ROSETA

ROSETA
Bercanda?



"Dimana Roseta?" Dera menatap sekeliling meja tempat para tamu untuk sekedar mendudukkan pantat di salah satu kursi jika kemungkinan lelah berdiri.


Dera memasang ekspresi bingung melihat kesana kemari karena tak menemukan sosok Roseta. Bahkan, Sarah yang sempat terpikirkan oleh Dera pun tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Bukankah itu...Valerie..." Mata Dera menangkap sosok wanita mungil cukup sexy karena memiliki proporsi tubuh yang cukup isi—Valerie Rubby Jane—yang sedang tertawa terbahak dengan putaranya Theo beserta kedua cucunya Bryna dan Braga berada di antara mereka.


"Dimana Roseta?" Dera memecah suasana dengan menanyakan keberadaan Roseta kepada mereka.


"Oma," Bryna menunjukkan cengiran imut untuk ditunjukkan pada Dera yang saat ini menampakkan raut kecewa, kecewa karena lelah mencari Roseta maksudnya. Tapi tak mau mengabaikan Bryna, akhirnya Dera mengelus rambut tergerai hitam legam milik cucunya, sembari tersenyum ramah.


Sedangkan Braga sedikit terintrupsi saat Dera menyebut nama ibunya, lantas bocah cilik itu ikut menggerakkan kepala mencari keberadaan Roseta.


"Tante," Valerie yang belum sama sekali menyapa Dera akhirnya membuka suara. "Selamat atas kembalinya tante." Lalu wanita itu memeluk tubuh Dera.


Dera terpengerah menyambut dekapan hangat, lalu tersenyum untuk menerima ucapan selamat. "Terimakasih cantik. Kau masih ingin menyerah dan diam disini atau bergegas menyusul bocah edan itu?" Tiba-tiba Dera menanyakan pertanyaan yang membuat Theo mengerutkan keningnya, pun Valerie yang mendadak kaku di tempat.


Hawa dingin mendadak datang tanpa diundang, terlihat sangat jelas dari ekspresi yang Valerie tunjukkan. Padahal sebelumnya wanita itu begitu senang saat berhasil menjahili wanita yang sudah hilang dari pandangan.


Setelah beberapa saat berlalu, Valerie meloloskan helaan napas halus. "Aku sudah lelah, Tane. Lagipula mereka sudah bertunangan. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan orang, apalagi mengganggu seorang wanita yang jelas-jelas akupun juga seorang wanita, aku takut karma."


"Tunggu, apa ini maksudnya?" Akhirnya Theo yang penasaran ikut dalam obrolan.


"It...."


"Dad, Bryna mau menemui Jordan uncle ya." Bryna memotong pembicaraan karena matanya tiba-tiba menangkap sosok Jordan dari arah jam sembilan.


"Dipersilahkan sweety." Theo pun mengijinkan putrinya. Valerie tersenyum melihat kehangatan yang ditunjukkan Theo untuk Bryna, sangat jelas dari cara bicara hingga elusan lembut tangan pria itu di pucuk kepala.


"Aku nggak nyangka banget lho Tan, kok bisa Theo jadi bodoh gitu." Valerie seolah melupakan hatinya yang kelabu dengan beralih topik menindas kebodohan Theo di depan ibu pria itu.


Dera mengerutkan keningnya. "Kau sudah tahu?"


Dera yang penasaran lantas bertanya. Pasalnya berita ini belum tersebar ke Media. Niat Dera adalah hari ini ia akan mengumumkan cucu-cucu kandungnya di depan para kolega, namun harus bicara dadakan dulu dengan Roseta, tapi wanita itu malah menghilang, ada-ada saja.


"Theo beberapa hari ini membuatku pusing, Tan. Merecoki apartemen sampai bising dan akhirnya kupaksa cerita. Kaget awalnya, tapi waktu aku melihat Bryna dan Braga, aku langsung percaya dan terharu. Kok bisa begitu." Valerie sampai menggelengkan kepala, masih sulit untuk percaya jika nasib Theo begitu mengenaskan.


Mungkin memang itu karma, makanya Valerie tidak ingin menghancurkan perasaan wanita meski Saga sangat ia cinta.


Dera mengangkat bahu, tak tahu harus mengatakan apa, malu juga punya putra bodohnya sampai stadium empat, keterlaluan.


"Jadi. Kau mau menyesal? Kau mau kehilangan orang yang kau cinta? Dan terlambat seperti putraku yang bodoh ini. Tante sarankan, segera berangkat ke Negara C. Sekarang!! Perlu Tante booking tiket untukmu cantik?"


Theo menutup matanya saat lagi-lagi ibunya menyebut bodoh di depan orang. Sudah cukup. Ia lelah. "Ma, aku nggak bodoh, cuma salah ambil langkah. Terus kenapa ini mama ngotot banget membantu Valerie sedangkan mama malah membiarkanku hidup dengan Yura, delapan tahun Ma!!! Sekarang semuanya sudah terlambat."


Dera sempat mencelos saat Theo yang tak pernah bicara panjang menuturkan kemurkaan meski dengan nada lirih di depannya. Sorot matanya terlihat dingin, tidak seceria seperti saat bertemu Braga beberapa hari yang lalu di Negara S.


Aneh?


Dera juga merasa bersalah membiarkan semua kesalahpahaman meleleh menjadi bubur dan sangat terlambat untuk dijadikan nasi. Bahkan Dera juga bungkam saja saat ia berhasil menemukan Braga seorang diri untuk menyelamatkan nyawa bocah itu karena kelakuan terlewat semberono yang dilakukannya.


Ingin membongkar aib keluarga tapi seribu kali berpikir tak bertemu jalan keluar. Tepatnya delapan tahun yang lalu, Dera masih menjadi manusia egois. Tidak mau nama keluarga tercemar, terlebih lagi Yura yang memang sudah menjadi yatim piatu dalam keadaan hamil, jika bukan Theo maka wanita perusak itu akan bunuh diri. Sedangkan ia baru tahu Roseta hamil anak putranya tepat sesaat janji pernikahan Teho dan Yura.


Dera dilanda kebingungan luar biasa. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengasingkan diri dan mengawasi cucu kandung yang teramat kasihan karena menjadi korban para orang dewasa.


Dera memang bukan ibu yang sempurna. Ia juga sama bodoh seperti putranya.


"Terserah, Mama." Jawab Dera, memilih acuh untuk menyembunyikan kesedihan. Lalu beralih pandang ke arah Valerie lagi. "Valerie. Bagaimana nak? Kau siap kehilangan Saga?"


Valerie mendadak sakit di ulu hatinya. Kenapa juga harus mendengar nama pria es itu, padahal ia mati-matian menahan agar tak sedikitpun mengingatnya. Jika saja, Valerie tidak tahu jika Saga berada di Negara C, maka ia tak sudi datang ke pesta Dera. Sudah pasti bukan jika Saga akan datang kesini?


"Tante tahu sendiri, Sagabsudah bertunaga..."


"Masih tunangan, belum menikah."


"Tapi Saga cin..."


"Valerie auntie. Mau Braga kasih tahu rahasia?" Braga yang sedari tadi menyimak tiba-tiba masuk obrolan, karena jujur ia juga pening karena tak mendapati ibunya sendiri di ruangan megah ini.


Valerie yang baru pertama kalinya bertemu dengan Braga pun salah tingkah mendengar ucapan akrab dari bocah itu. Namun tak hanya Valerie saja yang terlihat diam tak bersuara, Theo dan Dera melakukan hal sama. Heran sekaligus penasaran.


Valerie membolakan mata setelah sesaat memikirkan sesuatu yang perlu diingat. Lantas tak begitu lama ia menggeleng sembari berkata, "tidak."


"Tidak salah lagi. Benar 'kan Oma?" Braga seperti mencari sekutu untuk meyakinkan hingga menegaskan kepada Dera.


Dera tersenyum. "Masih belum terlambat. Tante sudah bilang 'kan. Sana susul Sagap."


"Sebentar, Tan. Agaknya aku benar-benar bingung. Maksudnya, Saga suka aku? Begitu?"


Braga dan Dera pun mengangguk.


"Sebentar," Braga membuka ponselnya, tak lama ia menunjukkan photo ruang tak begitu terang namun masih terlihat jelas isinya; sebuah ranjang yang di dampingi nakas dengan pigura kecil yang berdiri diatasnya, menunjukkan cengiran gummy smlie seorang wanita berada di dalamnya. "Ini photo Auntie 'kan?"


Valerie merebut ponsel milik Braga. "Benar," jawabnya linglung.


"Itu kamar om Saga."


Valerie tetap menggeleng lalu bergumam lirih, "tidak mungkin."


"Mungkin, Tan." Braga menegaskan sekali lagi. "Jadi, sebagai imbalan. Tante habis ngomong apa saja sampai Mommy ninggalin acara ini?” Imbuhnya dengan nada datar hingga tangan bersendekap di bawah dada.


Mampus. Valerie melihat sosok Braga yang mengerikan. Tatapan dingin persis seperti Theo versi kecil.


Braga tak semudah itu ingin menolong seseorang tanpa imbalan jelas. Tentu Braga menaruh curiga saat tadi ia sedang berdiri diatas tangga menyaksikan puluhan manusia sedang berbincang-bincang, salah satunya melihat Valerie bersama pria sedikit kebulean yang tak beberapa lama, pria yang sama menghampiri Roseta Ibunya yang sedang berbicara dengan Sarah.


Untung saja, Brava punya daya ingat yang sangat luar biasa.


"An, anu, itu."


"Kamu berbicara apa? Apa yang kau lakukan?" Giliran Theo yang bersemangat hingga meninggikan suara kepada Valerie, sebab pria itu melihat gelagat Valerie yang seperti maling tertangkap puluhan massa setelah Braga menanyainya.


Valerie memilih untuk tersenyum kaku, namun tiba-tiba rasa bersalah mengerubung batinnya. Sumpah demi Saga yang mungkin sedang bermesraan dengan Somi tunangannya namun sehabis ini akan ia, ganggu, mungkin, lupakan.


Valerie tidak ada niat jahat. Ia hanya menguji, apa benar Roseta sudah teramat rela kehilangan Theo. Karena Valerie cukup pusing mendengar Theo beberapa hari merecoki dirinya dengan dalih patah hati hingga tidak berani mengutarakan lagi sebab Roseta terus saja menolak.


"Dad, look at this." Theo pun yang merasa terpanggil lantas menoleh dan sedikit menunduk kepada Braga.


Sedangkan bocah laki-laki itu tak tanggung langsung menunjukkan layar ponsel miliknya, ada titik merah menempati suatu area, tidak jauh dari tempat ini, benda bulat terang itu menetap, tak berjalan. Setelah Braga memaksimalkan skala, maka terlihat sangat jelas lokasinya—DoubleFive by Taylor Mawar Merah—sebuah Hotel bintang lima.


"Mommy, di hotel DoubleFive by Taylor, Oma. Tidak jauh dari sini." Braga pun langsung menginfokan kepada Dera.


"Valerie." Sentak Theo, kali ini nadanya begitu tinggi sampai banyak pasang mata menoleh ke arah mereka. "Apa yang kau lakukan?"


Mampus. Valerie beringsut bersembunyi dibalik tubuh Dera, dengan niat menyelamatkan diri. Jujur, Theo terlihat emosi. Dari tatap matanya, ada sirat kecemasan, yang pasti ditunjukkan untuk Roseta yang sedang mendekam di hotel luar sana. Valerie tidak mengira jika Roseta akan pergi dari acara pesta.


"Aku bercanda Theo. Sumpah." Masih tetap mengendap dibelakang Dera, Valerie membentuk jari menjadi huruf V.


"Apa yang kau lakukan!!" Kali ini Vee menanyakan dengan penuh penekanan. Karena, semenjak tadi Valerie hanya berputar-putar.


"Itu. Tan..."


Dera, mengelus tangan Valerie yang berada di pundaknya. "Ngomong pelan-pelan." Sembari menganggukkan kepala agar Valerie tidak ketakutan.


Bahkan di antara perdebatan, masih banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, telinga sengaja dibuka lebar-lebar kerena tuan rumah yang mengadakan pestalah yang sedang berisik tegang. Bahkan tak sedikit juga yang berbisik karena penasaran.


"Aku, nyuruh orang buat bilang ke Roseta, kalau kau dan aku akan bertunangan."


"Sial."


Theo tak perduli dan langsung berlari menerobos para lautan manusia yang ada di dalam ruangan. Tak memperdulikan teriakan Dera maupun Valerie dari belakang. Bahkan Jordan dan Bryna pun yang berada tak jauh dari sana tak bisa mengikuti lari Theo yang begitu kencang.


"Terimakasih Valerie auntie." Braga tersenyum kepada Valerie sembari mengatakan itu.


"Kok..." tentu Valerie bingung dengan ekspresi senang dari Braga.


Belum sempat menanyakan, Braga sudah pergi dari hadapan mereka, perutnya lapar, makanya langsung menggeser tubuh untuk mencari makanan. Mungkin setelah ini, Braga akan mendapatkan berita bagus tentang orang tuanya. Atau, malah kebalikannya. Braga lelah, maka tak mau berpikir banyak, ia menggedikan bahu sembari menunggu Dera yang akan mengumumkan berita yang mungkin akan membuat banyak orang ternganga.