
"Sarah, I'm so sorry. I can't conceal my anxiety to know what you think about it."
"So, quickly tell me everything about you, Roseta. Tidak ada sisa. Kau sampai menculikku, astagaaa. Kau serius!!!"
Roseta meraub banyak sekali oksigen lalu menghembuskan karbondioksida dengan pelan-pelan. Jemari sedikit bergetar itu mengambil jus yang sudah disiapkan oleh pramugari private jet yang tengah keduanya tumpangi.
"No. Aku tidak akan bercerita panjang lebar. Sudah tahu 'kan sedari tadi aku diam. Aku hanya ingin minta maaf dan akan menunjukkan langsung di depanmu. Apa yang aku alami, dan semua kenyataan akan terungkap setelah kita mendarat di Negara S. Ini penebusan salahku untukmu, Sarag. So, dengan waktu kurang dari dua jam ini, kita nikmati saja perjalanan. Sisakan tenaga untuk nanti. Anggap saja jet ini milikmu sendiri."
Sarah terbengong. Mencerna kalimat begitu panjang jujur saja membuat ia menelan ludah dengan payah. Roseta dengan membawa rahasia akhirnya akan mengungkap sisi yang yang selama ini ia jaga.
Pantaskah Sarah menerima pengungkapan kelas utama itu?
Pantaskah Sarah merasa perlu mengetahui sampai-sampai sahabatnya ini meminta maaf atas kemarahannya beberapa minggu yang lalu?
Lantas kenapa Roseta menyembunyikan begitu lama jika akhirnya ia akan mengetahuinya dengan cuma-cuma?
Hari ini begitu mendadak pikir Sarah.
Roseta tersenyum getir. Bohong jika dirinya tidak sakit, jujur dadanya begitu sesak. Kemungkinan Yura menjebak Theo memang menari di kepalanya. Namun, melihat berita yang begitu ramai lantas saja membuat Roseta kelabakan. Jika hubungannya dengan Theo berlanjut, Roseta sudah tahu resikonya.
Lalu bagaimana dengan Bryna?
Resikonya begitu besar mengingat Bryna masih dalam masa pertumbuhan. Media begitu kejam memangkas habis sampai sebegitunya. Roseta ketakutan, otaknnya sangat penuh dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Roseta ragu bisa melanjutkan dengan Theo apa tidak.
1 jam yang lalu.
Roseta berjalan keluar dari loby rumah sakit melihat Sarah yang sedang ingin masuk dengan membawa berkas begitu banyak. Sepertinya ada meeting diluar berkaitan dengan pembangunan rumah sakit cabang Marveen yang akan di dirikan di desa kecil untuk rakyat kurang mampu hingga beban biaya obat akan Roseta tanggung secara pribadi.
"Sarah." Panggil Roseta sembari langkahnya berlarian kecil.
Sarah sedikit mendongak dan menatapnya dengan enggan. Jujur masih marah, namun sungkan lebih mendominasi. Pasalnya sahabat itu adalah tempat dimana tumpukan kesedihan dari seorang kawan. Nyatanya Sarah tak begitu berarti untuk Roseta. Jadi bersikap sewajarnya sebagai atasan dan bawahan saja.
"Iya." Jawab Sarah. "Saya habis rapat."
Roseta mencelos mendengar Sarah berbicara dengan formal.
"Kak." Panggil Roseta saat melihat Jack yang ternyata mengikutinya dari belakang. "Ambil berkas Sarah, aku mau ngajak dia, jangan bilang siapa-siapa."
Dengan begitu, Sarah yang benar-benar linglung ditarik paksa tangannya setelah berkas tumpukan kertas yang ia bawa sudah berada di tangan Jack.
"Ki...kita mau kemana?" Canggung, Sarah teramat sangat canggung.
Sedangkan Roseta tersenyum tipis. "Nanti kamu bakalan tahu."
Roseta dan Sarah sudah duduk di belakang kursi penumpang yang sudah disupiri oleh Pak Sam; sopir pribadi Roseta yang sudah ia panggil lewat panggilan telefon.
Dan satu hal lagi yang perlu Roseta lakukan, yaitu menelfon Jay.
"Halo, Jey."
"Aku tahu. Gimana perasaan kamu?”
Urusan mendesak jika sudah menggunakan mode ponsel cadangan. Ponsel yang biasa Roseta gunakan sudah mati di dalam tas. Begitulah Roseta dengan sisi tersembunyi, pun dengan berita heboh yang sedang ia lihat di billboard jalan, tentu saja Jay sudah mendengar bukan?
"Kamu tunggu aku di Samanta Airport." Roseta tak menjawab melainkan memerintah Jay seenak jidat.
"Siap Boss."
Sesuai namanya yaitu, Samanta. Bandara yang sebenarnya adalah kepemilikan dari keluarga Samanta yang berarti milik Jay Argiato Samanta si pewaris tunggal. Sama halnya di Negara A, keluarga Samanta yang bertempat di negara bagian Queen itu juga memiliki bandara pribadi dengan alasan malas karena jalur transportasi yang selalu macet di ibu kota.
Menjalankan kerajaan bisnis transportasi, Samanta Group tidak hanya bergelut untuk satu jenis saja, jika mobil sudah menjadi andalan mereka untuk di perjual belikan. Maka, private jet juga menjadi tambahan untuk penerobosan usaha lainnya.
BB Samanta namanya; bergerak dibidang pengiriman barang. Kilas balik awal mula berdirinya BB Samanta memang berjalan mulus sampai sebesar sekarang. Lima tahun yang lalu tepatnya. Nama itu sudah diubah sejak empat tahun silam, semula bernama BB Precious.
BB Precious; BB diambil dari nama Braga dan Bryna yang dibikin oleh Jay, sedangkan Precious tentu saja merujuk pada nama depannya. Braga dan Bryna sangat berharga untuk Jay.
Kronologi berubahnya nama Precious menjadi Samanta karena tender yang selalu dimenangkan oleh Jay. Jelas saja, setiap perusahaan akan sangat membuka lebar penawaran yang Jay berikan meskipun menyamarkan nama Samanta. Bagian shadow sudah menguliti habis-habisan latar belakang perusahaan Jay hingga kedok jika Jay adalah bagian dari Samanta terkuak jelas. Selain itu, armada yang BB Samanta siapkan bukanlah omong kosong belaka, puluhan, bahkan ratusan untuk pengiriman suatu produk yang dimintai oleh customers selalu dapat di sanggupi dengan mudah.
Bekerja sama dengan Samanta Group sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.
Maka dengan kronologi seperti itu. Jay dengan sangat berat mengubah nama agar sama rata dengan yang lainnya. Toh semua itu nanti untuk Bryna, karena Braga sudah tiada, maka Jay memberi penuh untuk dijadikan hak paten milik Bryna tanpa sisa.
BB Samanta; semua berkas atas nama Bryna Samanta, hingga nanti menunggu dewasa, barulah semua kendali di pegang penuh olehnya.
Ketahuilah, Bryna adalah gadis cilik kaya raya.
Meskipun Jay adalah konglomerat, tak lantas membuatnya menjadi orang berkelas. Terkadang ia naik pesawat kelas ekonomi, bahkan kerap sekali naik bus umum jika tidak terburu-buru.
Jika ada yang susah kenapa memilih yang mudah. Jay yang bodoh dengan filosofi nya atau memang bagaimana tidak ada yang tahu isi kepala pria itu. Memiliki latar belakang keluarga yang bisa dibilang dengan mudah membuang duit secara percuma tidak menjadikan Jay gila harta, pria itu cenderung penasaran dengan sesuatu yang berbau menengah kebawah.
Roseta tersenyum memikirkan Jay yang sangat mencintai anak-anaknya sampai tidak sadar dirinya sudah sampai di Samanta Airport. "Jay," wanita itu melambaikan tangan setelah keluar dari mobil.
"Lho, Kris, nggak ada jadwal terbang?"
Disamping Jay ada Kristian, yang sangat kebetulan adalah teman SMA Roseta, tentu saja Sarah juga sangat mengenal. Pria itu adalah seorang pilot yang suka mangkir bersama Jay.
Cengiran lebar Kristian sangat manis mendapat sambutan dari kedua teman wanita yang tersulap cantik saat menjadi dewasa. "Baru aja landing, Roseta m." Jawabnya, lalu Kristian menatap Shane. "Kabar baik, Sarah." Begitu sopan terdengar.
Kristian sekarang begitu menakjubkan dengan pakaian pilot yang menurut Sarah begitu pas, pun Roseta yang beberapa kali melihat tak pernah bosan dengan gagahnya pria itu.
"Gila, itu jet pribadi banyak banget." Sarah tiba-tiba terpengarah melihat Apron yang penuh dengan privat jet disayap kiri. "Ini tempat apa sih? Kok aku baru lihat?"
Jay yang tak mengenal Sarah dengan baik memutar kedua bola matanya. Wanita yang menurut Jay berpawakan bak putri salju itu ternyata mudah sekali untuk kagum dengan hal sepele seperti ini.
Sedangkan Kristian dan Roseta hanya tersenyum simpul. "Ini jelas bandara, Sarah. Tapi lebih tepatnya Bandara pribadi milik Jay. Aku sekarang beroperasi di bandara ini."
"Tapi kok penampakannya ngeri gini, duit semua itu." Sarah tak berhenti kagum. "BB Samanta, nama apa sih itu kok dipasang gede banget!!"
Jay semakin kesal melihat Sarah yang begitu cerewet. Pria itu ingin menimpali, namun Sarah lagi-lagi membuat gaduh saat mata wanita itu melihat Apron di sayap kanan bertuliskan Bryna Samanta. "Roseta itu nama anak kamu kok dipasang disitu?"
Roseta tidak terkejut, ia sudah tahu. Tentu saja, makanya ia berada di tempat ini. "Itu..."
"Memang itu punya Bryna." Jay menimpali dengan ketus.
Sarah tak mengindahkan nada datar yang Jay berikan, bahkan Sarah terbengong mendadak. Disana, private jet, pun helicopter berjejer bak orang yang sedang di pantai menikmasi musim panas. Sangat banyak. Sarah yang tidak tahu menahu mengenai bisnis konglomerat jelas saja terpengarah, tampak terlihat norak, tapi itu sangatlah wajar. Bahkan Roseta sama sekali tidak malu akan kelakuan Sarah yang berlebihan.
"Jadi ini pada mau ngapain?" Kristian nampak menengahi agar Jay si tempramen tidak bergelut dengan Sarah yang cerewet.
"Aku mau ke Negara S, Kris, bareng Sarah, mau pinjam jet punya Bryna." Roseta menjawab.
"Kita ke Negara S?" Sarah nampak terkejut saat bertanya. Jelas saja, Roseta tidak berbicara sedari awal, main tarik tangan begitu saja.
Jay menatap Rosetdengan kawatir. "Aku temenin kamu juga ya."
"No." Roseta menggeleng menjawab Jay dengan mengabaikan pertanyaan Sarah yang tentu saja sudah ada jawabannya, "Kamu masih nggak percaya kalau aku bisa ngatasin semua ini?"
"Bukan begitu, Roseta."
"Lalu?" Desak Roseta.
"Ck." Kristian nampak berdecak sembari bersendekap dada. "Kalian ini seperti pasangan yang bertengkar dan berusaha baikan. Aku iri."
Sarah yang sudah mengatasi rasa terkejut sontak membalik pandang kepada Kristian. "Jangan bilang kau masih suka sama Roseta, Kris."
"Emang iya. Mau apa?"
"Kris! What is this nonsense? You don't lie?" Sarah meninggikan suaranya.
Jelas saja. Cerita cinta masa SMA masih Kristian jaga sampai dewasa. Sual. Itu adalah sebuah kebodohan menurut Sarah.
"I never lie." Jawab Kris mantap.
Sarah menggeleng dengan mulut terbuka. "Cinta lo awet banget, lo minum borak apa?"
Kristian terkikik lalu menjitak pelan kepala Sarah. "Udah mati kali kalo minum borak, cintaku itu besar, butuh borak berkintal-kintal sampai bisa tahap itu."
Mendengar penuturan Kristian membuat keempat orang disana tertawa lebar. Roseta sangat tahu. Tapi seperti bisanya, wanita itu mengabaikan. Tidak mau menganggap serius meski Kristian mengatakan dengan tulus. Sedangkan Jay tentu saja mengerti dengan situasi seperti itu.
"Roseta nggak mau bawa helikopter sendiri gitu? Itung-itung jalan-jalan 'kan?"
"Nggak Kris, aku lagi pengen santai di perjalanan, pikiranku lagi nggak enak buat nerbangin heli, bisa-bisa kecebur laut alih-alih mendarat dengan selamat."
"Tunggu." Sarah dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. "Kamu bisa nyetir helikopter?" Tanyanya pada Roseta.
Roseta mengangguk. "Bisa, Sarah." Jawabnya kalem.
"Mainan orang kaya emang beda ya." Sarah menatap nanar lagi ke arah Apron, membayangkan jika saja dirinya terlahir dengan sendok emas di pegangan.
Sarah lantas menggeleng kuat. Tidak. Ia tidak boleh mengeluh. Sarah memang bukan orang yang begitu bergelimbang harta, namun hidupnya begitu cukup sampai ia bisa menjadi dokter bedah. Orang tuanya adalah Professor di sebuah kampus ternama di Negara I.
"Sarah, ambil saja satu buat kamu." Jay tiba-tiba berseru seperti itu saat memandang punggung Sarah yang membelakanginya.
Sarah membalik badan. "Ap...apa maksud kamu?" tanyanya.
Jay menggaruk kebelakang kepalanya. "Itu, kalau mau, aku kasih helikopter sebagai tanda perkenalan, kita belum kenalan ngomong-ngomong."
Jay merasa maklum di detik dimana Sarah kagum berada di tempat ini. Bukan kasihan, namun jika wanita ini adalah teman baik Roseta, sudah jelas Roseta mempercayainya. Jadi, sedikit memberi bingkisan hadiah tidak apa-apa bukan.
Sarag tertawa kikuk dengan melambaikan tangannya tanda menolak. "Nggak bisa sederhana saja ya, es krim, kue atau apa gitu, kalau cuma buat tanda perkenalan."
"Kalau kamu minta hal sederhana, yakin banget nggak akan sesederhana itu Sarah. Kamu minta es krim, pasti sama Jay dibeliin sepabrik-pabriknya." Roseta menimpali.
Rahang Sarah jatuh seketika. Ia menggeleng, ini tidak boleh dibiarkan. Orang kaya memang suka banget buang duit. Sarah harus memberi wejangan untuk Jay "Kamu jangan boros Jay. Ngg....."
"Buat Boss Jay, satu helikopter sama saja dengan beli permen lollipop satu batang." Giliran Kristian ikut menjadi kompor berjalan.
Roseta tertawa dengan tingkah polos Sarah. Namun waktu di jam tangannya terus berjalan. "Kita berangkat sekarang. Jay udah kamu siapin 'kan. Ingat kamu nggak boleh ikut campur kali ini."
Jay mengangguk mantap. "Aku janji."
Kristian dan Sarah tak paham dengan obrolan kedua orang di depannya. Mungkin diam dulu lebih baik. Nanti ia akan menanyakan kepada Roseta saat di perjalanan. Sedangkan Kristian memang tidak mau ikut campur.