
Menjejalkan telapak tangan pada kantung celana, Theo berdiri dari balik jendela raksasa yang mempertontonkan hilir mudik transportasi Kota Mawar Putih di bentangan jalan raya. Matanya memincing tajam, terkadang pula tawanya renyah merana.
Theo menatap penuh ruangan dengan ukuran ekstra lebar yang berada diujung gedung tinggi memuncak sebuah perusahaan. Hari menjelang sore, Theo sudah membuat janji temu dengan seseorang.
Beralih pandangan pada kursi duduknya, Theo mengayunkan torsonya untuk segera menyamankan bokongnya di sandaran empuk itu. Jemarinya melatuk menimbulkan suara yang beradu di atas meja, pikirannya kosong melalang buana entah kemana.
Suara ketukan pintu mengalihkan afeksinya, Theo berujar untuk mengucapkan sandi agar benda kotak dengan bahan besi itu terbuka secara otomatis.
"Vante," ucapnya dengan nada khas yang sangat berat, hanya dengan suara darinya akses itu akan mempersilahkan orang diluar untuk masuk.
Menampilkan sosok dengan bibir tebal sexy yang berada diambang pintu, Theo memusatkan perhatiaannya dan tersenyum menyambut kedatangannya.
"Welcome, Jord."
Jordan Sandiago Hermawan, pribadi dengan buntelan hoodie hitam dipadu celana jeans ripped, terkesan sangat santai itu segera masuk dan duduk dihadapan Theo.
Jordan pemilik jemari pendek, pun imut itu meraih ransel dalam gendongan untuk dipangku di atas paha, membuka resleting dengan pelan menampilkan beberapa dokumen penting untuk di serahkan kepada Theo.
"Baca." pintanya setelah tumpukan yang tak begitu tebal itu melesat di tangan Theo.
Dengan dahi mengkerut serta kebingungan yang nampak begitu jelas, Theo membanting kertas-kertas itu hingga menimbulkan suara keras setelah membaca perlembarnya.
"Ini mencurigakan, Theo,-" Jordan berdiri sembari menggaruk pelipisnya. Pikirnya sangat konyol untuk sesuatu yang baru saja didapatnya. "Braga Samanta, anak itu memang sudah meninggal dua tahun yang lalu, sama seperti yang kau katakan padaku tadi malam. Aku sudah membobol data dari seluruh akses yang aku dapatkan."
Jordan teman akrab dari Theo, pria itu adalah seorang alhi hack yang ditugaskan untuk menyelidiki Brafa sesaat setelah pria bernama belakang Pandega itu menemui Jeko kemaren malam. Entah darimana kecurigaan Theo muncul kala itu yang dengan lantangnya megungkapkan kemungkinan bahwa dirinya adalah ayah dari Bryna dan Braga dihadapan Jeko. Lantas pria bergigi kelinci itu mengumpat dan menganggapnya gila, tidak mau berdebat atas lancang bibirnya, Theo segera undur diri agar bisa memastikan sendiri.
Daya ingat Theo masih sangat kuat saat terakhir kali dia melakukan adegan panas dengan Roseta mantan kekasihnya. Saat itu, dimana Theo melakukan dengan rasa rindu yang menggebu-gebu setelah selama sebulan tidak bertemu Roseta karena wanita itu sedang menempuh pendidikan Kedokteran di salah satu Universitas Negara U. Pria yang sedang dimabuk cinta itu nekat menerbangkan diri jauh-jauh karena rindu yang tidak mampu untuk dibendung lagi.
Malam peraduan itu berlangsung hingga pagi menyapa. Seakan otak dibuat gila, Theo dengan bodohnya melupakan barang yang biasanya disarungkan pada alat kelami*nya, yaitu kond*m. Entah sudah berapa kali pria itu menanamkan benih sebegitu banyak dalam rahim wanita yang kala itu sangat dicintainya.
Kemungkinan itulah yang membuat Theo seakan sadar mendengar penuturan Roseta tentang kedudukan Jay yang menjadi ayah pura-pura dari untuk Bryna, kemungkian besar video itu juga manipulasi. Juga, bocah dengan nama Braga sangat mencurigakan.
"Lalu, siapa Braga yang kebetulan aku temui waktu itu?" geming Theo merasa frustasi.
Dari data yang sudah dibacanya, Jordan menyuguhkan sederetan identitas dengan nama Braga beserta photo sebagai penguat. Dari banyaknya daftar tersebut, tidak ada satupun yang mirip dengan kriteria Theo.
Bukankah sangat mengganjal untuk orang yang masih hidup tapi tidak berdata di dua Negara.
Jordan mengumpulkan nama-nama itu dengan upaya yang bukan main. Mencuri data warga Negara I dan Negara A dengan ilegal yang pastinya dapat dipastikan ke akuratannya.
Lalu, bocah dengan nama Braga itu siapa?
Apakah bocah piyik itu sedang berbohong dengan menyamarkan nama?
Setelah dipikir lebih jauh, kemungkinan besar tidak ada kebohongan dari Braga pemilik senyum kotak yang sama seperti milik Theo. Sangat jelas dan lantang saat Braga berbicara kepada neneknya lewat panggilan telepon dengan menyebutkan namanya.
"Astaga, bodoh sekali."
Theo berdiri mendadak dengan kedua telapak tangan menggebrak meja. Membuat pribadi di depannya terkejut sampai mengelus dada.
"Sialan! Theo , kau mengagetkanku," protes Jordan sembari mengelus dada.
Kendati merasa sebal dengan ulah Theo, pria berbadan lebih mungil itu seperti melihat sebuah harapan dari ekspresi Theo saat ini. Berteman cukup lama rupanya tengah mampu membuat Jordan dengan mudah membaca situasi.
"Jord, CCTV, kenapa aku lupa dengan hal itu. Sial!"
Aha, benar kan?
Theo bukan pria sembarangan. Menyandang status sebagai pebisnis dengan otak briliant yang mampu menduduki sepuluh besar di jajaran orang terpandang dan sukses, membuat siapapun tidak sempat untuk menganggapnya remeh.
"Tapi, jika tidak ada data, kau juga tidak akan berpikir sampai sejauh itu Theo." Jordan menimpali.
Ya, pada dasarnya keduanya punya otak yang tidak jauh beda. Kendati begitu, seorang Jordan Hermawan lebih memilih sebagai kaki tangan Theo saja. Menurut Jordan, berurusan dengan dokumen-dokumen sebagai makanan harian setiap pebisnis sangatlah memuakkan.
Theo segera meraih ponsel yang menggantung di dalam kantung celana. Menggeser screen dengan terburu, membuka kontak untuk menemukan sebuah nama, Jeko, setelahnya menekan tombol hijau agar terhubung dengannya.
"Ko, Aku ingin memeriksa CCTV area sekolahmu." Tanpa pikir panjang dengan menghindari kesan berbelit, Theo memutus perkara dengan lantang lewat suara setelah orang dibalik ponsel menyapa.
...\~\~\~...
"Aku sudah menyingkirkan wanita itu delapan tahun yang lalu untukmu, lalu apa yang kamu inginkan sampai marah-marah begini?" Suara itu nampak frustasi dengan nada khawatir.
Pria itu berdiri dengan kaki yang tidak tenang, terbukti hentakan sepatu pantofel itu kian tak terhenti. Pikirnya kalut mendengar isakan wanita yang sangat di cintanya melalui panggilan suara yang sedang berlangsung saat ini.
Pribadi dengan setelan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, serta dasi yang sudah tidak tertata itu menghentikan kakinya yang sedari tadi melenggang ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya tampak membeku di tempat. Nampaknya sautan dari balik ponselnya tengah berhasil membuat jantungnya tepompa lebih cepat.
"Tolong jangan katakan kami akan bunuh diri. Aku akan melakukan apapun untukmu agar kamu bahagia. Akan aku pastikan pria itu tidak akan meninggalkanmu. Aku janji." Penuh penekanan dan keyakinan saat pria itu mengatakan hingga mampu membuat lawan bicara merasa tenang.
"Aku janji akan melakukan apapun untukmu. Baiklah, Aku tutup teleponnya. Kamu akan mendapat kabar baik secepatnya." Setelah kata janji, pun perpisahan terujar, pria itu menutup panggilan suara.
Genggamannya mengeras bersamaan perasaannya yang membuncah nelangsa. Matanya kini merah menahan amarah karena rasa cinta yang terlampau buta sehingga membuatnya tak terarah.
Hingga sosok lain yang sedari tadi menontonnya sambil menyanderkan tubuhnya dibalik sofa menggeleng kepala. Tidak habis pikir dengan langkah temannya yang menghancurkan kebahagiaan orang lain demi wanita tak tahu diri yang sangat di agungkannya. Bagian menyedihkannya, wanita itu sama sekali tak membalas cintanya dan hanya mengabaikan dan memanfaatkannya.
"Ck! Mark, kau pria yang sangat bodoh," seru pria itu menghakimi bersamaan beranjak dari duduknya.
Pria dengan sebutan bodoh itu sontak mengalihkan pandangan dengan tatapan sengit tidak terima. Enak saja, kendati memang bodoh karena cinta, dirinya adalah pria sukses dengan karir yang membanggakan hingga mampu membayar ratusan bahkan ribuan hacker untuk menghancurkan perusahaan Theo walaupun sampai sekarang tidak ada satupun yang berhasil menembus pertahanan suami wanita yang sangat dicintainya itu.
"Jika tidak bisa membantu, lebih baik kau diam saja, sialan."
Dengan begitu Stave yang baru saja diumpat tidak lagi membahas perihal kebodohan, melainkan akan menyusun rencana untuk segera dilakukan. Meskipun terkadang suka aneh dengan prilaku sahabatnya, pria itu akan selalu mendukung dan membantunya. Mengingat Mark lah dulu yang sudah membantu perekonomian keluarganya, hitung-hitung balas budi.
"Lalu, apa yang akan kau rencanakan?"
Mark Brian Sanjaya merilekskan diri dengan menyadarkan bokongnya di meja lalu tangan melipat di bawah dada. Pikirnya mulai menyusun rencana untuk menyerang.
"Apa lagi jika bukan membuat Theo hancur. Membuat pria itu tanpa harta sepeser pun, Aku yakin lambat laun Yura akan berada didekapanku."
Stave tersenyum miring tanda tak yakin. Melihat Yura sampai mengancam bunuh diri, menandakan bahwa wanita itu sangat mengidamkan pria yang berstatus sebagai suaminya yang sayangnya sampai sekarang mengabaikannya.
"Kau yakin?" Pertanyaan retorik itu terucap.
"Bukankah wanita akan hilang akal tanpa harta? Bagaimana pun dia akan menyerah dan kembali padaku. Dia tidak mungkin membiarkan putriku kelaparan dan kekurangan karena tidak punya uang." Keyakinan Mark memang sudah di pucuk ubun-ubun.
Stave akan mengalah daripada perdebatan yang terjadi tidak barujung.
"Tapi-" ucap Mark tertahan.
Pria itu membuka ponsel dengan gambar wanita berambut pirang menduduki galerinya. Tercipta senyum iblis diranumnya sehingga membuat Stave bergidik ngeri.
"Aku akan membereskan wanita ini dulu."
"Siapa?" Tanya Stefan tergesa.
"Roseta Marveen."