
"Aku tidak akan pergi." Katanya begitu tegas, aura kelam menyelimuti dadanya, ada sedikit keraguan namun terlihat meyakinkan.
"Janji?" Tanya Roseta parau, dan suaranya terdengar serak menahan air mata. Dia membenci ini, membenci perasaan gelisah seperti ini, mengingatkan masa dimana ia ditinggalkan Theo.
Theo menatap Roseta dalam untuk beberapa waktu, seakan permintaan Roseta perlu dirundingkan dalam pikiran, namun sejenak ia mendapat jawaban dan berkata, "Aku berjanji padamu sayang."
Silau dari matahari melewati jendela, mata yang baru terbuka menyambut cahayanya, "Cuma mimpi?" Roseta berbisik pada dirinya sendiri. "Kenapa perasaanku nggak enak?"
Namun seolah mimpi adalah kenyataan, deklarasi janji yang Theo berikan melalui bunga tidur itu harus segera di konfirmasi oleh Roseta hari ini juga. Sedikit aneh, tapi Roseta tahu jika mimpi adalah sebuah pertanda.
Maka, Roseta sudah menyusun rencana jika siang nanti ia akan menemui Theo untuk menuntut janji jika pria itu tidak akan pernah meninggaklannya, lagi, seperti dulu.
Berjanji, dengan arti lain, menyiratkan kesediaan untuk menanti, memberi harapan. Orang-orang sering kali membuat janji, tapi tak pernah bersungguh-sungguh memikirkan arti di balik kata bermakna itu. Banyak orang ingkar.
Roseta harus membuat Theo berjanji, dengan sungguh-sungguh.
Hari ini Roseta sudah mempunyai rencana pergi bersama Liliana, wanita itu tidak main-main ingin membuka sebuah toko kue kering.
Hembusan halus napasnya begitu menyedihkan, Roseta memandang telapak tangan yang sudah di tempatkan di depan matanya, ia rindu rumah sakit, ia rindu keahlian dalam mengobati orang sakit.
"Apa berita sudah cukup reda?" Roseta bertanya-tanya.
Ponsel yang berada di atas nakas ia raih, membuka portal berita online untuk mengetahui status dirinya sudah aman apa belum.
Roseta sedikit lega namun belum begitu aman untuk keluar rumah sendirian, apalagi pergi ke rumah sakit. Roseta bukanlah orang dengan perangai mencekam seperti novel-novel yang suka menyuguhkan ketagguhan seorang wanita, ia hanyalah ibu rumah tangga tunggal belum menikah yang kebetulan mendapat musibah ditinggalkan kekasih.
Bangkit?
Mengenahi kebangkitan, titik tertinggi Roseta untuk bangkit bukanlah menjadi orang yang super wow, ia sudah cukup puas dengan membesarkan anak tanpa sakit yang keterlaluan, menjalani hari-hari menyenangkan meski tanpa pasangan, bukan acara balas dendam dengan ego ketinggian, Roseta bukan wanita seperti itu.
Jadi, untuk melawan netizen yang mendadak menyerangpun, Roseta tak bisa berbuat banyak, ia hanya akan diam menunggu sampai reda.
Katakan Roseta lemah.
Bukan.
Roseta hanya tidak mau berurusan dengan orang banyak. Ada pepatah, diam adalah emas, ya siapa tahu dengan diamnya Roseta orang-orang yang mencemooh bisa berhenti perlahan. Cara itu cukup elegan menurutnya. Nanti, Roseta berjanji tetap akan menjalani hidupnya seperti dulu, bekerja di rumah sakit. Namun tak menunda untuk toko kering impian barunya.
Roseta sekali lagi menghembusakan napas halus. Sebelum pagi ini terlambat dan membuat Liliana si ibu rumah tangga menunggu terlalu lama, maka ia segera membasuh diri dan keluar dari rumah.
"Mbak Asih, saya pergi dulu." Sembari menuruni tangga Roseta berpamitan kepada Asih yang tepat berada di lantai satu, membawa beberapa kantung plastik. "Mbak Asih masak saja buat mbak sama pak Anton, karena saya seharian keluar."
"Baik bu."
Jawaban singkat Asih yang penuh sigap membawa senyum untuk Roseta. Lalu ia melenggang begitu saja, rambut yang tergerai bebas dengan pakaian super santai namun terlihat mewah jika melekat di badannya, Roseta dengan santai seperti pergi ke pantai menaiki mobil yang sudah dipanasi oleh pak Anton.
Segera Roseta menancap gas setelah sebelumnya menghubungi Liliana untuk bersiap sekarang juga atau Roseta akan pergi bersama Maria, dan jika itu terjadi, Liliana tidak akan terima, karena biar bagaimanapun, Liliana sangat ingin pergi keluar dengan Roseta meski hanya mencari lahan untuk toko kue Roseta kelak.
Suara klakson yang begitu nyaring membuat Liliana yang sudah berada di depan gerbang rumahnya memegang dada, Roseta meringis dari balik mobil.
"Keren banget, mau balapan?" Roseta bersuara ditemani jendela yang di turunkan kebawah, memandang Liliana dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Amazing.
Bagaimana tidak, Roseta hanya menggunakan kaos dan celana jeans kedodoran, sedangkan Liliana menggunakan atasan jaket kulit. Mau kemana?
Tapi biarpun begitu. Liliana kelihatan sangat cantik, sahabat Roseta ini tak pernah kelihatan jelek, jelmaan barbie hidup di dunia nyata, terkadang Roseta begitu iri. "Cepet masuk, aku ingin memberitahu berita sangat penting." Roseta bersuara lagi seperti orang yang begitu meyakinkan.
Saat baru saja Liliana dipuji dan menerbitkan senyum jutaan dolarnya, tiba-tiba berita penting yang akan diucapkan Roseta membuat wajahnya berubah cemas, khawatir, tentu saja. Hidup Roseta ini kan penuh drama, takut-takut ada masalah lagi bukan.
"Apa?" Tanya Liliana cemas, karena ia benar-benar perduli dengan Roseta. Liliana, meskipun ia tak bisa selalu menempatkan dirinya berada di situasi terburuk Roseta, namun ia benar-benar tulus menyayangi sahabatnya itu.
Roseta menyondongkan wajahnya, menyipitkan mata lalu berbisik pelan. "Aku hampir hamil lagi kalau saja aku memaksa Theo untuk melakukannya?"
Rahang Liliana terjatuh. "Mak-maksudnya? Kak Theo memperkosamu? Ingin menghamilimu? Kak Theo nggak waras, awas saja."
Petaka. Sudah jelas-jelas Roseta mengatakan jika itu paksaan dari Roseta sendiri, kenapa Theo lagi yang dipersalahkan.
"Aku yang memaksa bukan Theo. Astaga."
"What? Wait." Liliana adalah lakon dari drama yang sudah ahli dalam bidangnya, terlalu bersemangat dan mudah terpancing dengan menelan mentah-mentah semua informasi. "Maksudnya? Kamu?"
Roseta mengangguk. "Aku ingin mengikat Theo, aku ingin hamil lagi, tapi gagal, itu sangat menyakitkan karena aku menganggur selama sembilan tahun."
Liliana menghempaskan tubuhnya begitu saja di kursi mobil, berita seperti ini harusnya Roseta simpan sendiri, Lala melihat lagi ke arah Roseta. "Kamu waras?"
"Ya, sangat waras."
Liliana mengerutkan kening, tidak menyangka perasaan Roseta sudah kembali lagi, awalnya wanita itu sangat benci dan tidak mau kembali kepada Theo. Justru sekarang Liliana melihat jika Roseta malah rela menyerahkan diri.
Apa hati sahabatnya sudah penuh lagi oleh cinta?
Apa benar?
Jika iya, meskipun Liliana masih mendendam dengan Theo, ia sangat lega.
"Aaaaaaaa." Liliana memeluk Roseta dengan erat, "Aku senang sekali."
Roseta yang mendapat reapon seperti itu tidak begitu heran, ia hanya tersenyum dan mengangguk, "Aku mencintainya Li, jadi jangan halangi lagi ya."
Liliana jadi tahu tujuan Roseta manyampaikan berita erotis hari ini. Hanya ingin mendapat restu darinya yang selama ini menghalangi dengan berbagai cemooh yang ada.
"Sekarang tidak akan lagi." Jawab Liliana sembari mengangguk, "Jadi, kenapa sampai kamu yang memaksa, kak Theo nggak mau?" Tanyanya setelah mengurai pelukan.
"Harus dipaksa. Thei tidak mau melakukan sebelum menikah, aku sudah melamar tapi Thei bilang ingin mengurusi pekerjaan dulu sampai beres. Kamu tahu, perasaannku nggak enak Li. Aku merasa Thei akan meninggalkanku lagi. Jadi aku ingin mengikatnya lagi dengan kehamilan."
"Crazy." Liliana mencemooh, tidak terima dengan cara Roseta.
"Ya aku tahu, aku sudah gila."
"It's oke. Kalau begitu, ayo kita pergi cari lokasi. Aku punya beberapa tempat, yang paling bagus di dekat bandara, penawaran dari salah satu kenalanku."
"Oke, lets go. Aku percaya padamu."
...****************...
Roseta tiba di rumah Dera saat langit sudah gelap setelah seharian menghabiskan waktu dengan Liliana. Seperi yang sahabat Roseta katakan, tempat di dekat bandara adalah yang terbaik, hari ini juga, Roseta dan Liliana sudah mengurus untuk renovasi dengan mempekerjakan ahlinya dalam mempercantik bangunan kosong itu.
Terlalu cepat?
Oh tidak. Bahkan memang harus cepat.
Roseta sedikit gugup meski beberapa kali pergi kerumah ini, menyudahi lamunan, Roseta memasuki gerbang elektronik sebelum menekan tombol intercom. Roseta berjalan memasuki pintu utama mansion, dari balik pintu berbahan mahoni seorang wanita sedikit tua memyambut kedatangannya, Roseta tahu betul namanya, "Selamat malan Bi Endang."
Jika itu orang lain dan bukan Roseta, tidak akan dengan ramah menyapa asisten rumah tangga, oleh sebab itulah Roseta ini sering sekali disukai banyak orang, karena ramah.
"Selamat malam Nyonya, anak-anak seperti orang sibuk dan jarang muncul di bawah, Nyonya Dera sedang memasak karena tuan muda Braga mengatakan jika anda dalam perjalanan kesini, sedangkan Tuan Matheo tidak pernah melepas kacamata."
Dengan informasi sedemikian rupa, pemilik mansion mewah ini memang sedang sibuk dengan duniannya sendiri. Dan Braga, lagi-lagi anaknya satu ini memantau gerak geriknya lewat alat canggih yang sampai sekarang Roseta tidak paham betul dengan itu semua.
Theo?
Kacamata tidak lepas, berarti sama saja dengan pria itu tak pernah istirahat, sibuk bekerja, seperti perkataan pria itu sebelumnya, pekerjaannya banyak.
"Informasi diterima dengan baik bibi."
Aroma masakan yang baru dimasak menyeruak diudara yang sedikit hangat, membuat Roseta langsung kelaparan meski baru saja makan bersama Liliana.
Roseta medengar sedikit kebisingan dari arah tangga, kedua anakknya berlari dan tersenyum ke arahnya.
"Mommy, rindu Bryna apa daddy?"
Roseta berdecak sembari menaruh tangan dibawah dada. "Kangen adek dan kakak dong." jawabnya.
Braga yang berada di belakang Bryna berdecih.
"Kakak, nggak sopan, nggak boleh kayak gitu." tegur Roseta kepada putranya.
"Bukannya nggak sopan mom, tapi Braga tahu mommy lebih rindu daddy daripada kami."
Ekspresi Roseta murung. "Oke. Mommy pulang lagi nih." Ia berbalik ingin pergi.
Braga berlari kencang. "Bercanda mom." ucapnya sembari memeluk pinggang ibunya.
Roseta tahu Braga suka bercanda, terlebih Braga juga yang sering memergoki dirinya bermesraan dengan Theo, jadi harap maklum jika Braga begitu usil.
"Wah. Sudah ngumpul. Oma baru selesai beberapa menu. Roseta sih tidak bilang dari pagi mau kesini."
"Maaf ma, Roseta dadakan, baru selesai cari lokasi toko kue." Roseta berangsur memeluk Dera yang memunculkan tubuhnya dari arah dapur.
"Jadi, kamu beneran buka toko kue? Rumah sakit bagaimana?"
Roseta menyengir. "Terserah kak Jack ma, tapi Roseta janji bakalan balik lagi."
"Bagus, pekerjaamu sangat mulia, jangan sampai ditinggalkan."
Hati Roseta sedikit nyeri. Demi egonya sendiri sampai lupa dengan tugasnya, lebih tepatnya sudah tidak perduli lagi dengan kehebatan tangan yang bisa menolong sesama. "Aku janji ma, sebentar lagi, aku akan kembali."
"Mama tahu, kamu butuh jeda."
Roseta mengangguk. "Benar. Jadi, apa yang bisa aku bantu, tinggal masak apa?"
"Tidak mau bertemu Theo?"
"Nanti saja ma, sekalian makan malam."
"Theo tidak pernah makan dibawah, Bryna selalu mengantar makanan ke atas."
Alis Roseta menyatu, sedikit heran. Sesibuk itukah calon suaminya. "Sibuk banget ya ma?"
Dera mengangguk, "Nanti kamu saja yang mengantar makanannya."
Setelah perbincangan sedikit itu, Roseta beserta Dera melenggang ke dapur diikuti Braga dan Bryna yang mengekor dibelakang dan kedua bocah itu berakhir menunggui di ruang pojok dapur, duduk tenang melihat nenek dan ibunya memasak.
"Jangan sampai keceplosan bilang ke mommy rencana kita dan daddy." Braga berbisik.
Sedangkan Bryna hanya melirik kakaknya itu, kalau tidak ingin ketahuan ya jangan dibicarakan, jarak mereka dari ibunya itu tak jauh-jauh amat, jadi Braga cukup diam dan jangan mengeluarkan sepatah kata meski itu hanya memperingatkan Bryna saja, gadis itu cukup pintar menyimpan rahasia.
Disaat semua berbincang dan sibuk sendiri, Theo masuk ke dalam dapur, "Kok aku nggak tahu pada ngumpul disini?" pria itu sedikit bingung sembari memegang gelas berisikan kopi yang sudah tandas hanya tinggal sedikit cairan hitam saja.
Semua menoleh, tak terkecuali Roseta dengan spatula ditangannya. "Kata mama kamu sibuk kerja, aku nggak mau ganggu."
Mendengar jawaban itu, Theo sedikit mengerutkan bibirnya, berjalan mendekati Roseta dan mencium kening wanita itu, "Tapi kamu harus tetep bilang dong."
"Gini amat ngontrak di bumi."
Kali ini bukan Braga, ataupun Bryna, tapi yang bersuara menggoda adalah Dera, si pemilik rumah yang saat ini mengalihkan atensi dengan mengaduk kuah disertai senyum jail dibibirnya.
Sedangkan Roseta tersenyum, wanita itu tak lupa dengan tujuannya kerumah ini, membuat Theo berjanji untuk tidak meninggalkannya. "Theo kamu harus janji, jangan tinggalin aku lagi ya."
"BUCIN." Braga berteriak, tahu betul akan ada adegan seperti ini, "OMA, ADEK, PERGI YUK, BUMI BUKAN MILIK KITA."