
Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, namun Theo masih belum beranjak dari duduknya dari ruangan kerja. Pria itu lantas melepas kaca mata yang membingkai wajahnya.
Theo tersenyum geli saat mengingat pertemuannya dengan Bryna yang tak terduga ternyata tahu jika ia ayahnya. Perasaan gembira sontak merubung hatinya, harinya total berubah menjadi sempurna meski Roseta saja mungkin masih belum bisa memaafkannya.
Berbicara tentang mantan kekasih sekaligus ibu dari putrinya itu. Theo tidak tahu harus berbuat apa. Malu untuk menunjukkan muka, tapi terlalu rindu juga.
Pantaskah Theo untuk dimaafkan?
Pria itu mengaku jika dirinya patut dihukum saja.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, jika takdir hidupnya seperti ini, Theo hanya ingin meminta satu hal, biarkan dia membahagiakan putrinya di sisa akhir hidupnya, kalau bisa Roseta sebagai bonusnya.
Ngelunjak!
Ya biarkan saja!
Orang bebas punya pikiran seperti apa.
Theo malu sendiri dengan keinginan konyol terlebih tak pantas untuk didapatkannya, bahkan sangat tidak adil jika Roseta memaafkan dirinya begitu saja. Theo ingin mendapatkan balasan yang pantas untuk ia terima sebagai ganjaran.
Suara ponsel tengah malam begini sungguh mengganggu, tapi jika si Jordan yang tertera jelas di panggilan itu, mana mungkin Theo mengabaikan, siapa tahu ada sesuatu. "Ada apa?" jawab Theo saat benda hitam persegi panjang itu menempel di daun telinganya.
"Ada apa dengan Kiano?" Theo mengerutkan keningnnya, seolah menunjukkan ekspresi tak mengerti. "Mafia berada di klubnya?" tanyanya.
Theo diam sejenak mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan Jordan lewat panggilan suara. Alisnya menukik sebelah, seolah pembicaraan ini tak seharusnya masuk dalam kategori yang harus dibahasnya.
"Masa bodoh dengan mereka, Jord. Aku ingatkan, jangan pernah berurusan dengan seorang Mafia. Apapun yang terjadi, mereka beda ranah dengan kita. Biar keamanan Negara yang menuntaskan!" jelas Theo tegas memperingati.
Sekali lagi, Theo adalah pembisnis yang bersih, tak sekalipun dalam hidupnya berurusan dengan hal kotor hanya untuk keuntungan dalam mencari uang. Harta yang ia punya takkan kurang hanya untuk memenuhi kebutuhan.
Tidak jarang orang mencoba menghasut Theo untuk terjun ke hal kotor, contohnya bekerja sama dengan mafia, keuntungan sudah pasti akan luar biasa besar. Tapi, sorry saja, Theo tak butuh itu semua. Soal dampak menjadi alasan utama juga, berurusan dengan orang nekat bisa saja memgancam keselamatan keluarga. Theo masih punya ibu yang harus dilindungi meski tak pernah mau menemuinya, juga dulu punya Rahel yang dianggap putrinya.
"Apa katamu?"
Mata Theo memerah, tangannya mengepal, marah dan emosi sudah menguasai dirinya. "Selidiki, jangan sampai lolos. Aku akan meminta bantuan Bang Saga."
Belum juga Theo menutup panggilan itu, sepertinya Jordan masih meenjelaskan sesuatu. "Aku tidak perduli, yang namanya mafia tidak ada yang bersih, Jord," jelasnya.
Kepalan semakin kuat sampai buku-buku jari Theo memutih, giginya gemelatuk, sosok iblis dalam diri Theo kembali lagi, nafsu pemangsanya sudah aktif total.
"Aku tidak perduli. Tidak akan kubirkan orang kotor menyentuh Bryna," ucapnya final.
Belum lewat satu detik, ponsel Theo berbunyi lagi, bukan sepanjang nada panggilan, hanya satu ketukan suara yang ternyata sebuah e-mail. Dari James ternyata.
Jordan:
(Photos Bryna dan Robert)
Aku jelaskan lagi padamu, photo itu sudah satu tahun yang lalu, saat Bryna masih tinggal di Negara A. Sebaiknya kau tanya Roseta saja.
"Robert! Siapa kau sebenarnya?"
Bagi Theo, keluarga memang selalu jadi prioritas utama. Terlebih jika itu menyangkut tentang putrinya yang baru saja terungkap kebenarannya. Jorfan bilang mafia bernama Robert Anderson itu bersih dan tidak berbahaya, lantas apa yang dikerjakan seseorang hingga bisa mendapat gelar 'Mafiso' jika tidak melakukan tindakan gelap yang melanggar ketentuan Negara.
Lalu apa hubungannya dengan putrinya? Theo harus mendengarkan Jordan untuk bertanya pada Roseta pastinya.
...\~\~\~...
Theo adalah orang yang paling tidak sabaran, orang keras kepala yang sampai sekarang tak ada yang mampu untuk mengatasinya. Mendengar orang berbahaya pernah mendekati putrinya, rasa bersalah tiba-tiba menyerang begitu saja.
Pertanyaannya adalah; kenapa bisa Theo tidak sadar sedari dulu?
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada putrinya dulu!
Lalu Braga?
Jantung Theo mendadak berdegup kencang. Sontak kematian anak laki-lakinya jadi pertanyaan. Meskipun tak pernah sekalipun dia bertemu dengan Braga, mungkin mafia itu ada kaitannya, ya mungkin saja.
Berjalan tergesa hanya dengan berbalut celana training saja, Theo berlari dan segera menghapiri mobilnya. Tujuannya cuma satu, rumah Roseta. Tak perlu bertanya, nyatanya Theo itu terlalu pintar hanya untuk menemukan kediaman ibu dari anaknya, tentu saja dari Jordan.
Ngomong-ngomong soal perceraiannya dengan Yura, ada atau tanpa tanda tangan wanita gila itu, bagi Theo sama saja. Ia punya seribu cara agar bisa lepas dari Yura, perkara mudah dan tak butuh banyak tenaga.
Membelah jalanan Kota Mawar yang tepatnya mengarah ke perumahan Dealova, Theo menyusun sebuah rencana hebat dalam otakknya. Pria itu licik jika berurusan dengan keinginan yang sulit untuk didapatkannya, menarik hati wanita contohnya.
Tapi bukan perkara tarik menarik yang ada dikepalanya, lebih ke urusan yang menghawatirkan tentang keselamatan nyawa.
Sok jadi pahlawan sekarang ya, dulu kemana saja?
Theo dapat dengan mudah menerobos keamanan perumahan mewah daerah itu, tentu saja nama yang begitu besar mempengarui otoritasnya sebagai orang yang patut untuk di hormati.
Theo menekan klakson di depan rumah dengan gerbang tinggi. Sontak penjaga rumah berlari untu membuka. Tak perlu bertanya; saat Theo membuka kaca jendela, Pak Sam segera menggeser gerbang. Padahal Roseta pemilik rumah selalu mewanti-wanti agar tidak sembarangan membiarkan orang masuk kediamannya, lha ini kok dibiarkan saja. Tapi bagi Pak Sam seorang Matheo Ranu Pandega itu bukan orang sembarangan kok.
Jadi, siapa yang salah dong jika nanti Roseta marah? Roseta atau penjaga rumahnya? Entahlah.
...\~\~\~...
Roseta terbangun begitu pagi menyapa, namun anehnya perasaan gusar tiba-tiba menghampirinya. Seingat wanita yang berbalut piyama berbahan satin berwarna kuning itu; ia tak sedang bermasalah dengan siapapun, lantas kenapa jantungnya seperti bermaraton seolah memperebutkan juara utama.
Roseta menatap pintu yang ada di pojok kamarnya, bukan benda kayu untuk membawanya keluar, yang benar adalah pintu itu akaes untuk membawa dirinya menuju kamar Jay, ayah akal-akalan Bryna.
Menghembuskan napas pasrah karena kenyataannya pria pemilik kamar tidak ada di tempatnya, masih ingat sekali dua hari yang lalu orang tua sahabatnya itu menghubungi putranya agar si Jay segera pulang ke Negara A, bisnis lah yang menjadi alasan utama.
Suara dentingan ponsel tanda pesan masuk terdengar lantang akibat sunyinya keadaan. Roseta segera meraih benda plasma berwarna maroon itu di atas nakas. Matanya membola dan dugaan atas gelisah hatinya terjawab sudah.
+2xxxx:
Buka pintu sekarang, atau Bryna akan tau aku adalah ayahnya dan bisa saja dia kubawa dengan paksa.
"Sial," Roseta mengumpat.
Tidak adanya Jay sebentar saja sudah menimbulkan kesialan. Tapi Roseta tidak bisa selamanya bergantung pada sahabatnya. Kasian, Jay juga belum menikah akibat mengurus dirinya.
Roseta segera berlari menuju pintu utama, dilihatnya dari layar kaca yang menempel di tembok. Benar. Theo sudah ada di depan sana. Roseta tak begitu penasaran bagaiamana caranya Theo tahu nomor ponsel bahkan alamat rumahnya. Tidak juga begitu heran, nyatanya Theo adalah orang yang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannga. Roseta sangat hafal.
Masih jam lima, warna langit saja belum terang dengan benderang, pria gila dan beristri manakah yang membobol rumah wanita lain, jika Roseta boleh menghina. Theo adalah salah satu spesies pria hidung belang yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini.
"Untuk apa kau kemari?" pertanyaan itu bernada datar dan tidak ramah.
Ya pantas bukan Roseta mengatakan dengan ekspresi seperti itu. Takut-takut digosipkan sebagai perusak rumah tangga jika ada paparazzi yang berhasil mendapatinya berdua dengan suami orang sepagi ini.
Theo orang terkenal, begitupun Roseta juga barusan viral akibat Video berdurasi tiga menit yang tersebar di media sosial pun televisi bersama Rahel yang diketahuianya anak dari orang di depannya; video cuci tangan jika masih ingat.
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?"
"Tentu saja tidak."
Nyatanya kedua insan yang pernah dimadu indahnya cinta pada masa remaja itu masih birdiri diantara ambang pintu, Roseta memang tak rela membuka lebih dari dua puluh derajat papan berbahan besi itu.
"Aku memaksa."
"Kau siapa?"
"Aku mencintaimu."
"PRIA GILA!"
Pintu ditutup dengan keras oleh Roseta. Ya Tuhan ada apa dengan suami orang itu, Roseta bukan wanita murahan yang dapat terbuai rayuan ya, itu yang keluar sebagai simbol pertahanan. Nyatanya kata cinta yang sudah sangat asing ditelinganya itu, oh! Salahkan Theo sudah membuat rona merah membumbui pipi Roseta saat ini.
Theo keparat memang.
Benda plasma milik Roseta bergetar hebat, wanita itu berlebihan memang. Tapi panggilan itu berulang dari Theo yang masih belum beranjak dari depan pintu rumahnya. Terpaksa Roseta membuka saja, dari pada ancaman membawa Bryna benar-benar dilakukannya.
"Heeeiii! Theo, jangan masuk!" teriak Roseta.
Wanita tanpa suami itu kelabakan karena Theo menerobos untuk masuk kedalam hunian. Rose mengejar karena peringatannya tak digubris sama sekali. Selanjutnya pria berbalut hoodie hitam dengan tudung menutup kepala itu berhenti mendadak alhasil Roseta tanpa sengaja menabrak punggunggnya yang tegap.
"Aw!" rintih Roseta.
Theo membalikkan badan, mode perhatian total aktif. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya sembari menundukkan kepala.
"Cih!" Roseta berdecih tak mengindahkan kekawatiran Theo. Raut mukanya tetap datar seperti air lautan.
Jika dipikir, dimana Theo yang beberapa hari yang lalu menyebut Roseta sebagai wanita murahan?
"Kenapa sepagi ini kau berada dirumah wanita murahan, tuan Matheo?"
Hawa mencekam seakan mencekik leher Theo, sebutan laknat itu sungguh tidak pantas dan sangat lancang yang pernah ia katakan pada wanita di depannya ini. Tidak bisakah Roseta hilang ingatan dan melupakan satu penggal kata itu? Sungguh Theo ingin memotong lidahnya sendiri.
Sedangkan Roseta teramat lega dapat mengatakan kata kotor yang bahkan sekalipun ia tak pernah berprilaku seperti itu. Masih penasaran saja bagaimana pria brengsek yang nyatanya adalah satu-satunya orang yang pernah berset**uh dengannya melemparkan kata-kata talak sampai menembus jantungnya.
"Maaf, aku bisa menjelaskan," ucap Theo.
Tatapan Theo berubah sendu, sangat tulus, tidak ada perangai menakutkan seperti beberapa hari sebelumnya.
Pikir Roseta, apa semua karena Bryna?
"Jelaskan sekarang. Bahkan menjual tubuhku saja aku tidak pernah. Hanya denganmu-"
Roseta membekap mulutnya sendiri, kenapa, kenapa kata tak terkontrol untuk menjelaskan betapa setia tubuhnya untuk tidak tersentuh orang lain selain pria di depannya akan ia uraikan begitu saja. Roseta tidak boleh kelepasan, tidak, tidak boleh.
"Ekhem," Roseta berdehem untuk melanjutkan. "Jelaskan padaku dan segeralah pulang. Kau pria beristri, sepagi ini datang ke rumah wanita lain, apa jadinya jika ada rumor yang tidak benar."
Theo diam-diam tersenyum tipis, tidak tahu bagaiamana cara menjelaskan isi hatinya. Terlalu bingung akan dimulai dari mana. Siapa yang tahu jika sedari tadi pria ini sedang mati-matian menahan diri agar tidak memeluk Roseta dalam dekapannya. Wajah bare face serta hanya dengan balutan piyama membuat Theo ingin mengung**ng Roseta dibawahnya.
Dasar pria ini memang kurang sentuhan rupanya.
"Aku duda, aku sudah bercerai dengan Yura," ungkap Theo tak terduga.
Oke. Roseta dibuat bingung bukan kepalang. Penasaran tentu saja ada, tapi ya tidak mungkin juga Roseta perlihatkan dengan kentara, buat apa coba. Toh Theo juga bukan siapa-siapanya, meskipun duda, Roseta juga tidak ingin dengannya. Hello, otak Roseta mengarang, memangnya apa yang dipikirkannya. Bersama Theo lagi adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan.
"Aku tidak bertanya tuh. Jelaskan soal yang tadi."
"Wanita murahan?" tanya Theo.
"Tentu saja!"
Theo sedikit kecewa, apakah Roseta tidak lega atau bahagia sedikit saja tentang dirinya yang sedang menduda. Tidakkah Roseta ingin kembali padanya.
Menghayalah sampai puas dan beruban Theo.
Karma sedang menertawakan ngomong-ngomong.
"Aku dijebak. Delapan tahun yang lalu seseorang manaruh flash disk di ranselku."
Theo menjeda, sebenarnya tidak bisa mulutnya berkata tentang manipulasi yang melibatkan Roseta dalam adegan ranjang di dalam video rekayasa itu.
"Lalu?" tanya Roseta penasaran.
"Ada rekayasa video yang melibatkanmu dalam adegan telan**ng bersama Jay. Aku salah paham dan menganggapmu murahan. Maafkan aku, aku baru tahu beberapa hari yang lalu."
Seakan dunia runtuh dan menimpa tubuh Roseta dalam keadaan sadar. Manusia mana yang tega melakukan itu padanya. Seingatnya, ia tidak punya musuh yang mampu melakukan tindakan kasar secara visual.
Roseta mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh!" hanya tanggapan itu yang mampu Roseta berikan.
Hell.
Hanya begitu?
Hanya itu respon yang Roseta berikan. Theo sampai stagnam melihatnya, bagaimana mungkin Roseta yang menjadi korban hanya sesantai itu, tidak marahkan atau bertanya sesuatu begitu.
Sebenarnya Roseta ingin meraung dalam tangisnya. Tapi ia menahannya. Jujur, sakit diperlakukan secara menjijikkan dengan video yang meskipun hanyalah manipulasi. Keadaan sudah berlalu begitu jauh yang terhitung dalam tahunan, tidak ada gunanya juga untuk protes dan mencari pelakunya.
"Lalu," pandangan Roseta menatap lurus mata Theo, alisnya terangkat menunjukkan ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan. "Apa tujuanmu kerumahku?" tanyanya melanjutkan.
"Tinggalah bersamaku."