
Bryna dan Braga sudah sarapan, sudah mandi dan wangi juga. Rencananya hari ini Bryna akan ikut Roseta pergi ke cafe, entah apa yang akan dilakukan anak gadis Roseta itu, sedangkan untuk Braga, lihat saja, mana sempat ia pergi untuk bermain, daripada waktunya terbuang sia-sia, lebih baik Braga pergi ke kantor saja, kantor ayahnya, Vante Company.
"Kak Braga nggak capek? Hari minggu istirahat lah, main bareng Bryna dan Swan di cafe mommy."
Braga memincingkan mata, "No!! Bermain hanya untuk anak kecil."
"Jika kak Braga lupa, umur kita hanya berjarak lima menit saja, nggak usah songong."
Braga mengabaikan protes yang Bryna berikan, ia sibuk menyiapkan laptop dan alat-alat lainnya sebelum Saga datang menjemputnya.
Bryna menunggui ibunya sembari bersandar diri di sofa. Ia melihat ke keliling rumah, dan ia baru ingat dengan kucing yang belum disiapkan makanan, singkat cerita, dua bulan yang lalu Jordan memberi Bryna kucing jenis Simase dengan warna hitam kecoklatan persis di titik wajah, telinga, kaki dan ekornya, sangat menggemaskan.
Bangkit dari sofa, Bryna berjalan ke arah bawah tangga, disana ada lemari kecil, lalu gadis itu membukanya, menyiapkan sedikit sereal di wadahnya, lalu gadis itu membawanya ke halaman belakang.
"Meyoong, mami datang."
Sangat menggelikan di telinga Braga yang mendengar, berkali-kali Braga itu menegur, jangan membiasakan diri mengajari kucing untuk memanggil mami, jika Bryna yang jadi mami lalu siapa papi-nya, dengan tegas Bryna menjwab 'Jordan Uncle' dan itu semakin membuat Braga ingin sekali melipat adikknya lalu disimpan di kantung celana, satu kekawatiran Braga, jangan sampai Bryna jatuh cinta kepada Jordan.
"Adek, ayo berangkat."
Bryna mendengar seruan itu saat tangannya mengelus bulu si kucing, hah, Bryna baru ingat jika ia belum memberi nama untuk peliharaan barunya, nanti saja tanya Jordan Uncle, pikirnya.
"Mom ayo."
Roseta mengamati Bryna dengan seksama, bagaimana perubahan wajah Bryna sudah mulai terlihat. "Adek, kok makin lama mirip mommy ya?"
"Kan adek memang anak mommy, beda cerita kalau anak anak mbak Asih."
Roseta menjadi gemas sendiri lalu mencubit pipi putrinya itu. "Dulu kamu itu bikin gemes lho dek, kok sekarang cantik sih, mommy takut kalah saing."
"Tenang mom, adek nggak akan rebut daddy dari mommy kok, selera kita beda." Jawab gadis sepuluh tahun itu, masih kecil sudah paham tentang selera.
Melihat Roseta yang terdiam, Bryna baru saja ingat jika mommy-nya itu sangat sensitif jika membahas soal Daddy, nah benar bukan, "Mommy jangan nangis dong, Bryna janji deh, kalau daddy pulang, sepenuhnya daddy milik mommy, seharian penuh, dihari pertama Bryna nggak akan ganggu."
Roseta tiba-tiba tersenyum, mengusap air matanya, lebay sekali pikirnya, tapi mau bagaimana, ia benar-benar merindukan Theo, rasanya sampai sesak di dada, kapan sih pria itu pulang?
"Udah ayo berangkat, udah cukup siang buat buka cafe."
Roseta memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh pak Anton, dan Bryna juga sudah siap untuk duduk disamping ibunya, "Adek, pakai sabuk pengamannya, kebiasaan ih."
"Oke mom." keduanya pun tak begitu lama berangkat dan meninggalkan rumah denganĀ klakson dibunyikan dua kali, dan dari arah pintu rumah, Braga melambai.
Tujuh bulan sudah Roseta menjalani hidup tanpa Theo, sedih, sangat menyedihkan jika mengingat satu bulan bagaikan seumur hidup, Roseta rasanya harus minum obat tidur setiap hari dan berangan-angan di saat pagi ada Theo yang tidur disampingnya.
Disepanjang jalan menuju cafe, Roseta mengamati bagaimana kebiasaan ini sudah sangat melekat pada dirinya, jika hari biasa ia akan mampir ke cafe di waktu sore, tapi untuk akhir pekan, Roseta bisa menghabiskan seharian penuh, seperti hari ini, Bryna pun juga terkadang ikut.
Setelah dua puluh menit perjalanan dengan kecepatan pelan, akhirnya Roseta sampai juga, cafe berlantai dua ini telah menemani dan berhasil membuat Roseta sedikit melupakan kesedihannya, karena ia tidak hanya sendiri, anak-anak muda yang berkunjung beserta pegawai yang asik diajak untuk ngobrol membuat Roseta merasa kembali muda dan bertambah segar saja, meski sudah berumur 28 tahun, ia menolak untuk tua.
Mobil Roseta terparkir dengan benar dimana sudah ada mobil Liliana juga disana, rupanya partner kerjanya yang satu ini berangkat lebih awal.
"Good morning Auntie Li..." Sapa Bryna saat tahu ada Liliana yang saat ini tersenyum menyambutnya.
"Morning sayang." Liliana mencium pipi Bryna . "Swan ada disana." imbuhnya.
Mata Bryna berbinar sekali lagi saat tahu Swan sudah duduk di sofa dengan laptop di meja, langsung saja gadis itu menyusulnya.
"Pagi bossku..." Sapa Liliana kepada Roseta yang terlihat muram, Liliana menduga pasti pagi-pagi wanita itu mendapatkan asupan rasa rindu yang masih belum terobati, kasian sekali.
Mendapati sapaannya sama sekali tak di gubris, Liliana menabok kening Roseta. "Disapa itu balik nyapa nyet, nggak sopan."
"Liliana....." Roseta dengan decak sebal yang dibuat-buat mengejar Liliana yang berlari kecil ke belakang.
"Mommy." Teriak Bryna tiba-tiba. "Adek lupa nggak bawa barang yang teramat penting ting ting ting." Ungkapnya.
"Sepenting apakah tuan putri?"
"Nggak begitu penting sih, tapi yaudah lah nggak apa-apa mom."
Boleh tidak Roseta sebal dengan anak sendiri. Mengabaikan Bryna bersama Swan di ruang tengah khusus untuk anak-anak mereka, Roseta melanjutkan pekerjaan dengan menyiapkan keperluan cafe.
"No worry worry San." Jawab Liliana, padahal disini yang menjadi boss siapa. "Kamu ganti baju dulu nanti baru bantu-bantu nurunin kursi." perintahnya.
"Dan kamu boss, kalau nggak mood kerja, mending istirahat deh. Urusan depan dan beres-beres ini doang biar aku dan Sandrea."
Roseta yang memang sedang badmood total beralih duduk di sofa empuk di pojok ruangan, membuka ponsel dan berselancar untuk melihat instagram. Semenjak membuka cafe, Liliana memberikan ide kepada Roseta agar membuka akun di salah satu sosial media untuk mempromosikkan cafe, dari mulai menu yang diphoto dengan bagus, interior-interior yang nampak cantik juga dipajang di sosial media, agar orang yang melihat tertarik dan mau datang berkunjung.
"Nah selesai." Roseta baru saja membuat insta story, menuliskan di instagram bahwa cafe Roses sudah buka.
"Li, kamu ngapain? SO ya?"
"Iya boss." Liliana dari kejauhan menjawab keras.
Bagian detail ini tidak bisa begitu saja ditinggalkan oleh Roseta, karena apa, untuk mengecek stok barang, perlu menguras energi pikiran dengan banyak, pun ketelitian juga diandalkan, daripada memikirkan Theo tiada habisnya, lebih baik Roseta membantu Liliana.
"Kan aku bilang kamu istirahat aja, boss."
"Nggak, males istirahat."
Tentu saja Roseta tidak akan menurut, wanita itu sudah siap dengan note dan bulpen kecil di tangannya. "Perut kamu itu udah gede banget Li, berhenti kerja, hampir lahiran, kalau kamu kenapa-kenapa, aku yakin Jeko pasti bunuh aku."
Ya, Liliana memang hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki sembilan bulan, tinggal menunggu hari saja.
"No, aku hobby kerja disini Roseta, bosan dirumah, mau ngapain."
"Yaudah deh, sini kamu yang duduk dan catet, aku yang akan hitung barangnya."
Liliana menurut, karena Roseta yang saat ini memerintahnya berbeda dengan Roseta yang biasanya, takut-takut boss-nya ini marah jika perintahnya tak digubris.
"Katanya anakku cewek lho." Pamer Liliana dengan senyum jumawa.
"Beneran? Serius?"
"Nggak percayaan amat sih."
"Ya Tuhan, setidaknya kalau benar cewek, jadikan anak Liliana seperti wanita pada umumnya."
Liliana melirik Roseta dengan keki. "Maksudnya????"
"Coba bayangin Li, kamu itu wanita jadi-jadian, setidaknya anak kamu nanti harus anggun layaknya aku."
"Sorry ya, aku ini limited edition, pemberani, cantik like berbie, tinggi, kaki jenjang dan disayang suami."
Muka Roseta kembali muram. "Nyindir?"
"Mulai, lebay."
"Lima bulan lama bangeeeeet sih."
"Alay."
"Alay kepalamu, kamu tahu, rasanya buat napas aja susah, tidur susah, ngapa-ngapain susah, rasanya hidupku bagai seonggok daging dengan sejumpit nyawa doang tanpa Theo."
"Alaaaaaaaaaaaaaay."
"Nggak hamil aku tendang kamu Li, tenangin kek, kas.."
Kalimat Roseta terhenti karena samar-samar telinganya mendengar Bryna menjerit sedikit keras, jika ia tidak tuli, baru saja ia mendengar putrinya itu menyebut....
"Mommy, daddy pulang, daddy ada disini."
Dunia Roseta terasa berhenti, jika saja kakinya tidak melemas, Roseta bisa saja lari dan menubruk Theo, tapi mau apa jika Tuhan berkehendak lain, Roseta dibuat terjatuh di gudang dan bersimpuh dilantai.
Roseta tak bisa berbuat apa-apa saat Theo datang diambang pintu dengan Bryna yang sudah ada digendongannya.
Rambut pria itu memanjang, ada sedikit jambang namun terlihat rapi yang menambah kesan dewasa pada wajahnya, tanpa mengurangi ketampanan, Matheo Ranu Pandega mengulas senyum lembut kepadanya dan juga pandangan yang Roseta tak tahu artinya apa.
Theo menurunkan Bryna, berjalan pelan menghampiri Roseta yang masih terduduk di lantai, pria itu menaikkan satu alis sembari berjongkok dan mendekatkan mulut pada telinga si wanita, "Hai calon istri, aku sudah memesan kamar hotel."