ROSETA

ROSETA
Bola Basket



"Posisi masih lantai satu, Kak Haidan siap-siap retas."


Haidan yang sedang mematung dengan wajah pucat pasi disisi penyuruh seakan tak mendengar. Antara takut dan takut, tidak ada pilihan, menolak bakalan hancur lebur alat elektroniknya atau berbagai ancaman lainnya membuntut di belakang, dan menurut bakalan hancur masa depan si Ujang di bawah sana, iya, seseorang menyumpahi akan menyunat ulang jika melanggar aturan akibat menuruti kata bocah disampingnya.


"Boleh aku terjun saja dari jendela sana." Haidan berbicara polos sembari menunjuk arah jendela di samping kiri.


"Beloh, silahkan." Seriangaian itu tercipta dibibir kecil lawan bicara.


"Ayolah Ga. Kenapa tidak kau saja!!"


"Kalau aku sudah pasti ketahuan, Kak. Lagian Kak Haidan pakai nama abal-abal lah, nanti langsung aku hapus datanya biar nggak ketahuan."


Haidan pusing. Kenapa bocah ini selalu berputar-putar. Jika menuntut keahlian, jelas saja Haidan kalah talak. "Sama saja, Ga. Sekalian pakai punya kamu, kenapa harus punya Kak Haidan sih."


"Pusing aku, Kak. Kalau langsung punya aku, Nyonya besar pasti tahu. Gimana to Kak Haidan ini. Lama-lama aku kirim Kak Haidan ke kampung lagi mau."


Ancaman itu menakutkan. Di kampung tempat lahir Haidan sama sekali tidak menyenangkan. Pemuda  beranjak dewasa dengan umur 20-an itu korban bully dari pertemanannya karena tidak punya orang tua, yang akhirnya bertemu dengan seseorang yang membawanya ke tempat ini, nasib sial memang, disini pun ia di bully oleh bocah piyik banyak maunya, tapi untung digaji besar.


Haidan lemas tak berdaya seraya menyimpuhkan badan layaknya pengemis di jalanan, menyatukan telapak tangan memohon sebuah keringanan. "Ga, kak Haidan nggak mau di sunat, Nyonya bakalan marah besar."


Bocah kecil itu menahan senyum. "Ya nggak apa-apa di sunat lagi Kak, punya Kak Haidan kepanjangan. Punyaku lebih pendek, biar kita samaan!!" ucapnya sembari menaik turunkan alis main-main.


Haidan mendadak suram. Ya pantas saja punya si kecil lebih pendek, toh nanti kalau sudah dewasa bakalan memanjang dengan sendirinya. Ya Tuhan. Kenapa majikannya ini begitu menyebalkan. Haidan selalu kalah, dan mulai detik ini, Haidan tidak akan membiarkan bocah ini masuk seenak jidat jika ia sedang melakukan ritual mandi, Ujang harus di jaga kelestariannya.


"Ini terakhir kalinya ya, Ga. Setelah ini aku nggak mau main-main retas lagi, Kak Haidan mau hilang ingatan biar lupa sama ilmunya. Mending jadi budak saja."


"Dih, Kak Haidan, sejak kapan suka mengancam."


"Kamu yang ngajarin, Ga." Jawabnya polos.


"Oke. Aku turutin nih. Kak Haidan jadi petani padi saja kalau begitu."


Oh. Tidak. Haikal bakalan tidak mau. Panas, gatal akan menjadi teman abadi jika berurusan dengan padi. Apalagi matahari yang menyorot tajam dari atas, sudah berkulit hitam, tambah hitam lagi. Apa kata gebetan kalau Haidan berwajah kusam bak pantat panci kurang gosokkan.


"Atau, Kak Haidan mau ja......"


Pasrah. Hampir saja Haidan mengangkat ipad yang ada ditangannya sebelum seseorang yang baru keluar dari kamar hotel yang mereka tempati menghampirinya. "Haidan, kau tidak harus menuruti Braga, dan ini Ga ada telepon untukmu." Dylan memberikan ponsel pada bocah cilik bernama Braga yang sejak tadi memimpin obrolan, lalu Dylan juga merampas ipad dari tangan Haidan.


"Dari siapa?"


"Nyonya besar."


Braga menepuk jidak. "Mati aku."


"Cepat angkat." Suruh Dylan datar.


"Halo. Siap Nyonya." Braga menjawab seketika ponsel berada di daun telinganya.


“Braga. Mau kupukul pantatmu. Kamu bolos sekolah malah main-main ke hotel. Kamu belum siap jadi pewaris, Nak. Jangan ganggu Om Raymom.”


Braga menjauhkan ponsel. Suara nyaring itu memekakkan telinga. "Kak Dylan, Nyonya besar ngamuk. Serem." ucapnya polos.


"Rasain." Haidan merasa puas, tapi takut juga.


Sedangkan Dylan sama sekali tidak menggubris. Pemuda sepantaran Haidan itu sedang sibuk dengan ipad, kombinasi rumit yang ia masukkan pada keyboards membuat Braga tersenyum tipis.


“Braga. Nenek nggak main-main. Kenapa kamu bolos sekolah.”


"Calm down, Nyonya. Lagian hari terakhir sekolah 'kan? Besok Braga sudah akan pindah."


“Tetap saja, Braga. Kamu jangan nakal. Nenek sudah tua, jantungan, mati, nanti kamu nangis. Nenek sakit gigi saja kamu nggak bisa tidur. Ayo cepetan pulang.”


Braga mencibir neneknya yang super cerewet dan berbicara layaknya orang nge-rap. "Oma ku tersayang, Oma masih ingat punya anak super bodoh apa tidak?"


“Braga. Sebodoh apapun itu, kamu tidak boleh berkata tidak sopan kepada Ayahmu sendiri.”


"I know, Oma. Tapi kenyataan bodoh tidak bisa dihilangkan, Braga nggak salah, orang Oma sendiri yang bilang, berkali-kali lagi. Guru terbaik bagi Braga adalah orang terdekat, yaitu Oma, O ditambah M ditambah A. Periodt."


“Lanjutkan, Nak.”


"Akhirnya Oma paham. Nih, Braga kasih tahu. Orang bodoh itu lagi di hotel milik Oma. Bikin berita heboh di Negara I bersama mantan istrinya. Gimana tuh, yakin Braga harus pulang ke rumah sekarang juga? Mau kalau seumpama kejadian delapan tahun yang lalu terualang kembali?" Bocah piyik itu serius dengan ucapannya, tangan kanan bebasnya sedang memantulkan bola basket berkali-kali.


“Apa yang akan kamu lakukan? Braga jangan macam-macam, Oma hubungi Om Raymon sekarang juga.”


"Too late, Oma. Too late." ucap Braga penuh seringai, matanya panas memandang lift yang baru terbuka. "Oma, serahkan daddy pada Braga." Seketika itu, ponsel dilempar kesembarang arah oleh Braga.


Ponselku bernasib malang. Dylan melirik ponsel yang sudah retak di screennya.


Masa bodoh. Lalu Dylan mematikan sistem agar lift terbuka lama sampai urusan mereka berhasil meringkus hama yang sedang bercumbu di dalam pintu bermesin tanpa terganggu oleh pandangan tiga orang di depannya.


Dylan masih dengan ipad di genggamannya.


Haidan bersendekap tangan layaknya jagoan yang siap tempur tanpa keraguan.


Sedangkan Braga dengan bola basket yang sudah ia dekap dengan kedua telapak tangan mengarah ke atas dan siap melempar.


"Wow, so sexy." Dylan menyeru setelah matanya memandang cukup lama balutan sexy si wanita bringas yang masih memangut rakus bibir lawan mainnya serta tangan keduanya yang saling meremat satu sama lain.


Menjijikkan. Suara dentuman keras akibat bola basket yang mulus nyaris memecahkan kaca dalam lift jika saja si kepala pria di dalam sana tidak menerima umpan dengan baik.


"Very smooth touchdown." Seru Braga datar.


"Aaaaaaaaaa....." si wanita menjerit histeris, membekap mulutnya sendiri melihat pria yang semula beradu hawa panas di depannya mendadak tergeletak lemas di bawahnya.


"Are you already satisfied, Auntie??" Braga bersuara.


"Who are you, and what do you mean by this?"


Braga tampak mengangkat sebelah bibir miliknya. Seringaian itu sama sekali tidak cocok untuk ukuran laki-laki piyik umur sembilan tahunan. "Oh lupa. Kenalin, namaku Braga, tante Yura."


Yura. Wanita itu terkejut oleh Braga yang setenang air telaga memperkenalkan diri, pun sudah tahu juga dengan namanya. Hal mengejutkan lainnya adalah, bocah ini menyerang Theo dengan tak terduga.


Apakah orang dari Negara I?


"Nggak usah terkejut begitu, Tan.....Oh iya, Tante mau ikut Braga atau pulang sendiri. Braga mau bawa orang itu." Braga menawari dengan ucapan datarnya lalu menunjuk orang yang sudah menutup mata dibawah sana.


Tidak sopan? Terserah Braga saja.


Braga mendekat ke dalam lift tanpa gentar sedikitpun, mata elang laki-laki cilik itu sempat melirik Yura yang memundurkan langkah memberi jarak luas. "Jangan sentuh. Kau siapa?"


Braga yang sudah akan berjongkok ingin mengamati korban lemparan bola basketnya jadi mengurungkan niat begitu mendengar larangan pun pertanyaan Yura yang sangat ingin ia abaikan. Braga dengan santainya, seperti orang berjemur di pinggir pantai, merogoh sakunya, mengambil benda plasma miliknya.


Braga yang sibuk membuka pin ponsel tidak lupa memberi jawaban, "Masih mau cerewet?" Tanyanya, "Braga tidak suka wanita super cerewet. Apalagi......." Braga menjeda dan mendongak mengamati tubuh Yura yang terbalut pakaian terbuka. "Ck. Mau Braga belikan pakaian layak pakai, Tan?" Lalu Braga melempar card mengkilap miliknya yang berada di balik case ponsel yang baru saja ia lepas yang tepat mengenai perut Yura lalu terjatuh dan tergeletak di lantai.


Geram. Yura merasa terhina. Kartu itu berwarna dasar hitam dilengkapi emas murni 23,5 karat di sisi kiri dan atas. Emas tersebut dilapisi berlian. Diamond Mastercard namanya; menjadi kartu kredit terkuat di dunia karena nasabah bisa menggesek kartunya di manapun tanpa batas. Yura sangat tahu, bahkan ia tak bisa memiliki kartu itu meskipun ingin. Jadi, saat wanita itu dilempari oleh Braga dengan benda yang sangat tak ada nilainya bagi si pemilik, sontak membuat Yura merasa ada sebuah kaki yang menginjak-injak harga dirinya.


Yura mendekat lalu berkata, "Kau, bocah siala..."


"Hey, look at this bi**h. Tante tahu 'kan pelacur itu siapa?" Braga mengehentikan Yura yang akan mengumpatnya dan juga mungkin akan memberikan pukulan di kepalanya. Braga menunjukkan sebuah Video pada ponsel berukuran 6,9 inci yang sedang ia putar.


Yura termamung melihat pelacur yang Braga katakan adalah dirinya sendiri yang sedang menyuap pelayan untuk memasukkan obat pemicu birahi. Seakan waktu berhenti untuk berjalan, Yura merasa lemas di sekujur tubuhnya. Harga dirinya terinjak untuk kedua kalinya oleh sebab sebutan pelacur yang mengudara bebas di depan telinganya.


"Pilihan gampang sih. Tante pulang, atau ikut Braga!! Kalau pulang, tunggu Braga menyeret orang ini dulu buat keluar, Tante bisa 'kan naik sendiri ke kamar hotel Tante?"


"Ka...u ini sebenernya siapa?" Yura menjerit, sangat malu akal busuknya diketahui dengan mudah oleh bocah sialan di depannya.


"Aku?"


"Jangan berbe..."


"Aku adalah mala petaka, Tante. Aku harap Tante hati-hati mulai sekarang."


Braga menoleh kebelakang mengabaikan Yura dengan tatapan nyalangnya. "Kak Haidan, nggak usah sok keren." Haidan memang sedari tadi masih bersendekap dada dengan kepala diangkat sepenuhnya. "Ini enekanya diseret apa diangkat?"


Dylan sampai menepuk jidat mengetahui ide Braga untuk menyeret pria yang bersetatus sebagai anak dari nyonya besar yang menggajinya dengan nominal tidak wajar. Bisa-bisa digorok bu Dera jika ketahuan.


"Sebentar, Ga. Aku sudah manggil orang-orang berotot." Dylan mencoba untuk menghentikan Haidan yang sudah akan menyeret tangan korban lemparan bola basket Braga.


Tak menunggu lama, para orang berbaju hitam berjumlah tiga orang siap sedia mengangkat pria itu untuk diletakkan di tandu layaknya pasien sekarat yang butuh pertolongan darurat. Braga sangat yakin jika ayahnya yang bodoh itu hanya pingsan saja.


"Hentikan!!!" Yura yang semula termanung tak bisa berkata sekarang mulai lagi dengan protesannya.


"Apa lagi?" Braga memutar bola matanya.


Hari ini adalah hari paling sial untuk Braga. Bocah itu sangat jarang beradu kata, cenderung mengangguk atau berkata seadanya. Tapi, untuk kasus Yura yang melibatkan ayahnya, Braga harus merelakan tenaganya terbuang untuk sebuah perdebatan.


"Jangan bawa suamiku. Kalian melakukan tindakan kriminal, melukainya, lalu sekarang menculiknya."


"Istri mana yang repot-repot memasukkan obat perangsang untuk suaminya sendiri?" Braga tertawa, mengejek lebih tepatnya. "Mimpi jangan terlalu tinggi, Tan. Aku sudah cukup sabar saat ini."


Yura hampir saja melupakan jika Braga memiliki rekaman sialan itu. "Kau tidak tahu siapa pria itu. Kau akan menyesal telah melakukan hal semena-mena padanya."


Braga semakin terbahak. "Tentu saja aku tahu siapa dia. Tante yang akan menyesal."


Suara sepatu yang beradu dengan lantai cepat terdengar dan semakin keras mengahampiri kerumunan. "Tuan Matheo." ucap pria berlesung pipit saat melihat Theo yang sudah berada di atas tandu berwarna orange.


"Om Ray."


"Braga. Apa yang kam........Nyonya Yura."


Raymond masih mencerna apa yang dilihatnya saat ini bukanlah sekedar fatamorgana saja. Di luar lift ada Theo yang tergeletak pucat yang ia sadari adalah anak dari Boss yang sudah mempercayakan hotel besar ini untuk dijalankannya. Lalu di dalam lift ada Braga, cucu dari Boss nya juga, yang artinya dia adalah anak dari Theo mengingat Bu Dera hanya memiliki anak tunggal, dan sekarang menjanda tanpa mau memiliki suami lagi.


Yura? Mantan istri Theo itu juga ada di dalam sana. "Raymond." Yura nampak tak percaya. Tapi tidak mau berkata sepatah kata lagi selain menyebut nama.


Raymond tentu mengenal Theo. Dulunya, Raymond adalah senior Theo di kampus. Lalu bekerja menjadi kepercayaan tuan besar Pandega. Setelah ayah Theo meninggal, Raymond dengan suka rela menjadi orang yang akan setia berada di belakang Dera Pandega.


"Om Raymond. Braga nggak mau ngejelasin apa-apa. Usir wanita ini. Aku nggak mau lihat."


"Tapi Ga..."


"Aku nggak mau dengar alasan apapun!!!!!" Braga menatap Raymond dengan garang. "Blokir nama dia dari semua cabang hotel Diamond." ucapnya tegas mengakhiri kalimat lalu melenggang dengan diikuti Haidan dan Dylan di belakangnya, tidak lupa juga dengan bodyguard yang membawa Theo dalam tandunya ikut melangkah mengikut ke arahnya.


"Kak Haidan, jangan coba-coba mengambil apapun yang sudah aku buang!!" Braga berkata karena melihat Haidan akan berbalik arah masuk dalam lift.


"Orang kaya, bikin mubazir saja." Haidan merutuk, gagal sudah mengambil kartu kredit yang dibuang percuma di dalam lift. Beruntung sekali nanti jika ada orang beruntung yang menemukannya.


Hotel Diamond Sand adalah milik keluarga Pnadega yang dipimpin oleh Dera namun dijalankan oleh Raymond sebagai kaki tangannya. Keberadaan Braga memang di sembunyikan, hanya orang terpercaya yang menyadari kehadiran bocah kecil itu. Pun Raymond sebagai pengabdi setia keluarga Pandega talak menerima perintah apapun yang layang Braga ucapkan. Tanpa berbelit dan tegas untuk menjalankan.


Dan kenyataan yang paling valid adalah; Braga Pandega yang sebenarnya adalah anak dari Matheo Ranu Pandega sudah diangkat sebagai anak kedua oleh Dera ibu dari Theo. Rumit. Tapi beginilah cara Dera menyelamatkan keluarga kecilnya.