ROSETA

ROSETA
Dilema



Roseta menekan bibir pada cangkir berisikan cokelat panas. Menyesap sedikit demi sedikit, perutnya nyeri, sumpah demi Tuhan, tamu bulanan itu tidak bisa diajak kompromi.


Jika biasanya Roseta tidak kesakitan, tapi jika rasa lelah di campur kehilangan banyak darah serta pikiran yang tidak terarah, apalagi yang akan terjadi, semua akan lari memukul perut, mual, sudah pasti.


Tapi, biarpun begitu, setelah Braga dan Bryna pergi ke sekolah, tubuh lemah lunglai itu memaksa mengendarai mobil menuju perumahan Dealova, rumah yang ditempatinya dulu, bersama Jay, serta memohon pada pria itu untuk tidak masuk kerja.


"Kamu mau membentuk aliansi pengangguran masa kini? Tidak memperbolehkan aku kerja?" Jay yang baru saja selesai berganti pakaian dari berjas rapi sampai hanya memakai kaos dan celana pendek itu pun bertanya.


Roseta mengangguk, menanggapi sarkasme pria itu. Jujur, Jay tidak keberatan. Justru ia ingin melakukan sedikit candaan. Tapi gagal total sebab Roseta sama sekali tak memberikan sedikit senyuman.


Wanita itu seperti tak berdaya.


"Mau hangout?"


"Menurutmu ini waktu yang tepat untuk hal semacam itu?"


Jay meringis. Sumpah demi meeting yang rela ia batalkan, padahal itu proyek besar, Jay tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur Roseta.


Jika sudah begini. Maksudnya jika Roseta sudah sampai mencarinya, tingkat kegalauan wanita itu sudah berada di taraf internasional.


"Theo? Masih memikirkan dia?"


Gelas di taruh di meja, kaki di angkat di sofa, satu bantal diambil lalu dipeluk. "I'm totally done with him. Jangan dibahas, aku baik-baik saja. Cuma butuh teman ngobrol."


Jay justru tahu jika tutur kelewat teratur itu adalah sebuah kebohongan yang sudah diatur. Alias omong kosong.


"Maria? Mau kutelfonkan dia?"


"Lebih baik aku kabur saja. Kekasihmu itu cerewet sekali."


"Sarah?"


"Dia bekerja, dia sama saja seperti Maria, membuatku pusing."


"Liliana?"


Roseta berdiri, agaknya Jay ini sedang tidak ingin menemaninya. Lebih baik ia pergi saja. Namun saat sepatah kata tak keluar dari mulut hingga hanya kaki yang menuntut berjalan, tiba-tiba pergelangan tangan Roseta dipegang, oleh Jay.”


"Mau kemana?"


"Pergi."


"Ya ampun, aku hanya bercanda. Sini duduk."


Roseta memutar bola matanya. Sangat kesal. Ia tidak berbohong jika tubuhnya itu sakit semua, seperti di gebukin orang sedunia.


"Aku kangen papa Jay." Sembari mendudukkan diri disamping Jay, ungkapan rindu itu dikatakan dengan sedih. "Hampir dua bulan di Negara ini, rasanya seperti setahun saja tidak bertemu dengannya.“


"Papa siapa?"


Roseta melirik sinis ke arah Jay. "Siapa lagi yang bisa kupanggil dengan sebutan papa. Kemaren-kemaren waktu di Negara A nggk sempet ngunjungin papa.”


Tiga detik setelah Roseta mengatakan itu, Jay merasakan nyawanya melayang entah kemana, satu fakta yang ia lupa bukanlah tentang orang yang disebut papa oleh Roseta, tapi kenyataan jika si papa yang belum diberi kabar apa-apa adalah sebuah mala petaka.


"Roseta. Papa belum tahu soal Braga? Sudah seminggu kita menunda memberitahunya, salahmu, jadi aku bungkam."


Bukan hanya Jay, sekarang Roseta langsung saja terseret, "Mati aku Jay. Harusnya tiga hari yang lalu aku ngasih tahu papa, nggak tahunya ada berita sialan itu."


Setelah mengatakan itu, mulut Roseta hanya bisa terbuka menutup karena bingung mau bicara apa lagi. Ia sebenarnya bukan lupa.


Terkutuklah berita perselingkuhan sialan yang membuat semua berantakan. Niat Roseta datang ke Negara A sebelumnya selain berziarah untuk Alenso,  juga karena ingin memberitahu Martinus David Samanta, ayah kandung Jay Argiato Samanta perihal Braga, perihal ketemunya anak itu, perihal Braga yang masih hidup. Roseta sudah beberapa kali membayangkan bagaimana ekspresi pria tua yang selalu berpakaian nyentrik itu jika tahu berita ini. Pasti senangnya juga tak kalah main.


"Aku janji sama kamu, setelah semua beres, kita bareng-bareng temuin papa, sekaligus bawa anak-anak juga."


Tatapan Roseta mendadak sayu bersama tubuh yang terlihat layu, seperti daun kekurangan air. "Aku nggak nyangka, kurang lebih dua bulan di di sini, hidupku berubah drastis, banyak kejutan."


Dunia memang tempat dari tumpukan masalah, cinta, sekaligus segala kerumitannya. Roseta total muak dan ingin menyerah saja. Jika tempo hari ia menggebu-nggebu dengan semangat membara, tapi entah kenapa hari ini rasa percaya diri hilang begitu saja.


Mendengar nama kedua orang yang disebut oleh Jay praktis membuat Roseta memejam mata kuat. "Aku sudah bilang, jangan membahas mereka." Sentaknya.


"Kamu yang membuatku membahas mereka, Roseta."


Mana ada?


Roseta tidak suka dengan perasaan gelisah yang selalu ia rasakan disaat ia mengingat Theo lagi. Sudah tiga hari, come on, Roseta sangat kesusahan tidur karena tidak mendapat kabar dari pria itu.


"Keterlaluan nggak sih kalau aku bilang ini beban terberatku padahal aku pernah mengalami hal  lebih parah dari ini? Hamil sendirian, membohongi anak-anak, kehilangan Braga. Rasanya aku ingin mati." Roseta berbalik menatap Jay terang-terangan. "Tapi, saat ini kenapa rasanya tidak cukup mudah. Perasaanku membuatku lelah Jay, tapi aku takut mengambil keputusan, Aku mencintai Theo, tapi aku dan dia benar-benar berakhir."


Jay jelas tahu bagaimana cintanya Roseta kepada Theo. Jika diingat-ingat lagi, hanya Theo yang bisa membuat Roseta terpengaruh, secara mental.


"Pa." Roseta berteriak kencang. "Pa, berhenti."


Martinus, pria tua berbalut kemeja bunga-bunga yang dipadukan dengan celana pendek berwarna cokelat itu tengah habis-habisan memukul Jay dengan tongkatnya. Matanya merah, tangan yang sebenarnya harus renta karena termakan usia itu menarik kaos putranya dan dibanting di lantai keras.


"Bajingan, anak kurang ajar, siapa yang mengajarimu membuat video seksual? Memalukan." Martinus marah. Marah kepada Jay yang ia serang secara dadakan dari semenjak ia masuk kerumah.


Semua terlalu cepat untuk dicerna, pun terlalu tidak masuk akal hingga Roseta dan Jay tidak tahu apa maksudnya.


"Papa, berhenti pa." Roseta dengan tangis itu mencoba untuk menghentikan, tapi tubuhnya tak berani mendekat.


Jay sudah tergeletak dibawah, jika saja bukan ayahnya yang melakukan pukulan talak itu, bisa dijamin, gigi lawan patah semua. Bahkan Jay ingin menyanggah, tapi pukulan super cepat menggagalkannya.


"Pa, kumohon." Roseta tidak bisa, darah mulai menghiasi lantai meski tak terlalu banyak, itu menyakitkan, melihat Jay untuk pertama kalinya dengan keadaan seperti ini membuat Roseta sakit.


"Papa datang ke sini karena ingin bertemu Braga. Baru saja mendarat, berita dijalanan membuatku malu, putraku sendiri, kau sangat memalukan."


Ada apa?


Justru Jay tidak tahu apa-apa. Lantas Roseta yang masih bisa menggunakan tangnnya mencoba untuk membuka ponsel yang tergeletak di atas meja, meneriksa berita apa lagi yang muncul di media.


Roseta mual, ia ingin muntah.


Theo pernah mengatakan ini sebelumnya, bahkan saat itu Roseta abai karena sudah menjadi masa lalu. Tapi sekarang. Lihat. Video jebakan yang membuat Theo benar-benar pergi meninggalkan Roseta dulu. Video adegan ranjang yang dimanipulsai dengan pemeran utama Roseta dan Jay tersebar luas.


Dengan sisa tenaga sebelum limbung merenggut tubuhnya, Roseta meraih tangan Martinus. "Pa, ini jebakan, percaya sama Roseta pa, aku dan Jay tidak pernah melakukan hal seperi ini."


Hembusan napas kasar dari Martinus membuat Roseta ketakutan, tapi ia harus meluruskan. "Pa, percaya sama aku, kumohon, bukan seperti ini, ada yang menjebak kami, ini video manipulasi, Theo yang memberitahuku soal ini."


Sedangkan Jay yang terkuras tenaganya sampai habis mencoba untuk berdiri. Sumpah demi Tuhan. Ia tidak pernah menyangka ada kejadian seperi ini.


"Pria tua bajingan." Jay mengumpat ayahnya sebelum ikut serta dan meraih ponsel Roseta. “Aku tidak mungkin melakukannya." Marahnya kemudian.


Martinus yang teramat paham dengan putranya itu sekarang benar-benar sadar. Jika Jay bisa mengumpatinya, berarti berita memang tidak benar. Tapi yang namanya kejutan kan tidak tahu, Martinus tidak mau disalahkan.


Roseta meraih remot televisi. Benar. Disana menayangkan adegan panas, dua orang berciuman, wajah tidak samar, benar-benar vesri Roseta dan Jay tanpa cacat. Meski itu manipulasi, Roseta rasanya tidak kuat melihat jelamaan persis wajahnya ditonton jutaan orang.


Dalam satu wadah masalah yang baru saja keluar, Roseta tahu jika hidupnya benar-benar kacau mulai sekarang. Tidak akan pernah tenang.


"Baik. Sepertinya aku memang harus turun tangan kali ini. Enak saja membawa nama Samanta. Siapa yang melakukannya?" Dengan wibawa yang dibuat-buat, Martinus menekankan keinginannya.


Roseta masih termanung, sedangkan Jay sibuk dengan bibirnya yang hampir sobek, tubuhnya yang tak sedikit mengalami bengkak.


Mendapati tanggapan yang tak lebih dari patung monumen di tengah jalan, Martinus terpaksa membuka ponselnya. Satu deheman kuat ia keluarkan beserta memanggil lawan bicara.


"Oh." Satu panggilan suara tengah masuk sebelum Martinus melaukannya duluan.


Percaya dengan takdir?


Mungkin saat ini tepat sekali untuk mengubah situasi.


"Halo tuan Pandega." Jawab Martinus, sedikit lama mendengarkan, pria tua itu menyinggungkan senyuman. "Baik, saya akan segera kesana."


Tepat disaat Martinus menutup ponsel, tubuh ramping yang terlihat lemah itu limbung, beruntung Jay menangkap dengan tepat. "Pak tua, Roseta pingsan."