ROSETA

ROSETA
Berpisah?



"Aku butuh jeda."


"Maksud kamu?"


"Theo." Roseta semakin mendekat untuk berbicara lebih serius. "Ayo kita akhiri, aku mau kita pisah." ucapnya detik itu juga.


Keduanya berada di hotel, menempati kamar di lantai 20. Jangan salah paham, Theo dan Roseta bermaksud untuk berkemas karena sebentar lagi akan pulang ke Negara I.


Roseta pun Theo tak bisa membiarkan Bryna khawatir karena kepergian Roseta yang mendadak ke negara ini tak dibicarakan terlebih dahulu kepada putrinya. Keduanya ingin membawakan Braga sebagai hadiah, dan bocah laki-laki itu pun antusias meskipun gugup bukan main sedang melandanya. Lantas tak mau membuang waktu, Braga segera mengemas barang seperlunya, sisanya biar besok saja dibereskan oleh Dera.


Theo mundur selangkah saat Roseta berusaha semakin mendekat lagi ke arahnya. "Aku nggak ngerti maksud kamu? Bahkan kita belum memulai? Lalu apa yang mau diakhiri?" tanyanya.


Disaat keadaan yang semula kacau dan berakhir menjadi baik. Kenapa Roseta seakan-akan membuat benteng tinggi lagi. Theo bahkan sudah punya angan-angan kebahagiaan di masa depan nanti.


Theo butuh alasan yang pasti.


Bukankah mereka sudah mendapatkan Braga lagi?


Bukankah kebahagiaan mereka sangat utuh untuk saat ini?


"Aku nggak bisa, Theo."


Theo melihat penuh pada manik mata kelewat serius milik wanita di depannya, sedikitpun tidak ada lelucon di dalamnya. "Aku butuh alasan. Terakhir keadaan kita baik-baik saja. Apa yang kamu tidak sanggupi?"


Roseta tertawa miris, ia memberi jarak, lalu membuang tangan ke udara, seolah-olah Theo lah objek yang sedang ditunjuk olehnya. "I think we have to see things for what they are. Kacau, dan itu tidak baik untuk anak-anak."


"Aku?" Tanya Vee menunjuk dirinya sendiri bersamaan telapak tangan yang menyentuh dada. "Membuat kekacauan?"


Roseta mengangguk. "Sampai kapan gangguan berhenti? Aku rasa kita nggak akan bisa tenang jika terus bersama."


Giliran Theo yang tertawa miris. Jeda delapan Tahun tidak cukup kah untuk keduanya? Bahkan ini tidak lebih parah dari yang dilakukan Yura disaat pertama.


"Kamu nggak percaya aku bisa ngendaliin semua?"


"Setelah yang terjadi terakhir kali kamu masih bisa percaya diri? Leher kamu jadi bukti."


Roseta marah. Tentu saja. Mungkin saat dirumah sakit tadi ia masih bisa menahan emosi, atau mungkin orang yang berada disana tak menganggap serius ancaman Roseta yang ingin memotong leher Vee.


Cemburu?


Bisa dibilang begitu.


Tapi rasa khawatirnya tidak sebatas rasa sakit di dada saja. Roseta lebih menaruh besar tanggung jawab untuk menjaga anak-anaknya dari segala derita, bahaya dan rasa beban keluarga. Roseta tidak ingin Bryna dan Braga terusik media masa di luar sana.


Matheo Ranu Pandega seperti sebelum-sebelumnya adalah pria yang sangat terkenal untuk diliput kehidupannya.


"Kamu serius?" Theo mencoba acuh dengan pembahasan bekas merah pada lehernya dengan menanyakan topik lain. "Kamu yakin bisa tenang, atau mungkin bahagia tanpa aku........lagi?"


Roseta diam. Sanggahan yang sudah tersusun rapi mendadak berantakan. Jika dipikir, kebahagiaan yang ia miliki memang tidak benar-benar utuh selama ini. Menanggung rasa sakit hati saat harus mengurusi buah hati rasanya sangat berat, terlebih hatinya yang tidak bisa menerima cinta dari pria selain Theo.


Menurut Roseta, urusan hati memang harus diantisipasi dalam hidupnya, atau bahkan harus di blacklist dari daftar yang harus dipikirkannya. Roseta lelah.


"Bahkan sebelum bertemu denganmu lagi, aku sudah bahagia, Theo. Ada anak-anak."


Roseta egois. Theo sedikit kesal. Setelah apa yang dilakukannya, tiba-tiba Roseta akan membuangnya. Pamrih? Bukan, bukan perkara pamrih. Theo hanya ingin kehidupannya utuh dengan membersamai Roseta dan juga kedua anaknya.


Tapi Theo tidak bisa egois. Mungkin memang sebelumnya ia sangat ngotot sekali ingin kembali kepada Roseta lagi. Tapi jika dengan memaksa disertai perdebatan tiada henti, lebih baik Theo mengalah. Demi Roseta, demi kebahagiaan wanita itu.


Theo harus paham bukan?


"Baik. Lakukan apapun yang kamu inginkan."


Seperti bumi runtuh kembali, Roseta merasakan dunianya hancur untuk kedua kali. Bahkan lebih sakit daripada sebelum ini. Pernyataan kelewat pasrah dengan raut mengalah dihadapkan padanya, Theo dengan mudah mengatakan iya.


Maumu apa sih Roseta? Roseta merasa jengkel sendiri dengan pilihannya, tapi itu tidak akan mengubah keputusan. "Kamu masih bisa bertemu dengan anak-anak." sekuat tenaga Roseta mencoba mengatakan itu dengan normal meski serak tertahan ditenggorokan.


Theo seketika membalik badan untuk mengemasi baju di dalam lemari. "Meskipun kamu melarang, aku masih bisa berontak jika itu menyangkut anak-anak."


Lalu kenapa kamu sekarang tidak mencoba untuk berontak? Bisa dikatakan isi kepala Roseta sedang bertengkar hebat dengan isi hatinya. Theo acuh, tidak seperti tempo hari saat keduanya berpelukan. Roseta memandang gerak-gerik Theo yang sibuk membuka koper lalu memasukkan baju yang tidak lebih dari tiga pasang saja.


"Aku saja."


Theo membalik badan, memandang Roseta dari arah berjauhan. "Kali ini saja, turuti permintaanku. Rumah itu milik kamu, dari dulu." ungkapnya.


Roseta pernah mendengar ini dari Jordan, jika rumah itu memang atas nama dirinya, ternyata bukan omong kosong belaka. "Tap...,"


"Just this once, please!"


"Baiklah." akhirnya Roseta menjawab dan Theo tersenyum untuk itu.


Roseta sangat sedih. Sisi Theo yang mengalah serta memaksa dengan permohonan seperti ini membuatnya terluka. Kenapa pria itu dengan mudahnya berbuat seenaknya. Menghancurkan Roseta berkali-kali.


"Theo. Boleh aku memelukmu?"


Theo yang sebelumnya sibuk memainkan ponsel untuk menghubungi seseorang sontak mengubah pandang. Disana ada raut memohon dari Roseta.


Apa-apaan? Jika seperti itu bagaiman cara Theo melupakan.


"Maaf. Jangan beri aku beban. Sekali aku memelukmu, kamu tidak akan bisa lepas dariku. Kamu mau itu?"


Pernyataan itu membuat Roseta bimbang. Theo benar-benar putus asa. Sangat jelas sekali. Bahkan Theo lebih terpuruk dari sebelumnya. Disaat semua yang direncanakan dengan matang tertata rapi di pikiran, Roseta tiba-tiba mengutarakan perpisahan. Bagaiman Theomenolak bahkan jika hatinya sama sekali memberontak.


"Jangan bermain tarik ulur." ungkap Theo melanjutkan.


Kenapa Roseta merasa dirinyalah yang baru saja mengakibatkan masalah. Ia yang memutuskan, tapi ia juga yang terkena beban mental. Theo benar-benar luar biasa hebat dalam hal memojokkan.


Roseta harus meluruskan.


Roseta berjalan cepat menghampiri Theo, menarik telapak tangan pria itu lalu menggenggamnya erat. "Demi anak-anak. Aku nggak mau kamu salah paham, Theo. Kamu tahu sendiri bukan, kehidupanmu disorot media. Aku tidak mau anak-anak terkena imbasnya. Apa kata mereka jika hubungan kita terendus. Berita apa yang akan mereka keluarkan? Lalu bagaimana dengan kehidupan anak-anak diluar sana? Pasti banyak gunjingan, Theo! Aku mau, kamu paham soal itu!"


Theo melepas tautan tangan mereka. "Apa kamu kira aku tidak memikirkan imbas itu juga? Apa kamu kira aku akan diam dan tidak menyiapkan apa-apa? Kalau perlu kamu ingat, Braga dan Bryna bahkan lebih tahu kekacauan dari kedua orang tuanya. Bukankah saat ini mereka butuh dukungan dari kita?"


Roseta diam saja, jujur perkataan Theo banyak benarnya.


"Oke. Aku paham betul bagaimana bodohnya aku hingga membuat berantakan sedari awal. Dalam hubungan ini, aku memang salah. Tapi penghakiman seperti ini bukankah sangat keterlaluan? Maaf jika aku egois." Dengan begitu Theo melenggang pergi dari hadapan Roseta karena tepat di saat kalimat berisi fakta telah selesai ia ungkapkan, bel yang terpusat di pintu hotel berbunyi nyaring, ada seseorang yang datang.


Roseta terduduk di ranjang. Isakannya keluar. Hal seperti ini sama sekali tidak ia prediksi. Egois? Iya, benar sekali, Theo egois. Selama ini yang salah pria itu. Ini bukanlah soal penghakiman, Roseta hanya sedang mencari jalan keluar. Demi ketenangan, Roseta lelah dengan drama yang di ciptakan Yura. Mau sampai kapan, tidak mungkin ini berakhir begitu saja bukan.


Roseta terdunduk pilu saat belum lima menit Theo kembali lagi ke kamar. Pria itu terdiam saat melihat Roseta merana sendirian. Dadanya sakit, mana ada pria yang rela ditinggalkan orang yang paling dicintai, bohong jika Theo benci. Ia hanya kecewa bahwa dirinya bukanlah hal besar yang perlu di pertahankan oleh Roseta. Theo juga sadar, mana bisa pria brengsek seperti dirinya mampu membuat Roseta bahagia.


"Baiklah-baiklah, sini." Theo bersuara sampai pada kakinya berdiri di depan Roseta, tak ada jarak yang begitu berarti, Theo menarik wanita yang terisak itu untuk berdiri dan dipeluk.


Roseta tadi meminta hal itu bukan?


"Maaf. Aku berkata kasar ya? Maaf. Jangan menangis. Maafkan aku." Theo tak henti mengatakan itu. Lihat, matanya hampir berair namun ditahan setengah mati agar tidak terjatuh di pipi.


Dipaksa berpisah sakitnya melebihi saat Theo harus rela kakinya dibordir oleh benang akibat sobekan, tentu saja, luka kecil itu tidak ada apa-apanya.


"Aku harus bagaimana? Ngertiin kamu? Baik, baik, iya kita berpisah, tapi aku boleh bertemu anak-anak 'kan?"


Roseta semakin terisak, ia menggelengkan kepala dan hanya terus untuk diam.


"Aku tidak boleh bertemu anak-anak?"


"Bo-boleh." Jawab Roseta parau.


"Ya udah, aku turutin kamu, sekarang kamu diem, jangan nangis." Theo melonggarkan pelukannya, menghapus sisa air mata di pipi Roseta, tak lupa pria itu memberikan satu kecupan di kening Roseta, sedikit lama lalu melepasnya. "Aku mau keluar sebentar, kamu tunggu disini, Braga sebentar lagi akan datang."


"Kamu mau kemana?"


"Menemui seseorang, di bawah."


Hanya itu yang dikatakan Theo, setelahnya dengan langkah besar, pria itu meninggalkan Roseta yang masih terdiam mencerna keputusan yang sudah terlanjur di setujui dengan pasrah oleh pria itu.


Apa Roseta menyesal?


Entahlah. Hanya hati Roseta yang tahu akan hal itu.