ROSETA

ROSETA
Proposal



Lampu dinyalakan dalam keadaan terang benderang. Theo membawa Roseta pergi saat itu juga, sesuai apa yang pria itu katakan, suite hotel vvip, Diamond hotel, dasar Theo, tidak takut ketahuan Dera apa bagaimana menggunakan salah satu hotel kepemilikan Pandega. Entahlah, rindu yang pria itu tahan selama tujuh bulan tidak bisa dibendung lagi.


"Daddy silahkan bawa mommy, hari ini daddy milik mommy, tapi besok daddy milik Bryna." Desakan Bryna putrinya begitu menggemaskan, padahal Theo niatnya ingin menghabiskan rindu bersama keluarga kecilnya, entah apa yang dipikirkan Bryna sampai gadis kecil itu memberi petuah sedemikian rupa.


Son:


Daddy, welcome to home. Sesuai janji Braga waktu itu, Braga akan jadi anak baik, daddy akan terkesan dengan apa yang Braga lakukan di perusahaan.


Theo juga ingat bagaimana jagoan kecilnya memberi pesan sesaat ia menginjakkan kaki di Negara ini. Sebelumnya Theo berada di Megara S, dalam perlindungan yang ketat dan rahasia, biar Theo saja yang memiliki kenangan menyedihkan sekaligus kesepipan itu.


Kembali kepada lampu yang terang benderang menyorot dari langit-langit kamar, Theo begitu intens menatap Roseta yang ada di depannya. Tangannya bergerak lembut membelai wajah si wanita.


"Kamu milikku nona Marveen."


"The-Theo..." Roseta masih terkejut dengan kedatangan Theo, hanya memeluknya sebentar lalu ia dibawa ke tempat ini.


Theo mel**at bibir Roseta dan menyentakkan baju wanita itu hingga bunyi robeknya terdengar nyaring di ruangan yang sepi, hanya suara napas memburu dan desah hangat yang melingkupi keduanya.


"Aku sangat merindukanmu Roseta."


Theo merasa dirinya sudah gila. Jika sebelum Theo harus mengasingkan diri di Negara S, Roseta lah yang menggebu ingin dihamili, tidak dengan sekarang. Theo merasa gairah yang terpendam begitu lama muncul di permukaan, tidak bisa ditahan lagi.


Tawa mengudara daei kedua orang yabg sedang dimabuk cinta. Cinta yabg memutus logika lagi-lagi merenggut kewarasan. Kesuanya masih gila seperti sepuluh tahun yang lalu hingga mengabaikan kesalahan yang membuat mereka hancur. Namun keduanya beeusaha meredam-redam, toh semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, dan jangan dibuat pusing.


Adapun dulu, sekarang keduanya tidak ada yang sama-sama menolak, sama seperti Roseta waktu itu, Theo menuruti si wanita dan Roseta menuruti si pria. Meski kadang tak sesuai ekspektasi, tidak seperti keinginan hati, tapi demi kenyamanan mereka melakukannya, bersama.


...****************...


Theo menatap langit-langit kamar lalu beralih kepada wanita yang berada di sampingnya. Roseta tertidur setelah Theo melakukan berkali-kali di ranjang. Disaat Roseta melemah, Theo justru merasa begitu bugar tanpa kelelahan sedikitpun.


Theo seperti menyimpan banyak gejolak yang ia tahan begitu lama. Sangat lama dari terakhir ia melakukannya, bahkan saat Roseta meminta waktu itu, wanita itu sendiri yang mengehentikan di tengah jalan, katanya sakit karena hampir sembilan tahun tidak dipakai. Theo tersenyum mengingat bagaimana konyolnya Roseta saat membantunya menuntaskan gairah dengan cara wanita itu sendiri.


Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak Theo. Apakah semua sudah selesai? Apakah ia sekarang bisa hidup bahagai bersama Roseta dan kedua anak-anaknya?


Folltress sudah tak lagi terdengar namanya. Martinus benar-benar memenjarakan pria mafia itu, entah bagaimana caranya, Theo sendiri tidak tahu karena dalam dunia mafia itu begitu rumit, bukan juga ranah Theo untuk tahu dengan apa yang ada di dalamnya. Hanya Martinus orang yang Thei tahu mampu mengatasi pria Mafia seperti Folltress, dan pesan dari Martinus adalah 'Kau bebas Tuan Matheo, kau bisa bahagia bersama Roseta dan cucu-cucuku'.


Bryna dan Braga memang cucu Martinus meski tak terikat darah diantara mereka, namun bagaimana bukan cucu jika dari bayi Martinus ikut mengasuhnya? Dan Theo justru bersyukur untuk itu.


Tujuh bulan memang bukan ketentuan awal Theo bisa bebas, tapi Martinus sekali lagi berusaha dengan sekuat tenaga untuk memeprcepat proses hukum untuk Folltress, hingga akhirnya mafia itu benar-benar mendekam di jeruji besi, otomatis Theo aman karena semua musuh yang terlibat juga sudah diberantas habis.


Kini semua sudah berbeda. Roseta sudah benar-benar menjadi miliknya bukan? Tinggal menentukan tanggal pernikahan dan Theo bisa melihat Roseta setiap kali ia membuka mata di pagi hari.


Cinta? Theo memang sangat mencintai Roseta, tidak pernah terbesrit dalam benak Theo untuk menggantikan Roseta dengan wanita lain, atau berakhir dan bernasip sama dengan Yura, tidak ada  cinta dan hanya akan ada pengabaian dalam rumah tangga.


Mendadak Roseta terkesiap, ia membuka mata perlahan dengan sedikit kernyitan, ia memandang Thei dengan bingung, "Kamu membiarkan selimut melorot sampai pinggang? Kamu nggak mikir aku bisa masuk angin?" Karena Roseta tidak memakai satu helai kain pun dan da**nya terpampang bebas.


Theo tidak menjawab, namum pria itu tersenyum dan meraih tubuh Roseta untuk di dekapnya, setelah itu barulah Theo meraih selimut untuk menutup tubuh mereka.


"Jam berapa Theo? Anak-anak bagaiamana?" Roseta memposisikan diri dengan nyaman, namun kepalanya terangkat untuk menatap Theo di depannya.


Theo mengambil ponsel di atas nakas dengan satu tangan, membuka pesan di dalamnya. "Anak-anak bersama oma-nya, dan mereka baik-baik saja. Lihat pesan putra kita.”


Son:


Dad, pulang besok saja, Braga sepertinya tidak terlalu merindukan daddy. Mommy lebih membutuhkan daddy. Bwrikan perhatian penuh, kika mommy sudah berkenan oulang, baru pulanglah kerumah menemuiku. See you


Roseta meringis. "Kamu tahu, anak-anak rewel tau saat kamu nggak ada."


"Tapi mereka bilang kamu yang lebih rewel."


Dengan tatapan polos, Roseta mengangguk. "Aku sangat merindukanmu, dan anak-anak selalu mengolokku."


Theo semakin mengeratkan pelukannya. "Aku sudah disini, aku tidak akan meninggalkanmu dan anak-anak lagi."


Tiba-tiba Roseta terisak, kepalanya mendesak dada Theo. "Aku takut ini mimpi, Theo, tapi saat aku bangun tadi aku yakin jika ini bukan mimpi. Aku benar-benar merindukanmu."


"Tatap aku." Roseta mengangkat kepalanya lagi.


Detik berikutnya Theu membungkam mulut Roseta dengan ciu**n hangat, dan wanita itu diam menerima, membiarkan Theo melakukannya berkali-kali.


"Menikahlah denganku."


"Apa ini proposal sungguhan? Dengan telan**ng dan sehabis ciu**n?”


Theo mengangguk. "Apa ada yang lebih romantis dari ini?” Tanyanya menggoda.


Roseta menggeleng, mau bagaimanapun cara Theo melamarnya, baginya cukup, yang terpenting mereka menikah. "Tidak lebih dari satu bulan, aku tidak mau menunda menjadi istrimu."


"Siap nona Marveen.”


Keduanya kembali berpelukan dan mengabiskan waktu bersama sedikit lama.