ROSETA

ROSETA
Sampai Jumpa



Entah pikiran apa yang merasuki Theo saat tubuhnya masuk hunian calon istri. Meski hati meyakinkan jangan, karena memang tak memiliki status sah sebagai istri, namun, saat mengingat bahwa dirinya butuh rengkuhan hangat, maka tak butuh waktu lama bagi Theo untuk membelokkan mobilnya.


Di jam ini, hanya akan ada pak Anton, karena asisten rumah tangga sudah Roseta pulangkan. Saat Theo menyembunyikan klakson, pak Anton yang sudah bekerja bersama Theo selama bertahun-tahun itu tak ragu membukakan gerbang.


"Selamat malam Tuan."


"Malam. Terimakasih pak." Balas Theo setelah itu menurunkan kaca mobil dan memarkirkan kedaraan di dalam.


Theo tak lagi menggunakan mode otomatis seperti dulu dengan hanya mengucapkan kata "Vante" pada gelam jam canggihnya, ia cukup tahu diri jika sekarang rumah ini bukan miliknya lagi, karena setelah Roseta memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Theo beberapa saat lalu, Theo benar-benar pergi.


Mengingat itu Theo tersenyum, mau pergi sejauh apapun, kalau keduanya saling mencintai, mana bisa dipisah lagi.


Saat Theo memasuki hunian besar itu, ia sadar lampu sudah padam, ia merutuki diri sendiri karena saat melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan jam sebelas malam, pasti Roseta sudah tidur.


Hari ini cukup melelahkan dan menguras habis tenaga Theo, pria itu butuh sebuah pelukan, untuk mengisi energi karena esok hari, saat petang datang, rencana penangkapan Folltress akan ia lakukan.


Membuka knop pintu, ternyata Roseta sedang memiringkan tubuh sembari tangan berselancar dengan ponselnya.


"Selamat malam nona Marveen." Theo menyapa sembari langkah kecilnya terus mendekat.


Roseta tak begitu terkejut mengingat hal ini pertama kalinya di lakukan pria itu, menerobos masuk tanpa pemberitahuan. Dibandingkan terkejut, Roseta justru senang minta ampun.


"Kamu kesini pasti mau ngajak aku bikin anak kan?"


Astaga, senyum Theo yang terlihat lebar tiba-tiba berubah suram. Nona Marveen-nya ini selalu tidak lupa tentang pembuahan.


"Enggak, aku cuma mau tidur, dipeluk kamu." jawab Theo yang segera mendekatkan diri untuk mencium kening calon istri.


"Yaaah. Nggak asik. Itu kamu bawa apa?" Sembari duduk, Roseta melihat Theo membawa paperbag di tangan kanannya.


"Baju ganti sayang, aku mau mandi dulu, setelah itu mau tidur sama kamu."


Roseta mendengus, "Cuma tidur? Nggak ngapa-ngapain. Aku kecewa lho."


Theo geli sendiri. "Aku tidur, tapi kalau kamu mau apa-apain terserah, dengan satu catatan, jangan ganggu adik, takut bangun, kalau bangun bakalan repot nantinya."


Lantas keduanya tertawa terbahak, pembicaraan macam apa sih sebenarnya yang mereka bahas. Namun saat tawa terhenti, Theo berpamitan untuk membasuh diri. Tubuhnya sudah sangat lelah, ingin cepat berbaring.


Sedangkan Roseta yang tiba-tiba kejatuhan durian senang-senang saja, siapa yang tidak senang saat merasa kesepian kekasih datang tanpa diundang.


Gemericik dari bilik mandi menggugah otak nakal Roseta, ingin wanita itu untuk ikut masuk kedalam, tapi harga diri Roseta sudah terlalu ia jatuhkan berkali-kali, jadi niat nakal itu ia urungkan.


Dan disaat Theo keluar dari kamar mandi, Roseta sedikit kecewa, biasanya dalam novel erotis, para pria selalu menggunakan dalaman boxer saja setelah sesaat keluar dari membasuh diri, tapi lihat Theo, pria itu memakai piyama panjang, atas dan bawah panjang, mata Roseta tidak mendapatkan hiburan.


"Harusnya kamu keluar itu dalam keadaan shirtless, biar aku dapat pemandangan bagus.


"Otak kamu lama-lama minta di cuci."


"Orang cuma di kamu doang, salah?"


"Ya enggak sih." Jawab Theo, namun tak lama pria itu sudah berbaring dan menaruh kepala di paha Roseta yang masih duduk dengan punggung bersandar di headboard ranjang. "Seneng malah." imbuhnya.


Theo mengendus perut Roseta berkali-kali, "Aku nyesel dulu nggak tahu kamu hamil." Dengan sembarangan, Theo membuka piyama Roseta keatas, menampilkan permukaan perut rata milik wanita itu, "Harusnya tiap hari aku ciumin perut ini."


Yang membuat Roseta geli, Theo benar-benar mencium perutnya, bahkan berkali-kali, tapi wanita itu tak sedikitpun menolak, justru ia merasa Theo sedikit aneh, kenapa jadi manja?


"Makanya, cepet hamilin aku, biar kamu bisa cium-cium calon adek si kembar." Menepis rasa tidak enak di dada, Roseta justru mendoktrin jika Theo harus cepat-cepat memghamilinya.


Mendengar itu, Theo tak menjawab apa-apa, justru pria itu menarik Roseta untuk membaringkan tubuh. Mengambil selimut untuk menutupi keduanya.


"Aku capek, pengen tidur, kamu peluk aku sampai pagi ya."


Roseta sama sekali tak menolak, semua tindakan Theo ia terima dengan senang hati, bahkan saat kaki pria itu melingkar penuh di tubuhnya beserta tangan yang mendekap erat sampai dada menjadi sandaran kepala Roseta dengan hangatnya.


"Katanya aku boleh ngapa-ngapain kamu." Roseta mana bisa lupa tentang hal itu.


Theo mengangguk, "Iya boleh, tapi jangan pegang adikku."


"Yaudah kamu tidur, sisanya biar aku yang urus."


Theo tersenyum kecil, sepertinya Roseta benar-benar menjalankan aksinya.


Kedua tangan Roseta ia gunakan untuk menekan pipi Theo sampai bibir pria itu mengerucut lucu, tak sampai disitu, Roseta bahkan mengecup beberapa kali dan tertawa sendiri, diibaratkan Theo adalah mainan yang dapat memuaskan dirinya sendiri.


"Swayang, pipwiki swakit." Theo berujar, tak jelas dan masih memejamkan mata.


Roseta terkikik dan melepaskan kedua tangannya dari mengungkung pipi Theo, namun jangan salah paham, Roseta tak berhenti sampai disitu, meski tangan tak lagi usil, Roseta melanjutkan acara kecup-kecup pada bibir Theo.


Tapi, keadaan berbalik saat Roseta merasakan bagian adik Theo yang menegang sebab tubuh yang menempel dengan dekat.


"Uuups. Aku membuat adik bangun."


"Kamu ciumnya kebanyakan, aku ini pria normal sayang."


"Harusnya gimana dong? Aku kan cuma main-main."


"Main-main, tapi bibirku kamu makan sayang, basah, dan itu cukup membuatku merang**ng."


Roseta mendengus, kali ini ia benar-benar berhenti dengan menaruh kepala di dada si pria, tangan rampingnya ia lingkarkan di pinggang juga. "Ya udah. Ayo bobok."


Namun Theo justru memberikan kecupan cukup lama saat Roseta sudah pasrah dan kecewa. Setelah itu keduanya berakhir dengan senyuman dan tidur dalam malam panjang tanpa melepas pelukan.


Pemuda cilik, bukan, super cilik bahkan, umurnya baru sembilan tahun, lagaknya seperti pria dewasa super cool dengan kacamata baca tersampir ditempatnya, sebelum menoleh ke arah kanan, ia menyugarkan rambut tebal hitamnya, "Adek, siap?" tanyanya.


Seseorang yang dipanggil dengan sebutan adek lantas mengangguk semangat, ia duduk tepat disebelah kakaknya, mengamati, lebih tepatnya disuruh diam dan hanya melihat, tugasnya hanya memberi semangat.


"Kak Haidan, kak Dylan, siap?"


"Lebih daripada siap." Jawab Dylan.


"Siap dong, tanganku sudah gatal." Sahut Haidan kemudian.


Ke empat orang sudah berkumpul di markas, masing-masing duduk dengan alat-alat persetas tepat di atas meja, terkecuali Bryna yang duduk di paling kanan sebelah Braga.


"Gini amat ya nggak bisa apa-apa."


Nah kan. Braga sudah curiga adik manisnya ini bakalan protes, tipikal Bryna akan gerah jika hanya diam, tapi mau bagaimana lagi, gadis itu buta tentang hal semenarik dan serumit ini.


"Makanya, adek lihat kakak saja, sambil belajar, jangan lupa, ponsel tetap adek pegang."


"Siap deh."


"Semangat dong."


"Siap kak Braagaaaaaaaaa."


Duh. Bagaimana bisa Braga tidak gemas.


Sesekali Bryna memang terlihat lucu.


Jam menunjukkan delapan malam. Sesuai intruksi dari Saga, Braga harus selesai tepat waktu untuk menjalankan misi. "Om? Bagaimana kondisinya?"


Sambungan telepon tidak terputus antara Braga dan Saga, dengan berbagai cara, mereka harus tetap terhubung.


“Semua team sudah standby, Ga. Kamu hanya harus melakukan tugasmu dalam lima belas menit, karena kurang lebih dalam waktu itu, Folltress mendarat di bandara Samanta.”


"Siap om." jawab Braga tegas.


Sebenarnya, jika rencana awal, tugas Braga ini akan dikendalikan oleh Jordan, tapi apa boleh buat, bocah seperti Braga tidak mau tinggal diam, apalagi ini demi dirinya.


"Semua, kita harus menyelesaikan pengunggahan dalam waktu lima belas menit."


"Oke." Haidan dan Dylan menjawab kompak, dan Bryna cukup takjub dengan keadaan seserius ini.


Waktu berjalan sangat lambat, masih kurang dari sepuluh menit, tapi tangan Braga sudah gatal untuk segera membuka semua keping demi keping kejahatan Folltress bersama sekutu lainnya.


Hal ini begitu menarik saat seorang mafia yang beberap kali masuk keluar penjara akan membusuk selamanya di tempat jeruji besi itu, Theo mengatakan akan memastikan hal tersebut semua karena jebakan kali ini cukup membuat Folltress tidak akan bisa lagi bersekongkol dengan pihak manapun.


"Ga, benar, aparat yang bersekongkol dengan Folltress memang benar tidak ada di bandara samanta." Dylan melihat cctv untuk melihat keadaan bandara samanta, dan benar saja, tidak ada siapapun kecuali orang-orang yang sudah bersembunyi bersama Saga.


"Ya, begitulah cara kerjanya kak. Kali ini om Saga dan kakek Martinus menyiapkan semuanya. Tim Alpha adalah pilihan paling tepat yang sudah disiapkan. Biar tau rasa."


Mengenahi team Alpha, team rahasia milik negara yang dikirim surel khusus untuk kasus ini, dengan adanya bukti yang diterima, akurat dan lengkap, team milik negara tersebut tak bisa menolak untuk tidak bertindak. Atas ijin negara pula, mereka melancarkan aksi malam ini juga.


"Kak Braga, Bryna seperti orang bodoh."


Braga menggeleng, memandang adiknya ini dengan sendu. "Enggak dek, kamu adalah orang paling pintar setelah kakak."


"Ngalah dong kak, Bryna yang harusnya lebih pintar dari kakak."


Braga meringis, melihat ekspresi Bryna yang begitu menyedihkan. "Coba deh kamu cek di ipad ini, mommy ada dimana."


Bryna bahagia saat Braga mengajari cara melacak seseorang, "Nah begini, IP mommy yang ini, itu ada titik merah, lalu kamu zoom, disana mommy berada."


"Wah, keren, pasti setelah ini Bryna bisa hebat seperti kakak." Mata bulat Bryna berbinar, sangat kentara jika ia sedikit bangga.


Braga tersenyum melihat adiknya senang. "Harus dong, mommy dimana dek?"


"Mommy bersama Liliana auntie."


"Dirumah Liliana auntie?" tanya Braga.


Bryna mengangguk. "Iya, mungkin lagi diskusi soal pembuatan cafe."


Braga mengangguk dan setelah itu melihat jam yang berada di pojok layar komputernya. "Semua, lima menit lagi, serahkan padaku, nanti saat aku bilang klik, kak Dylan bagian atur Videotron dan kak Haidan bagian output bukti, oke, lalu langsung tekan enter."


"Siap."


"Siap."


Waktu nyaris berada di titik ketentuan. Braga semakin mempercepat intensitas ketikan di keyboard komputernya, memasukkan kode-kode yang terasa sangat rumit jika orang normal melihatnya, bahkan Bryna yang berada disamping Braga merasa sangat pusing hanya dengan melihat kecepatak gerak jemari kakaknya, tapi menarik disaat bersamaan.


Saat kurang dari sepuluh detik, ditandai dengan suara Saga disambungan telepon untuk aksi peluncuran, disaat itulah Braga menyerukan perintah, "Klik." dan berakhir menekan tombol enter.


"Goodbye keparat, Folltress."


"Om, aku melakukannya."


“Bagus, Ga. Kamu siap-siap bersama Bryna kesini, di bandara samanta, aku sudah menghubungi mommy-mu juga. Ucapkan perpisahan pada daddy-mu.”


"Om, what nonsense is this again? Jangan bercanda!!! Perpisahan apa?"