
Braga mencureng menatap ayahnya yang beberapa saat lalu tak merasa terkejut akan informasi yang disampaikan Braga tentang Dera yang sebentar lagi akan datang.
Ada fakta yang memang tak diketahui bocah itu.
Oke. Theo memang tahu tentang semuanya.
Tentang Leon yang tinggal dengan ibunya yaitu Dera.
Tentang Braga yang sudah menjadi anak kedua ibunya.
Tentang Braga yang bersembunyi dari semua orang bersama ibunya.
Berkat Jordan, Jeko dan juga usahanya, mereka mampu menggali informasi tentang keberadaan ibunya yang menghilang dengan sangat misterius, yang sayangnya selama ini tidak berusaha dicari oleh Theo.
Theo memulai pencarian saat Jeko bercerita jika sosok pria kecil yang berada di dalam CCTV lapangan basket adalah orang yang persis seperti kembaran Bryna, nama pun juga sama bukan? Makanya, Theo langsung berasumsi banyak hal. Apalagi saat Roseta dengan terang-terangan menunjukkan photo Braga yang sangat persis seperti Braga yang ditemuinya di lapangan basket.
"Apa yang Daddy tahu?" Braga dalam mode serius, dengan tatapan lurus dan pandangan fokus. "Maksudnya, bagaimana bisa Daddy tahu keberadaan Braga. Itu hal sulit untuk dilakukan siapaun."
Theo tersenyum, lantas ia berdiri. "Apa kamu yakin? Daddy bukan orang sembarangan.”
"Sekarang Braga tahu sifat sombong Braga itu datangnya dari Daddy, karena Mommy terlalu baik."
Theo mengerutkan alis. "Jadi, menurut kamu, Daddy jahat? Begitu?"
Braga mengangguk mantap. "Bravo." Tangan kecilnya menjentikkan jari. "Jangan ditanya lagi soal itu." ungkapnya terang-terangan.
Kenapa Theo tiba-tiba merasa sangat kesal sekali ya. Tidak apa-apa, toh anaknya yang mengatakan. Jika saja Jordan, ia pasti akan menempeleng kepala pria itu.
"Oke cukup basa-basinya. Sebagai sesama pria, kita berbicara serius sekarang. Jadi, bagaimana Daddy bisa menemukan Braga?"
Theo mengulum senyum yang susah payah disembunyikan oleh telapak tangannya. Sungguh sangat gemas saat Braga menyebut 'sesama pria'. Oh ayolah, tinggi bocah itu tak berbeda jauh dengan Bryna. Bagaimana ia bisa menyebut dirinya sebagai pria.
"Dad. Tidak ada yang lucu. Jangan tertawa." Mata Braga memincing tidak suka.
"Oke, sebentar." Theo terpaksa membalik badan, memunggungi Braga untuk mengontrol ekspresi wajahnya. Ah sial, kenapa sangat lucu sekali. Theo tidak tahu bagaiman menjelaskan perasaannya.
Theo menatap Braga yang sudah bersendekap dada hingga membusungkan ke depan. Theo tidak bohong, Braga nampak serius dengan perkataannya. Sebenarnya bagaimana sosok putranya ini? Perangainya memang jauh berbeda dengan Bryna, hanya saja tingkat kegemasannya saja yang setara. Dan juga, ia sangat tampan, seperti dirinya.
"Daddy menyamar."
"Menyamar?"
Theo mengangguk. "Sulit mencarimu dengan cara licik, Son. John Uncle diblokir saat mencoba mengikutimu lewat CCTV seko...."
Braga tersedak begitu saja. "Ah. Maaf, aku tersedak air liur. Teruskan Tuan."
"Tu-tuan?"
"Pembicaraan serius harus formal, tidak peduli jika kita sedarah."
Astaga. Anaknya ini orang seperti apa sebenarnya? Theo membeo begitu saja. "Baik Tuan Braga."
"Aku masih muda, panggil aku dengan benar, Son tidak apa-apa."
Theo menepuk jidat, sampai kapan perdebatannya berakhir jika ah....Theo tidak bisa berkata-kata.
"Redolent adalah kamu."
Braga membatu begitu saja. Heeeeei, Braga sangat yakin dia pintar berkat turunan otak cerdas ayahnya, sangat yakin akan hal itu. "Aku sangat yakin, otakku turunan darimu Tuan."
"Kali ini kamu memuji kepintaran ayahmu?"
Braga mengangguk. "Tapi predikat jahat tidak bisa aku abaikan."
Keras kepala. Theo yakin, sifat satu ini juga menurun dari Theo untuk dipindahkan total pada Braga. "Terimakasih sudah melindungi perusahaan, Son."
Braga mengangkat alisnya. "Itu perusahannku. Nanti aku yang akan memegang penuh. Jadi aku harus melindunginya."
Untuk kali ini giliran Theo yang tersedak hebat. Bocah sepiyik ini sudah memikirkan perusahaan. Theo bahkan membangun dari nol untuk memulai usahanya karena sama sekali tidak terlibat bisnis keluarga besar Pandega.
"Anda keberatan Tuan? Tampaknya anda begitu tidak suka!!"
Bukan. Tidak begitu. Theo hanya terkejut saja. Siapa yang mengajari Brga untuk memikirkan soal harta, bahkan seharusnya yang dipikirkan hanya bermain saja.
"Tentu saja tidak, Son. Semua milikmu. Tapi kamu harus memulai dari nol. Nanti Daddy akan mengajari langsung."
Braga mengangguk berwibawa. Jelas dia akan minta bantuan ayahnya. "Bahkan jika kita tidak bertemu saat ini, aku pastikan akan merebut perusahaan untuk balas dendam."
Theo tersenyum. Ia jadi tahu maksud putranya. Bukan soal harta, tapi balas dendam. Lantas Theo mengelus pucuk kepala Braga.
"Mau dengar cerita Daddy?"
"Oh iya. Penyamaran apa yang Daddy maksud?"
Theo meringis. "Jadi, sudah tidak ada pembicaraan orang dewasa lagi?"
"Braga capek jadi orang dewasa."
Theo terpaksa tertawa. Braga ini nampaknya orang yang plin-plan. "Daddy menyamar jadi pemulung untuk mengikutimu."
"Pemulung?" Braga seakan mengingat sesuatu. "Jadi..."
"Iya, itu Daddy. Api tidak bisa dilawan dengan api, begitupun air, tidak akan bisa di lawan dengan air. Apalagi kamu, kelebihanmu menggunakan alat canggih tidak bisa Daddy lawan dengan dengan alat yang sama. Buktinya, Jeko dan Jordan kamu hancurkan begitu saja. Daddy harus memutar otak meskipun dengan cara yang sangat sederhana. Tapi itu bekerja, bahkan lebih dari yang Daddy kira."
Braga melongo, tidak menduga. "Aku tertipu."
"Tapi kamu sangat cerdas, Son. Butuh waktu lama sampai akhirnya Daddy bisa menemukan berkasmu di Negara S."
"Itu juga hal luar biasa, Dad, bagaimana bisa Daddy menemukannya?"
Theo memincingkan mata lalu berkata bangga. "Itu urusan orang dewasa."
"Kamu tetap hebat, Son. Mencari data itu tidak sebanding dengan bagaimana caramu mengalahkan puluhan Hacker yang menyerang perusahaan."
"Om Saga juga terlibat, Dad. Bukan tanganku saja yang bekerja."
"Oke. Ternyata kamu rendah diri juga."
"Aku orang baik, Dad. Dan sialnya bisa tertipu oleh Daddy-nya sendiri. Pakai menyamar lagi. Harga diriku jatuh." Braga masih tidak bisa mengabaikan jika ia disiasati seperti itu.
Theo diam-diam memang mengikuti Braga saat dengan kebetulan Bryna meraung karena melihat Braga di depan rumah dan saat itu ada Dera juga bersama mereka. Asumsi Theo semakin kuat. Lantas saat itu juga, Theo mengirim pesan misterius untuk Jordan menggunakan kode khusus untuk memerintahkan orang yang sama sekali belum terlibat dengan Theo untuk memeriksa kediaman Dera di Negara I.
Keberuntungan memang berpihak kepada Theo. Orang suruhan Theo tidak bisa di deteksi oleh Saga maupun Redolent yang ternyata adalah Braga sendiri. Sebut saja namanya X, ya karena identitasnya disembunyikan, X mampu menyusup masuk kediaman Dera dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Dera bersama bocah cilik, X tak membuang waktu langsung memotret pemandangan itu dengan kacamata canggihnnya. Hanya dalam hitungan detik saja, Theo menerima laporan mengejutkan.
"Makanya, mulai hari itu, Daddy mengikutimu, bukan sebagai pemulung saja. Kamu masih ingat pelayan es krim?"
"Bapak tua berjenggot?"
Theo mengangguk. "Iya, itu Daddy, saat itu Daddy ingin memelukku, tapi tidak berani. Daddy pengecut ya?"
Braga tersenyum tidak menyangka, lalu kepalanya mengangguk. "Iya, selain bodoh Daddy juga pengecut."
Tajam sekali mulut anakku.
"Lalu. Soal Redolent? Daddy tahu darimana?"
Theo tidak sabar untuk mengatakan hal ini, meski sedikit curang, tapi berhasil bukan. "Masih ingat perpustakaan tengah kota Mawar di Negara I?"
Braga nampak menerawang langit-langit. "Braga ingat, tapi tidak ada hal aneh disana?"
"Kamu yakin?"
Braga mengangguk. "Sangat yakin, bahkan hanya beberapa orang disana, Braga dan Om Saga hanya membaca buku pelajaran, Braga punya PR banyak yang harus dihapalkan, karena buku Braga tertinggal di Negara S, dan kebetulan juga, Braga ingin jalan-jalan."
Theo mengangguk, suka dengan Braga yang banyak bicara. "Ingat pemuda sedikit tonggos? Memakai kacamata dan sedikit brewok?"
Braga sontak membolakan mata. "Braga ingat!!" Pekiknya. "Daddy licik."
"Bukan licik, tapi cerdik, penuh persiapan."
"No, Dad, itu licik namanya. Menjebakku."
Theo tertawa melihat Braga marah-marah tidak berguna. Memang benar yang dikatakan Braga, Theo licik untuk mengetahui informasinya. Biar bagaimanapun Braga adalah laki-laki polos di umurnya, banyak hal yang masih belum bisa terpikirkan oleh anak di umur yang bahkan belum genap sepuluh tahun itu.
Bagaimana tidak.
Saat itu. Theo bergumam tidak jelas dengan dirinya sendiri, menyebut beberapa kali nama Redolent untuk Braga dengar, kebetulan, ah bukan, Theo memang dengan sengaja duduk dekat dengan Braga yang sendirian, karena Saga meninggalkannya sebentar.
Theo menuliskan kata 'De' yang berarti 'dari' dan 'Redolent' yang berarti wangi atau harum di sebuah buku yang ada di atas meja, lantas Braga menghampirinya dan duduk disebelahnya hingga berkata. "Hai kak, nama itu bagus."
Lantas Theo berpura-pura kaget. "Kamu tahu nama ini?" Tanyanya dengan suara yang sedikit dibuat agak cempreng.
"Tentu saja. Nama itu cukup umum. Aku menggunakannya. Apa Kakak juga suka?"
Theo mengangguk saat itu. "Ini bagus tapi tidak begitu bermakna untuk ku gunakan."
"Nama memang digunakan sesuai maknanya Kak. Aku sendiri menggunakannya karena itu sangat berarti untukku. De yang berarti dari dan Redolent yang berarti wangi, bukan merujuk atas aromanya saja, namun aku melihat dari keindahan. Nama ibuku indah seperti bunga, makanya aku menggunakan nama itu untuk mengingat ibuku yang selalu aku rindukan."
Theo menghangat dalam dadanya saat mengingat itu semua. Nama itu sangat berarti, merujuk untuk Roseta, wanita yang sangat patut untuk dicintai.
Begitulah ceritanya.
"Daddy ingin bertemu dengan Robert."
Braga mengangkat alisnya. "Jangan bilang Daddy tahu semuanya?"
"Jelas Daddy tahu. Sebagian sudah Daddy bereskan, termasuk Foltrees."
"That's a lot to take in. Apa Daddy serius?"
"Apa hal ini bisa dibuat bercanda?"
Braga menggeleng. "Braga masih terkejut. Braga kira Foltrees berhenti dengan sendirinya, apa itu karena Daddy?"
Theo mensejajarkan tubuhnya agar memiliki tinggi yang sama dengan Braga, tangannya terulur untuk mengelus suarainya. "Begitulah cara orang dewasa bekerja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Kamu aman, Son."
Perlakuan hangat Theo membuat jantung Braga bertalu dengan cepat, ada perasaan aman yang mengungkung kuat untuk melindunginya. "Bagaimana dengan Robert Uncle."
Theo tersenyum. "Robert aman dan bisa kembali ke asalnya dengan tenang. Daddy sebenarnya hanya ingin berterimakasih hari ini juga, tadi pagi tepatnya, tapi ada hal mendesak sebelum daddy mengatakanya."
"Yura, wanita jahat itu." Braga cepat mengatakan itu.
Braga menangkap maksud ayahnya. Berbeda dengan Theo yang langsung menautkan alisnya. "Kamu tahu?"
"Daddy pingsan karena obat sialan itu."
Theo meringis mendengarnya. Kronologi tepatnya memang tidak tahu, dan nanti akan mencari tahu sendiri soal itu. Tidak mungkin juga ia menanyakan pada Braga. Juga, putranya ini pandai mengumpat dan berkata sedikit kasar, mungkin jika Theo saja yang terkena imbasnya tidak apa-apa, tapi adat orang di Negara I tidak akan menerimanya. Theo harus memutar otak untuk memperbaiki keadaan.
"Mommy sudah datang!" Braga gusar, wajahnya memucat hingga Theo meleburkan angan-angannya.
"Mommy? Maksud kamu Roseta, Mommy kamu?"
Braga mengangguk. "Braga harus bagaimana, Dad?" Bocah itu akhirnya memperlihatkan ponselnya.
Theo jadi paham. Jadi selama ini dirinya beserta yang lain juga telah disadap oleh putranya. Untung saja semenjak Theo mulai curiga, ia mengganti ponsel, bahkan mobil dan pakaian yang ia pakai telah dihancurkan. Mengganti dengan yang baru dan sudah dideteksi aman oleh Jordan. Kelancaran penyelidikan harus dilaksanakan dengan benar. Bahkan terkadang Theo memilih untuk menggunakan sepeda motor saat penyamaran. Totalitas sekali.
"Dad, aku harus ke kamar mandi."
Belum sempat Theo protes. Bocah cilik itu berlari kencang ke arah kamar mandi dalam kamar, bersamaan pintu bilik itu tertutup, pintu lain menyibak menampilkan Roseta, Dera beserta Sarah memasuki ruang inapnya.