daddy sebutkan," pinta Bryna selanjutnya.


Sembari Theo menyebutkan emailnya, Bryna menyodorkan jam tangan miliknya layaknya speaker karena di dekatkan tepat di depan bibir Theo.


"Buka ponsel Daddy."


Saat itu juga, Theo merogoh ponselnya. Email masuk dari akun dengan nama Bryna putrinya. Theo menggulir isi surel itu, dan betapa mengejutkanya saat Theo membaca semua yang sangat-sangat jelas tercetak di dalamnya.


..._______________________________...


...Lembar pertama: ...


...Matheo Ranu Pandega...


...1. Braga Samanta ...


...2. Bryna Samanta ...


...Kecocokan DNA 100% ...


..._______________________________...


...Lembar kedua: ...


...(Photo Theo)...


...-Itu photo Daddy kita Dek. Kita jangan mencari, biarkan Daddy yang mencari kita. Jika ada keberuntungan dan takdir membela, pasti kita bisa bertemu dengannya. Tapi jika sesuai rencana Mommy saat kita dewasa nanti, akan kupastikan wajah tampan itu babak belur.  ...


...___________________________...


Theo membaca pesan itu yang pastinya dari Braga putranya. Pantas saja Bryna pintar berkata bijak, kakaknya saja juga sama. Tapi, sedikit ngeri membayangkan Braga akan menghajar wajah tampannya. Tapi jika itu terjadi Theo siap untuk menerima.


..._________________________...


...Lembar Ketiga. ...


...(Photo Yura)...


...-Her wife-Yura ...


...Lebih cantik Mommy Dek. ...


...___________________________...


Theo mengangguk setuju dengan pendapat putranya.


...__________________________...


...Lembar keempat. ...


-Daddy say, "my princess." Namanya Rahel.


...Please don't cry, masih ada Jay Daddy yang sangat menyayangi kita. ...


...__________________________...


Kali ini Theo mencelos membaca tiap kata dari Braga. Matanya memindai wajah Bryna untuk dipandang. Princess sebenarnya adalah gadis yang berada dipangkuannya. Mungkin memang terlambat, tapi Theo masih beruntung dapat bertemu dengannya.


Theo menutup ponselnya. Masih tak bergeming dengan kesadaran penuh yang menubruk kebodohannya. Putra putrinya sudah mengetahui dirinya sejak lama, dan dengan amarahnya Theo tidak tahu apa-apa dan melewatkannya begitu saja.


"Daddy, soal ini. Mommy juga tidak tau. Kami menyembunyikan dari Mommy. Jadi, Daddy mau berkompromi 'kan?"