
Dera mana bisa tenang setelah cucunya menutup sambungan telepon sepihak saat ia saja belum selesai menuntaskan rasa penasaran perihal Theo dengan kehebohan di media sosial.
Ibu mana yang tidak khawatir. Bohong jika Dera sama sekali tidak perduli dengan putra satu-satunya itu. Mungkin Dera memang sedang menghukum Theo, tapi tidak serta merta juga menghilangkan hati nurani.
Tapi jika kejadiannya sudah seperi ini; seperti berita yang baru saja Dera saksikan lewat ponselnya, Theo yang sedang berpelukan dengan Yura, maka Dera tidak bisa tinggal diam saja. Dera sudah cukup lega saat Theo tersadar jika sudah Yura bohongi dengan habis-habisan. Dera juga sempat mengelus dada melepas himpitan yang selalu menyesakkan saat Theo tak kunjung membuka mata akan kebenaran.
Lalu apa ini? Cucunya baru saja mengatakan jika akan mengurus Daddynya. Artinya Braga sekarang bersama Theo bukan?
Dera tidak tenang. Maka dari itu, langkah besarnya menuju Hotel Diamond Sand untuk menuntaskan rasa penasaran tengah ia lakukan saat ini juga. Sedari tadi Dera mencoba menghubungi Saga untuk memastikan berita itu, namun nihil, Dera hanya disambut dengan suara operator yang mengatakan jika keponakannya sedang sibuk menerima panggilan lain.
Akhirnya Dera menyerah.
Dera memiliki aura terhormat dengan balutan sederhana namun terkesan berwibawa. Berjalan pelan tak kentara tergesa setelah keluar dari benda bermesin yang langsung disambut oleh Raymond diambang pintu raksasa di tengah-tegah gedung.
"Selamat siang, Bu. Tuan Matheo berada di kamar Tuan muda Braga." Raymond tanpa basa basi menginfokan.
Wanita paruh baya itu membuang napas gusar sebelum melirik Raymond kemudian. "Raymond, Jelaskan padaku situasi yang sedang terjadi sesingkat mungkin." Perintah Dera tegas namum tak menghentikan langkah.
Keringat jatuh di pelipis Raymond, seperti menghadapi ujian akhir dunia, seakan bawahan seperi Raymond akan mati dengan sia-sia. Bagaimana tidak, perangai atasannya seperti orang yang akan melahap hidup-hidup mangsa dalam satu terkam saja.
Tapi Raymond adalah pria tegas yang tak dapat goyah dengan mudah, ia pria kepercayaan seorang Dera, seorang juragan kamar yang sudah merancah internasional, siapa yang tidak kenal Dera, hampir semua orang dengan embel-embel konglomerat di nama belakangnya tahu bagaimana sosoknya wanita paruh baya yang sayang sekali dalam delapan tahun belakang seakan ditelan bumi, menghilang dari peradaban dan mengasingkan diri di Negara S tanpa sepengetahuan, bahkan putranya sendiri tak tahu akan hal itu.
Semua karena cucunya.
Cucu yang dalam buku keluarga menjadi anak keduanya.
Cucu yang terancam nyawanya oleh sebab otak brilliant yang mendekam dalam otaknya.
Cucu yang dewasa sebelum waktunya hingga kerumitan tentang kedua orang tua harus ia tanggung juga.
Braga Pandega, itulah namanya. Laki-laki kecil dengan lirikan tajam persis seperti Matheo Ranu Pandega. Sekaligus cara Dera bisa menahan rindu kepada Theo adalah karena adanya Braga juga, wajah keduanya sangat mirip bak pinang dibelah dua.
"Tuan Matheo pingsan." Dera sontak berpaling muka hingga menghentikan pijakan kakinya, alisnya mengkerut. "Tuan muda Braga melempar kepala Tuan Matheo dengan bola basket." Raymond melanjutkan informasinya.
Masih dengan tatapan bertanya, Dera memandang Raymond tanpa berkata. "Tuan muda Braga tidak mengatakan apa-apa. Dylan memberitahu saya jika Tuan Matheo dan Nyonya Yura-,"
"Wanita sialan itu bukan Nyonya-mu, Ray." Dera langsung menghentikan ucapan Raymond saat pria itu sangat tidak tepat menyelipkan sebutan kehormatan di depan nama Yura.
"Maafkan saya, Bu." Raymond bahkan langsung meminta maaf, ia hanya bawahan, sedangkan ia tahu jika Yura dulu adalah Nyonya di keluarga Pandega, maka Raymond pun lupa bagaimana menghilangkan kebiasaan dengan orang yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dirinya.
"Teruskan ceritamu, kenapa Theo dan Yura?"
"Duasaaar, bocah edaaaaaan." Dera mengamuk menggunakan logat Kota Matahari tempat kelahirannya.
*(*Dasar, anak gila)*
Tentu saja Dera marah. Theo keterlaluan. Bagaimana bisa putranya yang bodoh itu semakin tua semakin bodoh saja. Ya Tuhan, Dera rasanya ingin memasukkan Theo dalam perutnya lagi, siapa tahu nustrisi saat mengandung dulu tidak penuh dengan gizi.
"Tunggu Bu. Tuan Matheo tidak bersalah. Mungkin memang benar yang dikatakan Tuan muda Braga jika Tuan Matheo....maaf, bodoh, tapi dalam kasus ini Tuan Matheo di jebak. Yura memasukkan obat perangsang."
"Sama saja, itu bodoh namanya."
Meskipun begitu, Dera tetap terkejut, ada setitik cairan yang menggantung di pelupuk matanya. Malang temen nasibmu, Nak. Dera mengelus dada, bagaimana bisa putranya selalu dicurangi oleh Yura lagi. Dera lantas menyalahkan diri sendiri karena gagal mendidik dan melindungi Theo.
"Tapi dia baik-baik saja 'kan?" Pertanyaan Dera melunak dengan nada lirih.
Raymond tersenyum, "Tuan muda Braga sudah memanggil Dokter Liam. Tidak ada yang buruk, hanya saja Tuan Matheo mengalami demam saat ini."
"Siapkan mobil kesehatan, kita bawa ke rumah sakit sekarang."
...----------------...
"Sangat, sangat aman."
“Jangan kawatir, semua akan baik baik saja.”
Braga meletakkan ponselnya di atas nakas tepat di samping ranjang dimana ada pria tampan sedang terkulai lemas dengan kulit memucat. Bocah itu baru saja menelpon Saga, memastikan tindakan brutalnya bisa dimaafkan apa tidak.
"Kau boleh menembak kepala ayahmu kalau kau mau." Pernah Saga mengatakan itu pada Braga saat dulu, seketika itu, Braga merasakan bulu kudunya meremang. Tidak mungkin juga ia melakukannya, meskipun ia membenci ayahnya, namun perasaan.....entahlah, Braga tidak bisa mendeskripsikan. Bocah laki-laki itu hanya punya satu keinginan saat besar nanti, setidaknya itu adalah rencana yang Braga pikirkan saat pertama kali mencuri dengar pembicaraan Roseta dan Jay tentang kenyataan yang ada. “Aku tidak menyalahkan dan membenarkan pendapatmu Jay. Semua ada dikeputusanku, aku akan mengenalkan anak-anak pada Theo saat usia mereka sudah cukup, setidaknya 17 tahun adalah usia yang matang dan nggak telat-telat banget, aku yakin mereka sudah paham dengan kejamnya dunia, aku tidak bisa membiarkan mereka cemburu karena ayahnya membagi cinta.”
Braga bertekad akan membogem mentah kepala Theo saat pertama kali bertemu, paling tidak kekuatan tangan Braga sedikit lebih kuat saat berumur 17 tahun nanti. Tapi apa yang di rencanakannya sepertinya gagal total.
Braga sekama ini juga mengawasi pergerakan Theo, Roseta pun Bryna. Sebagaimana takdir tidak bisa ia pegang karena ia hanyalah manusia, maka Braga akan mengikuti alur yang sudah tersedia.
Braga menatap nanar Theo yang masih terlelap. Ia yakin hand-shot yang ia lakukan tidaklah begitu keras, pingsan yang di alami ayahnya adalah efek dari obat perangsang dengan dosis berlebih, untung tidak ada indikasi keracunan, hanya saja saat ini demam sedang menyerang saat dokter yang baru saja keluar memeriksa keadaan.
"Kalau saja tanganku cukup kuat, atau tubuhku sedikit tinggi, sudah ku bogem kepala Daddy."
Braga menyesal, teramat sangat menyesal yang menimpa kepala Theo adalah bola basketnya, cita-cita teramat besar untuk meninjukan kepalan tangannya sirna begitu saja.