
Akhir-akhir ini Theo selalu disibukkan dengan urusan kantor. Setelah merasa lega selama semingguan penuh, pria itu mampu menyerahkan keselamatan Roseta beserta putrinya kepada orang-orang kepercayaan, bahkan Jordan teman sekaligus kaki tangannya terjun langsung untuk mengawal Roseta kemanapun wanita itu pergi, seperti yang ia katakan pagi ini.
Setelah teruangkapnya segala kebenaran namun sama sekali belum menemukan dalangnya, Theo selalu bersikap waspada. Apalagi tentang Mafia bernama Robert yang sama sekali belum menunjukkan gerak-geriknya. Jujur Theo penasaran dengan apa yang akan dilakukan pria bule itu hingga sampai membuatnya datang ke Negara ini.
Nyaris pukul sebelas siang saat Theo melirik ke arah meja yang di kelilingi sofa di dalam ruangannya. Terdapat majalah Forbes edisi terbaru yang baru saja diserahkan oleh sekertarisnya. Theo beranjak untuk mengambil dan membaca sederetan wajah-wajah yang terpampang sebagai businessmen dengan urutan terkaya di dunia.
Theo memang baru saja keluar dari rapat rutin mingguan untuk membahas game ciptaaan terbarunya yang ia yakin bakalan sangat booming seperti sebelum-sebelumnya. Pria itu juga tak tanggung-tanggung mengandeng beberapa perusahaan bonafit game lainnya untuk membuka peluang agar perkembangan game dari Indonesia dapat lebih terkenal dan disorot dunia.
...Hot news...
...Matheo Ranu Pandega, telah berhasil meningkatkan aset sebanyak tiga triliun dalam kurun waktu satu tahun. ...
Pencapaian yang sangat luar biasa mengingat Theo tidak pernah keluar dari 50 besar di antara jajaran orang-orang terkaya di Benua. Pria itu acuh lalu menaruh majalah itu lagi, dilanjutkan dengan merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Satu pesan masuk dari seseorang yang tengah ia tunggu untuk mengabarkan berita.
"Siapkan heli, sekarang juga." perintah Theo mengudara dingin dibalik ponsel yang sudah terhubung panggilan dengan salah satu anak buahnya.
Theo menuju landasan helikopter yang berada di atap gedung kantornya. Matanya menyorot tajam namun dengan pembawaan tenang. Nampaknya dengan langkah yang cukup cepat menunjukkan jika pria itu tengah terburu-buru untuk sesuatu yang begitu mendesak.
...\~\~\~...
Gunung yang begitu indah menjadi pemandangan bak lukisan di padang hijau kawasan yang tak jauh dari Kota Mawar. Lapangan golf yang begitu terkenal dengan para orang atasan untuk menjadi objek hiburan atau hanya obrolan para pembisnis dalam meluangkan waktu santai itu sangat luas. Pemiliknya sudah pasti seorang yang sangat terkenal namun tenggelam akan rupanya. Yang lebih tepatnya menghilang di mata publik.
Sosok yang dibicarakan saat ini memang tengah melakukan olahraga di cuaca yang begitu terik dengan ditemani para kolega bisnis lainnya. Sekitar tiga orang yang tengah berkumpul dengan sesekali melepaskan bola yang berhasil dipukul dengan stik golf.
Suasana sebelumnya hanya tenang dengan ditemani semilirnya angin sebelum saat tiba-tiba suara gemuruh datang dari ujung lapangan yang telah disediakan untuk landasan helikopter. Sontak membuat ketiga orang yang berada tak jauh dari tempat melindungi wajah dengan telapak tangan karena angin mendorong kuat ke arah mereka.
Muncul sosok pria dengan kacamata hitam membingkai matanya. Theo turun saat mesin burung bermesin itu masih menyala. Wajah dengan ketampanan luar biasa itu mengeratkan rahangnya sembari berjalan pelan penuh ketenangan. Jangan lupakan tangan kanannya yang tengah memegang stik golf untuk dimainkan dengan cara di putar-putarkan ke udara.
Hingga langkah Theo terhenti saat memandang satu-satunya pria yang sedarinyadi memiringkan kepala karena keheranan akan kehadirannya.
Bugh.
Satu pukulan nyaris merontokkan gigi Mark jika saja pria itu tidak cepat hanya untuk sekedar menghindar sedikit ke belakang.
"Theo, sialan, apa yang kau lakukan!!" Mar memandang Theo dengan perasaan yang campur aduk sembari mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Tutup mulutmu, brengsek." Theo melempar stik golf dan mengganti pukulan dengan telapak tangan yang dibuat mengepal.
Banyak mata memandang ke arah Theo yang telah membuat Mar berhasil tersungkur di rumput dengan Theo yang menindih di perut pria itu. Memukul habis-habisan layaknya barang busuk yang harus dilenyapkan di muka bumi ini. Hal yang sangat mengherankan adalah, tidak ada satu pun yang berani mencegah kebrutalan Theo mengingat tempat ini adalah kekuasaan milik Mark.
Theo memagang kuat kerah Mark setelah sebelumnya berdecih meremehkan teman semasa kuliahnya dulu. Penampakan berantakan dengan segala pukulan Theo tak membuat Mark jera, malahan pria itu tertawa dengan tidak tahu malunya.
"Kau sudah tahu semuanya? Sangat terlambat sekali, Theo. Kau sangat bodoh." Ejek Mark membuat Theo tambah mendidih dan melayangkan tonjokan lagi dengan berulang kali.
Jujur Theo tidak tahu lagi harus berkata dengan umpatan yang bagaimana lagi. Seakan kata yang dirancang dari semenjak ia mendapatkan bukti dari seorang detektif handal yang disewanya telah berhasil mendapati siapa dalang yang telah lancang menaruh flasdisk di dalam tas Theo. Ya. Mark adalah orangnya. Teman satu fakultas saat kuliah yang merupakan mantan kekasih Yura sahabatnya.
Theo merasa sudah cukup dengan amarahnya. Lantas pria itu berdiri sedikit terhuyung namun masih banyak sekali kekuatan yang ia miliki. "Aku membiarkanmu dan hanya menyaksikan saat kau berkali-kali mencoba menghancurkan perusahaannku mengingat kau masih terlalu miskin dimataku hingga kau berpikiran ingin mencuri asetku. Ya, tidak apa-apa menyumbang sebagian hartaku untuk kau ambil walaupun sepeserpun uangku tidak pernah berhasil kau curi. Aku sangat kagum dengan antusiasmu, Mark."
Mark stagnam dengan raut muka terintimidasi. Tidak menyangka Theo selama ini telah mengamatinya. Ia pikir Theo pria bodoh yang hanya memikirkan bagaimana cara melindungi perusahaaannya tanpa bisa melawan mengingat sangat sulit menemukan musuh seperti dirinya. Mark sadar sudah sangat meremehkan, dan kini ia ditertawakan didepan umum, lebih parah lagi di kandangnya sendiri. Sanggat memalukan.
Theo bukannya tidak tahu dan diam saja selama ini. Ia hanya penasaran dengan sosok Redolent yang sedari awal tanpa perintah tiba-tiba menyelamatkan perusahaan. Jadi, selama Theo belum menemukan Redolent, sampai saat itu pula ia akan membiarkan Mark bermain-main. Bukankah itu juga akan sangat merugikan Mark mengingat membayar seorang Hacker itu bukanlah hal yang murah. Biarkan saja Mark merugi dengan percuma.
Theo tersenyum miring, "Tapi, saat kau mengurusi masalah pribadiku hanya untuk wanita murahan seperti Yura, jangan harap kau akan selamat."
Mendengar Theo menghina Yura dengan kata murahan, sontak Mark berdiri dengan berang. Melayangkan tinjunya tepat ke wajah Theo. Tak sampai berulang kali, justru Theo lebih bringas dari sebelumnya. Mendapatkan perlawanan dari Theo, Mark semakin gencar untuk melayangkan serangan.
Jika dilihat, pergulatan mereka berdua sudah persis seperti anak SMA yang sedang gila-gilanya dengan tawuran. Sama sekali tidak mencerminkan sosok dewasa yang bijaksana dalam menghadapi masalah. Apalagi dengan bungkusan Theo yang saat ini berbalut jas dan kemeja kerja.
Popularitas serta arogannya seorang Matheo Ranu Pandega memang sudah sangat terkenal di mata publik. Sosok arogan, dingin namun sayang dengan keluarga memanglah identitas yang selama ini Theo kantongi. Mungkin karena itulah mengapa banyak pasang mata yang melihat pergulatan mereka tak ada yang berani mendekat. Pikir mereka mungkin jika ikut campur akan membawa dampak lebih buruk. Disaat seperti inilah manusia menjadi egois dan mementingkan diri sendiri.
"Kau yang akan mati jika kau mengina Yura sekali lagi." ucap Mark tersungut-sungut saat tubuhnya berhasil lepas dari genggaman Theo.
Karena pernah tiga kali Theo mendapat laporan Roseta berusaha dicelakai oleh mobil yang sama namun tak bisa karena bodyguard Theo ada di sekitar Roseta. Dan sekarang Theo tahu, Mark adalah dalangnya.
...\~\~\~...
Pemandangan baru di lorong rumah sakit mampu membuat pengunjung maupun staf rumah sakit menolehkan kepala atau berhenti sejenak dari aktifitasnya. Seorang pria dewasa dengan tampilan berantakan serta muka yang babak belur namun berjalan dengan sangat santai seolah tidak ada sedikitpun rasa sakit yang dirasakannya.
Theo berhenti di depan meja resepsionis. "Dokter Roseta Marveen apa ada di tempat?" tanyanya.
"Sebentar saya cek dulu pak. Apa anda sudah punya janji?" tanya petugas yang ditanggapi gelengan oleh Theo.
Sebenarnya petugas sudah sangat tahu dengan siapa ia berbicara. Namun ia tetap patuh dengan prosedur yang sudah tersedia.
"Maaf pak, Ibu Roseta sedang ada rapat, saya diperintahkan sekertaris ibu untuk memberitahu anda agar menunggunya di ruang kantor beliau."
Theo tersenyum menanggapi. "Baik, terimakasih."
Theo duduk di dalam ruang kantor yang hampir dua bulan ini di tempati oleh Roseta. Menyandarkan punggungnya di sofa dengan nyaman. Beberapa kali memang Theo sempat mengunjungi, pertama kali memang bersama Bryna. Tapi kali ini ia tidak akan membawa putrinya itu karena kondisi mengenaskan yang sudah memperburuk wajahnya.
"Jord, kau dirumah bersama Bryna bukan?" Tanya Theo saat ini yang sudah menempelkan ponsel tepat di daun telinganya.
"Iya, brengsek, kau jangan menggangguku, atau permainanku dengan putri kampretmu akan sia-sia."
Jordan yang sedari pagi ditugaskan oleh Theo untuk menjaga Roseta memang sudah ia perintahkan untuk mejaga Bryna saat setelah ia menghajar Mark tadi.
Theo terkikik mendengar Jordan tersungut-sungut. Bryna memang kerap sekali menantang Jordan untuk bermain game. Dan yang terjadi adalah, pria itu tidak pernah menang sekalipun. "Baiklah, aku tutup telfonnya." Theo menaruh ponsel diatas meja, yang diikuti pintu ruang kerja Roseta terbuka.
"Astaga, Theo." pekik Roseta heboh saat ia baru saja menangkap kondisi mantan kekasihnya dengan wajah babak belur mengerikan.
Roseta menaruh berkas yang baru saja ia bawa asal-asalan di atas meja kerja. Lalu membuka lemari yang sudah tersedia P3K. Theo hanya melihat Roseta dengan matanya yang mengikuti gerakan wanita itu. Mengamati dengan senyuman tipis yang rasanya sangat ringan ia lakukan.
"Kamu kenapa lagi sih? Nggak sekalian muka kamu robek-robek, biar aku jahit seperti kakimu waktu itu?"
Theo sudah menduga jika Roseta akan secerewet ini. Justru dengan begitu, Theo bisa sangat senang, bahkan sangat rela di beri ocehan selama 24 jam asalkan itu semua keluar dari mulut si wanita.
"Kamu khawatir?" tanya Theo saat Roseta sudah berhasil duduk disampingnya dan membuka kotak obat diatas meja.
Roseta menatap sejenak sebelum mengebuskan nafas lelah. "Penting banget kamu nanya?"
Theo meluruskan punggungnya, menoleh kesamping menatap Roseta dengan keseriusan. "Sangat, sangat penting." ucapnya dengan tekanan.
Roseta tidak mungkin tidak sedih melihat pahatan sempurna itu sekali lagi rusak oleh seseorang yang ia sendiri belum tahu siapa. Roseta sudah cukup kasihan saat Theo mendapatkan luka dari Liliana. Sekarang. Oh Tuhan. Roseta dibuat terkejut sekali lagi saat matanya lebih meneliti jika luka yang Theo miliki jauh lebih parah.
"Iya, aku khawatir." jawabnya lirih.
Mata Roseta berkaca kaca, tangannya sibuk menyiapkan alat. Wanita itu tidak kuat hingga meneteska air mata, namun masih ditemani dengan kesibukannya.
Keheningan terjadi saat Roseta menekan kasa alkohol tepat di pipi Theo yang terdapat sobekan, tidak terlalu parah sampai harus membutuhkan jahitan. Theo menatap lurus di sorot mata Roseta yang tidak berhenti mengeluarkan cairan bening. Theo hanya tidak tahu dengan perasaan Roseta. Apakah wanita itu benar khawatir sampai menangis, atau memang ada alasan lain. Namun satu hal yang pasti, Theo tidak suka melihatnya.
"Jangan nangis." ada helaan nafas halus saat Theo mengatakan itu.
"Aku nggak nangis." elak Roseta yang semakin gencar mengeluarkan air matanya. Kenapa wanita selalu tidak bisa jujur dan sialnya hati dengan mulut juga tidak bisa diajak kompromi.
Theo menangkap pergelangan tangan Roseta guna menghentikan aktifitas wanita itu. "Aku keluar kalau kamu masih nangis." ancamnya meski dengan nada selembut mungkin.
Satu tangan Theo yang lain digunakan untuk mengusap pipi Roseta yang sudah basah. "Segitu sayangnya ya, sampai ditangisin begini, apa perlu aku patah tulang biar kamu perhatian?" candanya yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya. Niat Theo ingin mencairkan suasana. "Jangan nangis, aku butuh pelukan, kamu mau peluk aku."
Tidak butuh waktu lama, saat Theo meminta, Roseta langsung mengabulkan. Wanita itu memeluk Theo erat dengan tangisan meronta. Sesekali memukul punggung Theo pelan. Sebenarnya Roseta sangat penasaran dengan apa yang dialami pria itu. Namun nanti saja ia bertanya, egonya masih sangat butuh untuk ditenangkan.